MEMBACA LUKA DALAM PELACUR DAN SANG PRESIDEN

“Angka (usia) bisa diubah, Mila, tapi nasibmu tidak,” tegas Bu Darno dalam Teater Pelacur dan Sang Presiden.

Begitulah kalimat yang membuka nasib Jamila. Seorang anak berusia empat belas tahun yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), tapi justru terjerumus ke dalam dunia perdagangan perempuan. Usianya yang masih belia dicatat sebagai delapan belas tahun oleh sang mucikari, Bu Darno. Sebuah manipulasi sederhana yang akhirnya mengubah arah hidup Jamila.

Pada 29 Oktober 2025, Pelacur dan Sang Presiden dipentaskan di G.K. Sunan Ambu ISBI Bandung dalam Ujian Tugas Akhir Minat Pemeranan dan Penataan Artistik Jurusan Teater. Pementasan ini berbicara tentang siapa yang mendorong Jamila untuk berbuat demikian dan siapa yang bersembunyi di balik moralitas untuk menghukumnya. Penonton diajak untuk iba kepada Jamila dengan memperlihatkan struktur kekuasaan dan stigma moralitas membentuk dirinya.

Akhir pementasan Teater Pelacur dan Sang Presiden yang mempertanyakan, “Siapa yang menginginkanku menjadi seorang pelacur, ya?”. G.K. Sunan Ambu, 29 Oktober 2025. (Foto: Amni Isnaeni Rustam/LPM Daunjati)

Pelacuran sebagai Struktur Kekuasaan dan Stigma Moralitas

Sejak kecil, kehidupan Jamila bergerak mengikuti keputusan orang lain. Pada usia dua tahun, Jamila dijual oleh ayahnya sendiri kepada seorang mucikari. Namun, tanpa sepengetahuan suaminya, Ibu Jamila menculik Jamila dari mucikari tersebut dan menitipkannya ke keluarga terhormat. Ibunya berharap Jamila dapat hidup dengan aman dan mendapat pendidikan tinggi. Angan-angan sang Ibu justru mendatangkan trauma kedua bagi Jamila. Setiap malam, suami dan anak dari keluarga terhormat tersebut menggerayangi tubuh Jamila. Ketika Jamila pergi dari keluarga itu, ia bertemu Bu Darno (diperankan oleh Amalia Nurqaidah) yang menjadikan Jamila sebagai seorang pelacur.

Pengalaman Jamila tercermin dalam pemikiran Foucault mengenai ‘the Body’, di mana tubuh manusia tidaklah netral atas keinginan individu secara personal. Akan tetapi, dibentuk dan dilegitimasi kekuasaan. Jamila dihadapkan pada tubuh yang dipaksa untuk mengikuti aturan kekuasaan terhadap dirinya. Sebagaimana disebutkan dalam dialog Jamila, “Pelacuran itu politik, Bu Ria. Aku tidak ada bedanya dengan politikus.”

Dialog tersebut menjadi analogi dari tubuh dalam relasi kuasa. Tubuh Jamila digunakan untuk keuntungan orang lain dan menjadikannya sebagai kaum yang lemah, sedangkan politikus sebagai pengguna tubuh orang lain untuk melegitimasi kekuasaan dan menjadikannya sebagai kaum yang kuat. Akibatnya, tubuh menjadi alat transaksi ketika kemiskinan, ketidakadilan, dan kekuasaan bertemu. Tubuh menjadi medium ketimpangan, di mana kepentingan yang lebih kuat menindas yang lebih lemah.

Tubuh Jamila dalam pementasan menunjukkan bagaimana kekuasaan beroperasi secara terstruktur dan tidak terbatas pada peran satu orang saja. Setiap keputusan yang membentuk kehidupan Jamila berasal dari kontrol sosial terhadap kepatuhan dan terbatasnya pilihan. Tubuh Jamila menjadi medan pertarungan antara mereka yang memiliki kekuasaan dan mereka yang tidak. Tubuhnya juga menjadi simbol dari struktur sosial dan ekonomi yang memproduksi ketidakadilan.

Namun, ketidakadilan itu tidak berhenti pada tubuh yang dieksploitasi kekuasaan. Ia berlanjut menjadi stigma moral yang dilekatkan kepada diri Jamila. Dialog “Pelacur akan selalu menjadi pelacur” menjelma sebagai label bagi Jamila seakan-akan itu adalah identitas dirinya. Padahal sepanjang hidupnya, Jamila tidak pernah benar-benar memiliki ruang untuk memilih. Pada akhirnya, moralitas menjadi alat pengendalian sosial, di mana Jamila pantas disalahkan atas nasibnya sendiri sedangkan masyarakat berada di posisi yang lebih suci.

