Mahasiswa Antropologi Budaya angkatan 2023 kelas A, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, menggelar event budaya bertajuk “Loka Awi”. Event budaya yang dilaksanakan di Teras Sunda Cibiru pada Minggu, 14 Desember 2025 ini merupakan implementasi Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Komodifikasi Budaya dan Seni.
Mengangkat tema “Ngamumulé Awi Pasundan”, Loka Awi menjadi langkah nyata mahasiswa untuk berkontribusi mempertahankan budaya khas Sunda, yakni awi (bambu), yang kini dihadapkan pada kondisi bertahan atau punah.

Ketua Pelaksana, Ramzy Danar Raihan, menjelaskan bahwa acara ini terinspirasi dari ekologi kearifan lokal Sunda. Bagi masyarakat Sunda, bambu bukan hanya penopang kehidupan masyarakat sejak zaman dahulu baik untuk kesenian maupun arsitektur rumah, tetapi juga pelindung dari bencana. Mengingat keberadaan bambu yang hari ini semakin langka, event budaya ini bertujuan untuk membangun kesadaran (awareness) mengenai nilai filosofis bambu di masyarakat Sunda.
“Oh iya, ngambil nama Loka awi ini kebetulan waktu itu sama teman-teman ada seminar terkait ekologi gitu tentang kearifan lokal Sunda gitu. Ternyata bambu ini jadi salah satu penopang kehidupan masyarakat Sunda dari zaman dahulu. Dan ternyata bukan cuma dari kesenian aja ataupun dari instruktur rumah ya, tapi juga ternyata menjaga dari bencana juga. Sekarang kan banyak maraknya terjadi bencana mungkin leuweung keawiannya sudah jarang ditemukan juga gitu. Dan ternyata dari bambu atau awi ini pun mempunyai nilai-nilai filosofis yang banyak gitu, khususnya untuk masyarakat Sunda. Maka kita namain gimana caranya kita bawain tentang ningkatin aware terhadap bambu,” ujar Ramzi.

Acara ini dimeriahkan oleh berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari pameran yang memamerkan karya budaya berbahan dasar bambu koleksi Museum Sri Baduga Jawa Barat, talkshow bersama Dody Satya Eka G. dan Hendi Rohaendai dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, hingga pertunjukan kesenian hasil kerja sama dengan jurusan Musik Bambu ISBI Bandung. Salah satu pertunjukan unggulan dalam acara ini adalah sound meditative feeling interaktif bertajuk “Menekung”, sebuah tradisi meditasi masyarakat Sunda melalui media bambu.
Apresiasi positif datang dari Mr. dan Miss Tourism Jawa Barat, Tomi dan Tiffany. Mereka menilai acara budaya seperti Loka Awi sangat krusial untuk dipertahankan di era digitalisasi guna melestarikan budaya Sunda.
“Tanggapan dari saya pribadi, karena apa di era digitalisasi dan modernisasi zaman sekarang, di era Gen Z yang jauh banget dari kata budaya, ini keren karena masih ada anak muda yang mau melestarikan budaya di Indonesia, apalagi budaya di tanah Sunda gitu. Keren banget sih. Terus-terus untuk acara ini pertahankan untuk tahun berikutnya, dan jangan sampai budaya kita punah,” ujar Tiffany.

Senada dengan Tiffany, Tomi juga memberikan tanggapan yang mendukung keberlanjutan acara ini.
“Tanggapannya ini sangat bagus ya. Maksudnya bagus buat apa? Buat melestarikan budaya ya, apalagi kita ada di Jawa Barat, budaya Sunda gitu. Yang terkenal akan keindahannya, kebanyaknya ragam budaya kita yang ada di Sunda gitu. Dan harapannya mungkin untuk kedepannya semoga terus bisa dilestarikan dan terus berkelanjutan lagi sih,” lanjut Tomi.

Sementara itu, Dosen Pengampu mata kuliah, Neneng Yanti, menjelaskan tujuan dari konsep perkuliahan berbasis proyek ini adalah untuk memberikan pengalaman empiris kepada mahasiswa.
“Mata kuliah ini tuh memang berbasis proyek. Jadi mata kuliah ini tugas akhirnya atau luarannya adalah sebuah proyek. Nah proyeknya itu adalah membuat event. Membuat event budaya atau seni budaya. Kenapa harus bikin event? Supaya mahasiswa punya pengalaman yang lebih belajar langsung bagaimana caranya mengelola event, bagaimana caranya bekerja sama dengan tim, membuat konsep, melakukan riset tentang satu fenomena kebudayaan tertentu. Sehingga tidak hanya sesuatu yang sifatnya teoritis di dalam kelas, tapi mahasiswa betul-betul merasakan langsung, belajar langsung. Jadi karena istilahnya pengalaman itu kan guru terbaik. Jadi melalui kegiatan event ini mereka dilatih untuk bisa menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang ada di dalam kelas dalam kegiatan praktik di luar kelas. Terutama ketika kegiatan seperti ini kan perlu melibatkan kolaborasi dengan banyak pihak, dengan masyarakat, dengan pemerintah, karna itu lah penting sekali punya luaran yang sifatnya project acara secara langsung seperti ini” pungkas Neneng.

Adapun harapan yang disampakan dari acara ini adalah semoga dengan adanya acara ini sebagai pematik agar masyarakat maupun mahasiswa tidak bosan menggali seni, budaya, dan tradisi lokal yang ada dimasyarakat.
“Harapannya tentu mahasiswa kita terus tidak bosan menggali seni, budaya, tradisi lokal yang ada di masyarakat. Karena itu adalah kekayaan budaya kita dan itu adalah tugas kita selaku mahasiswa untuk terus menjaga, melestarikan, dan juga menginformasikan atau mempromosikannya kepada publik yang lebih luas. Agar orang tahu di kampus kita, kita belajar tentang berbagai seni, budaya, tradisi” Ujar Neneng.
Ramzy juga mengatakan harapannya masyarakat dapat merasakan indahnya ataupun memaknai nilai-nilai yang ada di kebudayaan tradisional.
“Harapan aku adalah semoga temen-temen bisa merasakan indahnya ataupun memaknai nilai-nilai yang ada di kebudayaan tradisional” Ujar Ramzy.
Penulis: Marissa Anggita
Dokumentasi: Marissa Anggita & Purwa Sundani
Penyunting: Purwa Sundani


