Pertunjukan teater “Nabi Kembar” karya Slawomir Mrozek, terjemahan Djum’an, dipentaskan di Gedung Kesenian Sunan Ambu, ISBI Bandung. Melalui kisah dua nabi yang hadir bersamaan, pementasan ini menampilkan refleksi satir tentang perebutan kebenaran di tengah hiruk pikuk kekuasaan.
“Nec audiendi qui solent dicere, Vox populi, vox Dei, quum tumultuositas vulgi semper insaniae proxima sit.”
Terjemahann : “Dan mereka yang biasa mengatakan ‘Vox Populi, Vox Dei’ tidak boleh didengarkan, karena keributan massa selalu dekat dengan kegilaan.”

Ungkapan Latin “Vox Populi, Vox Dei” secara harfiah berarti “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”. Namun secara konteks literer, istilah ini pertama kali dicatat sebagai bentuk sanggahan. Kalimat tersebut berasal dari surat penasihat kerajaan, Alcuin of York, kepada Kaisar Charlemagne pada tahun 798 M, secara ironis, ia memperingatkan agar penguasa tidak serta-merta mempercayai kebenaran mutlak suara massa, karena suara massa dianggap rentan terhadap irasionalitas dan kekacauan. Dalam kontemplasi mencari kebenaran di antara suara rakyat dan kekuasaan oligarki inilah, pementasan teater “Nabi Kembar” digelar.
Karya ini menampilkan mahasiswa dengan minat pemeranan: M. Malik Fajar sebagai Juru Sita dan Mikhail Zidan sebagai Ketua Wali Negara, dengan dukungan penataan artistik oleh M. Gilbarni Kurniawan, pertunjukan ini berada di bawah arahan dosen pembimbing pemeranan Irwan Jamal, S.Sn., M.Sn., dan pembimbing artistik Yadi Mulyadi, S.Sn., M.Sn pada pada Sabtu, 01/11/2025.
Pertunjukan berhasil menampilkan suasana absurd sesuai tema yang diusung, dengan perpaduan visual dan gestur yang memperkuat teatrikal khas karya Mrozek.
Sinopsis pada pertunjukan teater ini menceritakan kegemparan di sebuah kerajaan ketika dua sosok nabi muncul secara bersamaan, sehingga terjadilah dialektika politik mengenai siapa di antara keduanya yang lebih dapat dikendalikan oleh kalangan oligarki, yang secara tidak sadar akar permasalahan justru tercipta dari mereka sendiri.
Karya asli dari pertunjukan ini terdapat dalam buku kompilasi “Three plays: Striptease/Repeat Performance/The Prophets” pada 1972 yang ditulis dalam tekanan serta interfensi sensor pemerintah Polandia, dimana pada saat itu masih berada dalam dominasi partai komunis PZPR (Polska Zjednoczona Partia Robotnicza).
Dalam pertunjukan ini, banyak digunakan referensi dari kisah-kisah dalam kitab Abrahamik, terutama Injil dan Taurat. Dalam Kitab Perjanjian Lama (Genesis 25:22–23) disebutkan kisah saudara kembar Yakub (Jacob) dan Esau (Ishu), anak dari Ishak. Lalu, kemunculan tiga orang bijak yaitu Balthazar (Aris Sugiharto DW), Melchior (Lifi Chaefy Febrian), dan Gaspar (Heryana Benu) yang diadaptasi dari Kitab Perjanjian Baru (Matius 2:1–12).
Adegan Gaspar (Heryana Benu) yang berjalan sembari membawa kepalanya yang terpengal merupakan referensi dari kisah Santo Denis, pendeta asal Italia yang dieksekusi di bukit Montmanrtre, Prancis, pada masa kekuasaan Raja Valerian (250–270 M). Terdapat pula paralel yang kuat dengan kisah “Levite’s Concubine” (Hakim-Hakim: 19–21) di mana seorang Perempuan yang dalam teater ini disebut Primadona (Dhilla Handayani) yang menjadi korban kekerasan kolektif oleh para penguasa. Dengan leher terantai, ia dipaksa menghibur para pejabat, hanya untuk kemudian dibunuh oleh Ketua Wali Negara (Mikhail Zidan) tanpa pamrih, sehingga menimbulkan kemarahan rakyat yang ditafsirkan oleh para oligarki sebagai “kemarahan Tuhan”. Namun mereka justru terjebak dalam konflik dan saling menuduh, hingga merencanakan pembunuhan demi membuktikan kebenaran versi mereka sendiri.
Salah satu penonton, Maya, mahasiswi angkatan 2025, mengungkapkan kesannya setelah menonton pementasan tersebut.

“Yang paling bagus dan berkesan di aku sih ketika di tengah pementasan ada instrumen You Are My Sunshine. Aku sangat excited dan menunggu-nunggu adegan itu,” ujar Maya.
Sepanjang pertunjukkan, ia mengaku terhibur dan kagum dengan alur cerita serta penyajiannya. Maya menonton dari awal hingga akhir dan merasa pengalaman itu memberikan kesan mendalam baginya.
Pertunjukkan “Nabi Kembar” berhasil menciptakan pengalaman teatrikal yang utuh melalui dua lapisan elemen utama. Pertama, simbol-simbol panggung seperti jam besar yang tidak menunjukkan waktu dan kehadiran kucing yang berlalu-lalang, serta penggunaan bahasa slang modern, membangun atmosfer absurd sekaligus mempertahankan narasi panggung. Kedua, peran Nabi Kembar (Prabu Muhammad Kustanto dan Hikarif Rafif Maulana) yang justru tidak ditonjolkan, mengarahkan fokus penonton pada konflik antara Juru Sita (M. Malik Fajar) dan Ketua Wali Negara (Mikhail Zidan). Keseluruhan rangkaian pertunjukan ini juga berhasil menghibur penonton melalui watak para tokoh yang bertindak di luar logika umum untuk memenuhi ego mereka masing-masing dalam mencari kebenaran mutlak.

Penulis: M. Haikal Athar A. & Firza N. Assegaf
Dokumentasi: M. Haikal Athar A. & Tim Dokumentasi Nabi Kembar
Penyunting: Rifka Rahma Dewi