Bahkan, Jamila menegaskan dalam pementasan bahwasannya tidak ada seorang anak pun yang ditakdirkan menjadi seorang pelacur. Lingkungan yang menjerumuskan Jamila pada nasib tersebut. Jamila juga mempertanyakan pada akhir pementasan, “Siapa yang menginginkanku menjadi seorang pelacur, ya? Siapa, siapa, siapa?!!” Seruan Jamila merupakan tudingan halus pada struktur sosial dan moral yang telah menutup mata atas nasib dirinya.

Jamila dan Sang Presiden di Atas Panggung

Kemuraman Jamila dan kebengisan cerita ini berhasil dikemas dengan baik ke atas panggung oleh Moch. Ariel Pamungkas sebagai orang yang bertanggung jawab dalam artistik. Pencahayaan di setiap adegan terasa mempertebal setiap rasa yang ingin disampaikan. Salah satu adegan yang paling menempel adalah saat para pelacur mengelilingi dan menunjuk Bu Darno sambil berkata secara serentak, “Kami masih akan melacur, Bu, tapi kami akan melacur sesuai keinginan kami.” Suaranya terus menerus terdengar hingga akhirnya menjadi gema. Pencahayaan netral yang awalnya menonjolkan dominansi Bu Darno, berubah menjadi merah pekat yang menunjukkan pemberontakan dan teror.

Dea Lailaturrohmah yang berperan sebagai Jamila dan Amalia Nurqaidah sebagai Bu Darno juga sukses menarik iba sekaligus benci dari penonton. Bu Darno yang berkostum merah dengan sanggul menjulang tinggi berbicara arogan seolah berkata kepada semua orang bahwa ialah satu-satunya penguasa. Tamparan dari kipas dan uang gepoknya juga membuat para pelacur semakin tunduk, tidak berani melawan setiap perkataannya. Namun, pada akhirnya ia tetap kalah dengan kegigihan dan keberanian Jamila.

Mata semua orang tertuju pada Jamila. Ia pelacur yang tidak pernah memilih sebagai pelacur. Kesuciannya direnggut dua lelaki terhormat, kebebasannya dihancurkan Bu Darno dan stigma yang selalu menguntitnya bahwa ia hanyalah seorang pelacur. Padahal, ia tumbuh di keluarga yang memberinya kesempatan untuk berpikir, memilih kehidupan yang ia rasa lebih layak untuk dijalani. Raut muka dan nada bicaranya menangkap semua ketidakberdayaan itu. Kegetiran terlihat jelas pada setiap gerak tubuhnya yang sesekali tampil erotis, lemas, tetapi juga angkuh untuk mempertahankan sisa-sisa perlawanan pada nasib buruknya.

Satu lagi yang membuat penonton menarik gawai dan memotret panggung adalah adegan munculnya sang presiden. Dari pertengahan cerita, Jamila sudah berkata bahwa keinginan terakhirnya sebelum mati adalah bertemu kyai dan sang presiden. Namun, adegan mimpi buruk Jamila dan perkembangan karakter Bu Ria sebagai ketua sipir mengisi sela-sela sebelum sang presiden datang. Akhirnya, pak Kyai datang dengan maksud membantu Jamila memohon pengampunan. Meskipun awalnya ia ingin mengatur jalannya pembicaraan, Jamila tetap mendominasi dengan ceritanya hingga membuat Kyai hanya bisa menggumam kalimat istigfar.

Kedatangan sang presiden yang tidak diperankan oleh aktor, tetapi hanya berupa visual di selembar kain putih transparan. G.K. Sunan Ambu, 29 Oktober 2025. (Foto: Acep Muhamad Sirojudin/LPM Daunjati)

Setelah Kyai keluar, salah satu bawahan Bu Ria mengumumkan bahwa sang presiden telah datang. Sebuah podium segera diletakkan di tengah panggung, kain putih transparan mulai digelar di muka panggung dan membuat para pemeran terlihat samar. Sejurus kemudian wajah sang presiden yang saat ini menjabat muncul memenuhi kain itu, alih-alih seorang aktor yang memerankan karakter presiden. Semua orang terdiam, berdiri tegap seakan-akan mendengarkan presiden yang tidak berkata apa pun. Adegan ini ikut serta dalam menampilkan kekuasaan yang menjadi salah satu tema dalam pementasan ini.

Penulis: Amni Isnaeni Rustam & Acep M. Sirojudin

Dokumentasi: Amni Isnaeni Rustam & Acep M. Sirojudin

Penyunting: Jundi A. Ghifari