KAPALANG NÉKAD: ROMAN SUNDA DI SIMPANG KIRI JALAN

Sastra, media massa, dan propaganda merupakan tiga hal yang sering kali tidak bisa dipisahkan dalam masa pergerakan. Sastra yang diterbitkan dalam media massa biasanya mengandung pesan-pesan yang secara tersirat berupa ajakan atau propaganda, yang bertujuan untuk menggugah penguasa atau sistem yang menindas rakyat terutama pada masa penjajahan. Salah satu contohnya adalah roman dalam bahasa Sunda berjudul Kapalang Nékad, yang awalnya diterbitkan dalam Surat Kabar Soerapati.

Surat Kabar Soerapati adalah sebuah media cetak yang berasal dari Sukabumi. Di masa pergerakan, surat kabar ini menjadi salah satu surat kabar suara komunis Jawa Barat. Seperti surat kabar dengan nuansa “merah” lainnya, Surat Kabar Soerapati sering menerbitkan berita, artikel, dan karya sastra yang tajam dalam mengkritik pemerintah Hindia Belanda serta sistem kapitalisme, kolonialisme, dan feodalisme. Karena kegiatannya yang menentang pemerintah kolonial, Surat Kabar Soerapati ditutup pada tahun 1925. Pada tahun yang sama, para pengurus utamanya juga ditangkap (Wardani, 2016). Salah satu karya sastra yang berisi kritik terhadap kolonialisme dan kapitalisme yang diterbitkan dalam Surat Kabar Soerapati adalah Roman Kapalang Nékad yang ditulis oleh Mej Kartimi.

Roman Kapalang Nékad karya Mej Kartimi mulanya terbit secara berkala di Surat Kabar Soerapati, hingga akhirnya dikumpulkan dan disusun menjadi satu oleh Wahyu Heriyadi. Secara umum, Roman Kapalang Nékad menceritakan hubungan asmara di zaman pergerakan, ialah antara Rumini dan Sam, seorang aktivis komunis dan anggota Serikat Buruh Kereta Api Vereeniging Spoor-Traam Personen (VSTP). Sebagaimana pernyataan Wahyu Heriyadi dalam pengantar Roman Kapalang Nékad (Talas Press, 2024), Kapalang Nékad dapat disebut sebagai salah satu cikal bakal sastra aliran realisme sosialis di Hindia Belanda, 7 tahun lebih awal sebelum realisme sosialis dicetuskan oleh Maxim Gorky di Soviet Rusia pada tahun 1932, juga didukung oleh fakta bahwa Roman Kapalang Nekad adalah karya yang terkontaminasi pandangan politik, perjuangan kelas dan perjuangan kesetaraan –termasuk kesetaraan gender– sebagaimana unsur-unsur realisme sosialis pada umumnya.

Kapalang Nékad terbitan Talas Press (2024). (Foto: Purwa Sundani/LPM Daunjati)

Selayang Pandang Tentang Zaman Pergerakan dan Media Massa

Sebelum menyelam pada topik Roman Kapalang Nékad yang pertama kali dimuat di Surat Kabar Soerapati, baiknya mengenal terlebih dahulu zaman dimana karya sastra ini muncul sebagai latar belakang cerita, ialah pada zaman pergerakan atau zaman bergerak Hindia Belanda dengan rentang tahun 1920-an yang ditandai munculnya serikat-serikat buruh sebagai akibat dari adanya “politik etis” yang dilakukan Belanda pada awal 1900-an (Cahyono, 2003: xviii). Pada awalnya, serikat buruh ini adalah “barang impor” yang dibawa orang-orang Belanda di Hindia, dan sebagian besar serikat buruh diisi oleh orang-orang Belanda. Namun seiring berjalannya waktu, kaum bumiputera pun mulai tergabung dalam organisasi serikat buruh, seperti contohnya Semaoen (murid HOS Tjokroaminoto) yang masuk serikat buruh kereta api Vereeniging Spoor-Traam Personen (VSTP) Surabaya pada akhir tahun 1914 dan menjadi propagandis utama VSTP Semarang merangkap editor Surat Kabar Si Tetap bersama Moehamad Joesoef. Di masa ini, muncul pula organisasi Perkumpulan Komunis Hindia Belanda –Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV)– yang digawangi oleh Sneevliet pada tahun 1914, dimana lagi-lagi Semaoen sebagai bumiputera masuk ke dalamnya bersama Alimin dan Darsono yang sebelumnya adalah anggota-anggota VSTP (Cahyono, 2003). Kemunculan serikat-serikat buruh dan organisasi Perkumpulan Komunis ini berdampak pada munculnya nuansa politik baru di Hindia Belanda, yakni muncul nuansa politik antikapitalisme, antifeodalisme dan antikolonialisme sebagai dampak dari mekarnya serikat buruh dan menjamurnya ISDV yang pada 23 Mei 1920 bertransformasi menjadi Partai Komunis Hindia (PKH) dua bulan kemudian berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Dengan latar tersebut, Surat Kabar Soerapati menjadi bagian dari corong agitasi dan propaganda kaum komunis basis Sukabumi dan Bandung. Bagi kaum komunis di masa itu, pemogokan adalah senjata bagi kaum buruh untuk berjuang melawan kapitalisme dan kolonialisme. Maka, tak mengherankan jika Roman Kapalang Nékad yang pada mulanya dimuat di Surat Kabar Soerapati bernuansa komunistis yang menyinggung soal pemogokan dan perjuangan kelas buruh.

