PAMERAN SISI RUANG: MEDIUM EKSPRESI, IMAJINASI, HINGGA INGATAN DIRI

Di tengah gerimis sore di Dago Utara, di antara hangat lampu jingga di Gelanggang Olah Rasa, dari tiap kanvas, hasil jepretan lensa kamera, hingga instalasi karya yang dipamerkan, semuanya menautkan beragam memori dan imajinasi.

Pameran bertajuk Sisi Ruang yang diinisiasi oleh mahasiswa jurusan Seni Rupa Telkom University, yang digelar selama tiga hari (23—25 Mei 2025), bagi kami bukan sekadar agenda pameran bagi para seniman, melainkan juga sebagai bentuk ekspresi dan eksplorasi pribadi mereka tentang apa itu “ruang” lewat suatu karya.

Bagi Aika, selaku ketua pelaksana, pemilihan tema ruang dalam pameran ini bukanlah tanpa alasan. Menurutnya, “ruang” bukan hanya sekadar bangunan fisik atau ruangan secara harfiah, tetapi mencakup spektrum yang jauh lebih luas dan personal.

“Kalau dari pameran Sisi Ruang ini sendiri, kan kita ambil tema ruang, ya, bertema ruang itu maksud kita adalah kita ngebiarin seniman buat nge-eksplor tentang ruang, kita ambil ruang itu bukan hanya sekadar tempat, ruangan. Tapi ruang itu bisa diartikan sebagai memori yang indah atau yang buruk,” ungkap Aika.

Dengan mengusung pendekatan tema yang terbuka dan tidak mengikat bagi para seniman, Aika menjelaskan bahwa “tema ruang” dalam pameran ini dimaksudkan agar dalam pameran ini, tidak ada batasan pada karya seniman yang terpatok “harus” berbentuk atau bergaya visual tertentu. Ia melanjutkan bahwa,

“Kita ambil tema ruang bukan spesifik seperti ruangan, tapi bisa tentang kenangan-kenangan juga. Maka bisa dilihat karya yang di sini itu berbeda-beda, ada yang objeknya manusia, ada yang abstrak, jadi kita di sini ngekurasi karya lebih ke arti. Kita lebih ambil karya yang meaningful, ambil karya yang ada arti yang dalam,” Lanjut Aika

Dalam pameran ini, secara total terdapat 20-an karya yang dipamerkan dalam berbagai bentuk medium, meliputi lukisan, fotografi, hingga ekskalasi.Yang menjadi menarik, walaupun pameran ini diinisiasi oleh mahasiswa jurusan Seni Rupa Telkom University, sebagian karya-karya yang dipamerkan ini datang pula dari luar lingkungan mahasiswa Seni Rupa Telkom. “Kita kemarin open call pameran ini untuk umum. Beberapa karya di sini ada yang dari (mahasiswa) Seni Rupa Telkom, tapi kebanyakan (karya yang dipamerkan) ada dari luar juga,” ungkap Aika.

Aika menceritakan bahwa dalam proses open call, submisi karya tidak hanya terbuka bagi orang-orang yang bergelut di bidang seni saja, melainkan juga terbuka bagi semua orang.

“Buat submisi kemarin kita bener-bener (terbuka untuk) umum. Jadi kita ga hanya ngambil karya dari orang-orang yang bergelut di bidang seni, tapi memperbolehkan semua orang buat submit karyanya,” jelas Aika.

Untuk menyaring karya-karya hasil open call sebelum ditampilkan di pameran, Aika menjelaskan bahwa terdapat dua tahap kurasi. “Kita ngelewatin dua tahap kurasi, soalnya kita memang mau nyiapin karya yang bener-bener pas dengan tema pameran kita,” katanya.

Aika berharap bahwa pameran, bisa menjadi ruang inklusif dengan tujuan memperluas cakrawala partisipasi seni yang jauh dari eksklusivitas.

“Harapannya semoga bisa ngembangin nama-nama seniman kecil, terus buat ngasih tahu ke orang juga kalau jangan takut buat berkarya. Kita bisa bikin karya lewat media apa pun dan bahkan tentang apa pun itu bisa kita bikin karya, jadi bukan hanya seniman-seniman yang sudah punya nama besar yang bisa bikin pameran. Semua orang bisa buat pameran,” harap Aika.

Uniknya lagi, dalam sesi artist talk, pameran ini tidak menghadirkan sesi artist talk formal seperti seminar, Aika justru merancang pendekatan yang lebih cair dan personal.

