Resensi

MEMBACA KELABANG DAN EMPAT SIKSAAN PEMBACA KETIKA MEMBACANYA

MEMBACA KELABANG DAN EMPAT SIKSAAN PEMBACA KETIKA MEMBACANYA Read More »

Resensi

Saya pertama kali mendengar nama Bima Satria Putra sekitar tahun 2021, berawal dari bukunya yang berjudul Dayak Mardaheka (2021) tersebar liar di internet. Belakangan, ketika masuk jurusan Antropologi Budaya di ISBI Bandung pada tahun berikutnya, saya mulai membaca karya lain yang ia tulis, misalnya buku Anarki di Alifuru (2024) maupun karya lain yang ia terjemahkan, […]

HOLOCAUST DALAM LENSA KEPOLOSAN: THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS (2008) 

HOLOCAUST DALAM LENSA KEPOLOSAN: THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS (2008)  Read More »

Resensi

“You’re my best friend for life” – Bruno  Dari balik pagar kawat berduri, dua anak lelaki duduk berhadapan. Mereka tidak memahami politik, ras, dan perang. Mereka hanya tahu satu hal: mereka adalah teman.  The Boy in the Striped Pyjamas (2008) yang disutradarai Mark Herman adalah adaptasi dari novel karya John Boyne. Film ini menyajikan tragedi Holocaust dari sudut pandang yang tidak biasa: seorang anak yang sama sekali polos akan kebencian dan perang. Film ini tidak menghadirkan perang secara eksplisit, namun menampilkan pendekatan emosional melalui pertemanan dua anak lelaki yang dibatasi oleh pagar kawat berduri.  Pemeran utama–Bruno–merupakan anak lelaki berumur delapan tahun, anak kedua dari perwira Nazi yang pindah dari Berlin ke rumah dinas baru yang ternyata berdekatan dengan kamp konsentrasi. Ketika hari pertama pindah, jendela rumah yang Bruno intip memperlihatkan tempat berpagar yang ia kira adalah “peternakan”, yang sebenarnya merupakan kamp konsentrasi, tempat pengurungan, pembunuhan orang-orang Yahudi oleh Nazi. Tempat yang sangat dilarang untuk Bruno pergi oleh ayah dan ibu nya. Di rumah tersebut ada Pavel, seorang tahanan Yahudi yang dulu berprofesi dokter, kini dipaksa bekerja sebagai pembantu akibat kebijakan Nazi.  Suatu hari, Bruno memasuki sebuah pintu “taman rahasia” yang selalu dilarang masuk oleh ibunya, itu menembusi hutan-hutan hingga dirinya sampai di pagar kawat berduri, bertemu seorang anak lelaki dengan penampilan botak dan pakaian baju piyama–Shmuel–anak Yahudi yang menjadi tahanan kamp. Sejak pertemuan itu, pertemanan mereka perlahan tumbuh sederhana namun menyentuh, meski dibatasi oleh ideologi kebencian yang dibangun orang dewasa.  Ironi terbesar dalam film ini terletak pada pertemanan Bruno dan Shmuel. Meski didoktrin kebencian setiap hari, ucapan Bruno “But they’re not people at all” justru menunjukkan betapa efektifnya propaganda Nazi membentuk cara pandang, bahkan terhadap anak kecil yang lugu. Dehumanisasi, seperti inilah yang menjadi pondasi utama Holocaust.  Pada film, ada dialog yang juga menyadarkan karakter dan para penonton. Shmuel mengatakan “We’re not supposed to be friends, you and me”. Maksudnya mempertegas bahwa batas diantara mereka bukan hanya pagar kawat berduri, melainkan sistem sosial yang sengaja diciptakan untuk memisahkan manusia berdasarkan identitas. Ironinya, dua anak yang tidak paham akan kebencian justru harus menanggung akibatnya. 

