“Dari tanah kita lahir, dari tubuh kita bicara” merupakan tagline yang diusung dalam kegiatan Dialog Tari XII tahun ini pada Rabu — Kamis, 15–16 Oktober 2025 di Gedung kesenian Sunan Ambu, Institut Seni Budaya Indonesia Bandung. Dialog Tari merupakan kegiatan rutin tahunan dan program unggulan Himpunan Mahasiswa Tari (HIMATA) ISBI Bandung, dilaksanakan selama dua hari berturut-turut dengan membawa isu sosial lingkungan yang mengusung tema jejak tubuh suara bumi.
Hari pertama kegiatan diisi dengan seminar yang bertema “Membaca Isu Sosial dan Lingkungan dalam Seni Pertunjukkan” yang kemudian dilanjut dengan lokakarya “Karya-Karya Tari dengan Isu Sosial dan Lingkungan.” Pada hari kedua, rangkaian acara menampilkan karya tari dari tiap angkatan Program Studi Seni Tari ISBI Bandung serta pertunjukan dan bedah karya tari dari berbagai delegasi kampus, di antaranya, Universitas Negeri Lampung, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Kesenian Jakarta (IKJ), ISI Surakarta, dan ISBI Bandung sebagai tuan rumah yang kemudian acara ditutup dengan pertunjukan kolaborasi antarORMAWA ISBI Bandung.

Salah satu momen menarik dari Dialog Tari XII adalah sesi bedah karya, di mana para penampil membuka proses kreatif mereka di hadapan publik. Diskusi ini membuka ruang untuk bertukar ide, kritik membangun, dan pertukaran perspektif antara mahasiswa, dosen, dan tamu undangan. Hal ini sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran kolektif yang menunjukkan pentingnya dialog dalam pengembangan praktik seni pertunjukan yang kontekstual dan relevan.
Berangkat dari keresahan akan maraknya isu sosial dan lingkungan beberapa waktu terakhir, Dialog Tari XII berupaya menumbuhkan kesadaran bahwa masalah sosial dan lingkungan adalah tanggung jawab bersama dan seni dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan secara halus. Tagline “Dari tanah kita lahir, dari tubuh kita bicara” bermakna bahwa dalam seni tari, tubuh bukan hanya sekadar ekspresi, tetapi ruang tafsir yang menyampaikan pengalaman, pengetahuan, dan nilai. Saat isu sosial dan lingkungan tak cukup diucapkan, tubuh hadir sebagai alternatif seperti sunyi namun kuat, tidak terucap namun terasa. Dalam kegiatannya, meski mengusung tema besar “Jejak Tubuh, Suara Bumi”, tetapi tidak dijelaskan secara spesifik isu-isu apa saja yang diangkat dalam karya-karya tari. Sehingga adanya potensi isu tidak tereksplorasi secara mendalam. Apakah menyentuh soal perubahan iklim, perusakan hutan, ketimpangan sosial, atau lainnya? Tanpa kejelasan ini, kekuatan pesan yang ingin disampaikan bisa jadi kurang terasa tajam. Akan lebih baik jika edisi Dialog Tari memiliki fokus isu yang lebih spesifik.

Kendati begitu, Setiap delegasi membawakan sajian yang sangat menarik dan tafsir unik tentang tubuh dan bumi. Delegasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menampilkan karya yang tiap geraknya terinspirasi dari masyarakat Baduy yang berharmoni dengan alam. ISI Surakarta membawa narasi tentang kehidupan yang akan terus mengalir seperti air. Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menampilkan karya berjudul “Lorong”, yang merefleksikan tubuh yang menavigasi ruang dan aturan baru, tiap geraknya hening tanpa musik. Dari Universitas Negeri Lampung (Unila) hadir dengan karya yang membawa pesan mengenai kehidupan petani lada yang gagal panen, sementara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengusung konsep “Tritangtu Buana” yang menyangkut keseimbangan alam, manusia, dan jiwa. Sebagai tuan rumah, ISBI Bandung menampilkan karya yang mengangkat isu perlawanan masyarakat Sukahaji terhadap mafia tanah.
Perbedaan kegiatan Dialog Tari tahun ini dengan tahun sebelumnya ditandai dengan jumlah delegasi yang ikut berpartisipasi. Dalam sesi wawancara, Pelangi Diva Bangsa selaku ketua pelaksana, menuturkan bahwa tahun ini panitia berusaha memperluas keterlibatan mahasiswa dan dosen untuk berpartisipasi langsung dalam acara tersebut.
“Alhamdulillah, dukungan yang diberikan sangat luar biasa, hingga seluruh mata kuliah pada minggu pelaksanaan dialihkan agar civitas akademika dapat fokus mengapresiasi kegiatan Dialog Tari XII,” ujarnya.
Kegiatan ini mendapat respon positif dari berbagai pihak, agar Dialog Tari tidak berhenti pada panggung dan statusnya sebagai program unggulan semata, disarankan ada tindak lanjut seperti; lokakarya berkelanjutan, penggalangan aksi lingkungan, atau kolaborasi berkala dengan komunitas yang bergerak di isu yang sama.
Penulis: Hana Diah Khoerunnisa
Dokumentasi: Hana Diah Khoerunnisa
Penyunting: Rifka Rahma Dewi

