CINEWEEKLY: MEMUTAR FILM TENTANG KEHIDUPAN DI JALANAN HINGGA KE PESANTREN TRANSPUAN

Seorang ahli teori budaya asal Rusia –Alexander Bogdanov– mengatakan bahwa seni sejatinya adalah gambaran hidup, penggalan dan potongan kehidupan manusia yang diabadikan menjadi sebuah karya. Barangkali saya tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa film, terlebih film dokumenter, merupakan bentuk yang paling nyata dalam penggambaran kehidupan manusia secara rill dalam sebuah karya seni. Bahkan, jika saya takar, film dirasa tidak hanya mampu melebihi penggambaran realitas manusia semata, melainkan juga menjadi suatu bentuk pendokumentasian fragmen kehidupan manusia yang berpihak dalam sebuah karya seni.

Masih berkaitan dengan film yang menggambarkan realitas kehidupan manusia, Keluarga Mahasiswa Televisi & Film (KMTF) ISBI Bandung pada Jumat, 16 Mei 2025 menggelar Cinecussion Weekly atau sering disingkat Cineweekly, dengan mengangkat tema “Menjadi Manusia: Identitas Tanpa Batas” di GK. Sunan Ambu ISBI Bandung.

Pengangkatan tema “Menjadi Manusia: Identitas Tanpa Batas” dalam Cineweekly kali ini didasari pada identitas manusia yang seringkali mendapatkan diskriminasi dan stigma oleh komunitas sosial. Maka daripada itu, meskipun seringkali identitas individu dipandang buruk karena stigmatisasi dan diskriminasi, tidak menutup kemungkinan dari setiap individu untuk saling menebar kebaikan sebagai manusia yang memiliki identitas tanpa batasan, sebagaimana menurut penuturan Geril, selaku Asisten Director KMTF,

Identitas tanpa batas merupakan suatu keterikatan identitas dengan suatu individu atau kelompok komunitas, yang seringkali menumbuhkan diskriminalitas sosial dan stigma terhadap identitas yang dibawa tatkala dipandang remeh dan sepele, sejatinya sebagai manusia tidak ada hambatan untuk berbagi dan berbuat baik. Maka menjadi manusia, identitas menjadi tanpa batasan.”

Dalam Cineweekly kali ini, KMTF menyajikan empat film dokumenter yang menggambarkan kehidupan manusia, yang menurut subjektif saya pribadi, seringkali luput atau tersembunyi dalam perhatikan khalayak luas –sering mengalami stigma dan diskriminasi. Keempat film tersebut adalah film Less Than Home, Bertuhan/Bertahan, Humanity Is A Priority, dan Under The Moonlight. Selain memutar keempat film tersebut, dalam Cineweekly yang mengangkat isu tentang kemanusiaan ini pun terdapat sesi diskusi antara penonton dengan film maker setelah sesi pemutaran film berlangsung.

Dari Hidup di Jalanan, Kawin Kontrak, Misi Penyelamatan, Sampai Pesantren Transpuan

Setelah MC memberikan sambutan selamat datang pada para penonton yang telah duduk memenuhi ruang auditorium GK. Sunan Ambu pada sekitar pukul 10.00 WIB, lampu auditorium dimatikan. Suasana auditorium yang semula cukup ramai oleh perbincangan para penonton mendadak hening. Dalam keheningan itu, proyektor yang semula menampilkan bumper Cineweekly mendadak gelap, tanda film pertama akan diputar.

Film pertama yang diputar adalah film Less Than Home. Menggambarkan bagaimana kehidupan manusia yang menjadikan jalanan tak hanya sebatas ruang untuk mencari nafkah untuk menyambung hidup, tetapi juga sebuah rumah yang ditinggali oleh sebagian kecil orang.

Film dibuka dengan memperlihatkan seorang tunawisma yang tertidur di emperan toko yang sudah tutup. Tunawisma itu ialah seorang pria paruhbaya, berperawakan kurus, hidup sendiri, membawa karung yang berisi barang-barang yang ia cari dari tempat sampah untuk ia jual sebagai jalan menyambung hidup, dan berbicara dalam bahasa sunda. Dalam istirahatnya itu, sang tunawisma didatangi oleh dua orang satpam berbadan tegap dan berisi. Ihwal kedatangan kedua satpam yang berangkali mengganggu waktu tidur tunawisma tersebut adalah untuk mengusirnya agar tidak tidur di emperan toko. “jangan di sini.”, kata salah satu satpam tersebut.