Illustrator: Titih Siti

“SAYANG ADA ORANG LAIN”: KEBENARAN TANPA UJUNG DAN KEMISKINAN YANG MEMBELENGGU

“SAYANG ADA ORANG LAIN”: KEBENARAN TANPA UJUNG DAN KEMISKINAN YANG MEMBELENGGU Read More »

Resensi

Sayang Ada Orang Lain, naskah drama satu babak karya Utuy Tatang Sontani. Menilik lebih jauh sebuah dampak dari kemiskinan, sebagai imbas dari industrialisasi kapitalisme. Ketika para pekerja memiliki gaji kecil sementara biaya hidup terus melonjak dan semakin tak terjangkau, kondisi ekonomi mereka kian terhimpit. Sayang Ada Orang Lain, berkisah soal pergulatan kehidupan antara suami istri

Cover film LA HISTORIA ME ABSOLVERÁ

SEKEPING KENANGAN: LA HISTORIA ME ABSOLVERÁ.

SEKEPING KENANGAN: LA HISTORIA ME ABSOLVERÁ. Read More »

Resensi Rubrik Sosial

Film dokumenter Sekeping Kenangan (2021) mengangkat tragedi 1965–1966 di Bali, periode kelam pasca peristiwa 1965 yang menelan puluhan ribu korban. Dokumenter  berdurasi 50 menit ini ditayangkan melalui kanal YouTube Taman 65, sebuah komunitas yang berfokus pada pembelajaran mengenai kekerasan dan merekam kepingan-kepingan ingatan para tahanan politik (Tapol) di Bali. Rekaman sederhana tanpa musik dramatis dan

NOVEL “KAMI” OLEH YEVGENY ZAMYATIN (1924) : BERTAHAN DEMI CINTA, UNTUK MELAWAN DISTOPIA

NOVEL “KAMI” OLEH YEVGENY ZAMYATIN (1924) : BERTAHAN DEMI CINTA, UNTUK MELAWAN DISTOPIA Read More »

Resensi

Jurang Harapan Itu Bernama “Distopia” “It is, perhaps, too complimentary to call them Utopians, they ought rather to be called dys-topians, or caco-topians. What is commonly called Utopian is something too good to be practicable; but what they appear to favour is too bad to be practicable” (The Collected Works of John Stuart Mill, Volume

PEREMPUAN, PULAU, DAN PERLAWANAN SUNYI: MEMBACA ULANG WOMEN FROM ROTE ISLAND (2023)

PEREMPUAN, PULAU, DAN PERLAWANAN SUNYI: MEMBACA ULANG WOMEN FROM ROTE ISLAND (2023) Read More »

Resensi

Di tengah lautan biru Nusa Tenggara Timur, ada sebuah film yang sederhana namun tajam, seperti pisau bambu yang diasah di dapur. Film itu berjudul Women from Rote Island (2023). Film ini tidak hanya tentang cerita perempuan dan pulau, tapi juga tentang keberanian dalam kesunyian, tentang tubuh-tubuh yang menolak hilang dalam tradisi dan kekuasaan laki-laki. Dengan gaya dokumenter

MAKNA MENJADI DEWASA DALAM NOVEL SANG PANGERAN KECIL

MAKNA MENJADI DEWASA DALAM NOVEL SANG PANGERAN KECIL Read More »

Resensi

Dalam dunia sastra yang dipenuhi kisah-kisah heroik dan konflik besar, Le Petit Prince hadir sebagai karya yang justru menyentuh lewat kesederhanaannya. Novel ini menawarkan perjalanan batin yang menggugah, mengajak pembaca menilik kembali cara mereka memandang kedewasaan, hubungan manusia, dan makna hal-hal kecil yang sering terabaikan. Dalam tulisan ini, saya ingin mengulas sedikit mengenai makna menjadi dewasa dalam

MENEMBUS BATAS OTAK, MENYENTUH BATAS KEMANUSIAAN: RESENSI FILM “LUCY (2014)”

MENEMBUS BATAS OTAK, MENYENTUH BATAS KEMANUSIAAN: RESENSI FILM “LUCY (2014)” Read More »

