POTRET PEREMPUAN DALAM CENGKERAMAN BUDAYA LOKAL MELALUI PERSPEKTIF FILM YUNI (2021)

Perempuan adalah pembawa peradaban, begitu yang diucapkan oleh pahlawan nasional perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Dari pernyataan tersebut dapat dimaknai bahwa perempuan memainkan peran penting dalam masyarakat, baik sebagai individu, anggota keluarga, maupun sebagai bagian dari komunitas yang lebih luas. Namun, pada kenyataannya perempuan seringkali mendapatkan peran yang jauh lebih besar dari sekadar menjadi manusia berdaya. Begitupun dengan nilai-nilai dan budaya yang berlaku dalam masyarakat kerap menempatkan perempuan pada peran tradisional yang membatasi kebebasan mereka, baik dalam memilih jalan hidup seperti Pendidikan, karir, dan hak- hak lainnya.

Lalu, budaya lokal merupakan nilai-nilai lokal hasil budi daya masyarakat suatu daerah yang terbentuk secara alami dan diperoleh melalui proses belajar dari waktu ke waktu. Budaya lokal dapat muncul saat penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir dan kehidupan sosial yang sama sehingga menjadi suatu kebiasaan yang membedakan mereka dengan penduduk yang lain. Berpijak pada keragaman budaya di sejumlah daerah tersebut maka muncullah kesatuan budaya yang disebut budaya nasional, yang pada dasarnya digali dari kekayaan budaya lokal (Aziz, 2021).

Sehingga, berdasarkan pengertian budaya lokal tersebut, hal ini menjadikan budaya lokal sangat berpengaruh terhadap cara berpikir, nilai-nilai, dan norma terutama dalam kehidupan perempuan di Indonesia. Tradisi dan budaya ini tidak hanya menganut pada standar moral, tetapi seringkali mempengaruhi bagaimana perempuan dilihat dan diposisikan dalam berbagai bidang. Misalnya, di banyak wilayah Indonesia perempuan diharapkan untuk segera menikah dan memiliki peran sebagai istri sekaligus ibu dalam usia muda. Jika seorang perempuan memutuskan untuk melawan norma atau mengubah jalan hidup mereka, harapan ini seringkali disertai dengan stigma negatif oleh masyarakat yang menganut standar moral atau nilai tertentu terhadap perempuan.

Film Yuni (2021) yang disutradarai oleh Kamila Andini memberikan gambaran yang sangat realistis tentang situasi ini. Dengan berlatarbelakang di sebuah desa di Serang, Banten, film ini bercerita mengenai seorang remaja perempuan bernama Yuni yang menghadapi masalah dalam ruang lingkup patriaki. Dalam film ini, Yuni digambarkan sebagai seorang siswa SMA yang cerdas dan berambisi untuk melanjutkan pendidikannya. Namun, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan bertentangan dengan norma budaya di sekitarnya yang menuntut agar dirinya segera menikah.

Dalam film ini, Yuni menghadapi banyak sekali lamaran pernikahan yang pada akhirnya memicu konflik batin antara tuntutan sosial dan apa yang ingin dirinya lakukan. Dengan sukses memotret realitas yang sering dihadapi perempuan dalam masyarakat tradisional di Indonesia, film Yuni cukup memberi refleksi bagi penonton untuk berpikir kritis tentang bagaimana peran budaya lokal dapat membatasi kebebasan perempuan yang memaksa mereka untuk menjalani peran yang telah ditetapkan oleh standar nilai masyarakat.

Kamila Andini, sebagai sutradara berusaha menggunakan pendekatan yang halus namun mendalam untuk menggambarkan pergulatan batin tokoh Yuni sebagai bentuk representasi dari keadaan yang dialami banyak perempuan di Indonesia. Dalam situasi ini, budaya lokal dapat berperan sebagai penghalang bagi keinginan perempuan untuk memiliki kebebasan dalam memilih tujuan mereka sendiri. Selain itu, budaya seperti ini seringkali menjadi alat kontrol sosial yang menekan perempuan untuk memenuhi ekspektasi masyarakat yang dianggap baik.