Pahit getir kehidupan jalanan dijelaskan secara bernas oleh pria paruhbaya ini. Pengalamannya selama hidup di jalan memberikan gambaran bagaimana seorang manusia, yang menurut agama merupakan makhluk yang memiliki derajat yang tinggi, di mata manusia bisa saja memiliki derajat yang rendah satu sama lain karena kondisi hidupnya. Kisahnya tentang dianggap sebelah mata oleh masyarakat barangkali telah menjadi hal yang biasa bagi dirinya. Dalam suatu momen, ia menceritakan bahwa ada suatu peristiwa saat ia berjalan di hadapan orang yang necis, orang necis itu langsung mengamankan tasnya dan menjauhkan diri. Ia dilihat sebagai orang yang jahat. Padahal, ia hanya berjalan di hadapannya.

Selain menyorot kehidupan tunawisma paruhbaya, film ini pun menyorot kehidupan seorang tunawisma lain. Tunawisma yang satu ini memiliki ciri fisik sedikit botak, dalam beberapa shoot di film terlihat asap mengepul dari mulut dan hidung ketika ia merokok, hidup di jalanan bersama keluarga, dan yang menariknya ia memiliki kemampuan speaking yang menurut saya pribadi, sangat mengesankan. Dari tunawisma ini, saya memiliki pandangan baru, bahwa setiap orang yang hidup dan tinggal di jalanan, masing-masing memiliki cerita masa lalunya tersendiri.

Dari penuturannya, ia menyadari bahwa ada suatu hal yang bertolak belakang ketika hidup di jalanan. Baginya, hidup di jalan memanglah suatu hal yang salah karena memang bukan tempatnya, tetapi tidak sepenuhnya salah karena jalanan adalah ruang umum. Ia menilai bahwa razia yang dilakukan pemerintah dalam menjaring tunawisma di jalanan Kota Bandung ibarat permainan semata. Dalam penjaringan tunawisma, ia sering hanya “dibina” oleh pemerintah selama beberapa minggu, lalu dilepaskan lagi. Beberapa minggu kemudian ia ditangkap, kemudian dilepaskan lagi. Begitu seterusnya. Baginya, hal ini adalah permainan, karena mereka –pemerintah– membutuhkan pencairan uang, secara kasarnya para tunawisma dijadikan objek komoditas dalam “pencairan dana” para penjaring tunawisma.

Umar, salah satu dari tim film maker Less Than Home  dalam diskusi setelah sesi pemutaran film menyebutkan bahwa, isu yang diangkat dalam film Less Than Home  yang menyoroti kehidupan tunawisma adalah upaya dalam menyorot isu tentang masih banyak orang-orang yang hidup di jalanan. Sebagaimana menurutnya, “Orang-orang yang tinggal di jalan berkembang menjadi isu bersama,” ujar Umar.

Dalam diskusi, Umar menjelaskan bahwa pembuatan film Less Than Home ditujukan bagi para seniman dan masyarakat umum. Umar berharap dengan adanya film Less Than Home, para seniman dapat mengangkat isu mengenai tunawisma menjadi sebuah kritik dan aspirasi atas suatu permasalahan melalui karya seni, sebagaimana menurutnya “Kami berharap para seniman dapat membuka diskusi formal maupun informal untuk mengulik sesuatu tentang homeless sendiri. Karena ini adalah urgensi bersama dan seni adalah salah satu media untuk menyalurkan aspirasi atas sebuah permasalahan yang ada,”

Umar menyebutkan harapan bahwa dengan adanya film Less Than Home, masyarakat luas dapat mengedukasi bagaimana caranya agar para tunawisma tidak menjadi objek, dengan jalan membentuk organisasi atau serikat masyarakat dalam mengurai masalah ini

“…Bagaimana caranya menyelesaikan permasalahan ini? salah satunya adalah dari masyarakat itu sendiri, bagaimana kita mengedukasi teman-teman di jalan agar tidak menjadi objek. (caranya) bisa dengan ada organisasi yang mengurus itu untuk berkumpul, berserikat, dan sama-sama mengurai masalah itu,” terang Umar.

Bagi Umar sendiri, ia telah melihat bagaimana pemerintah tak dapat mengurai permasalahan bagi para tunawisma. Maka demikian, ia menekankan harapan pada seniman lewat aspirasi yang terbalut dalam seni, serta masyarakat umum yang saling mengedukasi dan mengorganisasi diri sebagai pengurai permasalahan tunawisma di Kota Bandung ini. Karena bagi Umar, “Dari segi pemerintah, saya sih ga berharap apa-apa.” tandasnya.

Diskusi setelah pemutaran film “Less Than Home” dan “Bertuhan/Bertahan” bersama film maker. Jumat, 16 Mei 2025. GK. Sunan Ambu Isbi Bandung. (Foto: Purwa Sundani).

Setelah pemutaran film Less Than Home, film kedua yang diputar adalah film Bertuhan/Bertahan yang mengangkat isu tentang kawin kontrak di Cianjur.