“Aku bikin talkshow kita kayak gini (informal, bertanya langsung pada seniman) karena aku mau ngebikin audiens di sini untuk penasaran, datang, dan bertanya, ‘oh ini lagi ngebahas karyanya, ayo kita nonton’. Jadi , bukan kita yang nyuruh orang-orang di sini yang lagi ngeliat karya buat ngumpul lalu dengerin (seniman) berbicara formal. Kita mau (setiap audiens) tanya senimannya secara santai saja, biar gak ada kayak pressure juga ke senimannya, begitu.”

Suasana Pameran Sisi Ruang. Bandung, 24 Mei 2025. (Foto: Marissa Anggita/LPM Daunjati)

Dari apa yang disampaikan kurator, Devan Bevan, selaku kurator pameran Sisi Ruang ini, ia menjelaskan bahwa dari lebih dari 100 karya yang masuk dalam open call, mereka menyeleksi hingga tersisa 23 karya yang akhirnya dipamerkan.

“Kita kemarin kan open call, prosesnya kita ada seleksi ke tahap pertama, terus seleksi ke tahap kedua. Jadi kemarin ada 100 karya yang di-apply, terus kita seleksi 40, lalu kita seleksi lagi jadi 23 karya untuk disajikan di pameran ini,” jelasnya.

Meski waktu kurasi berlangsung cukup singkat karena hanya dilakukan dua hari, Bevan menyebutkan bahwa proses kuratorial setiap karya cukup berjalan efektif. “Kita kuratorial cuma 2 harian, tapi karena kuratornya 3, jadi memang lebih cepet buat nyatuin keputusannya,” tutur Bevan.

Bevan menjelaskan bahwa penekanan utama dalam proses kuratorial adalah tentang pemaknaan dan bagaimana karya tersebut menyentuh tema besar: ruang sebagai pengalaman manusia.

“Kita kurasi pasti dari temanya sesuai apa enggak, deskripsi karya, terus pasti visualnya kita lihat juga menarik atau tidaknya. Paling kita menekankan (setiap karya) di meaning, meaning-nya harus kuat, karena Sisi Ruang ini bahas banyak hal, banyak memori tentang sifat manusia di dalam ruang.”

Seutas Makna di Balik Karya

Di antara deretan karya yang dipamerkan di Gelanggang Olah Rasa, terdapat beberapa karya yang cukup unik dan menonjol, tentunya dalam subjektif kami. Pada kesempatan ini, kami berkesempatan untuk berbincang dengan para seniman pembuat karya The Phase, Diri, String of Memory, dan Out of service. Karya-karya tersebut tidak hanya menjadi wujud visual dari tema “ruang”, tetapi juga menyimpan perpanjangan dari ekspresi, imajinasi, pengalaman hidup, dan perenungan batin sang seniman.

Karya pertama adalah karya yang berjudul The Phase yang dibuat oleh Bevan, yang mengisahkan fase-fase dalam hubungan cinta. Dari sebelum mengenal cinta, luka karena cinta, hingga fase penyembuhan dari luka.

“Ini ceritanya 3 orang ini menggambarkan pengalaman cinta. Jadi saat kita mencari cinta, kita tahu risikonya pasti ada sakit hati, makanya di sini digambarin redup orangnya karena kalau lagi sakit hati bawaannya lemes, gak beraura. Tapi kita harus ke fase ketiga ini, bangkit. Hansaplast ini itu jadi pertanda kalau kita itu jadi orang yang lebih dewasa dari luka yang kita alami. Jadi bersinar lagi,” jelas Bevan.

Proses pengerjaannya memakan waktu sekitar enam hari, termasuk satu hari untuk brainstorming dan lima hari untuk eksekusi,

“pembuatannya sekitar 5 harian, untuk brainstroming temanya 1 hari. Jadi 6 hari.” Tukas Bevan.

Karya The Phase dalam Pameran Sisi Ruang. Bandung, 24 Mei 2025. (Foto: Marissa Anggita/LPM Daunjati)

Sementara itu, karya kedua yang berujudul Diri, sebuah lukisan figuratif karya Aika, menawarkan pendekatan introspektif. Ia menyuguhkan perempuan sebagai representasi dari simbol ruang batin dan tempat kembali.

“Lukisan Diri ini ngegambarin perjalanan introspektif manusia dalam menemukan kekuatan dan ketenangan dalam dirinya,” jelasnya.

“Diri itu aku gambarkan sebagai tempat berlindung, tempat mengobati luka, dan tempat bersandar dari segala kepenatan dunia melalui simbolisme warna atau ekspresi visualnya itu. Lukisan ini ngajak penonton bahwa penyembuhan dan ketenangan seringkali berasal dari penerimaan dan cinta terhadap diri sendiri.”

