Dalam sejarah perkembangan sastra daerah, terdapat kaitan antara kolonialisme, industrialisasi, dan budaya cetak terhadap kemajuan sastra. Bagaimanapun, kolonialisme yang membawa industrialisasi, dan industrialisasi menghasilkan mesin cetak membawa pembaruan dalam keberlangsungan sastra di Nusantara, khususnya dalam sastra-sastra berbahasa Sunda.
Mikihiro Moriyama dalam bukunya yang berjudul Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, dengan melalui serangkaian penelitian komprehensif terhadap naskah dan literatur berbahasa Sunda, mengemukakan bahwa dengan hadirnya mesin cetak yang dibawa oleh kolonial Belanda, terdapat suatu perubahan budaya yang signifikan pada masyarakat Sunda.
Meskipun buku-buku cetak berbahasa Belanda sudah muncul dan tersebar di masyarakat, masyarakat Sunda pada zaman itu sudah terbiasa membaca manuskrip sejak dulu. Manuskrip-manuskrip tersebut berisi hikayat, dangding, dan wawacan. Dengan munculnya mesin cetak akibat industrialisasi, maka manuskrip-manuskrip yang dalam jumlahnya sangat terbatas itu mulai diproduksi dan dicetak secara massal menggunakan mesin percetakan. Karena manuskrip pada zaman dahulu berjumlah terbatas, adanya cetakan massal ini menimbulkan dua faktor antara positif dan negatif. Faktor positifnya adalah setiap orang mendapat bahan bacaan yang banyak dan sama satu sama lainnya akibat dari percetakan massal, dan faktor negatifnya adalah hilangnya otentikasi seni pada manuskrip, karena percetakan massal membentuk tiap lembar buku satu sama lainnya sama, sehingga terjadi homogenisasi.
Walter Benjamin (hlm. 100) mengatakan bahwa akibat homogenisasi karena reproduksi mekanis mesin cetak, keragaman salinan di tiap lembar manuskrip dan menjadikannya unik satu sama lain hilang. Meski begitu, akibat produksi massal dan homogenisasi, distribusi pengetahuan menjadi lebih merata ke banyak orang, sehingga timbul praktik pembentukan komunitas maupun penciptaan budaya baca tulis baru.
Salah satu tokoh penting yang memiliki peran dalam keterkaitan sastra daerah dan budaya cetak di zaman kolonialisme adalah Moehamad Moesa. Moesa, menurut Mikihiro Moriyama adalah pelopor dalam memperkenalkan tulisan sastra gaya baru di era mesin cetak.

Mengenal Moehamad Moesa: Penghulu dan Pembaharu Sastra Sunda
Dalam kehidupan sehari-hari, nama Moehamad Moesa barangkali adalah nama yang jarang terdengar. Lahir di Limbangan tahun 1882 dan merupakan anak dari seorang patih Limbangan bernama Raden Rangga Soerjadikoesoemah.
Semasa muda, Moesa mendapat pendidikan formal melalui pesantren di Purwakarta dan berkesempatan menunaikan ibadah haji pada usia remaja bersama ayahnya. Dari pendidikan formal pertama yang didapat dari pesantren, karier Moesa ketika menginjak dewasa erat kaitannya dengan dunia Islam. Di tahun 1864, ia diangkat menjadi hoofdpanghulu dan digaji oleh pemerintah kolonial sebesar 9000 gulden per tahun, setelah sebelumnya menjabat sebagai penghulu di Kabupaten Limbangan hingga ia wafat di tahun 1886.
Posisi Moesa sebagai bangsawan di tengah masyarakat dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial untuk menjaga ketertiban dan keamanan di suatu wilayah, dengan siasat diangkatnya Moesa sebagai hoofdpanghulu karena Moesa adalah seorang politikus dan agamawan, maka tak disangsikan lagi Moesa tahu bagaimana cara menangani urusan administratif seperti memungut pajak dsb.