Film Bertuhan/Bertahan dibuka dengan obrolan dua pasang laki-laki dan perempuan dengan pakaian islami di sebuah ladang. Tokoh perempuan dalam pembuka film berbicara dan bertanya-tanya tentang kebenaran dan ketuhanan. Seakan ragu untuk menjalani hal yang akan ia jejaki. Sebagai penonton yang awam, saya bertanya-tanya, apa yang akan dijalani oleh perempuan berpakaian islami ini? Masih dalam pembuka film, tokoh laki-laki yang mengenakan baju koko berbicara pada perempuan itu bahwa, “kalau memang yakin, jalani saja.

Semua pertanyaan saya cukup mendapat titik terang ketika adegan selanjutnya dalam film memperlihatkan laki-laki Arab dan perempuan pribumi. Yang terlintas dalam pikiran saya kala menyaksikan itu adalah semacam “oh, barangkali ini adalah film tentang cinta.” Pikir saya. Namun dugaan saya tidaklah sepenuhnya benar.

Film Bertuhan/Bertahan ternyata menggambarkan tentang suatu tradisi kawin kontrak antara perempuan pribumi dengan laki-laki Arab yang terjadi di Cianjur, Jawa Barat. Perempuan pribumi dikontrak dalam jangka waktu tertentu untuk menikah dengan laki-laki Arab. Pertanyaannya, mengapa perempuan pribumi mau menikah secara kontrak dengan laki-laki Arab? Jawaban utamanya adalah karena masalah ekonomi, dan sama sekali bukan masalah hati –cinta.

Salah satu narasumber dalam film ini, berinisial SA, mengaku bahwa pertama kali menjalani kawin kontrak adalah karena kepepet butuh uang. Tak ada jalan lain untuk mendapat uang secara cepat kecuali harus kawin kontrak. Lagi-lagi film dokumenter ini menggambarkan kehidupan nyata masyarakat bahwa, himpitan ekonomi dapat membutakan mata untuk melakukan apa saja demi mendapat uang secara cepat.

Afif, sebagai sutradara film Bertuhan/Bertahan dalam diskusi setelah pemutaran film menyatakan bahwa alasan dari mengangkat isu kawin kontrak di Cianjur adalah menyorot tentang prostitusi yang dibalut agama dan dibawa oleh orang Arab,

Walaupun orang Arab ini dateng ke kita, walaupun Islam dateng dari Arab, tapi gak seluruhnya yang dateng  dari Arab sebener Islam, mereka (orang Arab) kayak mencari kedok bagaimana kegiatan prostitusi ini halal dengan cara kawin kontrak. Mereka menggunakan agama untuk sesuatu yang salah,” jelas Afif.

Afif, melalui film Bertuhan/Bertahan ingin memperlihatkan bagaimana kawin kontrak yang terjadi di Cianjur menjadi sebuah fenomena budaya yang terjadi di masyarakat, yang ironisnya, sejak para perempuan beranjak remaja, mereka telah diberi tahu bahwa cara untuk mendapatkan uang adalah melakukan kawin kontrak dengan orang Arab,

“Pas sampe di sana (Cianjur), yang gadis pun sudah dikasih tahu cara buat dapet duit itu dari kawin kontrak. Ada yang dari remaja 12 tahun, 19 tahun sudah kawin kontrak. Budaya mereka di sana kayak begitu, seharusnya gak kayak begitu,” tutur Afif.

Setelah penayangan film dan diskusi bersama film maker, acara Cineweekly break terlebih dahulu tersela shalat Jumat. Sekitar pukul 13.00 WIB, acara digelar kembali dengan penayangan film Humanity Is A Priority dan film Under The Moonlight.

Dalam penayangan film Humanity Is A Priority, saya tak banyak menonton film di proyektor karena bagi saya, cukup membuat ngilu dan ser-seran. Barangkali karena konten dalam film Humanity Is A Priority cukup sedikit berdarah-darah. Secara garis besar, film Humanity Is A Priority menceritakan kegiatan seorang relawan pengawal ambulans sekaligus paramedis ketika bekerja melakukan pengawalan dan menangani kecelakaan. Secara garis besar, dapat saya katakan bahwa film ini menarik walau saya sendiri cukup merasa ngilu saat melihat adegan yang cukup berdarah-darah –seperti adegan saat menolong korban kecelakaan, film ini mengangkat isu tentang kemanusiaan, cinta, dan keikhlasan dalam saling tolong menolong satu sama lain. Pengangkatan cerita cukup ciamik, dengan berfokus pada keikhlasan kegiatan sehari-hari relawan sekaligus paramedis dalam misi penyelamatan, yang kadang dalam kehidupan kita sehari-hari seringkali luput dalam perhatian.

Namun cukup disayangkan, film maker Humanity Is A Priority ini tidak hadir saat sesi diskusi. Barangkali jika film maker hadir, cukup menggugah pertanyaan bagi saya sendiri untuk ditanyakan, mengapa mengangkat kehidupan sehari-hari seorang relawan pengawal ambulans?