Roman Kapalang Nekad: Sastra dan Propaganda

“Lamun euweuh kaom buruh sagala rupa parabot teu bisa jalan. Dus… buah karingetna kaom buruh, jadi kaom buruh anu samistina ngatur. Tapi, ya ku sabab aturan kamodalan, kapaksa bae. O dunya kapitalisme-dunya kapitalisme! Tapi, toh dina hiji saat teu meunang henteu dunya kapitalisme leungit, diganti ku dunya komunisme…”

-Rumini

(“Kalau tidak ada kaum buruh, segala rupa perkakas (dan mesin) tidak bisa berjalan. Semua itu berjalan berkat hasil keringat kaum buruh yang semestinya kaum buruh yang mengatur. Tapi, karena sebab aturan kemodalan (kapital), terpaksa saja kaum buruh mengalah. Oh, dunia kapitalisme-dunia kapitalisme! Tapi, tidak menutup kemungkinan di suatu saat nanti dunia kapitalisme lenyap, dan digantikan dengan dunia komunisme…”)

-Rumini

Rumini adalah tokoh utama dalam Roman Kapalang Nékad– digambarkan sebagai pasangan dari seorang aktivis komunis bernama Sam, seorang perempuan yang kritis, benci pada kapitalisme, kolonialisme dan feodalisme karena terpengaruh dengan pemikiran komunisme akibat membaca Surat Kabar Sinar Hindia yang merupakan surat kabar progresif sayap kiri dari Semarang yang disunting oleh Semaoen. Sebagaimana telah disinggung di muka, Roman Kapalang Nékad erat bersinggungan dengan politik dan perjuangan kelas, hal ini terlihat dari bagaimana tokoh Rumini menanggapi perihal pemogokan dalam surat kabar Sinar Hindia. Rumini, mendukung pemogokan kaum buruh sebagai bentuk protes akan buruknya penghidupan dan penghisapan di bawah kapitalisme kolonial, sebagaimana Rumini berkata “Saha nu hayang mogok? Naha dititah pimpinanna? Ah, lain, sabab kaom buruh moal nyarieun pemogokan lamun kahirupanana meujeuhna sumawonna mun cukup” (terjemahan Bahasa Indonesia: “Siapa yang mau mogok? Apakah mereka mogok karena disuruh pimpinannya? Ah, bukan. Sebab kaum buruh tidak akan melakukan pemogokan jika kehidupannya baik, apalagi cukup”).

Ucapan Rumini barangkali bukan hanya sebuah ucapan tanpa tujuan tokoh “imajiner” dalam karya sastra saja, besar kemungkinan merupakan propaganda kepada pembaca Surat Kabar Soerapati untuk melakukan gerakan “pembangkangan” terhadap kaum modal dengan tujuan melawan kapitalisme. Sebagaimana halnya Mas Marco Kartodikromo menulis jangan takut di Surat Kabar Sinar Djawa pada 11 April 1918 yang berbunyi “Sungguhpun amat berat orang bergerak memihak kepada orang yang lemah (yang tertindas), lihatlah adanya pemogokan yang berulang-ulang diwartakan dalam Sinar (Djawa) ini. Di situ sudah menunjukkan bilangannya berpuluh-puluh korban itu pemogokan, inilah memang sudah seharusnya. Sebab melawan kaum yang mempunyai pabrik-pabrik itu sama artinya dengan melawan pemerintah yang tidak adil”.

Dapat dikatakan bahwa pada masa itu, siasat pemogokan kerja adalah senjata yang efisien bagi kaum buruh untuk melawan kapitalisme dan pemerintah kolonial. Mej Kartimi secara tidak langsung “mensyiarkan” kiat dan senjata kaum buruh untuk melawan pemilik modal, yakni melalui pemogokan.

