DARI “JALAN” KE “JALANAN”, BANDUNG ANGKAT SUARA

Jumat (29/8/2025), ratusan pengemudi ojek online, mahasiswa, dan masyarakat menggelar aksi protes di depan gedung DPRD Jawa Barat sebagai bentuk perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pemerintah dan aparat. Sehari sebelumnya, Affan Kurniawan seorang driver ojek online tewas terlindas oleh mobil taktis Brimob Polda Metro Jaya. Massa aksi menuntut pertanggungjawaban dan menolak kebijakan politik yang dinilai semakin menjauh dari kepentingan rakyat.

Sore itu aksi tetap berlangsung walaupun hujan deras mengguyur kota, sebagian massa aksi membawa seragam atribut ojek online dan menyampaikan orasi secara bergantian. Mereka menolak kenaikan anggaran gaji DPR di tengah pelemahan ekonomi, serta menegaskan bahwa tragedi Affan Kurniawan menjadi simbol semakin buruknya relasi antara aparat dan masyarakat sipil.

Massa Aksi dari elemen mahasiswa datang menuju depan Gedung DPRD Jawa Barat. (Foto: Laurancia Melani/LPM Daunjati)

Dion, yang merupakan salah satu pengemudi ojek online mengatakan bahwa situasi politik negara sangat timpang antar pejabat dan rakyat, sehingga menjadi salah satu alasan para pengemudi ojek online mengikuti aksi saat ini

“Dengan situasi yang sedang turun, bahkan rupiah udah melemah, kepengen mah jangan ada kenaikan gaji lah, gak penting maksudnya. Tunjangan sampai 50 juta sedangkan kita masih kaya gini,” ujar Dion.

Selain itu, rasa duka mendalam turut menjadi alasan utama para pengemudi ojek online yang mengikuti aksi, seperti yang disampaikan oleh Eva, salah satu driver ojol perempuan. Ia mengaku sedih atas tragedi yang menimpa Affan dan berharap ada keputusan cepat dari pihak berwenang agar para pengemudi ojek online bisa kembali mencari nafkah dengan tenang.

“Kita hadir di sini adalah sebagai bentuk solidaritas dan berduka atas tragedi yang menimpa rekan kita Affan, saya juga berharap agar pihak berwenang memberikan keputusan yang tepat dan cepat agar para pengemudi ojek online bisa kembali mencari nafkah dengan tenang” Ujar Eva.

Massa Aksi yang terdiri dari Driver Ojek Online datang menuju depan Gedung DPRD Jawa Barat (Foto: Laurancia Melani/LPM Daunjati)

Kemudian, Redha dari Komunitas Ojol Bersatu juga menegaskan bahwa keresahan masyarakat semakin meluas karena Indonesia seakan terus dirundung masala, Redha tetap menekankan pentingnya harapan dan menyerukan masyarakat untuk tidak tinggal diam.

“Yang terdampak itu bukan cuma mahasiswa atau ojol, tapi seluruh Indonesia. Bergerak itu bukan hanya turun ke jalan, melainkan juga menyampaikan aspirasi.” ujarnya.

Redha juga menyebut bahwa Indonesia seakan “sakit” karena setiap hari masyarakat disuguhi berita buruk mulai dari korupsi hingga tragedi yang menimpa Affan. Baginya tragedi Affan menjadi simbol ketidakadilan yang memicu solidaritas dan aksi protes. Ia juga menilai bahwa aksi kali ini mencerminkan situasi yang sudah melewati batas, bahkan mendapat sorotan internasional.

“Sebenernya harapan kita tinggal harapan aja, gak bakal terwujud sebenernya, tapi yang namanya harapan harus ada walaupun setitik cahaya ke depan. Bubarin DPR. Ayo gerak, jangan diem aja. Suara gak pernah didengar, tapi suara gak pernah mati,” tegas Redha di tengah kerumunan massa.

Massa Aksi di depan Gedung DPRD Jawa Barat. (Foto: Laurancia Melani/LPM Daunjati)

Massa aksi menegaskan bahwa tragedi Affan hanya satu dari sekian banyak bukti ketidakadilan yang masih terjadi di Indonesia. Mereka menyerukan agar DPR dan pemerintah tidak terus menambah beban rakyat dengan kebijakan yang berpihak pada elite, termasuk rencana kenaikan gaji yang dinilai tidak pantas di tengah krisis.

Hingga Sabtu (30/08/2025) dini hari, massa aksi masih bertahan dan menyebar di beberapa titik selain di depan Gedung DPRD Jawa Barat.

Penulis: Laurancia Melani, Marissa Anggita

Dokumentasi: Laurancia Melani

Penyunting : M.Haikal.A.A