Pemutaran film terakhir sekaligus “Gong” dari Cineweekly kali ini adalah film Under The Moonlight, film peraih Piala Citra FFI 2024 besutan Tonny Trimarsanto. Bercerita tentang kehidupan murid transgender di salah satu pesantren di Yogyakarta yang mengalami diskriminasi dan stigmatisasi oleh masyarakat sekitar.

Film Under The Moonlight merekam bagaimana kehidupan para transpuan hidup di pesantren. Saya pikir tidak ada yang salah. Mereka belajar mengaji, salat berjamaah, bahkan belajar untuk menari dan menyanyi “lindung-lindung kepala lindung”. Namun, barangkali konflik mulai terlihat ketika salah satu adegan dari film memerlihatkan bagaimana tiga transpuan yang sedang ngamen di sebuah tempat umum bersembunyi ketika ada patroli Satpol PP, juga pada saat kamera memperlihatkan tulisan di spanduk yang tidak mengehendaki keberadaan mereka di wilayah tersebut dengan membawa unsur-unsur agama.

Salah satu frame yang cukup monumental dalam ingatan saya adalah ketika memperlihatkan tiga orang transpuan menari dalam sebuah hajatan lengkap dengan menggunakan kain jarik. Namun sayang, ketika menuju akhir mereka menari, CD audio mereka macet dan rusak, sehingga mereka menari tanpa iringan musik audio. Saya merasakan penonton yang hadir di hadapan mereka bertiga ketika mereka menari di atas panggung merasa geli dan lucu, karena ketiganya tetap menuntaskan menari tanpa iringan audio. Alhasil, ketiga transpuan ini mengalami perdebatan dan keributan, menyalahkan “kenapa CD-nya rusak”.

Diskriminasi pada transpuan di pesantren ini adalah ketika film memperlihatkan kompilasi cuplikan berita di televisi yang memperlihatkan beberapa orang laki-laki dengan pakaian islami, menggerebek pesantren dan mengusir mereka dari pesantren. Keberadaan mereka tidak diterima, dan sekumpulan laki-laki berpakaian islami ini menuntut agar pesantren yang menaungi transpuan ini ditutup.

Tonny Trimarsanto dalam diskusi setelah pemutaran film yang dimoderatori oleh Wildan FKA menyatakan bahwa, dalam membuat film dokumenter, cara bagaimana agar subjek dapat terbuka dan enjoy saat proses pembuatan film dokumenter diawali oleh perkenalan dan mengempati setiap peristiwa yang terjadi pada subjek, itulah proses awalnya sebagaimana pendekatan yang dilakukan Tonny,

membuat film dokumenter awalnya adalah perkenalan dengan subjek, kemudian mengempati peristiwa-peristiwa mereka, kekerasan yang mereka alami, keterasingan, kesendirian, soal umur, soal hubungan vertikal dan lain sebagainya. Itu yang akhirnya menjadi proses … hingga mereka menjadi subjek yang nyaman (di depan kamera),” tutur Tonny.

Tonny dalam diskusinya menyampaikan bahwa produksi film dokumenter adalah soal kepercayaan antara film maker dan subjek. Film maker harus jujur tentang untuk apa subjek direkam di depan kamera, dan tujuannya apa, maka bagi Tony, “Film dokumenter adalah soal kepercayaan.”

Refleksi Cineweekly Bertajuk “Menjadi Manusia: Identitas Tanpa Batas

Pemutaran empat film dokumenter dalam Cineweekly kali ini membuka sudut pandang baru dalam melihat realitas manusia di dunia, tentang bagaimana sebuah budaya, tentang rasa kemanusiaan dan keikhlasan, serta tentang bagaimana terpaan diskriminasi terhadap kelompok rentan. Menurut saya, secara subjektif, Cineweekly kali ini menjadi bahan refleksi tentang apa yang terjadi namun tersembunyi di masyarakat.

Kamelia Wafa, pemegang program Cineweekly berharap bahwa orang-orang yang menghadiri Cineweekly ini dapat membuka pandangan dan presepsi baru dari film-film yang ditayangkan, serta membuka sarana diskusi untuk lebih mengapresiasi film-film terkhususnya di Bandung

Harapannya terutama untuk anggota KMTF atau teman-teman yang dateng di Cineweekly untuk bisa membuka pandangan baru dari film-film yang telah ditonton, membuka persepsi baru, dan membuka sarana diskusi terutama untuk anak-anak film maupun penyuka film, bisa lebih mengetahui sudut pandang baru, untuk lebih mengapresiasi film-film di Bandung khususnya.” Ujar Wafa.


Penulis: Purwa Sundani
Dokumentasi: Purwa Sundani
Penyunting: Marissa Anggita