Moesa, boleh dikata memiliki pemikiran yang maju di zamannya, seperti menghargai pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuan (hlm. 139), serta dekat dengan orang Eropa, hal ini sebagaimana persahabatan antara Moesa dengan K.F. Holle. Meski sebagian besar kaum pribumi menganggap orang Eropa adalah kafir, berbahaya, dan bikin susah, namun Moesa memiliki pandangan terbuka dengan orang Eropa dan tidak memiliki sentimen pada orang Eropa sebagaimana kebanyakan kaum bumiputra. Tentang tidak ada sentimennya Moesa pada orang Eropa (dan faktanya Moesa bersahabat dengan K.F. Holle), Moriyama menuliskan entah ada paduan antara oportunisme dan keingintahuan atau tidak dalam persahabatan dua orang Eropa dan Sunda tersebut (hlm.145).
Di tengah budaya Sunda pada masa itu yang kebanyakan masih menulis karya dengan cara manual –sebagaimana dalam menulis manuskrip pada umumnya, Moesa dalam tulisannya menerapkan cara produksi yang lebih modern, yakni melalui mesin percetakan dan dicetak secara massal (hlm. 159).
Dari cara Moesa menghasilkan karya tulisnya yang menggunakan mesin percetakan, dapat dikatakan Moesa merupakan penulis lokal pertama yang menghasilkan karyanya dalam bentuk cetakan, dimana pada masa itu biasanya penulis menuliskan karyanya dalam bentuk manuskrip yang ditulis secara manual (hlm. 159).
Dengan bantuan sahabatnya, K.F. Holle, Moesa membawa tulisan tangan manuskrip karyanya dari Limbangan ke Batavia untuk dicetak oleh Landsdrukkerij. Secara keseluruhan Moesa telah menerbitkan 14 judul buku. Dalam karyanya yang berjudul Carita Abdurahman jeung Abdurahim yang terbit pertama kali tahun 1863, menggunakan kombinasi antara aksara Jawa dan Latin. Karya tulis Moesa dikelompokkan menjadi empat kategori, yakni; sastra, pelajaran, pertanian, dan fabel.
Dalam banyak karya yang ditulis oleh Moesa, sebagian adalah karya terjemahan atau saduran, sedang beberapa di antaranya ditulis berdasarkan pengetahuan yang diberikan oleh Holle (khususnya untuk buku pertanian, pengajaran, dan fabel). Karya-karya utama Moesa adalah karya sastra Sunda dalam bentuk wawacan, sebagaimana yang utama adalah karyanya yang berjudul Wawacan Panji Wulung.
Dalam beberapa tulisan terjemahan atau saduran, Moesa menggubah tulisannya menjadi bentuk dangding yang mirip dengan puisi. Namun, meskipun begitu, Moesa merasa lebih cocok jika penerjemahan karya dari luar ditulis menggunakan prosa. Moriyama di sini beranggapan bahwa Moesa lambat laun sedang menggunakan sudut pandang orang Belanda, yang mana prosa lebih banyak digunakan dibanding puisi (hlm.162).
Moesa dan Panilaian Terhadap Karya Sastranya
Pemerintah Kolonial Belanda sama sekali tidak menghargai puisi Sunda. Dalam pandangan kolonial, puisi Sunda dianggap terlalu sederhana, membosankan, dan penuh pengulangan. Banyak dari penulis Sunda di masa itu adalah penulis puisi. Akan tetapi, pandangan pemerintah kolonial Belanda terhadap Moesa jelas berbeda. Oleh sebab Moesa adalah orang Sunda pertama yang menulis prosa dan karyanya dianggap cukup baik oleh pemerintah kolonial, maka Moesa diakui menjadi ‘penulis Sunda paling hebat’ oleh pemerintah kolonial (hlm.163).
