SARANG TAWON DI TAMAN BUAYA DIEVAKUASI, TIGA MAHASISWA SEBELUMNYA TERSENGAT

Suasana malam di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung pada Senin 20 Oktober terasa berbeda dari biasanya. Sekitar pukul tujuh malam, beberapa petugas Pemadam Kebakaran terlihat memasuki area kampus dengan peralatan lengkap. Bukan untuk memadamkan api, melainkan mengevakuasi sarang tawon yang sudah lama bersarang di pohon besar yang ada di Taman Buaya, dan belakangan ini menimbulkan keresahan bagi warga kampus.

Langkah penanganan ini dilakukan setelah pihak kampus menerima laporan dari Kepala Jurusan Teater, Yani Maemunah, S.Sn., M.Sn., yang menyampaikan bahwa sarang tawon tersebut telah ada selama hampir satu bulan dan sudah menyebabkan tiga mahasiswa tersengat. Menanggapi laporan itu, pihak kampus melalui unit RTBMN langsung melakukan koordinasi untuk memanggil Pemadam Kebakaran.

Tatang, staf RTBMN ISBI Bandung yang turut mengawasi jalannya evakuasi, menjelaskan bahwa penanganan ini merupakan tindak lanjut dari laporan adanya sarang tawon di salah satu pohon di Taman Buaya. “Laporan ini sudah masuk sekitar satu bulan lalu. Katanya sudah ada tiga mahasiswa yang tersengat. Hari ini baru bisa ditangani karena saya langsung dengar sendiri dari Bu Yani dan segera saya koordinasikan dengan pimpinan,” ujarnya.

Menurut Tatang, proses pemanggilan Pemadam Kebakaran berjalan cukup cepat. Setelah berdiskusi dengan rekannya, Adang, pihaknya menghubungi teman yang bekerja di Dinas Pemadam Kebakaran untuk meminta bantuan. “Kebetulan saya punya teman di Damkar. Saya hubungi, mereka langsung merespon. Cuma mereka bilang, penanganannya sebaiknya dilakukan malam hari karena kalau siang, tawonnya bisa menyerang duluan,” tuturnya.

Proses evakuasi sarang tawon di Taman Buaya, seluruh lampu sekitar Taman Buaya dimatikan saat proses evakuasi (Foto: Hesa Nugraha Pratama/LPM Daunjati)

Evakuasi pun dijadwalkan pada malam hari sekitar pukul 19.00 hingga 20.00 WIB. Tatang menjelaskan bahwa waktu tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Selain karena aktivitas tawon yang lebih tenang di malam hari, kegiatan kampus juga sudah mulai sepi, sehingga meminimalisir risiko bagi mahasiswa dan staf yang beraktivitas di siang hari. “Kalau dilakukan siang, sebelum bertindak bisa-bisa petugas diserang duluan. Karena itu mereka memilih malam. Bahkan tadi saat pelaksanaan, lampu-lampu di sekitar lokasi sengaja dimatikan agar tidak memancing agresi tawon,” jelasnya.

Proses evakuasi sarang tawon di Taman Buaya (Foto: Hesa Nugraha Pratama/LPM Daunjati)

Begitu tim Pemadam Kebakaran tiba di lokasi, mereka segera mempersiapkan perlengkapan keselamatan seperti pakaian tebal, sarung tangan, helm, dan alat semprot bertekanan tinggi. Proses penanganan dimulai dengan membakar bagian luar sarang untuk membuat tawon keluar dari koloni. Setelah sebagian tawon terbang keluar, petugas kemudian menyemprot sarang tawon dengan air bertekanan tinggi. Seluruh proses berlangsung sekitar tiga puluh menit di bawah pengawasan pihak kampus.

Salah satu warga kampus, Rizal, menjadi saksi langsung proses evakuasi tersebut. Ia menuturkan bahwa keberadaan sarang tawon sudah cukup lama mengganggu aktivitas malam di area kampus. “Kalau malam di sini kan biasanya banyak kegiatan. Kadang ada mahasiswa yang latihan, ngerjain tugas, atau persiapan acara. Dengan adanya tawon ini jadi agak was-was. Jadi begitu tadi ada penanganan, menurut saya itu langkah yang tepat,” katanya.

Rizal mengaku sudah cukup lama mengetahui keberadaan sarang tawon tersebut, namun baru kali ini melihat ada tindakan langsung dari pihak kampus. Menurutnya, waktu penanganan evakuasi sarang tawon di malam hari sudah sesuai. “Kalau siang, bisa ganggu orang yang lagi kerja di gedung, dan kalau tawonnya terbang ke mana-mana malah bahaya. Jadi udah tepat dilakukan malam,” ujarnya.

Dengan adanya sarang tawon di Taman Buaya, Rizal juga menyampaikan kekhawatiran terhadap acara kampus yang akan segera digelar, seperti ujian pentas dan kegiatan terbuka yang biasanya dihadiri orang luar. “Kita takutnya kalau pas acara ada tamu dari luar, terus tawonnya masih di sini, bisa ganggu atau malah nyerang orang. Jadi bagus banget ini segera ditangani,” tambahnya.

Menurut Tatang, koordinasi antara RTBMN dan Pemadam Kebakaran berlangsung lancar. Ia mengapresiasi respon cepat dari pihak Pemadam Kebakaran yang langsung datang malam itu juga. “Saya pikir mereka bagus, cepat tanggap. Begitu dikasih tahu alamat dan titiknya, langsung dikirim petugasnya. Jadi ya cepat ditangani,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah setiap keluhan di kampus akan selalu mendapat penanganan secepat itu, Tatang mengaku belum bisa memastikan. “Kebetulan kali ini saya langsung dengar sendiri keluhannya dan bisa koordinasi cepat dengan pimpinan. Tapi untuk kasus lain, tergantung situasinya juga,” katanya.

Proses evakuasi malam itu berjalan aman dan tertib. Petugas Pemadam Kebakaran berhasil mengambil sarang tawon tanpa insiden. Setelah penanganan selesai, area sekitar kembali diterangi lampu dan aktivitas kampus perlahan normal kembali.

Penulis: Hesa Nugraha Pratama

Dokumentasi: Hesa Nugraha Pratama

Penyunting: Marcellino Evan Cheung