OPERASI PARA PENJUDI: PERTARUHAN TEATER AWAL DALAM ADAPTASI KARYA NIKOLAI GOGOL

Kamis, 15 Mei 2025, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Awal UIN Sunan Gunung Djati Bandung sukses mementaskan teater berjudul “Operasi Para Penjudi”, sebuah karya adaptasi dari naskah sastrawan kelahiran Sorochyntsi, Ukraina –Nikolai Gogol– dengan gubahan dari sutradara Ilyas Mate. Pertunjukan yang digelar di Gedung Abdjan Soelaeman ini merupakan bagian dari rangkaian acara Studi Panggung ke-37 yang melibatkan sebanyak 21 aktor.

Pertunjukan “Operasi Para Penjudi” mengangkat intrik dari para konglomerat bergengsi tinggi yang berlayar di atas kapal pesiar milik Madame Jolly (Cantika Sesil) yang berlatar pulau terpencil di Bali. Kisah dimulai ketika penjudi ulung asal Spanyol -Juan Pedro (Albi Tarman), serta pembantunya Juki (Bryan Koke) meminta Khansa Senar (Nyoman Wiwi) untuk bekerja sama dalam skema menipu para konglomerat seperti  Nyonya Meymey (Putri Bemal), Raam Hot Ahot (Zaki Abod), serta Tobing (Yardo Mutu), yang ternyata tidak kalah licik dengan membawa Wan Abab (Naufal Soda) beserta Wan Antum (Ghazi Ipus) yang dipaksa menyamar menjadi konglomerat agar Juan Pedro (Albi Tarman) terpancing bertaruh dengan jumlah di luar kemampuanya.

Ilyas Mate selaku sutradara menjelaskan proses awal dalam memilih naskah teater “Awalnya memilih naskah yang cocok dengan kondisi hari ini, dengan potensi SDM potensi yang ada. Saya menemukan karya aslinya Nikolai Gogol dan yang sudah diadaptasi sama Rachman Sabur. Tapi setelah itu saya konteks lagi, saya adaptasi ulang lagi menyesuaikan dengan gambaran peristiwa hari ini. Adaptasinya yang saya lakukan kemungkinan hampir 85% adaptasi secara konteks sosial hari ini, ataupun penggambaran fenomena hari ini. Jadi, saya adaptasi untuk ada menambahkan tokoh dan peristiwa baru,” ujarnya

Mengenai tujuan serta keberlanjutan dari garapan teater, Ilyas Mate berpendapat bahwa proses adaptasi menjadi salah satu hal penting dalam mengangkat isu yang tengah terjadi hari ini ke hadapan penonton secara implisit, Ilyas menyebutkan bahwa adaptasi menjadikan seni sebagai ruang reflektif, ruang kritik, hingga menjadi ruang informatif bagi publik atas apa yang sedang terjadi dalam hidup ini melalui sesuatu yang terkandung dalam estetik seni.

“Kalau apa yang saya ingin bicara atau apa yang diinginkan, teman-teman sebenarnya tidak jauh halnya penonton –bisa menikmati pertunjukannya. Tapi selain hal itu, ada beberapa keterhubungan konteks hari ini dengan beberapa isu politik ataupun isu pertunjukan yang bisa diangkat. Meskipun halus, tidak terlalu frontal, tapi minimal, pertunjukannya ini setidaknya bisa menjadi medium reflektif dan berpikir sedikit demi sedikit apa yang sudah, yang terkandung, atau yang tersirat di pertunjukan ini. Ya, tidak jauh halnya bagaimana seni tetap bisa menjadi ruang netralisir atau punya ruang medium, bagaimana ruang kritik, ruang aspirasi, bisa terhubung menjadi salah satu informasi publik.” jelas Ilyas Mate.

Pertunjukan Operasi Para PEnjudi yang dibawakan oleh Teater Awal pada Kamis, 15 Mei 2025. Gd. Abdjan Soelaeman UIN SGD Bandung. (Foto: Resa Ramadhan/LPM Daunjati).

Gulir Dadu Titik Nadir Gogol

Pada sinopsis karya aslinya pertunjukan “Operasi Para Penjudi” memiliki judul “Igroki” (Bahasa Rusia : Игроки). Naskah ini sudah dibuat sejak 1832 hingga 1837 ketika ia berada di Roma, Italia namun baru dipublikasikan pada 1842 dalam buku kompilasi “The Works of Nikolai Gogol” jilid ke 4 bersamaan dengan naskah “The Wedding” dan “The Inspector General“.

Igroki kemudian diangkat menjadi pertunjukan teater pada 1843 dengan menggelar pertunjukan di Alexandrinsky Theatre di St. Petersburg, Rusia. Naskah teater ini terinspirasi dari pengalamanya sendiri saat berjudi dengan disposisi menceritakan perjalanan seorang tokoh pemuda bernama Ikharev, seorang penjudi handal yang baru saja memenangkan 80 ribu rubel yang kemudian dihampiri oleh  Uteshitelny, Krugel, dan Shvokhnev yang  mengenalkanya kepada tuan tanah kaya bernama Glov, Ikharev pun tenggelam dalam ketamakan setelah kalah berjudi dari Glov dan dipaksa untuk menandatangani surat hutang dalam jumlah besar.

