Sabtu, 22 November 2025 menjadi hari pementasan teater berjudul “Rumah yang Dikuburkan” karya Sam Shepard terjemahan Afrizal Malna di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung. Pementasan ini merupakan bagian dari Ujan Tugas Akhir Gelombang Dua Jurusan Teater ISBI Bandung dengan minat penataan artistik dan pemeranan yang diikuti oleh Hilmi Fauzan dengan minat penataan artistik dan M. Rendy Albarsach, Altruzuma Anugrah, dan Iqsa Novia Guntari dengan minat pemeranan.
Tidak semua drama keluarga dimulai dengan pertengkaran, beberapa dimulai dengan hujan abadi dan kata-kata yang terasa seperti pesan dari masa lalu. Setidaknya, seperti itulah penggambaran dalam pertunjukan “Rumah yang Dikuburkan”, atau dalam naskah aslinya berjudul “Burried Child” karya dramawan pasifis Sam Shepard yang cukup berhasil membawa atmosfer penuh misteri, teka-teki, dan tanda tanya di benak para penonton tentang sebuah keluarga Amerika yang dipenuhi trauma dan penderitaan.
Dalam sebuah rumah yang selalu diguyur hujan tiada henti, tinggallah Doj (M. Rendy Albarsach), Hali-E (Iqsa Novia Guntari), Tilden (Altruzuma Anugrah), dan Bredli (Syekan Tharir) yang merupakan empat sosok yang sejak awal tampak membawa beban masing-masing. Dalam pandangan penonton, terlihat hubungan mereka terasa renggang, seolah ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar konflik keluarga biasa, sebuah konflik dan trauma yang mendalam.
Pertunjukan dibuka dengan suara guntur dan hujan. Doj tampak meringkuk terbungkus selimut di depan televisi, tubuhnya terlihat lemah seakan Doj sedang merasakan sakit. Hali-E berulang kali mengingatkannya untuk minum obat. Namun yang mencuri perhatian penonton adalah ucapan Doj yang terus merujuk pada “dunia biru” dan “anak-anak yang dikuburkan”.

Hali-E tampak tak menunjukkan kegelisahan yang berlebihan dan tampak tetap tenang meski suaminya terus mengulang kata-kata yang penuh beban emosional itu. Ketenangan itu justru menambah kesan bahwa seperti ada sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam oleh keluarga ini. Situasi semakin ambigu ketika Hali-E mengenang anak-anaknya yang hilang. Doj langsung memotong dan mengatakan bahwa Tilden dan Bredli “bukan anak-anakku!” Dengan jawaban Doj seperti itu, penonton dibuat bertanya-tanya, hubungan macam apa yang sebenarnya terjalin dalam keluarga ini?
Ketegangan naik saat tiba-tiba Tilden (Altruzuma Anugrah) muncul membawa jagung. Doj dengan penuh emosi menuduhnya mencuri padahal ia sendiri mengatakan sudah lama tidak menanam jagung apa pun. Tilden membela diri dengan mengatakan ia baru pulang dari Mexico dan memohon agar tidak “ditendang dari rumah ini”. Dalam momen ini, dalam balutan ketakutan, Tilden memohon supaya ia tidak diusir dari rumah.
Setelah pertengkaran itu, Doj kembali ke sofanya dan Tilden berlalu. Namun suasana mendadak berubah ketika suara gergaji mesin terdengar. Dari belakang, Bredli (Syekan Tharir) muncul dengan berjalan pincang dan membawa tawa yang terbata-bata, sambil mengacung-acungkan gergaji mesin yang berputar. Doj terlihat ketakutan, menunjukkan dinamika relasi yang rapuh dan penuh tekanan di hadapan Tilden.
Di pertengahan pertunjukan, hadir dua sosok baru yang di awal pertunjukan tidak terlihat, ialah Pins (M. Ziyan) dan Seli (Circe). Keduanya muncul sebagai tokoh yang tampak lebih “normal” dari keliyanan tokoh-tokoh lainnya. Pins dan Seli sepertinya menjadi penanda kontras dengan keluarga Doj yang sejak awal memancarkan aura trauma dan rahasia yang menumpuk. Kehadiran Pins dan Seli juga mempertegas bahwa ada sesuatu yang tidak wajar di rumah ini, sesuatu yang terus menghantui setiap percakapan dan gerak para penghuninya. walaupun pada akhirnya, Pins maupun Seli, dalam perspektif apresiator, cukup memiliki makna yang tak kalah mendalam dari tokoh-tokoh lainnya.
