MEMBACA KELABANG DAN EMPAT SIKSAAN PEMBACA KETIKA MEMBACANYA

Saya pertama kali mendengar nama Bima Satria Putra sekitar tahun 2021, berawal dari bukunya yang berjudul Dayak Mardaheka (2021) tersebar liar di internet. Belakangan, ketika masuk jurusan Antropologi Budaya di ISBI Bandung pada tahun berikutnya, saya mulai membaca karya lain yang ia tulis, misalnya buku Anarki di Alifuru (2024) maupun karya lain yang ia terjemahkan, salah satunya Kepingan-kepingan Antropologi Anarkis (2021) karya David Graeber. Tapi, pembaca tentu tidak asing dengan karya teoritis, karya ilmiah, maupun karya terjemahan yang Bima tulis. Pun begitu, saya pun cukup tak asing dengan karya-karyanya —terlebih karya-karyanya yang cukup bernafas antropologis.

Namun bagi saya ada satu keterkejutan, sesuatu yang cukup asing ketika pertama kali mengetahui ternyata Bima menulis fiksi –mengingat kebanyakan karya yang ia tulis bersifat nonfiksi– berjudul Kelabang (2026). Dalam tulisan ini, saya mencoba meresensi, atau barangkali mengulas novel yang Bima tulis secara santai, sekenanya, dan tentu, ditulis tanpa menggunakan bantuan AI yang sedang tren dewasa ini.

Novel Kelabang karya Bima Satria Putra (Foto: Purwa Sundani)

Di sampul depan, pembaca dengan usia di atas 30 tahun mungkin akan merasa “nostalgia” dengan sampul novel-novel tahun 80-90-an, katakanlah seperti penulis Freddy S atau Enny Arrow yang cukup kontroversial karena karya mereka merupakan pionir sastra erotis atau “novel stensilan” di Indonesia. Bagi saya, sampul yang dibuat ala-ala 80-90-an ini cukup jujur, sebab dalam keterangannya, Penerbit Jangkar selaku penerbit Kelabang dengan jujur menuliskan gambar sampul dibuat oleh Gemini (Akal Imitasi). Satu poin untuk kejujuran penerbit ini.

Ketika pembaca melihat sampul belakang novel, tertulis deklarasi “NASKAH YANG TIDAK MEMENANGKAN SAYEMBARA NOVEL DKJ 2023”. Informasi yang menurut saya tidak terlalu penting, tapi barangkali menjadi penting sebagai informasi bahwa naskah awal Kelabang ditujukan untuk bertanding dalam Sayembara Novel DKJ tahun 2023. Lalu kalah. Informasi lain di sampul belakang adalah pernyataan bahwa sudut pandang dalam novel Kelabang tidak akan pernah ditemukan dalam karya yang ditulis oleh sastrawan manapun, kecuali mereka yang telah “nyemplung ke dalamnya”. Jujur, di sini saya semakin penasaran dengan isi novel Kelabang.

Ketika membaca beberapa halaman muka, pembaca disuguhi kutipan dari Shabkar Tsokdruk Rangdrol, seorang penyair Tibet yang menyatakan “Jika kamu suka menakut-nakuti orang lain, kamu akan terlahir kembali sebagai kelabang.” Jelas, ini adalah kutipan bijak agar orang senantiasa berlaku baik dari seorang penyair Tibet yang namanya baru saya dengar. Namun apakah kutipan ini merupakan “clue” dari sebagian besar novel ini? Baiknya pembaca harus membaca novel ini sampai tuntas, sebab dalam pengalaman saya membaca novel ini, cukup menyiksa dalam menyelesaikannya.