Snouck Hurgronje pun mengungkapkan bahwa sumbangan dari K.F. Holle dan Moesa dalam ranah penerbitan bumiputra terkait prosa dan puisi dalam bahasa Sunda cukup mendapat apresiasi karena karyanya dinilai baik (hlm.163). Namun tentu, tak semua orang Belanda memandang karya Moesa adalah karya yang pantas mendapat pujian. Koorders, ahli Sunda yang dikirimkan oleh Pemerintah Kolonial ke Hindia Belanda mengkritik karya Moesa yang berjudul Wawacan Wulung Krama adalah suatu bentuk karya yang ditulis secara berulang-ulang dan hampir setiap karyanya dinilai tidak berguna. Menurut Kooders, karya Moesa hanya membuang-buang uang pemerintah kolonial. Bagaimanapun, Moesa menerima honorarium tak kurang dari 7.500 gulden dari pemerintah Kolonial Belanda (hlm.164).
Kooders, tidak hanya mengkritik tulisan Moesa perihal honorarium saja, tetapi perihal pengetahuan tentang kesundaannya sendiri. Kooders melihat Moesa sebagai penulis yang buruk, serta karya-karyanya lebih baik tidak diterbitkan lagi (hlm.165).
Dalam Valksalmanak Soenda pada 1919, seorang penulis menyatakan bahwa Moesa memang menulis untuk orang Sunda yang melek huruf. Akan tetapi, karya-karya yang ditulis Moesa dalam bentuk dangding mesti dipertanyakan kualitasnya karena bentuknya yang terlampau panjang. Di lain pihak, Memed Sastrahadiprawira, salah seorang sastrawan besar Sunda memuji bakat sastra Moesa (hlm.165). Reputasi Moesa hingga masa awal revolusi tetap bertahan. Tetapi, di tahun 1955, pengarang Sunda terkenal, M.A. Salmoen membahas Moesa dengan nada yang ironis.
Salmoen menilai bahwa puisi-puisi Moesa terkesan dibuat-buat serta melebih-lebihkan aturan penciptaan dangding tanpa menghiraukan keindahan bahasa (hlm.167). Menurut Salmoen, prosa-prosa Moesa sangat menarik. Namun, karya-karyanya sebagian hanya dapat dinikmati dan dibaca oleh generasi kakek nenek Salmoen ketika muda.
Ajip Rosidi, kritikus sastra Sunda mengapresiasi gaya Moesa dalam memperkenalkan karangan gaya baru, tetapi karangan Moesa tidak membuat Moesa menjadi pengarang hebat atau karya-karyanya memiliki kualitas yang menonjol. Ajip, bahkan mengkritik kritik terhadap tulisan Moesa karena terlalu memuji-muji kebijakan kolonial (hlm.167).
Gaya Cetak Tulisan Moesa Sebagai Landasan Modernitas Sastra Sunda
Dalam tradisi tulisan naskah-naskah Sunda yang masih dalam bentuk manuskrip (sebelum menggunakan mesin cetak), tulisan dalam naskah-naskah tersebut tidak memiliki tanda baca yang jelas, sehingga pembaca diharuskan mengira-ngira di mana harus berhenti atau melakukan jeda saat membaca tulisan. Selain itu, dalam tradisi manuskrip, seringkali tidak terdapat keterangan judul mengenai karya sastra tersebut. Maka, banyak dari orang-orang dahulu biasanya menuliskan nama tokoh utama dalam karya. Bahkan, sering kali sebuah karya sastra dalam manuskrip tidak diketahui siapa pengarangnya.
