
Cikapundung Riverspot pada Minggu (3/8) sore, berubah menjadi arena pertukaran gagasan. Sejak pukul 15.45 WIB massa sudah memadati area tersebut untuk memperingati International Women’s Day (IWD). Aksi ini diinisiasi oleh organisasi bernama Simpulpuan. Pada peringatan IWD tahun ini, organisasi tersebut mengusung tajuk yang lugas dan tegas: “Perempuan Bangkit Kembali Hancurkan Jeruji Fasisme!”.
Lebih dari sekadar peringatan, IWD tahun ini lebih terlihat seperti ruang untuk mengutarakan berbagai keresahan dan gagasan. Di bawah cuaca sore hari yang teduh, berbagai organisasi berkumpul membawa keresahannya masing-masing.
Di lokasi, organisasi Front Pemuda Revolusioner hadir dengan gagasan sosialisme, bersebelahan dengan komunitas Perpus Kwir dan Pemikir Perempuan yang aktif menyuarakan isu LGBTQIA+ serta hak-hak perempuan. Tak kalah penting, kelompok masyarakat dari Sukahaji Melawan juga ikut hadir dengan isu sengketa tanahnya yang bahkan sampai saat ini belum memiliki kejelasan. Selanjutnya, ASAS UPI yang bergerak di bidang kesusastraan juga ikut hadir meramaikan arena pertukaran gagasan di lokasi tersebut, serta beragam kelompok kolektif lainnya.
Semangat literasi pun dihidupkan selama aksi melalui kehadiran berbagai lapakan buku dan zine. Berbagai komunitas buku seperti kembang kata dan Perpusjal Jatinangor menyajikan berbagai macam literatur yang dapat diakses secara bebas oleh massa aksi. Deretan literatur tersebut hadir dengan tema yang beragam. Mulai dari sejarah, perlawanan, hingga isu-isu perempuan.
Organisasi yang disebutkan sebelumnya juga ikut berkontribusi dalam membangkitkan semangat literasi dengan memamerkan berbagai buku dan zine yang sesuai dengan gagasan atau tema yang mereka bawakan. Lapakan yang hadir di IWD 2026 menunjukan bahwa aksi tersebut tidak hanya menjadi panggung protes, tetapi juga sebagai ruang untuk memperluas cakrawala berpikir masyarakat. Selain aspek edukasi, aksi ini juga mengedepankan aspek kesehatan. Hal itu dapat dilihat dari tersedianya layanan pengecekan HIV gratis oleh Intimuda Jabar.

Di tengah padatnya massa aksi, berdiri sebuah panggung bebas sebagai pusat kebebasan berekspresi. Panggung ini menjadi podium bagi siapa saja yang ingin mengekspresikan keresahan nya, mulai dari orasi sampai performance art. Berbagai persoalan masyarakat diteriakan dengan lantang di panggung ini, mulai dari budaya patriarki, represivitas oknum aparat, persoalan hak perempuan, keresahan masyarakat Papua, sampai beban kenaikan UKT yang mempersulit mahasiswa.
Kehadiran isu yang beragam ini menunjukkan bahwa aksi IWD Bandung 2026 adalah ruang yang inklusif. Meskipun berjudul hari perempuan, ruang ini terbuka bagi seluruh masyarakat yang ingin menyuarakan keresahan yang mereka alami. Antusiasme massa aksi terlihat jelas saat berbagai seruan yang dilontarkan diatas panggung disambut dengan semangat dan kompak, menghidupkan suasana sore Cikapundung dengan gelora perlawanan
Keresahan yang disuarakan di panggung tersebut selaras dengan apa yang dialami oleh Risqi Alita Istiqomah, seorang dosen perempuan yang hadir di acara tersebut. Ia menceritakan bagaimana ketimpangan gender masih sering terjadi di lingkungan kampus. Risqi menjelaskan bahwa perempuan minim dilibatkan dalam struktur jabatan kampus. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa dirinya pernah mengalami penolakan saat mengajukan jabatan struktural di kampus. Dengan alasan perempuan tidak memiliki waktu yang fleksibel karena tanggung jawabnya yang banyak.
Padahal, Risqi berasumsi bahwa perempuan bisa bekerja sama optimalnya dengan laki-laki. “Padahal menurut saya perempuan juga bisa bekerja lebih dari delapan jam dan bisa bekerja secara optimal. Namun kenyataannya di kampus, meskipun jabatannya sama, perempuan masih sering dipandang sebelah mata,” ucap Risqi.
