FRAMEMORTAGE GELAR “LAYAR TANCAP” DI GOS PATANJALA LEWAT LUMANTARA

Mahasiswa angkatan 2025 (Framemortage) Program Studi Televisi dan Film menggelar kegiatan bertajuk “Lumantara: Layar Tancap Desa” yang digelar di GOS Patanjala ISBI Bandung pada Minggu, 23 November 2025.

Rheirendra Sukma Rabbani, selaku Ketua Pelaksana Lumantara menyampaikan bahwa tajuk kegiatan ini adalah manifestasi dari penggabungan dua unsur, yakni fotografi dan videografi yang dilambangkan dengan cahaya, serta kelokalan yang disimbolkan dengan Nusantara atau dalam kata lain, kegiatan ini mencoba untuk menampilkan karya mengenai fenomena lokal di desa dan Indonesia.

“Lumantara itu diambil dari kata Lumen dan Nusantara. Lumen itu artinya cahaya. Cahaya adalah inti dari fotografi dan videografi. Sedangkan Nusantara itu konsep yang kita ambil karena kita berasal dari Indonesia, dan Nusantara itu adalah konsep yang luas tentang desa yang dapat kita ambil ke depannya (dalam sebuah karya).” Ujar Rabbani.

Rabbani juga mengutarakan bahwa Lumantara adalah bagian dari strategi pendistribusian film karya mahasiswa Prodi Televisi dan Film angkatan 2025. Menurutnya, kegiatan ini masih bagian dari rangkaian program Keluarga Mahasiswa Televisi dan Film (KMTF) dalam mendistribusikan karya mahasiswa angkatan 2025.

“Sebenernya (bagian dari program) KMTF itu membuat filmnya, kemudian ketika sudah membuat film, tentunya kita harus mendistribusikan film tersebut. Nah, kita seluruh mahasiswa baru Televisi dan Film angkatan 2025 mengadakan acara untuk mendistribusikan film yang sudah kita buat. Makanya kita mendistribusikan film di acara Lumantara ini.”

Kegiatan ini cukup berhasil mengangkat tentang lokalitas budaya nonton pada masyarakat desa di Indonesia. Dengan artistik yang menonjolkan kelokalan desa di Indonesia, Lumantara berhasil membawa audiens seakan kembali ke masa dimana layar tancap desa masih eksis seperti di medio 1980–1990-an. Didukung oleh artistik seperti lampu patromak, jemuran, motor bebek, dan beberapa ornamen yang cukup merepresentasikan kehidupan desa. GOS Patanjala seakan diubah seperti arena nonton layar tancap, dengan ciri khas audiens yang duduk selonjoran di lantai.

Menariknya, pembangunan suasana desa dalam kegiatan ini tidak hanya dirasakan secara materil (dengan melihat setting tempat kegiatan dan artistik), melainkan bagaimana atmosfer suasana desa dirasakan ketika MC kegiatan disebut sebagai Lurah dan moderator diskusi disebut RW.

Adapun rangkaian kegiatan Lumantara ini meliputi pemutaran film, diskusi, dan pertunjukan hiburan. Dalam sesi pemutaran film, terdapat enam film produksi mahasiswa Prodi Televisi dan Film angkatan 2025 yang ditampilkan di layar tancap. Yaitu film berjudul Gema dalam Sunyi, Konservatif, Mahabbah, Tiup Lilinnya, Kalut, dan Ruang dan Ratu. Salah satu hal yang menarik adalah pemutaran film dibagi menjadi dua sesi, yang mana masing-masing sesi ditutup dengan diskusi antara partisipan kegiatan dan sutradara. Menurut Rabbani, pembagian sesi pemutaran film didasari pada tema yang diangkat di setiap film.

“Dari keenam film ini adalah film yang diproduksi oleh mahasiswa baru (Prodi Televisi dan Film) ISBI. Kebetulan kita membuat dua sesi (pemutaran film) terpisah ini karena tema dari tiap tiga film ini berbeda. Jadi tiga film pertama mengangkat tentang kekeluargaan, kemudian tiga film kedua mengangkat isu tentang kelalaian,” jelas Rabbani.

