RAGAM BUDAYA SUKU BANGSA PULAU JAWA DI GOS PATANJALA

Suasana GOS Patanjala pada 10 Desember 2025 cukup ramai dan hangat ketika Program Studi Antropologi Budaya ISBI Bandung mengadakan acara “Laras Jawara” dengan tema “Harmonisasi Budaya Jawa Raya”. Kegiatan ini merupakan bagian dari Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Etnografi Wilayah Pulau Jawa. Acara ini menghadirkan beragam kebudayaan dari beberapa suku bangsa dan wilayah melalui pameran kuliner, wastra, perkakas hidup, dan kesenian dari berbagai wilayah di Pulau Jawa. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menunjukkan bahwa perbedaan budaya antarsuku bangsa dapat berpadu menjadi sebuah harmoni yang hangat.

Dalam acara “Laras Jawara”, terdapat berbagai tenant dari beragam daerah, seperti Banten, Jakarta, Madura, Garut, Ciamis, Yogyakarta, Sumedang, dan Pemalang. Setiap tenant menampilkan pajangan visual dan penjelasan singkat mengenai kebudayaan daerah masing-masing, serta menyediakan makanan dan minuman khas yang dapat dibeli oleh pengunjung.

Beberapa tenant menampilkan ciri khas budaya mereka secara lebih mendalam. Kelompok Banten, misalnya, membawa wastra khas Banten dan menjelaskan perbedaan antara wastra Baduy Dalam dan Baduy Luar; kelompok Jakarta menampilkan berbagai kuliner seperti kerak telor, bir pletok, roti buaya, dan soto Betawi; dari Garut, tenant menonjolkan gula aren sebagai ciri khas kulinernya; Kelompok Ciamis menghadirkan alat tradisional berupa lesung dan alu; sementara kelompok Yogyakarta menampilkan keris beserta penjelasan mengenai ciri khas lekuk keris. Kelompok Madura pun tak ketinggalan memperkenalkan budaya daerah Madura, mulai dari sate Madura, bahasa daerah, hingga tradisi karapan sapi.

Tenant budaya dari berbagai daerah ditampilkan dalam acara “Laras Jawara”. GOS Patanjala ISBI Bandung. Kamis, 10 Desember 2025. (Foto: Bevira Salma/LPM Daunjati).

Mendiskusikan Kebudayaan di Pulau Jawa dari Segi Histori Hingga Tradisi

Selain menampilkan keberagaman dari masing-masing daerah, acara ini juga menghadirkan talkshow bertema “Membaca Ragam Kehidupan dan Kebudayaan Jawa” yang membahas tantang keharmonisan budaya di Pulau Jawa. Talkshow ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Dadi Suhanda, M.Ant. dan Tukuh Takdir Sembada, S.Fil., M.A. dengan Muhamad Acep sebagai moderator.

Dalam sesi talkshow bertema “Membaca Ragam Kehidupan dan Kebudayaan Jawa”, para narasumber menjelaskan alasan mengapa Jawa menjadi pusat keberagaman. Sejak masa kerajaan-kerajaan besar, Jawa telah menjadi wilayah strategis yang berpengaruh dalam perkembangan budaya. Menurut Tukuh, banyaknya kerajaan pada masa lalu membuat Jawa menjadi titik pertemuan berbagai tradisi. Sementara itu, Dadi menambahkan bahwa posisi Jawa sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan turut memperkuat keragaman yang ada hingga saat ini.

Para narasumber membahas bagaimana modernisasi dan digitalisasi mempengaruhi kehidupan masyarakat Jawa. Perubahan dianggap sebagai hal yang tidak dapat dihindari, sehingga masyarakat harus mampu beradaptasi. Adaptasi menjadi kunci agar nilai-nilai budaya tetap bertahan di tengah perkembangan zaman. Urbanisasi pun turut memperjelas perbedaan antara kehidupan desa dan kota di Pulau Jawa, terutama dalam pola pendidikan formal maupun nilai-nilai yang diwariskan oleh keluarga.

Ketika berbicara tentang keharmonisan, kedua narasumber menekankan bahwa masyarakat Jawa menjunjung prinsip hidup selaras dengan manusia, alam, dan leluhur. Nilai sopan santun dan kesederhanaan masih kuat dipertahankan, terutama oleh generasi yang lebih tua. Untuk menghadapi tantangan modern, masyarakat didorong untuk melestarikan budaya seperti batik dan arsitektur tradisional, sekaligus mengadaptasikannya melalui alih wahana agar tetap relevan.

