Ketika Dangdut Menjadi Pasung Jiwa: Elitisme Seni dan Arti Kebebasan Manusia

Di tengah hiruk-pikuk panggung hiburan Indonesia, musik dangdut kerap menjadi suara yang dipandang sebelah mata. Seringkali ia dicap sebagai musik kelas bawah, dianggap “norak” oleh sebagian kalangan yang menjunjung tinggi estetika seni barat atau bentuk musik lain yang lebih dekat dengan label “berkelas”. Namun, ketika novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari hadir, pandangan ini mendapat cermin baru, mengenai bagaimana sesungguhnya seni, baik sastra maupun musik, tidak pernah lepas dari tarik-menarik antara kebebasan dan belenggu elitisme.

Okky menghadirkan kisah yang menelanjangi keterasingan manusia akibat tekanan sosial, politik, dan budaya. Karakter-karakter dalam Pasung Jiwa bergerak di antara hasrat untuk bebas dan struktur yang mengekang. Ceritanya berpusat pada tokoh Sasana, seorang laki-laki yang gemar menyanyi dangdut dan merasa lebih bebas ketika mengekspresikan sisi feminin dalam dirinya, sedangkan ia mengalami tekanan sejak kecil karena kesukaannya pada dangdut dianggap memalukan oleh keluarganya, terutama ibunya yang menginginkan citra “terhormat” bagi anaknya dengan cara bermain piano dan musik klasik.

Ilustrasi musik dangdut dipandang sebagai “bukan musik kelas tinggi”. Penikmat dangdut sering dicap sebagai penikmat musik kelas bawah, alih-alih musik adalah representasi kebebasan, penikmat musik dangdut seringkali merasa teralienasi seolah-olah berada di sebuah jeruji elitisme musik. (Ilustrator: Purwa Sundani/LPM Daunjati).

Dalam perjalanannya, Sasana bertemu Jaka Wani (Cak Jek), seorang pengamen jalanan. Percakapan terjadi ketika Sasana sedang mencari jawaban atas kegelisahannya tentang hidup dan kebebasan. Cak Jek memberinya ungkapan, “kebebasan itu, San, bukan soal bisa pergi ke mana saja, atau lo bebas dari aturan. Bebas yang sesungguhnya ya di sini,” Cak Jek menunjuk kepalanya sendiri. “Di pikiran lo. Lo bebas ketika lo berani mikir sendiri, nekad sama pilihan lo, dan konsekuen sama resikonya. Itulah pasungan paling berat sebenarnya: pasungan dari diri sendiri, dari ketakutan kita.” (Hal. 148) Pertemuan dengan Cak Jek mengubah hidup Sasana, hingga ia mengubah nama panggungnya menjadi Sasa, penyanyi dangdut keliling, lalu menapaki jalan menuju panggung profesional. Bagi Sasana, dangdut bukan sekadar hiburan, melainkan ruang di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri.

Walau begitu, puncak cerita terjadi disela perjalanan penampilannya. Sasa dan Cak Jek terjerat konflik sosial dan politik. Kronologi berawal dari kondisi mencemaskan, seorang buruh bernama Dimas hilang. Ia adalah salah satu dari ratusan pekerja yang dipekerjakan melalui sistem outsourcing yang tidak manusiawi, tanpa jaminan dan perlindungan. Kehilangannya bukan sekadar statistik bagi rekan-rekannya, tetapi bukti nyata ketidakpedulian sistem terhadap nyawa manusia. Jiwa Sasana, yang telah lama menemukan suara kebebasannya melalui musik dangdut, melihat ini sebagai bentuk “pasung” baru yang lebih kejam. Kepeduliannya yang tulus pada nasib orang kecil, yang juga menjadi sumber inspirasi musiknya, mendorongnya untuk terlibat langsung.

Sasana dan kawan-kawannya, termasuk aktivis buruh, mengorganisir sebuah aksi unjuk rasa. Sasana membawa serta peralatan sound-nya. Di tengah demonstran yang berkumpul, alunan musik dangdut diputar keras-keras. Bagi Sasana dan para buruh, dangdut bukan sekadar hiburan; ia adalah musik rakyat yang merepresentasikan jiwa mereka. Irama itu menjadi pengikat solidaritas, pengusir ketakutan, dan simbol perlawanan terhadap budaya elite yang selama ini mendominasi. Panggung dangdut impian Sasana telah berubah fungsi menjadi panggung protes.

Tuntutan agar perusahaan bertanggung jawab atas hilangnya Dimas dan perbaikan sistem kerja bergema. Namun, pihak berwajib melihat kerumunan besar yang disertai musik keras sebagai ancaman terhadap ketertiban. Eskalasi pun terjadi. Aparat keamanan dalam jumlah besar datang untuk membubarkan paksa aksi tersebut.