Selain sebagai wahana pendistribusian karya ke khalayak umum, sesi diskusi di setiap akhir pemutaran film dalam kegiatan Lumantara, menurut Rabbani, adalah upaya dalam mendistribusikan masukan dan pengetahuan antara audiens dan sutradara film sehingga audiens dan sutradara sama-sama mendapatkan pelajaran dan pengetahuan baru melalui diskusi.

“Kebetulan diskusi film kita adakan dengan tujuan untuk menambah wawasan sesama kita, karena yang namanya diskusi itu sifatnya terbuka untuk semuanya, jika ada yang ingin bertanya atau ingin memberi masukan, sama-sama bermanfaat untuk director dan bagi audiensnya juga. Jadi acara kita selain untuk menonton film, kita juga mendapat pelajaran dari diskusi tersebut.”

Sebagaimana Program Studi Televisi dan Film ISBI Bandung yang terbagi di dua tempat, yakni di Kampus Buah Batu 212 dan Kelas SCC Sumedang (embrio ISBI Bandung Kampus Sumedang), Rabbani menyatakan bahwa kesulitan yang dihadapi dalam menggarap film maupun kegiatan Lumantara adalah perihal jarak.

“Sebenernya kesulitannya terkendala jarak, jadi mau ga mau diskusinya online, terus kita kalo ngadain kumpulan yang di Bandung kampul di Bandung, yang di Sumedang kumpul di Sumedang.”

Meski demikian, kegiatan ini mencapai sukses dengan melihat atensi audiens yang datang ke kegiatan ini memenuhi GOS Patanjala. Karya-karya film yang ditampilkan pun terasa “dekat” dengan masyarakat, karena menyoroti isu-isu yang memang hadir di masyarakat dewasa ini. Meski demikian, cukup disayangkan kebanyakan audiens mangkir meninggalkan GOS Patanjala setelah film selesai diputar, tanpa mengikuti sesi diskusi.

Dari Patriarki Sampai Main Judi, Semua Ditayangkan di Lumantara

Dalam sesi pertama pemutaran film karya mahasiswa Prodi Televisi dan Film angkatan 2025 terdapat tiga film yang diputar, yakni Gema dalam Sunyi, Konservatif, dan Mahabbah. Film pertama, Gema dalam Sunyi cukup mengundang emosional bagi para penonton. Bercerita tentang sebuah keluarga dengan tokoh Aurel, Fajar, Ibu, dan Ayah, hidup dalam dominasi patriarki sang ayah. Aurel digambarkan sebagai perempuan yang mandiri dan sabar dalam menghadapi sikap sang ayah dan ibu yang memandang anak perempuan hanyalah sebagai “pembantu” dalam urusan rumah tangga. Fajar, seringkali ingin membantu sang ibu dalam urusan mencuci piring, namun sosok ibu malah seakan berkata “Sudah, kamu diam saja, biar adek kamu (Aurel) yang lanjut mencuci”. Dalam scene lain, sosok ayah membentak Aurel ketika Aurel ketahuan berkuliah sambil kerja, bentakan sang ayah cukup menyakitkan dengan berkata “Perempuan itu diem saja di rumah!”, yang mana Aurel, sebagai satu-satunya anak perempuan di keluarga itu merasa dipenjara di dalam rumah. Film Gema dalam Sunyi cukup memberikan pandangan tentang bagaimana patriarki, hyper maskulinitas, dan antifeminisme bekerja dalam sebuah keluarga. Aurel, adalah representasi dari seorang perempuan yang terpenjara dalam kungkungan patriarki, hyper maskulinitas, dan antifeminisme di sebuah keluarga.