Siksaan bagi pembaca novel ini rasa-rasanya dimulai sejak bab pertama. Dengan berlatar penjara di Yogyakarta, para tahanan merasakan berbagai hal yang cukup rumit, aneh, sedih, haru, dan frustasi. Di tengah menjalani masa hukuman, pembaca diperlihatkan semacam realitas penjara yang sungguh mengerikan. Kutipan “homo homini lupus,” bahwasanya “manusia adalah serigala bagi manusia lainnya”,  benar-benar dipertontonkan dalam novel ini. Di penjara, siapa yang kuat, dia yang menang. Begitulah ketika Bima menuliskan kisah John, seorang mahasiswa sekaligus bandar narkoba yang seringkali diperas oleh Dedi, seorang preman yang hampir seluruh tubuhnya dipenuhi bekas jahitan yang mirip dengan kelabang. Pemalakan, kesewenang-wenangan, dan tindakan tak menyenangkan Dedi pada tahanan lain (jelas dalam novel ini Dedi menikmati tindakan itu) menjadi siksaan awal pembaca karena harus menahan kesal, marah, dan dongkol di tiap membaca sikap Dedi.

Keadaan di mana manusia menjadi predator bagi sesamanya terlihat kembali di suatu bab, diceritakan terjadi gesekan antara kelompok Pakde Wahid dan Pakde Bakrie yang berujung pemberontakan tahanan dan pembunuhan anak buah Pakde Wahid oleh anak buah Pakde Bakrie. Awal mula chaos ini ditengarai dendam kesumat Pakde Wahid pada Pakde Bakrie, hingga akhirnya menyulut emosi pada “pengikut” masing-masing jago penjara. Ketika chaos berlangsung, pembaca dipaksa untuk membaca tiap kengerian dan kebrutalan anak buah Pakde Bakrie saat membantai anak buah Pakde Wahid. Rata-rata pembantaian dilakukan menggunakan sendok yang ditajamkan ujungnya –dijadikan pisau. Menurut saya, ini menjadi hal yang paling menyiksa tapi nikmat. Bima berhasil membungkus kengerian dan kebrutalan dengan seru dan mengalir. Satu poin lagi untuk Bima.

Siksaan kedua bagi pembaca novel ini berkaitan dengan Kelabang memuat pandangan patriarkal ekstrem, sebagaimana terlihat dalam kesewenang-wenangan Wicak, seorang bajak laut, pada istrinya sebelum ia dipenjara. Yang membuat saya tersiksa adalah munculnya rasa tidak nyaman ketika bagaimana Wicak memperlakukan istrinya tak lebih dari budak dan hanya menjadi bagian dari pemuas nafsunya saja; begitu juga kelakuan Dedi pada selingkuhannya, Sri; dan begitu juga kelakuan Mahendra pada Ira, istrinya. Pembaca harus melewati siksaan rasa tidak nyaman dalam menyelesaikan novel ini. Tentu, penggambaran adegan per-adegan itu tanpa basa-basi. Fyuhhh… bayangkan bagaimana tersiksanya saya ketika membaca kelakuan ketika para tokoh tadi sedang ngeseks (betul-betul diceritakan saat hubungan seks itu). Namun menjadi poin untuk Bima dalam novelnya ini, adalah bagaimana seks, romantisme, dan dinamika percintaan antartokoh tidak ditulis sebagaimana novel picisan remaja, Bima unggul dalam memainkan kata dan kalimat di tiap menggambarkan sesuatu yang erotik.

Siksaan ketiga yang dialami pembaca adalah pergulatan rasa sedih yang bercampur aduk. Jujur, Bima lagi-lagi unggul dalam mempermainkan perasaan pembaca; pembaca dibawa marah, kesal, jijik, tapi juga kadang dibawa tersentuh dan sedih. Ini dapat dilihat ketika John mendapat kabar bahwa Mawar, pacarnya, lebih memilih lelaki lain daripada menunggu John keluar penjara; Bagaimana Wicak merasa gagal menjadi seorang ayah ketika anaknya hamil oleh seorang anak polisi yang tak mau bertanggung jawab, ditambah ia harus kehilangan istrinya saat ia dipenjara; juga ketika Dedi mendapat kabar bahwa selingkuhannya harus pergi meninggalkannya ke Sulawesi karena ikut program transmigrasi; bagaimana Mahendra mengalami hari penuh kesendirian di penjara sebab istrinya tak mau menunggu; bagaimana Pakde Bakrie merasa malu dan merasa gagal menjadi ayah karena anaknya cacat dan jadi bahan olok-olok kelompok saingan; dan beragam kesedihan, kesendirian, dan depresi yang dialami para tahanan. Poin lagi untuk Kelabang.