Berbeda dengan budaya Eropa yang mengenal judul dan identitas buku, serta tanda baca pada setiap teks karya tulis. Moesa dengan penggunaan mesin cetak mulai menggunakan cara budaya Eropa dalam setiap karyanya, yaitu menggunakan dan mencantumkan judul karya, mencantumkan nama pengarang, menggunakan tanda baca pada kalimat karyanya, serta memproduksi secara massal dalam bentuk buku setiap karyanya, alih-alih menggunakan metode manuskrip gaya lama. Moesa, dalam sejarah tulisan berbahasa Sunda dianggap sebagai pelopor yang memperkenalkan tulisan model Eropa dalam karya berbahasa Sunda. Suatu bentuk modernitas imbas dari penggunaan mesin cetak.
Meski menggunakan mesin cetak serta mengusung cara dan gaya modern dalam bentuk karyanya, Moesa tetap memertahankan nilai tradisi Sunda dalam karya-karyanya, ialah fakta bahwa Moesa banyak menulis dangding. Namun demikian, dangding yang ditulis Moesa seperti yang berjudul Elmu Nyawah, meski berbentuk puisi tradisional, tetapi menawarkan estetika dan ideologi baru, yang mengandung informasi praktis, tunduk pada kolonial, dan menentang pengetahuan tradisional (hlm.172).
Ciri karya Moesa sebagai karya gaya baru adalah tulisannya yang bersifat rasional dan didaktis. Karya-karyanya yang memiliki sifat didaktis memiliki kekuatan untuk mencerahkan pikiran rakyat, dengan cara memberi contoh langsung perihal baik dan buruk, contohnya seperti dalam kumpulan cerita Dongeng-dongeng Pieunteungeun. Sebuah pengaruh dari persentuhan Moesa dengan gaya fabel-fabel Barat.
Menurut M.A. Salmoen, karya Moesa memiliki rasionalitas yang tinggi. Moesa dalam karyanya mencoba untuk memberantas tahayul dan bid’ah, tercermin hampir dari setiap bukunya memiliki fragmen konfrontasi antara dukun-dukun yang sakti dengan tokoh utama yang bijaksana. Salmoen sendiri menilai bahwa ini adalah ciri khas dari Moehamad Moesa (hlm.175).
Meskipun Moesa dalam karyanya sering kali secara terang-terangan memuji pemerintah Kolonial, tak dapat disangkal bahwa langkah Moesa dalam melakukan penerbitan karya menggunakan mesin cetak, mengubah tradisi penulisan dalam bentuk manuskrip menjadi bentuk buku sebagaimana gaya Eropa, serta menggabungkan antara tradisionalitas (jenis karya) dengan modernitas (wujud karya) adalah bentuk fondasi inspirasi utama karya sastra pengarang Sunda selanjutnya, di mana cara-cara manuskrip mulai ditinggalkan dan pengarang-pengarang setelah Moesa mulai mengikuti jalan penggunaan mesin cetak dalam produksi karya.
Tiga Gelombang Perkembangan Sastra Sunda Pasca Moehamad Moesa
Moriyama membagi tiga gelombang perkembangan sastra Sunda setelah Moehamad Moesa. Gelombang pertama adalah gelombang hadirnya wawacan dalam bentuk cetak. Sebagaimana diketahui wawacan yang pada mulanya ditulis manual dalam bentuk manuskrip, mulai dicetak menggunakan mesin pada dekade pertama abad ke-20. Terinspirasi oleh Moesa yang menerbitkan Wawacan Panji Wulung menggunakan mesin cetak, Wawacan Angling Darma pun mengikuti terbit pada tahun 1906 dan diproduksi secara massal menggunakan mesin cetak (hlm.231).
Yang menarik di gelombang pertama perkembangan sastra Sunda ini, wawacan tidak hanya menceritakan kisah-kisah kepahlawanan raja dan bangsawan, melainkan juga menceritakan tentang kehidupan sehari-hari di zaman hidup pengarangnya sendiri. Ajip Rosidi mengatakan bahwa wawacan-wawacan ini disebut juga sebagai wawacan ‘baru’ (hlm.232).
