SUTRADARA NENDEN KURNIA DEWI DAN NARASI PUBERTAS DALAM “WHISPERS OF RED”

Film Whispers of Red karya sutradara Nenden Kurnia Dewi menjadi pembuka rangkaian hari kedua Feelmograph 3.5, bersamaan dengan pemutaran film Unheard. Acara yang digelar oleh Prodi Televisi dan Film bersama KMTF (Keluarga Mahasiswa Televisi dan Film) ISBI Bandung ini berlangsung pada 9 Desember 2025 di CGV Mall BEC. Whispers of Red mengisahkan Dara, seorang siswi sekolah dasar yang mulai mengalami kebingungan ketika memasuki masa pubertas.

Sebagai mahasiswi Prodi Televisi dan Film angkatan 2021, Nenden menuturkan bahwa film ini awalnya tidak diwajibkan untuk ditayangkan. Namun, melalui kolaborasi dengan NK Production House serta dorongan sejumlah dosen, akhirnya film tersebut disarankan untuk diputar secara perdana untuk publik.

Sutradara “Whispers of Red” Nenden Kurnia Dewi di acara FEELMOGRAPH 3.5 di CGV BEC 9/12/2025 (Foto: M. Haikal Athar A/LPM Daunjati)

Benturan Stereotip di Balik Layar

Sebelum menjadi sutradara, Nenden telah mencoba berbagai posisi di balik layar, mulai dari Pembantu Umum (PU), wardrobe, make-up, hingga produser. Keinginannya untuk menjadi sutradara sudah muncul sejak kelas 8 SMP. Ia mengagumi beberapa sutradara seperti Gina S. Noer dan Kamila Andini. Sementara itu, film-film seperti Tiger Stripe (Amanda Nellue), Jojo RabbitTurning Red, dan Inside Out memberi inspirasi, terutama dalam hal penggambaran konflik batin.

Nenden juga menyinggung minimnya sutradara perempuan yang bekerja secara mandiri. Menurutnya, perempuan masih kerap diremehkan ketika menempati posisi sutradara, karena jabatan ini sering dilekatkan pada sosok laki-laki. Ia mengatakan, “Sebenarnya karena yang aku rasain ya, perempuan tuh sering di-ender estimate sih. Kalau (peran –peny) sebagai sutradara itu udah melekat sama sosok cowok. Cuman memang ada beberapa sutradara perempuan, tapi mereka ada kelompoknya gitu. Karena kalau sutradara perempuan yang solo tuh kadang pasti hambatan terbesarnya kepercayaan orang buat ngebantu kita (karena alasan kita seorang sutradara perempuan -peny).”

Stigma ini, menurutnya, menjadi hambatan terbesar dalam memperoleh kepercayaan dan dukungan selama proses produksi.

Sesi foto bersama Nenden Kunia Dewi dan A23 Production dalam acara FEELMOGRAPH 3.5 Studio 7 CGV BEC 9/12/2025 (Foto: M. Haikal Athar A/LPM Daunjati)

Tentang Inspirasi dan Tantangan Selama Produksi

Menurut Nenden, cerita dalam film ini merupakan hasil dari penggabungan beragam ide, salah satunya terinspirasi dari pengalaman seorang teman yang sama-sama sedang mengerjakan tugas akhir. Nenden bercerita, temannya pernah mengurungkan niat membeli pembalut karena penjualnya adalah laki-laki. Peristiwa itu menyadarkannya bahwa pembicaraan mengenai menstruasi masih dianggap tabu, bahkan di lingkungan perkotaan. Selain itu, inspirasi film ini juga dipicu oleh monolog batin Nenden, misalnya mengapa sebagian orang tua, khususnya ayah, masih enggan membicarakan pengalaman tertentu sehingga anak justru kebingungan saat menghadapi pengalaman yang sama, sebagaimana dialami tokoh Dara.

Sedikit membahas mengenai tokoh dalam film, Nenden menjelaskan bahwa tokoh Eneng yang mengenakan baju merah merupakan personifikasi dari sisi lain diri Dara. Eneng hadir sebagai wujud konflik batin, seperti saat Dara ragu apakah ia harus membeli pembalut atau tidak. Film ini juga memberi petunjuk bahwa Dara dibesarkan oleh orang tua tunggal, setelah ibunya meninggal, kakaknya berkeluarga, dan ayahnya jarang berada di rumah karena pekerjaan.

Salah satu tantangan terbesar bagi nenden selama produksi adalah mengarahkan aktor anak-anak. Ia sempat berkonsultasi dengan dosen dan rekan-rekannya untuk memahami teknik terbaik dalam membimbing aktor cilik di lokasi syuting. Menurutnya, keberhasilan syuting sangat bergantung pada kerja sama kru yang membantu menciptakan suasana nyaman, menghibur anak-anak, dan memastikan proses tetap berjalan lancar.

Nenden berharap ke depannya ia dapat terus menghasilkan karya yang lebih matang dan berkualitas, serta berharap proses produksi film tidak selalu menuntut biaya yang besar.

Sesi foto Nenden Kurnia Dewi bersama para aktor “Whispers of Red” dalam acara FEELMOGRAPH 3.5 Studio 7 CGV BEC 9/12/2025 (Foto: M. Haikal Athar A/LPM Daunjati)

Penulis: M. Haikal Athar A.

Dokumentasi: M. Haikal Athar A.

Penyunting: Purwa Sundani