KAPAI-KAPAI: KEMISKINAN STRUKTURAL DAN ILUSI SEMU AKAN HARAPAN

Harapan, Ilusi, dan Perjuangan Manusia  

Mengapa kita sebagai manusia terus menggapai harapan yang mungkin hanyalah ilusi? Dalam perjuangan itu, apa yang sesungguhnya kita temukan? Pertanyaan ini melibatkan eksistensi dan harapan akan realitas kehidupan yang sukar ditebak, dan menjadi titik berangkat tulisan ini. Kapai-Kapai adalah sebuah lakon yang ditulis oleh Arifin C. Noer, seorang teaterwan asal Cirebon yang terkenal dengan karya-karyanya yang selalu melantangkan persoalan sosial. Ditulis pada tahun 1970, drama absurd ini mengisahkan tragedi kemiskinan dan penderitaan manusia yang terjebak dalam harapan palsu. Lebih dari lima puluh tahun kemudian, sutradara Fathul A. Husein pada hari Rabu, 11 Februari 2026 menghadirkan kembali naskah ini dengan interpretasi yang segar namun tetap setia pada esensi tragedi aslinya.

Pertunjukan ini menjadi sebuah tragedi kemiskinan dan fatamorgana harapan, tentang manusia yang terus “kapai-kapai” menggapai sesuatu yang tak pernah benar-benar ada.

Rabu, 11 Februari 2026, Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Dana Indonesiana 2025 berdasarkan Lakon Kapαι-Καραι Karya Arifin C. Noer Dekonstruksi Minimalis Καραι-Kapai Teks Pertunjukan & Sutradara Fathul A. Husein

Abu dan Cermin Tipu Daya 

Tokoh sentral dalam Kapai-Kapai ialah Abu, seorang pesuruh miskin yang hidupnya digerakkan oleh dongeng Emak tentang Cermin Tipu Daya, objek mistis yang dipercaya dapat memberikan kekayaan dan kebahagiaan abadi. Namun, Cermin Tipu Daya bukanlah benda fisik yang dapat digenggam, itu merupakan metafora untuk harapan kosong yang membuat Abu “menggapai-gapai” (Kapai-Kapai) sesuatu yang tak pernah nyata dan hanya ada dalam imajinasi. Obsesi Abu terhadap cermin ini membuatnya mengabaikan tanggung jawab nyata terhadap sang keluarga, yaitu Iyem (istrinya) yang mengandung. Abu tetap terjebak dalam pencarian yang pada akhirnya menghancurkan semua. Tragedi yang lahir bukan semata-mata dari nasib buruk, melainkan dari ketidakmampuan menghadapi kenyataan yang terlalu pahit.

Dalam satu narasi pertunjukan, Abu berkata: “Aku tidak butuh Tuhan, aku hanya perlu cermin tipu daya”. Kalimat ini bukanlah penistaan, melainkan pengakuan akan mekanisme pertahanan psikologis: ketika realitas terlalu menyakitkan, pikiran menciptakan alternatif melalui dongeng, mimpi, dan ilusi yang membuat hidup terasa layak untuk dijalani. Meskipun itu berarti menggantikan Tuhan dengan fatamorgana.

Perjalanan Abu, baik fisik maupun spiritual, berakhir tragis. Ia baru “menemukan” ujung dunia dan cermin tersebut saat ajal menjemputnya. Pada momen itu, terungkap kebenaran pahit bahwa yang ia kejar selama ini hanya fatamorgana, ilusi yang lahir dari ketidakmampuan menghadapi kenyataan.

Naskah ini juga menggambarkan realitas masyarakat marjinal yang tertindas oleh sistem industri dan kemiskinan yang mencekik. Abu bukan individu yang terpisah dari konteksnya, melainkan produk dari struktur sosial yang membuat kelas bawah terus menggapai-gapai harapan palsu, sementara pemegang kuasa tetap nyaman di puncak.

Sintren, Wayang, dan Cahaya sebagai Metafor 

Fathul A. Husein menghadirkan Kapai-Kapai dengan pendekatan minimalis dan memperkuat daya naratif. Beberapa tokoh dan adegan dipangkas untuk mempertajam fokus perjalanan Abu. Keunikan pertunjukan kali ini terletak pada penggabungan unsur sintren dan wayang. Dua seni tradisional yang memberikan lapisan makna tambahan. Sintren, dengan dimensi mistis dan transnya, merefleksikan pencarian Abu akan sesuatu yang transendental sekaligus menipu. Sementara wayang menjadi metafora manusia sebagai boneka yang digerakkan oleh benang-benang harapan palsu, bukan oleh kehendak bebasnya sendiri.