Peristiwa penangkapan terjadi dalam situasi kacau-balau. Upaya pembubaran bertemu dengan perlawanan pasif massa. Dalam kekacauan itulah, jiwa Sasana tidak mundur. Alih-alih mematikan mikrofon-nya, ia justru semakin bersemangat. Ia mungkin tidak melemparkan batu, tetapi suaranya dan musiknya dianggap sebagai provokasi. Ia berteriak membela hak-hak buruh, menyanyikan lirik-lirik yang menyindir ketidakadilan, menjadikan dirinya target yang jelas bagi aparat. Penangkapan Sasana berlangsung cepat dan keras. Ia diseret dari belakang peralatan musiknya, Ia ditangkap bersama beberapa aktivis dan buruh yang dianggap sebagai provokator.

Kata “Pasung Jiwa” sendiri merujuk pada tindakan membatasi kebebasan seseorang yang mengalami gangguan jiwa dengan cara-cara fisik yang ekstrem, seperti mengikat, merantai, atau mengurungnya di ruang sempit, sehingga ia tidak bisa bergerak bebas. Sasana dengan berbagai macam hal yang telah dialaminya dengan mulai dari penolakan orang tuanya, penangkapan, masuk ke jeruji besi dan kejadian mengerikan didalamnya, membuat ia bertanya “Apa kebebasan itu?”

Sebagaimana ia renungkan, kegelisahan ini menemukan bentuknya sejak awal dalam sebuah dialog, “selama ini aku merasa terpasung, Ra. Dikurung dalam aturan-aturan yang membuatku tidak bisa menjadi diriku sendiri. Tapi di sini, lewat dangdut, aku merasa bebas. Aku bisa berteriak, menari, menjadi gila sebentar, tanpa ada yang menghakimi.” (Hal. 132)

Di sinilah musik dangdut menemukan relevansinya: ia adalah simbol kerinduan akan ruang hidup yang merdeka, meski sering dicibir karena dianggap terlalu dekat dengan tubuh, pesta rakyat, dan ekspresi yang apa adanya. Stigma “norak” itu sejatinya bukan soal kualitas musik, melainkan refleksi atas cara masyarakat mengukur nilai seni berdasarkan kelas sosial dan kuasa simbolik.

Mengapa dangdut sering diposisikan di pinggiran? Pertanyaan itu membuka jalan untuk membongkar konstruksi elitisme dalam dunia seni Indonesia. Musik yang lahir dari percampuran tradisi lokal dan global ini sebenarnya merepresentasikan dinamika identitas bangsa yang cair, meriah, penuh energi, sekaligus jujur pada realitas sosial. Namun, justru kejujuran itulah yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi mereka yang terbiasa menyamakan seni dengan citra kemewahan. Sama halnya dengan Sasana dalam buku Pasung Jiwa yang merasakan pasungan, dangdut juga terpenjara dalam stigma sosial yang tidak adil.

Cover buku “Pasung Jiwa” karya Okky Madasari (Sumber gambar: Goodreads.com)

Di sisi lain lewat buku ini, Okky mengingatkan pembacanya bahwa kebebasan manusia bukanlah hadiah yang datang begitu saja, melainkan perjuangan untuk mendobrak batas. Sebagaimana Sasana renungkan, “bebas itu bukan keadaan, tapi tindakan. Bukan tujuan akhir, tapi perjalanan. Kau bebas bukan ketika semua halangan hilang, tapi justru ketika kau berani menghancurkan halangan itu.” (Hal. 189). Penangkapan yang ia alami adalah konsekuensi logis dari tindakan ‘menghancurkan halangan’ tersebut.

Kebebasan berarti keberanian untuk mengekspresikan diri, bahkan ketika ekspresi itu dianggap tidak pantas oleh norma dominan, dan dilihat sebagai ancaman. Dengan demikian, musik dangdut dan novel Pasung Jiwa sama-sama menyingkap paradoks, bahwa di negeri yang kaya akan seni, masih ada tembok yang membatasi siapa yang berhak disebut berbudaya, siapa yang dianggap memiliki seni bernilai, dan siapa yang tersingkir sebagai “rendahan.”

Lewat buku ini, muncul satu pertanyaan yang lebih mendasar: apakah seni seharusnya menjadi penanda kelas, atau justru seharusnya menjadi ruang yang merayakan keberagaman ekspresi manusia?

Identitas Buku

Judul Buku: Pasung Jiwa

Pengarang: Okky Madasari

Tahun Terbit: 2013 (Cetakan Pertama)

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Kota Terbit: Jakarta

ISBN: 978–979–22–9392–5

Jumlah Halaman: 264 halaman

Penulis: Sophia Septiani

Ilustrator: Purwa Sundani

Penyunting: Purwa Sundani