Dengan kombinasi warna abu-abu yang melambangkan kebingungan dan biru sebagai representasi kesedihan emosional, bagi kami, karya ini cukup menciptakan atmosfer yang menyentuh. “Warna abu-abu aku gambarin dari seseorang yang kebingungan kayak mencari jati dirinya dan mencari arah pulang. Warna biru aku ambil dari rasa emosionalnya yang sedih,” ungkap Aika

Karya berjudul Diri ini Aika kerjakan dalam rentang waktu tiga hari. Lewat karya ini, Aika ingin menyampaikan pada khalayak banyak bahwa rumah pulang dari segala sesuatu adalah diri sendiri. “Aku mau orang-orang lebih membuka mata kalau rumah pulang itu ke diri sendiri.” jelas Aika.

Karya Diri dalam Pameran Sisi Ruang. Bandung, 24 Mei 2025. (Foto: Marissa Anggita/LPM Daunjati)

Berbeda dari dua karya sebelumnya yang menggunakan lukisan sebagai medium utama, karya berjudul String of Memory yang dibuat oleh Shofil adalah instalasi fotografi yang sangat personal. Ia menggunakan kamera analog, roll film, dan tali benang (benang pancing) untuk menyusun narasi visual tentang waktu dan kenangan yang sangat personal. “Latar belakangnya secara garis besar itu memori sebenarnya,” ujar Shofil.

Ia menceritakan bahwa gagasan dari karyanya ini sedikit banyaknya dipengaruhi oleh kebiasaan lamanya yang suka mendokumentasikan momen bersama teman-teman sekolah, hingga akhirnya menyadari nilai emosional dari foto-foto lama yang kadang membuatnya ingin kembali ke masa itu.

“Karena dari SMP sampai SMA. Kebiasaan saya itu suka bawa kamera, pada akhirnya setiap akhir periode sekolah saya suka ngirimin foto-foto dari awal kita sekolah sampai akhirnya itu banyak teman-teman minta foto-foto lama. Tapi di sisi lain juga ketika saya sudah kuliah kadang-kadang kalau liat foto lama itu kayak ‘wah, memorinya banyak ya, pengen rasanya balik ke waktu itu lagi. Jadi, untuk karya ini secara garis besarnya itu dari memori.” Jelasnya.

Mengenai makna visual instalasi ini, Shofil menjelaskan bahwa, “Kenapa di atasnya ada kamera analog, terus piranti-pirantinya kayak roll film dan lain-lain, kemudian di bawahnya ada foto? Saya ingin berbicara pada audiens kalau dari segi fotografi atau analog ini maksudnya adalah butuh proses… Dari setiap jeratan-jeratan ikatan memori yang ada di dalam (instalasi) ini, memori lama juga gak terlupakan,” ungkapnya.

Shofil mengaku bahwa pengerjaan karya ini berlangsung cepat, yakni sekitar dua hari karena konsepnya sudah matang jauh-jauh hari, “saya waktu pengerjaannya gak lama, kalau dikumpul-kumpul itu kurang lebih 2 harian. Kenapa bisa cepat pengerjaannya? Karena konsepnya sudah lama matang dari jauh-jauh hari, kemudian untuk eksekusinya gak memerlukan waktu yang lama. Karena ketersediaan bahan (dalam membuat karyanya) juga sederhana,” ujarnya.

Karya String of Memory dalam Pameran Sisi Ruang. Bandung, 24 Mei 2025. (Foto: Purwa Sundani/LPM Daunjati)

Dari beberapa foto yang dijepret menggunakan kamera analog itu, ada beberapa foto yang membuat dirinya merasa throwback ke masa lalu, “Ada beberapa foto yang saya throwback ke masa lalu. Khusus untuk foto-foto yang throwback ke masa lalu, khusus saya pamerkan foto-foto ketika saya masih di Kalimantan, ketika saya di tempat asal. Kayak perjalanan sebuah memori dari titik awal sampai titik sekarang banyak perjalanan yang kita lalui, kebetulan diabadikan lewat kamera analog. Dari setiap jeratan-jeratan ikatan memori yang ada di dalam (instalasi) ini, memori lama juga gak terlupakan

Pada kami, seniman asal Kalimantan itu memerlihatkan kalau foto yang tergantung dalam benang begitu mudah untuk lepas. Pada kami, ia mengatakan bahwa, “Kalau kita perhatikan, (foto) ini sifatnya gampang lepas. Saya ingin berkomunikasi juga pada orang-orang bahwa sebuah memori itu bisa lepas dari pemikiran kita, kita juga bisa lupa, karena sifatnya manusia gampang lupa,” tutupnya.