Beberapa wawacan ‘baru’ seperti Wawacan Enden Sari Banon, Carios Istri Rayungan (wawacan tentang Sari Banon, seorang istri yang tak setia), Wawacan Noe Kaleungitan Caroge (wawacan tentang mereka yang kehilangan suami), serta Wawacan Rampog di Cimahi taun 1900 (wawacan tentang perampokan di Cimahi tahun 1900) membuktikan bahwa dalam wawacan ‘baru’, sifat dasar wawacan mulai berubah dari fiktif dan didaktis menjadi tulisan realis dan jurnalisme yang menyusup ke dalam tulisan berbentuk tradisional (hlm.233).
Gelombang kedua perkembangan sastra Sunda adalah gelombang terjemahan dan saduran cerita Eropa ke dalam Bahasa Sunda. Dalam gelombang pasca 1870, banyak bermunculan cerita terjemahan dalam Bahasa Sunda. Salah satu tokoh penerjemah dalam cerita-cerita Eropa itu ialah Kartawinata, adik Lasminingrat, tokoh perempuan asal Garut yang membuka sekolah bagi gadis Sunda sebagaimana Dewi Sartika pada masa kolonial.
Oleh pemerintah kolonial, Kartawinata ditunjuk menjadi penerjemah resmi Bahasa Sunda pada Februari 1874. Terjemahan pertama cerita Eropa ke dalam Bahasa Sunda (meskipun dicetak menggunakan aksara Jawa) adalah Carios Tuwan Kapitan Marion, saduran yang diterbitkan pada 1872 dari cerita berjudul De Geschiedenis van den Kapitein Marion, yang menceritakan perjalanan Kapten Marion ke Selandia Baru (hlm.236).
Pencapaian Kartawinata dalam menyadur dan menerjemahkan cerita-cerita Eropa ke dalam Bahasa Sunda adalah dalam menerjemahkan Carita Kapitan Bonteku, yang diterjemahkan dari tulisan cerita perjalanan Willem Bontekoe dan kapalnya untuk berlayar dari Belanda menuju Hindia Belanda. Di periode ini, cerita-cerita terjemahan atau saduran dari cerita di Eropa mulai menggunakan ilustrasi gambar, sketsa, maupun lukisan yang hidup dan realistis, berbeda tidak seperti naskah-naskah Sunda dalam bentuk manuskrip yang minim ilustrasi (hlm.240).
Dalam saduran dari cerita-cerita Eropa di periode ini, terdapat unsur naratif (orang ketiga) dalam terjemahannya. Hal ini tentu disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat Sunda yang cukup asing dengan cara membaca menggunakan sudut pandang orang pertama, jadi harus ditambahkan narasi sebagai pengantar cerita (hlm.242).
Di periode ini pula, karya sastra Sunda mulai meninggalkan bentuk prosa (dangding) dan mulai menggunakan kalimat omongan, yakni kalimat yang jelas, bebas, dan naratif, alih-alih menggunakan bentuk dangding (hlm.245).
Gelombang ketiga dari perkembangan sastra Sunda adalah munculnya bentuk tulisan baru, yakni novel pertama. Baruang Ka Nu Ngarora merupakan karya sastra Sunda pertama dan menjadi bentuk tulisan baru. Perlu diperhatikan, Baruang Ka Nu Ngarora (racun bagi pemuda) adalah judul yang berlainan dengan karya sastra sebelum-sebelumnya. Jika sebelumnya judul karya lebih bersifat netral (seperti judul Wawacan Panji Wulung, Wawacan Angling Darma, Carita Kapitan Bonteku), dalam Baruang Ka Nu Ngarora lebih bersifat memberi kesan ajaran moral, suatu judul yang seakan memiliki tujuan tertentu.
Kedua, Baruang Ka Nu Ngarora dalam isi tulisannya bersifat individualistik, seperti latar tempat, tokoh, dan waktu cerita yang cukup jelas. Berbeda dengan karya sastra di periode sebelumnya yang dimulai dengan “pada suatu masa… atau di suatu kerajaan…”, Baruang Ka Nu Ngarora latar dan karakteristik tokohnya realistis sekaligus infividualis, hal itu yang tidak terdapat dalam sastra Sunda sebelumnya (hlm.250).