Film kedua yang diputar di sesi pertama adalah film Konservatif, menceritakan bagaimana Pidi memiliki cita-cita ingin menjadi seorang pelukis. Namun, sang ayah tidak menyetujui Pidi jika menjadi seorang pelukis, basis latar belakang Ayah Pidi yang merupakan seorang tentara, mendorong Pidi untuk menjadi seorang pemimpin, seperti ayahnya. Hasrat Pidi untuk menjadi seorang pelukis sempat hilang ketika Ayah Pidi berkata padanya bahwa “Laki-laki harusnya jadi pemimpin!”. Meski hasratnya sempat hilang, keinginan Pidi untuk menjadi pelukis tak tergoyahkan dan semakin “memberontak” ingin jadi pelukis dan membenci sang ayah. Konflik antara Ayah Pidi dan Pidi akhirnya mereda ketika mereka berdua mengenang Ibu Pidi yang telah meninggal, keduanya berbaikan dan saling memaafkan di depan pusara Ibu Pidi. Cerita yang ditawarkan tentang keluarga, konflik ayah dan anak, serta klimaks yang menyentuh membawa penonton pada bagaimana keutuhan sebuah keluarga sebetulnya dapat terjaga jika saling memaafkan dan menerima satu sama lain. Cerita dalam Konservatif sangat menyentuh.

Film ketiga adalah film dengan judul Mahabbah. Membawa alur cerita jenaka tokoh Ucup, Azzam, Umar, dan Dewi tentang bagaimana perbedaan dan saling curiga dapat memperburuk sebuah pertemanan. Semuanya dimulai ketika madrasah tempat Ucup, Azzam, dan Umar mengaji kedatangan satu murid baru, yakni Dewi. Ketika pertama kali melihat Dewi, Ucup dan Azzam seakan tak percaya bahwa murid baru di madrasah itu begitu cantik, sampai-sampai membuat Ucup dan Azzam merasa kagum. Namun, kekaguman itu berubah menjadi keanehan ketika Ucup, Azzam, dan Umar melihat Dewi mempraktekan gerakan salat di depan Ustadz. Semua murid madrasah itu cukup aneh ketika melihat cara salat Dewi yang berbeda, hingga akhirnya timbullah rasa curiga di antara Ucup, Azzam, dan Umar, hingga kecurigaan itu menyebar di semua murid madrasah kepada Dewi. Perbedaan cara salat ini ternyata dipengaruhi oleh perbedaan mazhab, semua kecurigaan dan pandangan aneh murid madrasah terhadap Dewi seketika hilang ketika Ustadz menjabarkan bahwa memang perbedaan dalam cara salat itu dipengaruhi oleh mazhab, dan semua mazhab adalah benar. Penyampaian film Mahabbah cukup dekat dengan fenomena perbedaan cara salat yang dipengaruhi mazhab di Indonesia, menjadi penggambaran nyata bagaimana multikulturalisme dan perbedaan mengenai relijiusitas di Indonesia masih menjadi perdebatan di berbagai kalangan, terkait “mana yang paling benar” dan “mana yang paling asli”, serta saling curiga masih menjadi permasalahan di Indonesia.

Dalam sesi diskusi pertama, Muhammad Akmal Alfajri selaku sutradara Gema dalam Sunyi menyatakan bahwa film yang ia sutradarai awalnya berangkat dari keresahan akan ketimpangan gender yang banyak terjadi dalam masyarakat Indonesia. Berangkat dari keresahan tersebut, ia mengangkat studi kasus yang lebih kecil, yakni dalam ranah keluarga, tentang bagaimana seorang anak perempuan banyak dituntut dan ditekan oleh orang tua yang melakukan praktik ketimpangan gender dalam keluarga.

“Untuk film Gema dalam Sunyi sendiri berangkat dari keresahan banyak orang, khususnya dari kru sendiri tentang bagaimana ketimpangan gender, anti feminisme, dan toksik maskulinitas. Kami mengangkatnya pada lingkup keluarga dimana anak menjadi korban dari tekanan orang tua.” Jelas Alfajri.

Sementara itu, sutradara film Konservatif, Marsal Tristan mengutarakan latar belakang film tersebut berangkat dari keresahan salah jurusan, bagaimana seseorang yang kehilangan kebebasannya, representasi buruknya komunikasi dari sebuah keluarga, serta tokoh Pidi yang bercita-cita jadi pelukis (seniman) tapi dicekal oleh ayahnya yang seorang tentara adalah gambaran dari bagaimana seorang mahasiswa seni dipandang oleh sebagian masyarakat luas.