Disamping “mensyiarkan” pemogokan kepada para pembaca Soerapati, melalui Kapalang Nékad Mej Kartimi berusaha membuka mata kaum tertindas akan busuknya sistem kapitalisme. Secara eksplisit, Mej Kartimi membeberkan tentang bagaimana sistem kapitalisme membuat rakyat sengsara melalui tokoh Sam yang seorang aktivis komunis ketika dijebloskan ke penjara akibat aktivismenya. Di penjara, Sam menganalisa mengapa orang-orang dijebloskan ke penjara, hasil analisanya menjawab ternyata orang-orang yang dijebloskan ke penjara sebab berbuat kejahatan adalah karena buruknya kehidupan yang disebabkan oleh sistem kapitalisme.

Secara implisit, Mej Kartimi melalui tokoh Sam melihat bahwa penjara dan kapitalisme adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan, sistem kapitalisme membuat rakyat sengsara hingga pada akhirnya berbuat kejahatan demi menyambung hidup yang pada akhirnya berujung pada penjeblosan ke penjara. Penjara dan kapitalisme adalah dualisme yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya, kira-kira begitulah pesan yang ingin disampaikan oleh Mej Kartimi. Melalui Kapalang Nékad, Mej Kartimi mencoba menstimulus pikiran pembaca Surat kabar Soerapati, bahwa kapitalisme adalah sumber kesengsaraan rakyat.

Di sisi lain, Roman Kapalang Nékad pun erat kaitannya dengan wacana kesetaraan gender, menyiratkan propaganda kepada kaum perempuan untuk sama-sama ikut berjuang melawan kapitalisme. Secara eksplisit tokoh Rumini adalah manifetasi dari keikutsertaan perempuan dalam perjuangan melawan kapitalisme yang menyengsarakan rakyat, sebagaimana percakapan antara Rumini dan Saripah; “Ik salawasna jangji, yén banda, badan, jeung tanaga baris disérénkeun ka pembéla rayat, digawé babarengan jeung kaom lalaki, ngudag kasalametan rayat,” (dalam Bahasa Indonesia: “Aku selamanya berjanji, bahwa harta, badan, dan tenaga akan kuserahkan kepada pembela rakyat, akan sama-sama bekerja dengan kaum laki-laki demi mencapai keselamatan rakyat,”) Ujar Saripah.

Kaom lalaki atawa salaki urang asup ka bui, urang anu ngawakilan nuluykeun pagawéanna di médan pergerakan,” (dalam Bahasa Indonesia: “Jika kaum laki-laki atau pasangan kita ditangkap dan dipenjara, sudah tentu kita yang harus mewakilinya dalam melanjutkan perjuangannya di medan pergerakan,”) Ucap Rumini; “Tapi anu aneh pisan mah, ari salakina mah teu muntru-muntru ngan saukur jadi lid baé, pamajikanna propaganda kaditu-kadieu.” (dalam Bahasa Indonesia: “Tapi yang paling aneh itu, suaminya hanya jadi pemimpin saja diam di tempat, malah istrinya ke sana-ke mari menyebarkan propaganda.”) Ucap Saripah; “Tapi lamun ku urang dipikir, awéwé téh perlu tiheula asup pergerakan, sarta ngajiwir ceulina lalaki nu teu daék bergerak!” (dalam Bahasa Indonesia: “Tapi kalau dipikir-pikir, perempuan perlu lebih dahulu masuk ke dalam pergerakan, lalu menjewer setiap telinga laki-laki yang enggan untuk bergerak!” Ujar Rumini.

Potret kesetaraan tidak hanya terlihat dalam tokoh Rumini dan Sam yang sama-sama dan setara berjuang, melainkan juga pada kedudukan Mej Kartimi selaku perempuan penulis Roman Kapalang Nekad, yang kedudukannya setara dengan kaum laki-laki penggerak gerakan dalam melawan kapitalisme dan kolonialisme di masa itu. Mej Kartimi menyulut kesadaran massa rakyat melalui jalan propaganda dalam bentuk karya sastra (sebagaimana Semaoen dengan Hikayat Kadiroen-nya).

Potret Budaya terhadap Perempuan di Masa Lalu

Dalam Roman Kapalang Nékad, Rumini hendak dijodohkan oleh ayahnya –tanpa persetujuan Rumini tentunya– dengan beberapa pemuda pilihan orangtua yang salah satu di antara pemuda pilihan orangtuanya adalah duda. Perjodohan tersebut jelas tak diinginkan Rumini, karena sejatinya Rumini telah menjalin asmara dengan Sam secara diam-diam. Bukan tanpa alasan Rumini menyembunyikan status hubungannya dengan Sam, melainkan hal ini didasari karena katakutannya tidak mendapatkan restu dari Haji Abd –ayah Rumini– dengan alasan latar belakang Sam yang seorang laki-laki pergerakan.