Dalam segi artistik, cukup membuat penonton memukau dengan hadirnya properti rumah yang sederhana namun sarat akan makna. Hilmi Fauzan, selaku penata artistik dalam pertunjukan ini menyampaikan bahwa pemilihan artistik berupa rumah yang seakan hampir rusak merupakan upaya penggambaran dari setiap anggota keluarga yang mengalami sakit dan trauma. “Di sini (artistik) mewakili semua aspek sakit dan trauma (tokoh), lewat (penggambaran) rumah yang tidak utuh dan hampir rusak.” ujar Hilmi.
Simbolisme Tokoh dalam Pertunjukan: Di Tengah Trauma dan Realitas Masyarakat Amerika Serikat
“Setiap generasi dihinggapi penyakit untuk membunuh generasi berikutnya!” teriak Doj pada Hali-E.
Sebagaimana seni yang bersifat arbiter atau dalam artian setiap apresiator memiliki interpretasinya sendiri, pertunjukan “Rumah yang Dikuburkan” cukup membawa narasi kembali ke era 1970-an ketika Amerika Serikat berada dalam masa stagflasi ekonomi. Dengan mencoba memahami pemaknaan menggunakan pendekatan semiologi Ferdinand de Saussure, pertunjukan ini cukup membuka ruang dialog tentang bagaimana sebuah pertunjukan menyimpan makna realitas masyarakat.
Sebagai seorang pasifis, Sam Shepard selaku penulis naskah mencoba mengurai trauma masyarakat Amerika Serikat yang tengah menghadapi perang, generasi baru, dan ekonomi Amerika Serikat. Di sini kami mencoba menguraikan makna-traumatis masyarakat Amerika dalam pertunjukan “Rumah yang Dikuburkan” menggunakan semiologi Saussure.
Doj, di awal sering berkata perihal “Dunia Biru” dan “Hujan”. Doj terlihat seperti meratap pada hujan dan dunia biru yang sering kali ia lihat. Kata-kata dunia biru dan hujan adalah signifier atau penanda bahwa biru, sering diasosiasikan sebagai penanda kesedihan, sebagaimana masyarakat Barat sering mengucapkan “feeling blue” untuk menggambarkan suatu kesedihan. Di sisi lain, secara psikologis warna biru adalah warna yang melambangkan melankolia, kesepian, dan kemuraman. Lalu kata hujan yang kerap kali diucapkan Doj menjadi lambang melankolia dari kesedihan dan air mata. Doj, rupa-rupanya merupakan representasi dari para orang tua Amerika Serikat yang mengalami trauma kesedihan, terlebih pasca perang dunia kedua dan perang Vietnam yang sedang Amerika Serikat lancarkan di Asia Tenggara pada dekade 1970-an (sebagaimana tahun dimana naskah teater Burried Child ditulis). Terlebih Doj sempat mengucapkan perihal kematian anak-anaknya di Vietnam dan Kamboja, yang tentu merujuk pada peristiwa Perang Vietnam.
Tilden yang diceritakan baru pulang dari Mexico, dalam pementasan cenderung mencolok sebagai anak yang tak terlalu disukai oleh Doj. Hal ini terlihat ketika Tilden –yang memiliki keterbelakangan mental atau mungkin PTSD– membawa jagung ke rumah, tetapi Doj menuduhnya mencuri jagung. Jagung barangkali pertanda kesuburan atau kekayaan dan kesejahteraan. Barangkali, Tilden secara penanda (signifier) personifikasi tentara Amerika Serikat yang baru pulang bertugas di Mexico untuk terlibat dalam konflik internal Mexico dalam perang Guerra Sucia melawan kaum kiri Mexico. Jagung, barangkali juga merupakan simbolisme dari kesejahteraan yang hanya dimiliki sebagian kecil orang ketika Amerika Serikat sedang mengalami krisis ekonomi.

Tokoh Hali-E, yang kami lihat cenderung dingin secara emosi, kami coba representasikan sebagai personifikasi negara Amerika Serikat. Dalam beberapa adegan, Tilden dan Doj, banyak “nurut” pada apa yang dikatakan Hali-E. Lebih mencolok adalah ketika adegan Hali-E memberi makan Doj dan Tilden sebagaimana memberi makan hewan (Hali-E berada di posisi yang lebih tinggi dari Doj dan Tilden), sehingga secara penanda, memungkinkan bahwa kuasa Hali-E sebenarnya sangat besar dalam keluarga ini, sebagaimana kuasa negara yang lebih tinggi dari para orang tua maupun tentara dan sebagian kecil orang-orang kaya.