“Saya nekenin dari film ini ada tiga hal, pertama tentang keresahan saya sendiri bagaimana teman sebaya saya merasa salah jurusan, yang kedua saya ingin memperlihatkan bagaimana seseorang dibatasi impiannya dan dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri, dan ketiga ingin memperlihatkan bagaimana sih komunikasi dari sebuah keluarga yang buruk hingga hasilnya tampak di film itu. Sama dari keresahan khususnya anak-anak ISBI sering dibilang kuliah seni buat apa sih? Kampus seni buat apa sih? Nanti lulus mau jadi apa sih? Mungkin itu juga keresahan saya (yang diangkat dalam film ini)” ujar Tristan yang kerap disapa Elo.

Di sisi lain, Muhammad F. Al Anbiya, sutradara film Mahabbah ingin mengangkat tentang perbedaan dalam mencapai suatu tujuan yang sama. Ia mengatakan bahwa perbedaan adalah bagian dari suatu hal yang kita percayai, dan bukan suatu bentuk kesalahan.

“Isu di film ini tentang perbedaan cara beribadah, jadi dari aku sendiri ingin ngangkat film ini ingin meluruskan memang setiap orang memiliki perbedaan meskipun di satu jalan yang sama itu tetap akan memiliki perbedaan. Di film ini ditunjukan bahwa perbedaan bukan suatu kesalahan. Aku ingin menyampaikan bahwa perbedaan bukan kesalahan tapi hal yang memang kita percayai adanya.”

Sesi pertama diskusi bersama sutradara. Duduk di tengah dari kiri ke kanan (Muhammad Akmal Alfajri, Marsal Tristan, dan Muhammad Al Anbiya). Minggu, 23 November 2025. GOS Patanjala ISBI Bandung. (Foto: Purwa Sundani/LPM Daunjati)

Sesi kedua pemutaran film menampilkan tiga film dengan judul Tiup Lilinnya, Kalut, dan film Ruang dan Waktu. Ketiga film tersebut masing-masing bercerita tentang adaptasi, prasangka baik, dan makna hidup. Film pertama berjudul Tiup Lilinnya mengisahkan tentang seorang ibu yang memiliki seorang anak bernama Rafa. Rafa diperlihatkan sebagai seorang anak yang ceria. Namun, jalan cerita film tersebut ternyata tidak “seceria” Rafa. Sebuah film yang mengangkat adaptasi seorang ibu dibalik bayang-bayang trauma anaknya yang seakan masih ada. Film cukup sedih dan melankolia, tentang bagaimana hari-hari seorang ibu kehilangan anak semata wayangnya dalam sebuah rumah yang sepi dan temaram.

Film kedua berjudul Kalut mengisahkan Radit, seorang mahasiswa perantauan yang “ngekos” di salah satu kos bebas di dekat kampus. Di akhir bulan ketika tidak ada uang dan tidak akan ada transferan dari orang tua dalam beberapa minggu yang akan datang, Radit dihadapkan pada laptop yang rusak, suara pulsa listrik yang minta diisi, serta kegaduhan pasangan kosan sebelah. Di tengah frustasi tiada uang dan banyak kebutuhan, Radit merasa muak dengan suara gaduh pasangan tetangga kosan hingga akhirnya ia berani mendobrak pintu kosan tetangganya. Namun nahas, apa yang ia lihat ternyata sebuah hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dalam film ini penonton akan dibawa “traveling” pada pikiran yang mungkin liar, tergantung interpretasi penonton. Namun, ketika telah mencapai akhir film, cukup memberi kesan plot twist yang membekas di benak penonton.

Film terakhir, yang sekaligus menjadi penutup rangkaian pemutaran film di Lumantara adalah film Ruang dan Ratu. Perihal bagaimana seorang tokoh Ratu hidup dalam kondisi keluarga dimana sang ayah adalah penjudi hebat yang tak pernah menang. Sedari kecil Ratu dihadapkan bagaimana ia sering mendengar kekerasan yang dilakukan ayahnya pada ibu, bentakan dan omelan ibu kepada ayah ketika sang ayah kalah main judi. Namun, dalam realitas penuh kekerasan dan perjudian, Ratu sama sekali tidak lari dari keluarganya, dirinya malah mengharapkan sang ayah berhenti bermain judi, atau menang judi. Film ini cukup membuat penonton berputar-putar dalam kehidupan keluarga Ratu dan bayang-bayang imajinasi Ratu.

