Tirai panggung terbuka di tengah sorot kabut biru diiringi alunan nada alat musik karinding dan bunyi gong . Sekelompok penari perempuan, di tengah sorot kabut lampu biru, mengenakan toga, memenuhi panggung sambil berteriak lirih: “Mereka menertawakanku!”
Di antara mereka, seorang penari (Ima Gita Radyan) melangkah ke depan, menggenggam selembar ijazah lusuh, merobeknya lalu berkata “Seolah kertas ini tak berarti apa-apa,” sejenak diam lalu ditutup dengan lirih pilu “kalian bilang aku sarjana sampah.”
Latar adeganpun berganti pagi hari dimana tokoh utama — Linda (Hanna Nuraisyah) duduk di teras rumah sembari membaca buku psikologi pendidikan, kemudian mendapat ceramah dari ibunya sendiri yang sedang bersih-bersih — Bu Ratna (Reina Vanindyawati) mengenai nasibnya yang masih saja menganggur walaupun sudah lulus kuliah.
Bu Ratna, mengungkapkan kekesalannya kepada Linda secara sinis seperti ‘lebih baik mencari pria yang kaya untuk dinikahi’. Berbanding terbalik dengan perlakuan dari ibunya, ayahnya Linda — Pak Karman (Doni Setiawan) sendiri lebih suportif dan optimis terhadap Linda karena memiliki keyakinan bahwa menjadi seorang Guru merupakan pekerjaan yang mulia.

Sementara itu, tetangga disebelah rumah keluarga Linda — Ceu Eha (Arsy Dinasty), seorang janda pemilik usaha warung kopi, selalu membanggakan anaknya — Dahlia (Salma Syahwa Hafidza) dengan membanggakan diri bahwa anaknya sudah diterima menjadi guru SD walaupun hanya lulusan SMA.
Hal mengapa Dahlia yang hanya lulusan SMA bisa menjadi guru SD nyatanya ada merupakan campur tangan dari sepupu Ceu Eha yang juga turut mengajar disana, yaitu Pak Rahmat (Naufal Ariq).
Linda dalam perjalanan hidupnya berkelindan dengan rupa-rupa kejadian, mulai dari mendapat godaan dari seorang pria paling kaya di desa -Kusni, kenyataan bahwa ibunya tidak puas Linda diterima kerja di tempat yang sama dengan Dahlia, hingga para tetangga yang asik bergosip membandingkan nasib Linda dan Dahlia hingga persoalan pribadi keduanya. Linda menutup panggung pertunjukan dengan kalimat monolog; “Aku ingin hidup bebas, walau harus bersama jeritan.”
Tubuhnya perlahan terjatuh, lalu dipeluk dalam dekapan penari yang mengiringinya hingga akhir.
Di Balik Jejak Tiga Luka
Garapan ini mengusung gaya tragikomedi yang sudah dimunculkan dalam karya dramawan Plautus dalam prolog berjudul Amphytryon di Yunani, dimana tokoh utama dalam perjalanannya selalu ditimpa oleh berbagai nasib buruk secara tiba-tiba. Namun, tetap dibalut oleh humor serta satir didalamnya.
Dalam wawancaranya, M. Hanief selaku sutradara sekaligus pemeran tokoh Memet menjelaskan makna di balik judul garapan ini. “Jejak Tiga Luka merepresentasikan tiga fase transformasi tokoh utama. Pertama, penerimaan atas cemoohan keluarga. Kedua, penerimaan Linda terhadap keadaan keluarganya dengan lapang dada dan ketiga, kesuksesannya meraih segala yang diimpikan”.
Sehingga, disimpulkan bahwa ketiga ‘luka’ tersebut merupakan pemicu dari pertumbuhan karakter dari Linda.

Menurut Hanief, inspirasi cerita berakar pada pengalaman pribadi. “Jadi ini projek akhir dari mata kuliah pagelaran sastra, persiapannya kurang lebih 3 bulan. Inspirasi ceritanya kebetulan dari temen saya, naskah ini mengangkat bahwa perempuan yang kuliah dan pengagguran tuh hal yang tabu di masyarakat, jadi pingin ngangkat bahwa kuliah itu penting bukan hanya mencari kerja” ucapnya.
Kritik Pasca Dramatik
Alur cerita dalam garapan ini cenderung fokus pada konflik antar personal warga desa, sementara untuk eksplorasi konflik psikologis Linda sebagai tokoh utama justru kurang mendapat porsi yang mendalam. Seharusnya, pergolakan batin Linda bisa menjadi elemen kunci untuk memperkaya narasi secara lebih konkret dan tidak terburu-buru dalam menyelesaian konflik yang sudah dibangun. Sedangkan pada sisi teknis, tumpang tindih antara musik pengiring dan dialog seringkali mengganggu kenyamanan dalam menangkap dialog antar tokoh. Meski demikian, penyajian properti yang jelas dan dinamika antar tokoh yang terjaga dengan baik menjadi nilai tambah dalam perhatian penonton. Hal tersebut ditunjukan dengan kehadiran tokoh-tokoh seperti Tukang Jagung, Tukang Sayur dan Pak Ustad yang berfungsi sebagai pencair konflik.
Tidak bisa dipungkiri bahwa celetukan-celetukan yang muncul seperti “Perempuan buat apa kuliah kalo ujung-ujungnya ke dapur?” atau “Ngapain mahal-mahal kuliah perempuan mending langsung nikah aja?” sudah dianggap menjadi canda gurau semata dalam pembicaraan tongkrongan. Namun, dibalik hal tersebut tersimpan kenyataan mengenai nasib kaum perempuan Indonesia dalam menempuh pendidikan serta pekerjaan yang layak pada saat ini. Jika berbicara mengenai data, berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Barat per Februari 2025 mencapai sebanyak 1,72 juta jiwa dengan presentase jenis kelamin pria 7,11% dan Perempuan 6,14%. Sementara itu, untuk kota Bandung sendiri per-tahun 2024 mencapai sebesar 6,36%. Meskipun persentase ini menurun dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 8.83%, Jawa Barat masih menjadi provinsi dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi di Indonesia.
Selain yang terdata dalam angka, kaum perempuan juga seringkali menghadapi gangguan mulai dari pelecehan verbal, ancaman fisik hingga tekanan psikologis yang mana dapat menghambat mereka dalam memegang kendali atas nasibnya sendiri. Praktik ini sering kali terselubung dalam norma budaya dan diabaikan oleh sistem data survey, yang secara nyata memiliki dampak terhadap pembatasan ruang gerak juga pengambilan keputusan bagi perempuan di negara ini.
Pada akhirnya, bekal pendidikan dalam dunia kerja bukan sekadar tentang gelar atau selembar ijazah, lebih dari itu banyak orang yang mengejarnya dengan rela mengorbankan apapun termasuk harga diri. Hakikat dari pendidikan adalah sebagai benteng untuk melindungi diri kita dari stigma sosial yang merusak dan menjadi pondasi kokoh dalam membekali diri dengan berpikir kritis. Jangan sampai pendidikan yang kita tempuh hanya berakhir menjadi ritual formal semata.
Penulis: M. Haikal Athar A
Dokumentasi: M. Haikal Athar A
Penyunting: Hana Diah