Siksaan keempat yang membuat pembaca bingung adalah terkait entitas-entitas asing yang hanya sekelebat ditampilkan dalam novel. Sosok bayangan hitam atau entitas lain barangkali adalah bumbu horor penjara, jujur saya tersiksa dalam pertanyaan di kepala saya sendiri, seperti “apa maksudnya? Ini sebetulnya genre novel apa? Mengapa penuh pertanyaan?”. Pembaca novel ini dibawa dalam teka-teki dan kebingungan. Kelabang-kelabang datang seperti teror bagi para tahanan, meskipun kelabang tak selalu berbentuk “kelabang”.

Bima, sebagai penulis saya pikir telah menyiksa saya dengan novel yang kalau boleh saya bilang “novel eksperimental”. Perasaan pembaca dipermainkan. Dan jujur, sempat saya ingin menjauhkan novel ini dari hadapan saya, bahkan terpikir untuk membuangnya karena kadang tidak nyaman saat membacanya. Tetapi, ketika saya telah menyelesaikan novel ini, saya baru paham atas segala perasaan jijik, bingung, sedih, dan marah selama membaca novel ini. Tapi, saya harap pembaca jangan kecewa jika saya tak beri tahu jawabannya di sini. Ada semacam perjanjian antara saya dan para tokoh dalam novel Kelabang (saya serius, tidak bohong). Tak berlebihan jika pernyataan “inilah akibatnya kalau nihilisme diizinkan masuk ke ranah sastra” yang tertulis di sampul belakang adalah semacam spoiler isi dari novel ini.

Penjara Sebagai Miniatur Dunia

Ragam bentuk realitas kekerasan hingga keculasan para tahanan  dan sipir di penjara mengajak saya untuk memikirkan ulang realitas kehidupan hari ini. Bicara tentang penjara yang menjadi latar Kelabang, Peter Kropotkin dalam esai klasiknya yang berjudul About Prison (1913) yang dapat pembaca cari dengan mudah di The Anarchist Library atau laman theanarchistlibrary.org mengajak saya memikirkan ulang tentang relevansi penjara dan kehidupan dunia, dimana saya memosisikan penjara sebagai miniatur dunia.

Kropotkin menilai bahwa penjara adalah suatu tempat dimana manusia kehilangan nilai diri sebagai manusia. Di penjara, manusia tak lebih daripada sebuah nomor (apa bedanya dengan kita dalam data kependudukan yang tersimpan di lemari arsip berdebu Disdukcapil?). Kehidupan manusia di dalam penjara adalah tentang memaklumi segala bentuk kekerasan, keculasan, namun di satu sisi membangun solidaritas sosial, serta “arena” dalam menumbuhkan pemikiran tentang perlawanan pada otoritas yang didasarkan pada pembentukan kesadaran kolektif.

Pernyataan klasik Kropotkin menurut saya ada benarnya juga ketika membaca Kelabang. Di dalam penjara, semacam ada “kemakluman” pada kekerasan; siapa yang memiliki basis massa, kekuatan, dan ketenaran, akan dengan seenak hati memperlakukan orang lain tak lebih dari kotoran hewan. Keculasan, atau korupsi dalam penjara adalah suatu hal yang wajar, karena pada realitasnya, baik sesama tahanan maupun sipir penjara, seringkali berbuat perilaku culas adalah sesuatu yang “normal”. Dalam novel Kelabang, keculasan adalah sesuatu yang wajar dalam bertahan hidup. Tiada moralitas positif, sebab penjara menggambarkan moralitas positif adalah bentuk kepalsuan dan omong kosong untuk mengatur hidup narapidana yang, sama sekali tak berlaku di sana.

