NOVEL “KAMI” OLEH YEVGENY ZAMYATIN (1924) : BERTAHAN DEMI CINTA, UNTUK MELAWAN DISTOPIA

Jurang Harapan Itu Bernama “Distopia”

“It is, perhaps, too complimentary to call them Utopians, they ought rather to be called dys-topians, or caco-topians. What is commonly called Utopian is something too good to be practicable; but what they appear to favour is too bad to be practicable”

(The Collected Works of John Stuart Mill, Volume XXVIII, University of Toronto Press, 1988, halaman 97-104)

Kutipan di atas merupakan pidato John Stuart Mill pada 12 Maret 1868 di depan parlemen House of Commons sebagai kritik mengenai kebijakan pemerintah Inggris terhadap sengketa tanah atas warga Irlandia, ketika mereka menerima kompensasi tetapi tanpa disertai oleh keadilan sosial. Hal tersebut juga menjadi titik balik bahwa istilah di atas menjadi populer di kalangan masyarakat awam Eropa.

Istilah “Distopia” akan menjadi kunci utama dalam pembahasan resensi novel yang menjadi inspirasi utama dalam lahirnya “1984” karya George Orwell dan Brave New World karya Aldous Huxley. Kata “Distopia” atau “Dystopia” secara etimologi berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu “δυσ” (buruk) + τόπος (tempat). Kata ini mengganti ευ– (“baik”) menjadi οὐ (“bukan/tidak”). Istilah ini pertama kali dituliskan oleh Lewis Henry Younge dalam buku Utopia: or Apollo’s Golden Days pada tahun 1747 sehingga memiliki arti yaitu “tempat buruk” sebagai antonim dari kata “Utopia” yang dipopulerkan oleh Sir Thomas More pada tahun 1516 dengan judul serupa.

Sabda Rajatega yang Mengusik Jiwa

Novel ini pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Gregory Zilboorg dan diterbitkan oleh E.P. Dutton, New York pada tahun 1924 dengan judul “We”. Versi yang dibaca merupakan terjemahan bahasa Indonesia oleh Afris Irwan yang diterbitkan oleh Kakatua dengan tebal 268 halaman pada Agustus 2025 dengan sampul lukisan kubistis berjudul “Upward” (1929) oleh Wassily Kandinsky.

Yevgeny Zamyatin menulis novel ini pada masa awal terbentuknya Uni Soviet setelah revolusi besar yang mengubah struktur masyarakat secara totaliter. Sebagai seorang aktivis dari gerakan Bolshevik sudah seharusnya ia menyambut hal tersebut dengan segala euforia, namun hal tersebut berbanding terbalik dengan narasi yang tertulis dalam setiap kata di dalam esai maupun bukunya, rasa kekecewaan serta amarah tersebut kian mengantarnya sebagai seorang kontra-revolusioner dalam mata pemerintahan kala itu hingga pada akhirnya ia secara sukarela menulis surat pengasingan diri kepada Joseph Stalin, setelah menjadikan karya menjadi literasi pertama yang dilarang secara massal. Berbagai karya literasinya kemudian menjadi populer pada kalangan samizdat (penerbit stensilan bawah tanah) karena diberangus oleh sensor pemerintah Uni Soviet dari perpustakaan umum, hal tersebut terus berlanjut hingga ia meninggal di Paris pada 10 Maret 1937 di usia 53 tahun, novel ini sendiri baru dapat diterbitkan secara bebas di Rusia pada tahun 1988.

Masyarakat dalam novel ini berada dalam pemerintahan yang disebut “One State” atau “Negara Tunggal” di bawah pimpinan yang menyebut diri sebagai “Sang Pengayom”. Tokoh-tokohnya hanya dituliskan dengan angka yang disesuaikan oleh posisi pekerjaan mereka. Mereka hidup dalam ruangan berdinding kaca transparan dengan tirai tipis tanpa ornamen dengan diiringi bel dari menara jam berbunyi yang secara bersamaan setiap harinya turut disertai pasukan Garda juga turut mengintai setiap saat. Dalam hal tersebut, semua orang hanya dianggap sebagai statistik semata.

Sekilas, hal ini mengingatkan pada kutipan dari esais asal Jerman, Kurt Tucholsky yang mengatakan bahwa : “Kematian seseorang adalah tragedi namun kematian jutaan lainnya adalah statistik!”

Tucholsky adalah suara kritis yang berusaha menjaga nurani publik melalui tulisan, memperingatkan bahaya otoritarianisme, dan menegaskan pentingnya kebebasan berpikir serta demokrasi.

Tiap individu juga turut didoktrin oleh berbagai narasi propaganda mengenai “Perang Dua Ratus Tahun” yang telah menghancurkan berbagai peradaban di dunia terkecuali tempat mereka tinggal yang dikelilingi oleh “Tembok Hijau”. Mereka juga diwajibkan untuk mengambil tiket terlebih dahulu jika ingin menemui seseorang.

