Gabungan Mahasiswa Seni Murni (Gamaseni) Institut Seni Budaya Indonesia Bandung menyelenggarakan pameran bertajuk Galura Budaya pada 4–7 November 2025 di Galeri Astaka ISBI Bandung. Pameran ini merupakan rangkaian lanjutan dari Drawing Competition yang menjadi rangkaian utama pada Galura Budaya 2025, dengan mempersembahkan 14 karya terbaik untuk dipajang di Galeri Astaka.

Azka Maulana Rifaldi, selaku tim acara Galura Budaya menjelaskan bahwa pameran ini memiliki urgensi penting yaitu agar bisa membangun kepekaan dan rasa ingin melindungi nilai-nilai atau identitas bangsa yang ada di Indonesia pada masyarakat, terutama pada generasi muda, dengan menggunakan pendekatan yang relevan untuk masa kini seperti pameran dan festival.
“Latar belakang dari keseluruhan, kami itu ingin mengutarakan urgensi kami tentang macam-macam kepentingan untuk Masyarakat terutama pada generasi-generasi muda, untuk bisa membangun kepekaan dan juga pada rasa ingin melindungi nilai-nilai atau identitas bangsa di Indonesia, dan termasuk juga dari kebudayaan-kebudayaan tradisionalnya. Nah, dari situ kami memiliki beberapa pendekatan untuk bisa memenuhi goals tersebut, pertama itu kami menggunakan pendekatan kesenian atau seni rupa melewati pameran, yang dimana pameran ini bentuknya seperti opencall namun juga menjadikannya sebagai kompetisi agar membentuk suatu upaya kolaboratif dari semua mahasiswa, kampus-kampus yang ada di Indonesia untuk bisa memenuhi urgensi kami dari Galura Budaya, dimana budaya perlu di lestarikan dan selalu tetap di jaga, kemudian selain pameran kami juga melakukan pendekatan seperti festival untuk menunjukkan kolaborasi-kolabolasi dari mahasiswa dalam urgensi atau tujuan kami membangun acara ini,” jelas Azka.

Pameran Galura Budaya 2025 ini merupakan pameran yang kedua, dimana sebelumnya Galura Budaya pernah dilaksanakan pada bulan September tahun 2024. Menurut Azka, alasan mengangkat Drawing atau seni gambar menjadi medium utama karena metode drawing adalah karena alasan bahwa metode drawing berkaitan dengan prinsipil seorang seniman.
“Pertama kami sudah merencanakan dan mengikuti format sebelumnya dari Galura Budaya tahun kemarin, karena urgensi yang sama. Pertama drawing itu dipilih karena, drawing itu adalah media yang bukan cuma menjadi metode penciptaan teknis tetapi drawing pun secara definitive itu makna juga bisa menjadi suatu metode, suatu pendekatan prinsip bagaimana kita membuat suatu karya, jadi disini tuh kita memilih drawing sebagai acuan utama opencall pembawaan atau penawaran konsep dari pembuat atau seniman menyampaian secara fleksibel.” ujar Azka.

Melalui penyelenggaraan Galura Budaya 2025, Gamaseni berupaya membangun ruang dialog antara nilai-nilai tradisional dan semangat modernitas generasi muda. Pameran ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya visual, tetapi juga menjadi bentuk refleksi sosial mengenai cara generasi masa kini memahami serta melestarikan warisan budaya bangsanya. Pendekatan modern seperti pameran dipilih sebagai jembatan agar pesan pelestarian budaya dapat tersampaikan secara lebih relevan dan komunikatif di tengah arus digitalisasi dan globalisasi. Demikian, Galura Budaya bukan sekadar peristiwa pameran artistic di galeri, melainkan semacam strategi kultural untuk menumbuhkan kembali kepekaan dan kesadaran generasi muda terhadap identitas bangsa melalui bahasa visual yang dekat dengan lingkungannya.
Pameran ini masih berlangsung hingga 7 November 2025.
Penulis: Rizki Bassica Arvensis
Dokumentasi: Rizki Bassica Arvensis
Penyunting: Marissa Anggita