Narasumber juga menyinggung keberagaman dalam masyarakat Sunda, seperti Sunda Wiwitan dan Sunda Islam, serta bagaimana solidaritas dapat tercipta melalui identitas kolektif, misalnya kecintaan terhadap klub Persib. Dalam diskusi, muncul pula pandangan masyarakat mengenai stereotip “orang Sunda seperti Kabayan”, yang berarti santai atau malas. Hal ini dibantah dengan menyoroti banyaknya tokoh-tokoh penting yang berasal dari Pulau Jawa bagian barat serta sejarah kerajaan-kerajaan Sunda di masa lalu.

Para narasumber (kiri: Tukuh Takdir Sembada, M.A; Kanan: Dadi Suhanda, M.Ant.) dan moderator (tengah: Muhamad Acep) dalam sesi talkshow acara “Laras Jawara”, yang membahas ragam kehidupan dan kebudayaan suku bangsa di Pulau Jawa. GOS Patanjala ISBI Bandung. Kamis, 10 Desember 2025. (Foto: Bevira Salma/LPM Daunjati)

Talkshow ini kemudian ditutup dengan pesan bahwa perubahan budaya adalah hal yang tidak dapat dihindari, namun masyarakat dapat tetap mempertahankan identitasnya melalui adaptasi dan pelestarian nilai-nilai budaya.

Menerjemahkan Etnografi Melalui Pameran dan Talkshow

Apa yang disampaikan para pembicara dalam sesi talkshow sejalan dengan pandangan dosen pengampu mata kuliah, yang melihat bahwa mahasiswa berhasil menerjemahkan etnografi ke dalam bentuk pameran, kuliner, dan pertunjukan budaya. “Mereka lebih mendalami dan terlihat enjoy dengan ide kelompok masing-masing,” ujar Sriati Dwiatmini, M.Hum. selaku dosen pengampu mata kuliah Etnografi Wilayah Pulau Jawa,

Sriati juga menjelaskan bahwa praktik pameran semacam ini dalam mata kuliah Etnografi Wilayah Pulau Jawa mengajarkan mahasiswa untuk memahami Jawa dari berbagai sisi, mulai dari kuliner, wastra, hingga warisan budaya seperti keris dan wayang. Proses ini, menurutnya, membantu mahasiswa membangun pemahaman nyata tentang etnografi melalui pengalaman langsung, bukan hanya teori.

Sementara itu, Maria Artauli, selaku ketua pelaksana kegiatan pameran menuturkan bahwa penyusunan acara ini dilakukan di tengah padatnya agenda UAS. Meski begitu, ia menilai bahwa kerjasama antarkelompok membuat acara tetap berjalan maksimal. Ia juga menambahkan bahwa keberagaman fokus tiap kelompok menunjukkan bagaimana harmoni budaya Jawa dapat terwujud dalam satu rangkaian acara.

Salah satu bentuk pendalaman materi yang ditunjukkan mahasiswa terlihat dari proses riset yang mereka lakukan. Beberapa kelompok bahkan turun langsung ke daerah yang mereka angkat di pameran. Salah satunya Maria sendiri bersama kelompoknya yang memilih tema kuliner Garut. Mereka melakukan observasi langsung ke kebun aren untuk mempelajari proses pengolahan gula aren dari pohon hingga menjadi berbagai produk turunan seperti gula bites, hingga bahan dasar kuliner Garut. Pengalaman tersebut membuat mereka memahami bahwa gula aren merupakan kunci dalam banyak hidangan khas Garut.

Selain menampilkan hasil riset, kegiatan pameran ini diharapkan dapat membuat para pengunjung melihat proses, nilai, dan budaya di balik setiap tenant yang ditampilkan. “Kami ingin teman-teman mengapresiasi karya yang sudah diriset, baik secara digital maupun langsung,” ujar Maria.

Pandangan positif terhadap acara ini pun datang dari pengunjung. Salah satunya adalah Alika, yang mengaku tertarik sejak melihat judul acara “Laras Jawara”. Baginya, talkshow yang disajikan sangat menambah wawasan mengenai kebudayaan di Pulau Jawa, sementara unsur artistik dan kuliner dari tiap kelompok berhasil membuat pengalaman berkunjung semakin menarik. Ia merasa materi yang disampaikan di sesi talkshow maupun di tentant pameran mudah dipahami dan mampu menggambarkan ciri khas wilayah masing-masing.

Secara keseluruhan, kegiatan Laras Jawara berhasil menjadi ruang untuk membagikan wawasan mengenai kebudayaan di Pulau Jawa melalui talkshow, diskusi, hingga penampilan artistik dari setiap kelompok. Baik dosen, panitia, maupun pengunjung, sama-sama menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam memahami dan memperkenalkan keberagaman budaya di daerah yang mereka wakili.

[Artikel ini merupakan bagian dari latihan liputan bagi anggota baru LPM Daunjati]

Penulis: Bevira Salma & Maida Kyla

Dokumentasi: Bevira Salma

Penyunting: Purwa Sundani