Detail foto yang cukup personal dalam karya String of Memory dalam Pameran Sisi Ruang. Bandung, 24 Mei 2025. (Foto: Purwa Sundani/LPM Daunjati)

Lalu, ada pula karya yang mempunyai konsep unik, karya fotografi yang bingkainya dilapisi plastik setengah dibuka, menimbulkan kesan barang yang lama disimpan. Karya tersebut diberi nama Out of service yang dibuat oleh Bita. Bita mengatakan karya ini menggambarkan kondisi rumah dalam gaya hidup modern yang serba minimalis sehingga banyak sekali bagian dalam rumah khususnya ruang tamu dihilangkan.

“Jadi sebenernya karya out of service ini berangkat dari zaman sekarang sih, gaya hidup moderen yang serba minimalis yang biasanya di gaya hidup dalam rumahnya, bagian ruang tamu dihilangkan, jadi kayak udah ga berfungsi lagi ruang tamunya. Terus kalau dari visual karya ini aku bikin dengan gaya frame minimalis biar kontras, terus dengan adanya plastik sebagai penutupnya itu lebih ke kayak karya ini udah ditutupin dan ga ke pakai” Ujar Bita

Beranjak dari pengalamannya sebagai mahasiswa teater, Bita juga cukup sering berhadapan dengan konsep ruang dan waktu, sehingga dalam mengkonsep karya tersebut ia banyak terinspirasi dari naskah-naskah teater yang ia baca. Dalam pengerjaan karyanya, Bita menggali konsep yang cukup dalam tentang gaya ruang tamu yang mulai dihilangkan dan membutuhkan waktu selama dua minggu dengan konsep yang ia rancang sedemikian rupa.

Menurut Bita, ruang tamu adalah suatu ruang yang penting dalam kehidupan sosial, dapat pula dikatakan ruang sosial, karena ada suatu pertemuan di sana. Selain itu, Bita juga mengkonsep ada dua warna lampu yang berbeda yaitu biru dan oranye, warna biru menggambarkan suatu hal yang dilupakan, dalam konteks ini adalah ruang tamu, dan warna oranye menggambarkan memori yang ada di ruang tamu.

“Ruang tamu tuh kayak ruang penting kehidupan sosial, karena pertemuannya. Dan lampu sebenernya udah aku rancang warna biru dan oranye, warna biru ini kayak yang udah dilupakan, ruang tamu yang dilupakan. Tapi yang oranye ini masih ada memori nih yang ada diruang tamu ini, tapi kebanyakan udah dilupakan gitu” Ujar Bita.

Dari karya fotografi yang dihadirkan oleh Bita, dapat dilihat suatu penggambaran dibuka kembalinya ruang tamu, dapat dilihat dari bungkus yang setengah dibuka, memuat pesan bahwa ruang tamu adalah ruang sosial yang penting untuk dibuka kembali.

Bita ingin karyanya dilihat sebagai bentuk penyadaran untuk lebih peka dengan ruang sekitar, tentang kehidupan, tentang apa saja yang berubah, dan nostalgia perubahan dari zaman dulu ke zaman sekarang.

Karya yang dibuat oleh Bita dalam Pameran Sisi Ruang. Bandung, 24 Mei 2025. (Foto: Marissa Anggita/LPM Daunjati)

Karya terakhir yang cukup menarik adalah karya yang dibuat oleh Ray. Ia membuat karya yang terdiri dari ranting pohon mati yang disirami air. Gagasannya cukup personal, ialah bagaimana cinta yang tak terbalaskan terus menerus dialiri oleh kasih sayang, sebagaimana representasi air yang terus mengaliri ranting pohon mati tersebut.

Dari karya-karya yang ada di tampilkan, terlihat bahwa setiap seniman memiliki representasi yang berbeda untuk karya yang dibuatnya. Menunjukkan bahwa ruang bagi mereka tidak hanya sebatas ruangan, namun juga pojok memori dan imajinatif seniman yang diekspresikan dalam sebuah karya. Dalam pameran sisi ruang ini kami mendapat banyak pengalaman yang menarik, kedalaman setiap makna dari setiap karya dipadukan dengan suasana intim membuat kami seolah ditarik larut dalam setiap memori yang ditampilkan.


Penulis: Purwa Sundani
Dokumentasi: Purwa Sundani & Marissa Anggita
Penyunting: Marissa Anggita