Dengan demikian, Film Yuni menunjukkan bagaimana peran budaya lokal menjadi struktur yang tak terlihat tetapi begitu kuat mempengaruhi kehidupan perempuan. Dalam tulisan ini, akan membahas bagaimana peran budaya lokal dalam film Yuni menjadi cengkeraman yang mengendalikan keputusan dan kebebasan perempuan, serta menunjukkan kenyataan hidup perempuan yang sering dikekang oleh norma-norma sosial tradisional.

Poster Film Yuni (2021) yang disutradarai oleh Kamila Andini (Sumber Foto: imdb.com)

Simone de Beauvior dalam bukunya The Second Sex (1949) menyatakan perempuan tidak dilahirkan “sebagai perempuan”, tetapi “menjadi perempuan”. Dalam hal ini dapat dimaknai bahwa konsep perempuan terbentuk dari konstruksi sosial, yaitu pandangan dan norma-norma masyarakat yang membentuk identitas dan peran perempuan. Simone melihat perempuan sebagai kelompok yang sering terpinggirkan dalam struktur patrilineal.

Tentang perempuan yang berkaitan dengan budaya lokal, sebagian besar terutama di daerah pedesaan dimana masyarakatnya masih berpengkuh pada nilai dan moral tradisional yang patriarkal, masyarakat tersebut memiliki aturan dan harapan unik tentang peran perempuan dalam masyarakat. Dalam pandangan budaya lokal, perempuan dianggap harus menjalani kehidupan yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sebagai nilai ideal di masyarakat, termasuk dalam hal perkawinan dan keluarga. Di masyarakat tradisional, perempuan biasanya diharapkan untuk menikah segera setelah mencapai usia tertentu. Tekanan ini berasal dari keyakinan bahwa perempuan memikul beban yang signifikan untuk menjaga martabat keluarga dan melaksanakan fungsi mereka sebagai istri dan ibu. Di sinilah film Yuni memberikan perspektif yang cukup kritis.

Sering dikaitkan dengan kebijaksanaan dan nilai-nilai yang luhur, budaya lokal juga memiliki sisi gelap yang dapat menghambat peningkatan kualitas diri perempuan. Contoh, tokoh Yuni adalah remaja perempuan yang ambisinya bertabrakan dengan norma yang melingkupinya. Keinginan untuk menunda pernikahan dan melanjutkan sekolah bertentangan dengan kepercayaan masyarakat bahwa perempuan harus segera menikah untuk menjaga nama baik keluarga. Keyakinan yang tumbuh bahwa perempuan harus menikah muda agar tidak melanggar norma dapat berbahaya terutama karena membatasi kesempatan untuk belajar dan mencapai potensi mereka. Film ini secara efektif mengangkat masalah yang dihadapi banyak perempuan muda yang dihadapkan untuk mengikuti aturan konvensional di tengah keinginan untuk mengejar cita-cita. Dari sudut pandang seni dan budaya, film Yuni tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi berfungsi juga sebagai alat untuk mendorong dalam mempertimbangkan dan berbicara tentang masalah yang dihadapi perempuan. Film ini juga sebagai media dalam memahami bagaimana peran budaya lokal dapat menjadi tekanan bagi perempuan. Contoh penggambaran tekanan perempuan sebagai akibat dari berlakunya suatu budaya lokal yang menjunjung nilai dan moral tertentu dapat kita lihat sebagaimana dalam dialog berikut:

Yuni: “Kite urung weruh, lamun jawaban jelas ore. Maningan sapa sing gelem diwayuh. Aki-aki pisan” (“Aku juga belum tahu, tapi jawabannya yang pasti tidak. Lagian siapa sih yang mau

dijadikan istri kedua. Kakek-kakek lagi.”)