Walaupun tidak sepopuler garapan teater yang lain, karya ini dapat mempertahankan Nikolai Gogol di puncak popularitas sebagai kiblat para penulis Rusia pada saat itu. Namun hal tersebut berubah ketika Vissarion Belinsky, seorang kritikus literatur yang pada awalnya memuji Nikolai Gogol sebagai “Pemimpin dari Literatur Rusia” berbalik mengkritik habis Gogol setelah menerbitkan buku kumpulan esai “Selected Passages from Correspondence with his Friends” (1847). Belisnky mengungkapkan dalam surat yang ditunjukan langsung kepada Gogol bahwa buku tersebut hanya berisi pembelaan terhadap status quo semata dan secara abai turut mencampurkan dogma Kristen Ortodoks yang ia pegang sebagai pembenaran terhadap kebrobrokan pemerintahan monarki Rusia kala itu yang berada dibawah kepemimpinan Tsar Nicholas I.

Surat tersebut menjadi senjata propaganda kaum revolusionis Rusia, terutama oleh kelompok literatur Mikhail Petrashevsky yang didalamnya juga terdapat penulis Fyodor Dostoevsky yang turut menulis buku novel dengan judul yang sama namun lebih menekankan sudut introspektif dibandingkan dengan karya Nikolai Gogol yang dirancang lebih komedi. Walau tidak sepakat dengan sikap politik dari Gogol, dalam buku “A Writer’s Diary” (1873), Dostoevsky memuji gaya penulisanya dengan mengatakan bahwa Gogol merupakan “Salah seorang yang melihat kehidupan sehari-hari kita yang miskin dan biasa-biasa saja, menjadi lebih puitis” sekaligus menyinggung Gogol dengan mengatakan “Gogol, sang jenius yang mencintai Rusia, akhirnya takut pada kebenarannya sendiri dan membakar karyanya—seolah kebenaran itu api yang membakar dirinya”. Leo Tolstoy pada awalnya juga turut memuji Nikolai Gogol terutama dalam karya “Dead Souls” serta “The Overcoat”. Dalam surat Tolstoy kepada Nikolai Strakthov pada tahun 1876 ia mengungkapkan bahwa “Gogol pada awalnya menertawakan kebusukan di Rusia dan mengakhiri dengan membungkuk padanya”. Tolstoy juga meyinggung Gogol secara eksplisit pada buku  What is Art? (1897), bahwa: “Tulisan-tulisan Gogol di kemudian hari dipenuhi dengan religiusitas palsu yang mengaburkan kebenaran dan bukan untuk mengungkapkannya.”

Pada masa akhir hidupnya, Nikolai Gogol mengalami tekanan spiritual dan psikologis yang mendalam. Ia berkembang menjadi pribadi yang asketik, terutama setelah terpengaruh secara intens oleh ajaran-ajaran Pendeta Matvey Konstantinovsky. Dalam kondisi krisis religiusitas ini, Gogol memiliki kebiasaan membakar naskah-naskah yang ia anggap “tidak suci” atau “tidak bermakna” termasuk naskah dari sekuel “Dead Souls” dengan hanya menyisakan lima bab yang terselamatkan. Dalam surat pribadi tahun 1847 kepada teman dekatnya yaitu Sergei Aksakov, Gogol menuangkan pergolakan batinnya dengan menulis “Apa gunanya mengekspos keburukan jika aku tidak menunjukkan jalan kepada terang?”. Makam dari Nikolas Gogol pun sempat beberapa kali dipindahkan dalam upaya politik untuk menghapus pengaruh monarkisme dalam tubuh pemerintahan komunis Rusia (1922-1991).

Konklusi

Secara keseluruhan, garapan dari Ilyas Mate dapat mempertahankan garis paralel yang jelas terhadap naskah asli. Walau pada perkembanganya, terdapat penambahan beberapa tokoh baru yang sayangnya hadir secara sekilas tanpa memberikan pengaruh berarti terhadap keberlanjutan cerita atau perkembangan plot utama. Dari segi visualisasi panggung, penyajiannya tidak terbatas hanya terfokus pada area tengah semata, namun secara efektif memanfaatkan seluruh ruang pertunjukan termasuk sisi kiri dan kanan panggung, sehingga menciptakan komposisi koreografi yang dinamis.

Dalam segi penampilan, seluruh aktor yang terlibat dalam produksi ini berhasil menyampaikan narasi cerita dengan baik, dengan menghadirkan pertunjukan yang menghibur penonton dalam mengikuti alur cerita hingga akhir. Konsep musikal yang diusung juga patut diapresiasi, dengan penempatan band secara langsung berada di belakang panggung yang memberikan nuansa autentik dalam menghidupkan suasana panggung.

Awak Teater Awal dalam pertunjukan Operasi Para Penjudi. Kamis, 15 Mei 2025. Gd. Abdjan Soelaeman UIN SGD Bandung. (Foto: M. Haikal Athar A/LPM Daunjati).

Walau Nikolai Gogol secara kontradiktif bertransformasi menjadi pribadi yang korup seperti para tokoh yang ia gambarkan dalam karya-karyanya, namun tidak dapat dipungkiri gaya absurdisme yang ia bawa mengispirasi banyak sastrawan Rusia pada saat itu untuk menggabarkan satirisme dengan lebih menusuk, tidak hanya berkutat pada imajinasi individu belaka, melainkan menjadi kritik dari keadaan sosial.

Refleksi dari merosotnya moral Nikolai Gogol -dan moral manusia pada umumnya- menjadi bahan perenungan seperti yang terpancar pada naskah asli “Operasi Para Penjudi” yang Berjudul “Igorki”, dalam dialog terakhir tokoh Ikharev yang menyatakan bahwa “Dunia ini penuh dengan bajingan!“.


Penulis: M. Haikal Athar A.
Dokumentasi: M. Haikal Athar A. & Resa Ramadhan
Penyunting: Hana Diah