Konklusi
Dari perjalanan perkembangan sastra Sunda, dapat disimpulkan bahwa Moehamad Moesa menempati posisi penting dalam sejarah perkembangan sastra Sunda, terutama dalam peralihan dari tradisi manuskrip menuju budaya cetak modern di masa kolonial. Melalui karyanya yang diproduksi menggunakan mesin cetak dan dipengaruhi oleh hubungan intelektualnya dengan K.F. Holle, Moesa menjadi pelopor dalam memperkenalkan bentuk, gaya, dan sistem produksi sastra yang lebih modern tanpa sepenuhnya meninggalkan akar tradisi Sunda.
Moesa tidak hanya menghadirkan inovasi seperti pencantuman judul, nama pengarang, dan penggunaan tanda baca dalam setiap karya, tetapi juga memperkenalkan paradigma baru dalam isi dan bentuk sastra Sunda, dengan memadukan unsur rasionalitas, didaktisisme, serta pengaruh gaya prosa Barat yang kelak menjadi fondasi penting bagi lahirnya tradisi sastra cetak Sunda modern.
Dampak pengaruh Moesa tampak jelas dalam tiga gelombang perkembangan sastra Sunda setelahnya, seperti munculnya wawacan cetak, berkembangnya tradisi terjemahan dan saduran karya Eropa, serta lahirnya novel Sunda pertama Baruang Ka Nu Ngarora. Dan suka maupun tidak, kolonialisme membawa modernitas dalam sastra Sunda hingga zaman ini, salah satunya melalui tradisi cetak.
Namun menurut pandangan saya, secara subjektif tentunya, modernitas sastra Sunda yang berawal dari kegandrungan akan budaya Barat dan barangkali berkiblat pada karya sastra Barat pada mulanya, membuat kebertahanan manuskrip yang otentik dan unik terhapuskan sepenuhnya, digantikan oleh produk yang homogen, tiada perbedaan dan keunikan dari satu eksemplar dengan eksemplar lain. Meski begitu, saya tak menyangkal bahwa modernisasi sastra Sunda melalui mesin cetak membawa pada melesatnya pengetahuan dan perkembangan kesastraan Sunda, bahkan perkembangan pengetahuan kehidupan masyarakat Sunda itu sendiri.
Buku hasil penelitian Moriyama ini cukup baik dalam membedah keterikatan antara kolonialisme dan modernitas kesastraan Sunda di abad ke-19 melalui budaya cetak. Meski dari saya pribadi perlu menjadi catatan bahwa subjektifitas Moriyama dalam menelusuri sejarah budaya cetak sastra Sunda dalam buku ini, agaknya banyak terpaku pada kehidupan tokoh Moehamad Moesa beserta keturunannya (khususnya di BAB 3–5) alih-alih mengurai dan membedah karya-karya sastra di setiap perkembangan sastra Sunda di masa kolonial. Tentu, akan menjadi satu buku yang lebih tebal jika membedah dan mengurai karya sastra dalam setiap perkembangannya secara rinci satu persatu, namun mungkin menurut pandangan saya, akan lebih baik sebagai bahan komparasi perkembangan sastra Sunda menuju modernisasi.
Identitas Buku
Judul Buku: Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad Ke-19
Pengarang: Mikihiro Moriyama
Tahun Terbit: 2013 (Cetakan Pertama)
Penerbit: Komunitas Bambu
Kota Terbit: Jakarta
ISBN: 978–602–9402–26–1
Jumlah Halaman: xxi + 350 halaman
Penulis: Purwa Sundani
Dokumentasi: Purwa Sundani
Penyunting: Marissa Anggita