Pendapat saya dalam novel Kelabang, ketika chaos antara kelompok Pakde Wahid dan Pakde Bakrie terjadi, ada semacam pembentukan solidaritas sosial.Meski terkadang solidaritas sosial berwajah “mendukung dua kelompok dominan”, namun di satu sisi ada solidaritas sosial yang tanpa disadari terbentuk, suatu solidaritas dan pandangan kolektif yang “lebih tinggi”, yakni solidaritas dan pandangan kebencian terhadap otoritas penjara yang pada akhirnya berakhir pemberontakan dan penyerangan para sipir. Dalam hal ini, penjara dan sipir sebagai otoritasnya secara tak langsung telah membentuk arena pertarungan ideologis dan pembentukan kekuatan kolektif para narapidana.

Bagi saya, sebagaimana saya mencoba menyelaraskan dengan pembacaan Kelabang dengan karya Kropotkin dalam esai klasiknya, saya pikir penjara tak lebih dari miniatur kehidupan manusia. Manusia terpenjara dalam dunia yang penuh kejahatan, keculasan, korupsi, dan berbagai macam hal menjijikan lainnya. Akan tetapi, di satu sisi di tengah dunia yang menjijikan, manusia lambat laun membentuk pemikirannya menuju arah yang “menerjang tiap-tiap tembok yang membatasi dirinya”. Penjara, saya pikir memang betul merupakan miniatur dunia yang menjijikan, dan saya rasa perlu tiap-tiap manusia menerjang dan menghantam segala yang menjijikan dalam penjara yang bernama dunia. Sebagaimana di ungkapkan Sartre, “L’homme est condamné à être libre.” Bukankah sejatinya manusia dikutuk untuk hidup bebas?

Meski Kelabang cukup banyak mendapat poin plus di mata saya, bukan berarti Kelabang sepenuhnya sempurna. Sebagai pembaca yang sebetulnya jarang membaca karya sastra, Kelabang memang menawarkan suatu ‘keasyikan’ baru dalam sastra, dengan penulisan yang apik dan penceritaan yang cukup berani. Akan tetapi, sedikit catatan kecil, menurut saya alangkah baiknya di awal halaman depan novel diberi peringatan atau trigger warning. Sungguh, saya membayangkan bagaimana tidak nyamannya pembaca yang memiliki trauma ketika membaca novel ini. Selebihnya saya rasa sudah cukup.

Jika ditanya bagian mana yang paling berkesan bagi saya dalam Kelabang ini, dengan mantap saya jawab: bagian ketika Dedi menghisap tembakau sintetis atau lebih dikenal sebagai sinte, sebab entah bagaimana semacam ada kelucuan ketika membayangkan seorang gentho brangasan yakni preman yang temperamental sedang ngefly, bagaimana visual imajinasi Dedi ketika menghisap sinte digambarkan dengan teks yang absurd dan sulit saya jelaskan. Ada baiknya Anda langsung membaca novel Kelabang ini.

Anjuran dari saya, jika pembaca masih berusia di bawah 18 tahun jangan membaca novel ini. Silakan membaca novel lain yang tersedia.

IDENTITAS BUKU
Judul Buku: Kelabang
Penulis: Bima Satria Putra
Tahun Terbit: 2026
Penerbit: Penerbit Jangkar
Jumlah Halaman: 224 hlm
ISBN: Tanpa ISBN
Keterangan Tambahan: Berisi kekerasan dan muatan erotis. Novel Khusus Dewasa!

Penulis: Purwa Sundani
Desain: Dewi Rosaria Indah
Penyunting: Sophia Septiani