Pertunjukan ini didukung oleh para aktor yang terdiri dari Retno Dwimarwati dan Yani Mae, bersama Hendra Permana, Muhammad Nur Hazzaq, Fellycha Yuliwanda Aletika, Xena Nursyifa, dan Salma Najiyah. Penata cahaya Zamzam Mubarok dan Puji Koswara yang menggunakan pencahayaan sebagai pencipta dimensi atmosfera sebagai metafora visual untuk harapan dan ilusi.

Cermin Tipu Daya di Abad 21 

Kita hidup di era ketika semua orang sibuk mengejar sesuatu seperti karier, uang, hingga status. Eksploitasi menjadi bagian dari keseharian dalam ekonomi gig, lembur tanpa kompensasi, dan prekaritas kerja modern. Tetapi jarang kita bertanya: apakah yang kita kejar ini benar-benar bernilai? Atau hanya cermin tipu daya dalam konteks kini?

Sistem yang menciptakan ilusi mobilitas sosial melalui narasi self-made success, sementara data menunjukkan bahwa mobilitas kelas di Indonesia semakin stagnan. Struktur sosial yang timpang membuat “tangga kesuksesan” semakin sulit dipanjat, namun narasi dominan di sela-sela perbincangan tetap menyalahkan individu yang “tidak cukup berusaha”.

Ketika ilusi runtuh, seperti yang terjadi pada Abu saat kematiannya, yang tersisa hanyalah kehampaan. Di era modern, kita menyaksikan krisis kesehatan mental yang meningkat drastis, terutama di kalangan pekerja muda yang mengalami burnout karena mengejar banyak target yang tidak realistis dalam sistem yang eksploitatif.

Apakah berarti kita perlu berhenti berharap dan berjuang? Tentu tidak. Namun, kita perlu bertanya kembali, harapan seperti apa yang kita kejar? Perjuangan untuk apa yang kita lakukan? Dan apakah kita cukup berani menghadapi kenyataan, betapa pun pahitnya?

Ilusi memang memberi kenyamanan sementara, tetapi tidak pernah memberikan pembebasan sejati. Pembebasan hanya datang ketika kita berani melihat struktur ketimpangan yang menindas, mempertanyakan sistem yang menciptakan kemiskinan, serta berjuang untuk transformasi sosial yang nyata, bukan sekedar mimpi individual tentang kekayaan.

Abu dan Kompleksitas Kehidupan yang Getir 

Abu adalah tokoh penting penggerak cerita ini. Ia tenggelam dalam harapan semu yang membuat kehilangan dirinya sendiri. Krisis eksistensi dan sinisme terhadap kehadiran Tuhan menjadi beban kesehariannya. Lakon ini memperlihatkan proses tragis kemiskinan yang berakar dari sistem yang kacau. Ketika manusia dieksploitasi oleh industrialisasi kapitalisme hingga terjerambap oleh kelaparan dan kehilangan dirinya sendiri. Hal inilah yang berimplikasi pada Abu dan Iyem (istrinya) saat kemiskinan membuat mereka kehilangan kepercayaan pada sosok “Tuhan”.

Realitas tersebut membuat Abu menaruh harapan semu yang datang dari cermin tipu daya: ketika manusia lebih percaya kepada kebahagiaan “cermin tipu daya” dibandingkan dengan kebenaran dari Tuhan. Kita dapat melihat bahwa kemiskinan dan kelaparan adalah aspek yang dapat berimplikasi pada kehidupan dan keyakinan terhadap eksistensi yang lebih tinggi. Ketika tatanan sosial hanya menguntungkan segelintir orang dan mereduksi nilai-nilai kemanusiaan, manusia bisa kehilangan pegangan.

Abu menjadi potret dehumanisasi penindasan struktural, sekaligus menjadi pelaku dehumanisasi terhadap dirinya sendiri. Ia telah ditelan harapan semu ilusi. Abu kehilangan dirinya sendiri dalam pergelutan mengejar harapan dan kebahagiaan yang ia anggap sebagai esensi utama dari kehidupan.  

Barangkali, dalam historis kehidupan, kita pun pernah menjadi Abu. Terasing dari kehidupan sebagai seorang individu karena terlalu mengejar nilai dan harapan semu yang tumbuh dalam hari-harinya. Sementara mimpi terus bergolak, kita kehilangan diri sendiri dan keterhubungan sosial. Cermin Tipu Daya adalah impian yang terus dikejar dan berlarian.

Penulis: Sophia Septiani dan Ariel Valeryan
Dokumentasi: Rizki Bassica Arvensis
Penyunting: Roshifa Lailani