Sesi diskusi kedua bersama para sutradara. Duduk di tengah dari kiri ke kanan (Purwapaksi, Felix Saputra Hafiz, dan Muhammad Zakiyatul Qolbi). Minggu, 23 November 2025. GOS Patanjala ISBI Bandung. (Foto: Purwa Sundani/LPM Daunjati).

Sesi diskusi kedua, Purwapaksi atau yang akrab dipanggil Tepe selaku sutradara Tiup Lilinnya memiliki latar belakang empiris terkait film yan ia sutradarai. Menurutnya, film Tiup Lilinnya berangkat dari pengalaman mendalam Tepe setelah ditinggalkan orang yang disayang. Dari rasa kesepian itulah akhirnya Tepe meengangkat film Tiup Lilinnya yang bercerita tentang hari-hari setelah kehilangan orang yang disayang.

“Sebagai sutradara saya memiliki statement dimana film ini lahir dari pengalaman pribadi, dimana saya pernah kehilangan orang yang saya sayangi. Dari situ saya merasakan bagaimana hampanya hidup setelah ditinggal orang yang disayang, serta bagaimana sepinya hidup setelah ditinggal orang yang disayang. Jadi dari film itu ingin mencurahkan perasaan yang pernah saya rasakan.” Ujarnya.

Felix Saputra Hafiz, sutradara film Kalut menjelaskan bagaimana film tersebut berangkat dari pandangan masyarakat tentang kosan bebas. Felix rupanya mengangkat bagaimana tokoh Radit adalah penggambaran dari masyarakat umum tentang memandang negatif kosan bebas.

“Film ini mengangkat soal perspektif masyarakat terhadap suatu lingkungan masyarakat, yang mana banyak banget orang-orang mengkonotasikan orang yang dalam suatu lingkungan itu akan terpengaruh atau menjadi satu dalam lingkungan itu. Seperti dalam Kalut sendiri aku lebih mengangkat tentang kosan bebas, dimana biasanya orang-orang mengecap kosan bebas dalam konotasi negatif.”

Sutradara film Ruang dan Ratu, Muhammad Zakiyatul Qolbi menyampaikan bahwa lewat Ruang dan Ratu, diharapkan dapat membuka mata bagi setiap orang bahwa bentuk KDRT karena perjudian berpotensi memberikan dampak bagi anak-anak. Sehingga dalam harapannya, melalui Ruang dan Ratu dapat membuka awareness pada anak-anak yang sering mendengarkan beragam kekerasan di rumah.

“Dari film ini sendiri isu yang diangkat adalah seorang anak yang sering kali jadi korban ketika ada KDRT. Ketika yang dewasa itu bisa berisik, anak-anak sering menjadi pihak yang hanya bisa diam menerima nasibnya, bahkan untuk hal yang bukan kesalahan mereka sendiri. Lewat film ini saya ingin menyampaikan perhatian atau awareness pada anak-anak korban KDRT ini bisa semakin meningkat.” Jelas Zaki.

Meski digarap oleh mahasiswa baru, Lumantara menunjukkan potensi besar lahirnya sineas-sineas muda ISBI Bandung yang peka terhadap isu sosial dan berani mengeksplorasi realitas kehidupan sehari-hari. Melalui pemutaran film, diskusi, dan pertukaran gagasan, kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang apresiasi karya, tetapi juga ruang belajar bersama bagi seluruh partisipan. Dengan antusiasme apresiasi film yang tinggi serta ragam tema yang dekat dengan masyarakat, Lumantara diharapkan dapat terus menjadi wadah distribusi film mahasiswa sekaligus memperkuat tradisi sinema kampus yang kritis, humanis, dan membumi.

Kegiatan akhir Lumantara ditutup dengan sajian penampilan band di malam hari.

Penulis: Purwa Sundani

Dokumentasi: Purwa Sundani

Penyunting: Hana Diah