Beberapa lamaran yang datang Rumini tolak, namun, penolakan yang Rumini lakukan terhadap setiap lamaran yang datang padanya menjadikan Rumini dimarahi oleh Haji Abd, dengan alasan Rumini “tak bisa diatur”. Gambaran perempuan dalam Roman Kapalang Nékad ialah harus tunduk dan menurut pada setiap putusan laki-laki –baik ayah maupun suami– tanpa diberi kesempatan untuk berbicara dan mempertimbangkannya terlebih dahulu. Hal ini merepresentasikan bahwa budaya masyarakat di zaman pergerakan (sekitar tahun 1920-an) masih menggenggam teguh prinsip-prinsip patriarki dan feodalisme yang kental. Semua aspek hidup perempuan diatur oleh laki-laki –baik oleh ayah maupun suami, sehingga potret yang tergambar dalam realitas di zaman itu ialah perempuan kerap mendapatkan tindakan yang berketidakadilan. Secara tidak langsung, perempuan dijadikan sebagai manusia kelas dua, bahkan untuk urusan dirinya sendiri, perempuan tidak diberikan hak untuk mempertimbangkan segalanya dan dituntut untuk “nurut”. Seperti pada upaya perjodohan antara Rumini dengan Yusuf, pelarangan Rumini untuk membaca surat kabar oleh Haji Abd, hingga potret perceraian sepihak yang dilakukan oleh Emuh Natakusumah kepada Juwita melalui surat talak yang dikirim melalui surat pos (oleh sebab Emuh Natakusumah tertarik dengan perempuan lain) Merupakan gambaran budaya, yang pada tahun 1920-an kerap terjadi di masyarakat.

Sastra, Politik, dan Perjuangan Kelas

Sebagaimana disebutkan di awal, Roman Kapalang Nékad erat bersinggungan dengan pengaruh politik, perjuangan kelas, dan wacana kesetaraan sebagaimana sebagian besar tulisan-tulisan yang lahir di zaman bergerak. Dalam kontaminasi karya sastra dan politik, terlihat jelas kecenderungan roman zaman pergerakan ini berkiblat ke arah politik yang antikapitalisme, antifeodalisme dan antikolonialisme, hal ini dapat dilihat ketika membaca roman ini, yang mana tensi kritik terhadap dunia kapitalisme, feodalisme dan kolonialisme dapat dirasakan sangat kuat, ditambah tokoh Sam dalam roman ini digambarkan sebagai seorang organisator dan aktivis komunis sekaligus anggota Serikat Buruh Kereta Api, serta Rumini adalah seorang perempuan yang kritis sekaligus benci pada kapitalisme.

Topik perjuangan kelas dalam Roman Kapalang Nékad nyata adanya, sebagaimana topik perjuangan melawan kaum modal menjadi alur utama dalam roman ini. Tokoh Sam yang mengorganisir pemogokan buruh kereta api adalah contoh nyata dari gerakan perjuangan kelas buruh dalam pergerakan melawan kaum kapital.

Persinggungan antara wacana kesetaraan dan karya ini tidak hanya terbatas pada pergulatan tokoh Rumini dalam perjuangannya bersama Sam untuk mencapai masyarakat yang antikapitalis, melainkan juga Mej Kartimi selaku penulis (yang diyakini adalah seorang perempuan) di Surat Kabar Soerapati pun mendapatkan tempat yang setara dengan kaum laki-laki di zaman pergerakan. Mej Kartimi, yang katakanlah seorang perempuan pergerakan –jika Mej Kartimi bukan nama pena– mendapatkan tempat yang setara dalam berkarya, mengemukakan ide, mengkritik budaya yang menjadikan perempuan sebagai manusia kelas kedua, dan membedah peranan perempuan dalam politik di masa pergerakan melalui Roman Kapalang Nékad.

Sumber Bacaan Utama:
Kartimi, Mej. (2024). Kapalang Nekad. Ciamis: Talas Press.

Sumber Bacaan Pendukung:
Bogdanov, Alexander. (2022). Seni & Kelas Pekerja. Yogyakarta: Penerbit Semut Api.
Cahyono, Edi (ed). (2003). Jaman Bergerak di Hindia Belanda. Jakarta: Yayasan Pancur Siwah.
Sinar Djawa, 11 April 1918.
Wardani, Dharyanto Tito. (2016). Peranan Surat Kabar Soerapati dalam Perlawanan Intelektual Pribumi di Jawa Barat Tahun 1923–1925. Patanjala, Vol.8 №1. hlm.1–20.

Penulis: Purwa Sundani

Dokumentasi: Purwa Sundani

Penyunting: Hana Diah Khoerunnisa