Keresahan serupa juga dirasakan oleh Hanfa Azzahra, perwakilan Komunitas Perpus Kwir. Ia mengatakan: “Sebagai perempuan, saya khawatir dengan kondisi hak hidup perempuan di Bandung, Indonesia, hingga secara global bukan hanya di rezim kapitalis Prabowo-Gibran atau imperialisme dunia. Bukan cuma teman-teman di Bandung seperti Sukahaji dan Dago Elos, tapi di seluruh Indonesia, akibat rezim imperialis-kapitalis yang tidak ramah perempuan.”
Meski begitu, Hanfa merasa bahwa aksi ini telah memberikan harapan baru bagi perempuan. “Cukup hangat di aksi ini melihat banyak teman-teman perempuan, teman-teman queer, memperjuangkan hak hidupnya di sini, walaupun kita setiap hari bangun melihat berita-berita perampasan hak perempuan, jadi ini hal yang harus diteruskan untuk bersuara atas ketidakadilan yang terjadi” tambahnya.
Tidak hanya perempuan, antusiasme juga datang dari pengunjung. Axel, mahasiswa FISIP Unpad yang hadir bersama rekannya dari Teknik Mesin Polban, hadir untuk meramaikan aksi ini karena ingin mengaspirasikan isu yang dibawakan. “kebetulan sekarang kan lagi memperingati International Women’s Day ya, jadi memang tujuan kita datang ke sini sebetulnya pengen ikut meramaikan acara ini, pada akhirnya biar bisa lebih teraspirasi kan lah,” ujar Axel.
Lebih lanjut Axel menjelaskan bahwa ia tertarik untuk datang ke sini karena terdapat pertunjukan seni dalam aksi tersebut serta ingin mengawal tuntutan yang sempat ia bahas di Dago Elos “kemarin sebelumnya udah bahas mengenai tuntutan isunya di Dago Elos juga jadi kita ke sini untuk memfollow up seputar itu juga,” Tutur Axel.
Meski dihadiri oleh berbagai masyarakat dengan beragam latar belakang, menyuarakan isu-isu yang bermacam-macam, aksi IWD 2026 Bandung berjalan dengan tertib dan kondusif. Hal ini menunjukkan bahwa IWD 2026 menjadi ruang kebebasan berpendapat yang aman, tidak ada perselisihan yang terjadi meski berbagai persoalan dan identitas hadir dalam aksi ini, semuanya bersatu dalam harmoni dan semangat perlawanan membasmi penindasan.
Menjelang waktu maghrib, panggung bebas beralih fungsi menjadi mimbar pembacaan tuntutan atau press release. Massa yang sebelumnya terpencar di berbagai penjuru mulai merapat membentuk barisan yang solid. Para jurnalis juga ikut merapat untuk melakukan dokumentasi. Pada momen ini, poster dan spanduk yang sedari sore “bersembunyi” dari pandangan publik, dengan serentak diangkat tinggi-tinggi ke udara oleh massa aksi yang sedang berkumpul.

Poster dan spanduk bertuliskan pesan-pesan lugas seperti “Wujudkan Reforma Agraria Sejati dan Industrialisasi Nasional!”, “Hancurkan Kapitalisme, Gulingkan Penjahat Perang!”, hingga seruan “Hidup Perempuan Melawan!” memenuhi pandangan. Membuat momen pembacaan tuntutan semakin berkesan. Di antara barisan spanduk tersebut, bendera pelangi LGBTQIA+ dan bendera transgender ikut berkibar dengan berani.
Di depan kamera para jurnalis, Simpulpuan mulai membacakan tuntutan dengan lantang menggunakan pengeras suara, ditemani oleh massa aksi yang mendengarkan dengan khidmat. Isu-isu besar mulai dari penghentian kekerasan berbasis gender, penolakan eksploitasi buruh, hingga kedaulatan atas pelayanan kesehatan digunakan sebagai tuntutan utama kepada pemerintah.
Berakhirnya press release menjadi pertanda bahwa aksi IWD 2026 telah mencapai penghujung acara. Pembagian takjil gratis kepada massa aksi menjadi penutup yang hangat untuk kegiatan ini. Tak lama kemudian, massa mulai membubarkan diri secara tertib dari pukul 19.00 sampai 19.30 WIB.
Penulis: Firza N. Assegaf, Titih Siti H., Muhammad Zhafran R.
Illustrator: Dewi Rosaria I.
Penyunting: Roshifa Lailani