Yuni: “Tapi lamun kite ore nerime, jarene pamali. Ore ulih nolak lamaran luwih sing rong balen. Bakale jodohe adoh” (Tapi kalau aku tidak menerima, katanya pamali. Tidak boleh nolak lamaran lebih dari dua kali. Nanti jodohnya jauh)

Dialog tersebut merupakan scene pada menit 01:17:10 ketika Yuni tidak ingin menjadi istri kedua Mang Dodi yang sudah mencoba dua kali melamar Yuni. Sebagai akibat dari konsepsi nilai dan moral yang berlaku di masyarakat, di sini Yuni takut mengenai pantangan untuk menolak lamaran lebih dari dua kali karena “pamali”.

Nenek Yuni: “Lamun wis jadi rabi, kudu pinter. Pinter ning kasur, pinter ning dapur, lan pinter pupuren.” (Kalau sudah menikah, harus pinter. Pinter dikasur, pinter didapur, dan pandai bersolek.) pada adegan 01:54:20.

Dua adegan tersebut menunjukkan bagaimana budaya lokal mengendalikan dan menekan kebebasan perempuan bukanlah suatu persoalan sederhana yang tengah terjadi di masyarakat. Pada adegan tersebut, Yuni sebagai tokoh utama terperangkap dalam kebingungan antara keinginan pribadi dan tradisi masyarakat. Budaya lokal dalam lingkungan sekitar Yuni memberikan pandangan bahwa perempuan yang menolak lamaran pernikahan dapat mendatangkan nasib buruk pada dirinya.

Dalam film ini, Yuni menerima banyak lamaran pernikahan, tetapi dia menolaknya lantaran ingin kuliah dan masih ingin mengejar mimpi. Tetapi, ketika dia menolak setiap lamaran pernikahan, dia menjadi sasaran pembicaraan negatif orang-orang di sekitarnya karena menolak lamaran pernikahan dianggap tabu di lingkungannya. Ia dipandang sebagai seseorang yang akan membawa “aib” jika terlalu sering menolak lamaran, sehingga tekanan tersebut mengikis hak asasinya sebagai individu yang bebas memilih. Ini menunjukkan bahwa ekspektasi masyarakat terhadap perempuan dibentuk sebagian besar oleh budaya lokal. Dalam konteks Yuni, perempuan ideal adalah mereka yang menjalankan peran tradisional sebagai istri dan ibu, bukan mengejar pendidikan atau karir.

Ilustrasi perempuan dalam kungkungan nilai budaya lokal yang membatasi hak perempuan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri (Ilustrator: Laurancia Melani/LPM Daunjati)

Secara keseluruhan film Yuni tidak hanya menceritakan kehidupan remaja yang melawan budaya lokal secara personal, tetapi juga berusaha mengkritik ketidakadilan sistem nilai budaya lokal yang berlaku di masyarakat terhadap perempuan. Hal ini merupakan potret realitas yang menunjukkan bagaimana cengkeraman budaya lokal terhadap perempuan dipengaruhi oleh ekspektasi masyarakat yang tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Dari perspektif yang disajikan dalam film Yuni mengenai potret perempuan dalam cengkeraman budaya lokal berhasil menunjukkan kenyataan bahwa budaya lokal tidak hanya menjadi sebuah nilai yang dianut, tetapi juga sering kali menjadi batasan yang menghambat kebebasan perempuan. Melalui karakter Yuni, penonton diperlihatkan secara sederhana efek dari tekanan sosial yang menuntut perempuan untuk mengikuti tradisi, meskipun tradisi tersebut mungkin tidak lagi relevan atau bahkan merugikan perempuan.

REFERENSI

De Beauvoir, S. (2011). The Second Sex. Michigan: Vintage Books.

Nurmala, M., Jayanti, R., & Hermawan, W. (2022). Konflik Batin Tokoh Utama dan Kearifan Lokal pada Film Yuni Sutradara Kamila Andini. dalam Seminar Nasional Pendidikan (Vol. 1, hal. 145–155).

Aziz, Aminah. (2021). Opini: Perspektif nilai-nilai budaya lokal dan hubungannya dengan agama. IAIN Pare. Retrieved October 30, 2024, from https://file.iainpare.ac.id/opini- perspektif-nilai-nilai-budaya- lokal-dan-hubungannya-dengan- agama/

Penulis: Hana Diah

Ilustrator: Laurancia Melani

Penyunting: Purwa Sundani