Tokoh Bredli, yang menjadi mimpi buruk bagi Doj dan Tilden cukup merepresentasikan sebuah orang-orang yang mencoba menolak tunduk pada nilai-nilai tua. Bredli, barangkali merupakan personifikasi orang-orang yang memberontak pada nilai-nilai dominan, hal ini sepertinya selaras dengan kemunculan sub kultur punk di Amerika Serikat pada 1970-an yang memberontak nilai-nilai yang dipegang para orang tua mereka. Maka demikian, Doj, sebagai personifikasi orang tua Amerika “tidak menganggap” Bredli sebagai anak. Ketakutan Doj ketika Bredli membawa gergaji mesin adalah simbol bagaimana orang tua takut akan ancaman orang-orang yang memberontak. Cukup menarik juga ketika adegan Bredli membawa satu boks tomat. Tomat, di negara Barat seperti Amerika Serikat adalah penggambaran dari perlawanan politik dan pertahanan hidup ketika perang berlangsung.

Tokoh lainnya, yakni Pins adalah penggambaran dari generasi baru yang lahir dari keluarga yang “mampu” secara ekonomi. Hal ini didasari bagaimana Pins adalah anak dari Tilden, yang sebelumnya digambarkan sebagai seseorang yang membawa jagung (gambaran dari kekayaan dan kemakmuran). Pins, cukup menggambarkan bagaimana generasi baru hidup dengan balutan kebahagiaan dan pandangan yang cukup berbeda. Hal ini dapat dilihat pada adegan Pins memakan buah semangka, lalu ia berkata bahwa buah semangka itu telah mati. Dalam konteks historis, di Amerika Serikat semangka pernah menjadi simbol bagi rasisme. Hal ini didasari pasca penghapusan perbudakan, masyarakat Amerika Serikat dari kalangan kulit berwarna banyak mencari nafkah dengan cara menjual semangka. Sehingga warga kulit putih menjadikan semangka sebagai simbol rasisme. Ketika Pins mengatakan bahwa semangka tersebut telah mati, kemungkinan besar menjadi pertanda bahwa generasi baru Amerika mulai meninggalkan rasisme. Pun demikian Pins dalam pertunjukan memiliki simpati pada Bredli yang menjadi simbol orang-orang pemberontak, yang mendasari bagaimana generasi baru Amerika Serikat cukup memiliki simpati pada gerakan-gerakan menolak nilai-nilai dominasi.
Terakhir, tokoh Seli barangkali adalah representasi dari cara pandang liberalisme. Sebab, dilihat dari gerak, gestur, dan ekspresi cukup disukai oleh seluruh tokoh lainnya. Kemungkinan besar, Seli adalah liberalisme yang hidup dalam kehidupan masyarakat Amerika Serikat.

Dengan pendekatan semiologi Ferdinand de Saussure, pertunjukan “Rumah yang Dikuburkan” mencoba membuka lapisan-lapisan makna yang menggambarkan trauma sosial Amerika Serikat pada era 1970-an, ketika masa ketika perang, krisis ekonomi, dan keguncangan generasi saling bertumpuk dan berkecamuk. Setiap tokoh menjadi penanda (signifier) bagi kondisi sosial tertentu. Melalui simbol hujan, jagung, gergaji mesin, hingga semangka, pertunjukan ini cukup merangkai sistem penanda-petanda yang mencerminkan kompleksitas sejarah dan psikologi masyarakat Amerika. Dengan demikian, “Rumah yang Dikuburkan” bukan saja menghadirkan kisah keluarga yang porak-poranda, tetapi juga menjadi cermin bagi luka kolektif manusia. Dan sudah tentu, interpretasi setiap apresiator dalam pertunjukan ini jelas berbeda-beda.
Catatan Pertunjukan
Pementasan pertunjukan cukup memukau, di mana artistik yang menggabungkan audio, visual mapping, dan material menjadi kombinasi yang sempurna dalam pertunjukan. Terlebih, penguasaan arena pertunjukan tidak hanya berfokus di atas panggung, melainkan juga merambah pada area yang lebih luas, meliputi pintu kanan dan kiri Gedung Kesenian Sunan Ambu (dimana tokoh Doj dan Hali-E keluar menggunakan busana pengantin sebelum menutup pertunjukan), dan tokoh Doj yang muncul dari belakang penonton pada saat menutup pertunjukan.
Kombinasi antara artistik dan para aktor menjadi suatu pengalaman yang tak dapat dilupakan oleh penonton, sebagaimana alur pertunjukan yang maju-mundur, memberi sebuah plot yang membekas dalam ingatan. Akan tetapi, pementasan ini bukan tanpa catatan, bagi sebagian apresiator barangkali cukup merasa bahwa pementasan ini sedikit membingungkan, yakni tentang bagaimana peralihan alur cerita pertunjukan seakan seperti “mendadak” sehingga menimbulkan kebingungan sesaat bagi beberapa apresiator. Secara umum, pertunjukan ini cukup menyisakan kenangan yang membekas, terlebih saat artistik televisi menyorot pada seluruh wajah penonton dengan kemilau sorot warna yang beraneka macam.
Penulis: Purwa Sundani
Dokumentasi: Purwa Sundani
Penyunting: Marissa Anggita