Resensi

Film “Lucy” hadir sebagai bisikan sunyi perihal kekuasaan, kesadaran, dan ruang batin tanpa batas. Film ini bukan hanya deru ledakan juga adegan kejar-kejaran, pemeran utama dalam film ini adalah simfoni antara ilmu dan jiwa, antara potensi besar dan kehampaan eksistensial. Film ini menceritakan tentang manusia yang menggunakan 100% kapasitas otaknya. Berbeda dengan normalnya otak manusia

PENGARUH MOEHAMAD MOESA DALAM TRADISI BUDAYA CETAK KESASTRAAN SUNDA DI MASA KOLONIAL

PENGARUH MOEHAMAD MOESA DALAM TRADISI BUDAYA CETAK KESASTRAAN SUNDA DI MASA KOLONIAL Read More »

Resensi

Dalam sejarah perkembangan sastra daerah, terdapat kaitan antara kolonialisme, industrialisasi, dan budaya cetak terhadap kemajuan sastra. Bagaimanapun, kolonialisme yang membawa industrialisasi, dan industrialisasi menghasilkan mesin cetak membawa pembaruan dalam keberlangsungan sastra di Nusantara, khususnya dalam sastra-sastra berbahasa Sunda. Mikihiro Moriyama dalam bukunya yang berjudul Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, dengan melalui serangkaian

KAPALANG NÉKAD: ROMAN SUNDA DI SIMPANG KIRI JALAN

KAPALANG NÉKAD: ROMAN SUNDA DI SIMPANG KIRI JALAN Read More »

Resensi

Sastra, media massa, dan propaganda merupakan tiga hal yang sering kali tidak bisa dipisahkan dalam masa pergerakan. Sastra yang diterbitkan dalam media massa biasanya mengandung pesan-pesan yang secara tersirat berupa ajakan atau propaganda, yang bertujuan untuk menggugah penguasa atau sistem yang menindas rakyat terutama pada masa penjajahan. Salah satu contohnya adalah roman dalam bahasa Sunda

Ketika Dangdut Menjadi Pasung Jiwa: Elitisme Seni dan Arti Kebebasan Manusia

Ketika Dangdut Menjadi Pasung Jiwa: Elitisme Seni dan Arti Kebebasan Manusia Read More »

Resensi Rubrik Budaya Rubrik Seni Rubrik Sosial

Di tengah hiruk-pikuk panggung hiburan Indonesia, musik dangdut kerap menjadi suara yang dipandang sebelah mata. Seringkali ia dicap sebagai musik kelas bawah, dianggap “norak” oleh sebagian kalangan yang menjunjung tinggi estetika seni barat atau bentuk musik lain yang lebih dekat dengan label “berkelas”. Namun, ketika novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari hadir, pandangan ini mendapat cermin baru,

POTRET PEREMPUAN DALAM CENGKERAMAN BUDAYA LOKAL MELALUI PERSPEKTIF FILM YUNI (2021)

POTRET PEREMPUAN DALAM CENGKERAMAN BUDAYA LOKAL MELALUI PERSPEKTIF FILM YUNI (2021) Read More »

Resensi Rubrik Sosial

Perempuan adalah pembawa peradaban, begitu yang diucapkan oleh pahlawan nasional perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Dari pernyataan tersebut dapat dimaknai bahwa perempuan memainkan peran penting dalam masyarakat, baik sebagai individu, anggota keluarga, maupun sebagai bagian dari komunitas yang lebih luas. Namun, pada kenyataannya perempuan seringkali mendapatkan peran yang jauh lebih besar dari sekadar menjadi manusia

SASTRAWAN LEKRA DAN TURBA

SASTRAWAN LEKRA DAN TURBA Read More »

Resensi

Judul Buku: Sastrawan Lekra dan Perlawanan Kelas Pekerja Penulis: Fikri Zulfikar, Djoko Saryono, dan Moch Syahri Penerbit: Penerbit Bara Books Tahun Terbit: Cetakan Pertama, 2022 Tebal Halaman: xxii + 228  Halaman Bagi sebagian orang, nama Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) menjadi barang asing yang jarang terdengar di telinga. Di masa lalu, Lekra dikenal sebagai wadah seniman