BEM ISBI BANDUNG LUNCURKAN KARTU BUDAYA NUSANTARA SEBAGAI STRATEGI PELESTARIAN BUDAYA LEWAT JALAN ALIH WAHANA

Di tengah era yang serba digital dan instan, disaat budaya sering kali hanya menjadi aksesoris yang dibuka saat perayaan lalu dibiarkan kembali dalam lemari sejarah, ada satu ruang yang mengembalikan makna tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. Ruang tersebut tercermin dalam kegiatan “Ledaya: Lestarikan Budaya X KABARA” yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ISBI Bandung pada Kamis, 25 September 2025 di Gedung Kesenian Sunan Ambu, ISBI Bandung.

Dengan mengusung tema “Ledaya: Lestarikan Budaya X KABARA”, kegiatan ini menjadi wadah yang memadukan antara tradisi dan semangat muda, antara warisan yang nyaris hilang terlupakan dan upaya dokumentasi kreatif yang penuh harapan. Dalam kegiatan ini, terdapat beberapa susunan acara, diantaranya talkshow dan diskusi interaktif perihal pemajuan dan pewarisan kebudayaan, serta pertunjukkan ragam kesenian.

Ketua pelaksana Ledaya, Tiffany Aulia Sari, menjelaskan bahwa kegiatan ini lahir dari ide dan keresahannya melihat minimnya media yang dapat memperkenalkan budaya kepada masyarakat terutama generasi muda. ”Yang aku lihat dari fenomena sekarang, anak muda tuh seperti susah banget kenalin budaya sendiri, jadi aku mencari bagaimana caranya agar budaya itu sendiri tidak termakan waktu, makanya munculah ide Ledaya ini.” Ungkapnya dalam sesi wawancara.

Tujuan lain dari digelarnya kegiatan Ledaya ini adalah sebagai bentuk peluncuraan KABARA atau Kartu Budaya Nusantara, yakni sarana permainan edukatif berbentuk kartu yang memuat informasi budaya Nusantara. Secara praktis, selain menjadi sebuah medium permainan, KABARA pun menjadi media dokumentasi visual dan naratif dari budaya-budaya Nusantara yang diharapkan dapat mudah dicerna dan diminati oleh generasi muda. Kartu KABARA yang disusun oleh BEM ISBI Bandung diciptakan untuk menjadi media permainan yang menyenangkan sekaligus jembatan yang menghubungkan ingatan budaya masyarakat dengan generasi pelajar tingkat SMP, SMA, dan mahasiswa yang sedang tumbuh dalam era serba digital dan scroll yang tak berujung.

Ketua Yayasan Buwana Niskala Nusantara sekaligus pemateri dalam talkshow dan diskusi pada peluncuran KABARA, Mardiansyah Nugraha menanggapi mengenai peluncuran KABARA, Nugraha memberi apresiasinya terhadap inisiatif BEM ISBI Bandung dalam pentingnya alih wahana budaya. Nugraha menekankan alih wahana budaya dalam bentuk permainan seperti KABARA sangatlah penting terutama bagi generasi digital yang tumbuh bersama media visual. Baginya, pendokumentasian bukan hanya soal menyimpan, tapi menghidupkan kembali, meskipun nanti akan digunakan oleh siapa pun atau dalam bentuk apa pun.

”Pendokumentasian dan alih wahana dari seni, terlepas digunakan SMP, SMA, atau publik sekalipun itu yang paling penting karena ini bisa hilang kalau kita tidak ada pendokumentasian, minimal ada terdata dan direproduksi, terserah nanti mau digunakan oleh siapapun, bahkan bapak-bapak yang lagi nongkrong sekalipun, yang penting secara kreatif warisan budaya itu bisa dialihmediakan.” ujarnya.

Yang menarik adalah yang terlibat dalam kegiatan ini bukan hanya mahasiswa/i ISBI Bandung saja, tetapi BEM ISBI Bandung juga turut mengundang siswa-siswi SMP dan SMA di sekitar kampus sebagai audiens dan sebagai bentuk sosialisasi secara langsung terkait kartu KABARA ini.

Sesi talkshow dan diskusi pertama terkait materi pelestarian dan pemajuan kebudayaan (Foto: dewi Rosaria Indah/LPM Daunjati)

Salah satu pelajar yang menjadi audiens dalam kegiatan Ledaya ini adalah Disya, siswi SMAN 11 Bandung yang turut menyampaikan kesan dan apresiasinya pada kegiatan Ledaya ini. Disya menyoroti keseruan acara, terutama penampilan kesenian yang menjadi salah satu sajian dalam rangkaian acara Ledaya.

“Acaranya seru banget, apalagi penampilan kesenian yang dari Cianjur (kesenian cianjuran/mamaos –peny) itu paling seru menurut aku. Jadi nambah wawasan aku tentang Cianjur dan jadi tau ada kesenian apa aja sih di Cianjur. aku ikut seneng selama nonton rangkaian acara ini,” ujar Disya.

Ledaya memang menampilkan kesenian dari berbagai wilayah di Jawa Barat, sehingga penampilan kesenian yang mewakili tiap daerah tersebut secara tidak langsung menambah wawasan baru tentang budaya dan kesenian kepada audiens. Disya, turut memberikan pandangannya setelah mengikuti rangkaian Ledaya, sebagaimana “Aku jadi lebih seneng lagi dengan kesenian setelah nonton acara ini, dan jadi ingin menekuni juga” ujar Disya saat diwawancara.

Siswa siswi SMP/SMA yang hadir di kegiatan Ledaya maju untuk mencoba permainan KABARA (Foto: Dewi Rosaria Indah/LPM Daunjati)

Beberapa pertunjukkan seni yang ditampilkan dalam kegiatan ini merupakan bentuk ruang ekspresi, mulai dari pertunjukan tari tradisional, musik, dan bentuk ekspresi penampilan bebas lainnya yang melibatkan mahasiswa ISBI Bandung. Dengan diadakannya kegiatan seperti ini, harapan akan pelestarian dan keberlanjutan warisan budaya bukan lagi sekedar wacana tetapi menjadi tindakan yang nyata.

Lewat Ledaya dan Kartu Kabaranya, BEM ISBI Bandung telah mengambil satu langkah penting bahwa budaya tidak seharisnya hanya diperingati, melainkan dihidupkan dalam keseharian, disuarakan dan dilanjutkan, salah satunya lewat alih wahana.

Penulis: Firza N. Assegaf, Azany Magrina Duarte

Dokumentasi: Dewi Rosaria Indah

Penyunting: Purwa Sundani