Pada setiap lembar buku ini, pembaca akan diajak mengintip catatan jurnal harian dari seorang pria bernama D-503 yang mulai menulis sebagai pengusir rasa penat dari pekerjaannya yaitu matematikawan dalam projek kapal luar angkasa bernama “INTEGRAL”, bertujuan untuk berperang dan menginvasi planet lain, ia juga turut mempunyai rekan wanita bernama 0-90, yang bekerja sebagai resepsionis sekaligus pasangan resmi yang diberikan oleh negara kepadanya dan rekan lelaki bernama R-13, seorang penyair yang kerap kali membacakan puisi ketika seseorang akan dieksekusi mati secara publik.

Ketika sedang berjalan bersama 0-90, D-503 berpapasan dengan wanita bernama I-330 yang secara terang-terangan melakukan berbagai hal yang dilarang negara, seperti merokok dan meminum alkohol, dengan perawakan ramping serta lentur bagai cambuk. Dalam gema bel dari Menara Jam, I-330 mengajak D-503 untuk datang ke Auditorium II2. Esok lusa ketika mendatangi tempat tersebut, D-503 sangat terkejut melihat I-330 menari tap dance dalam alunan musik kabaret dari Scriabin di atas grand piano dalam gaun hitam dengan bahu dan dada yang terbuka. Dengan kemampuan seduksinya I-330 juga mengajak D-503 mengunjungi gedung kuno, menghancurkan tembok dan menembus gorong-gorong di tiap sudut kota.

Spontanitas I-330 mengguncang logika D-503 yang selama ini dibentuk oleh dogma negara serta bias kekagumannya terhadap prinsip rasionalisme Frederick Winslow Taylor. D-503 dalam segala kebingungannya juga menyadari bahwa I-330 merupakan anggota dari aliansi perlawanan bernama “MEPHI”. Aliansi “MEPHI” yang terdiri dari banyak warga terasing yang tinggal di luar “Tembok Hijau” dengan tujuan untuk merebut kapal “INTEGRAL” agar mereka dapat keluar dari “One State” untuk selamanya, bahkan I-330 secara lantang mengatakan di atas mimbar bahwa D-503 adalah “Sang Perancang” yang akan memimpin mereka dalam rencana pemberontakan tersebut.

Bagi D-503, tentu rencana pemberontakan revolusioner tersebut adalah raungan penuh kegilaan. Secara gamblang di surat kabar “One State” atau “Negara Tunggal” bahkan menyebut bahwa segala hal yang berkaitan dengan imajinasi adalah penyakit dan menyebut para pemberontak dengan sebutan “musuh-musuh kebahagiaan”. Berbagai siasat yang dilakukan D-503 pada akhirnya terungkap oleh pasukan dimana mereka dimasukkan ke dalam ruangan tabung yang dipenuhi gas sebagai hukuman sehingga ingatan serta fisik mereka rusak. Catatan jurnal harian dari D-503 kini kembali menjadi ringkas, padat dan penuh kekosongan.

Masam dalam Cermin Kusam

Tokoh utama dalam buku ini, yaitu D-503, seiring berjalannya waktu turut menyadari bahwa tempat “utopia” yang dinaungi sesungguhnya tidak lebih dari labirin kegelisahan tanpa akhir. D-503 juga tersadar bahwa manusia adalah makhluk fana yang dekat dengan kematian, di mana hal tersebut seperti kisah Tiga Orang Cuti yang ia dengar sejak bangku sekolah, tentang keputusasaan terhadap rutinitas yang mengekang. Lalu, terdapat juga kerinduannya mengenai sosok “Ibu” karena sistem hubungan anak dan orang tua dihilangkan oleh negara. Segala kegelisahan terhadap hal tersebut tertulis dalam kutipan Catatan 24, yaitu :

“Untuk menentukan nilai sebenarnya dari suatu fungsi maka harus dibawa hingga ke limitnya Jika “C” adalah cinta dan “M” adalah kematian maka C=(f)M , cinta adalah suatu fungsi dari kematian”

Sebagai penutup, setiap perilaku dalam “utopia” dapat digambarkan seperti titik kurva (tangen) yang dapat berubah menjadi “distopia” ketika mendekati batas kritis (asimtot)

dalam segala kemungkinan tanpa batas, aturan-aturan dari pemegang kuasa pada akhirnya hanya akan berujung pada paranoia massal yang menjadi bom waktu dalam jiwa. Lalu, haruskah kita membangun masyarakat anti-utopia untuk menghancurkan distopia? Namun, apa yang akan kita lakukan setelah itu? seperti yang dinyanyikan oleh Senartogok bahwa:

“Bertahan adalah cinta paling liar, hidup atau mati hasrat harus menang”

Penulis: M. Haikal Athar A.
Penyunting: Roshifa Lailani
Desain: Dewi Rosaria Indah