PELUNCURAN KEGIATAN “BANDUNG BERTANYA” OLEH KMT: DISKUSI ANTAR GENERASI TENTANG TEATER

Ruangan Studio Teater dijadikan sebagai ruangan untuk “Bandung Bertanya”. Studio Teater, Bandung, Rabu, 4 Maret 2026. (Foto: Maida Kyla Agnianti/LPM Daunjati)

Suasana hangat menyelimuti acara “Bandung Bertanya” yang digelar pada sore hari. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi lintas generasi teater yang mempertemukan generasi lama dan generasi baru dalam perbincangan perjalanan dunia teater.

Acara dimulai dengan sambutan pertama oleh ketua KMT yaitu Laurensius Charli. Sambutan dilanjutkan oleh koordinator pengurus Studio, Irwan Jamal, selanjutnya oleh sekretaris jurusan teater, Tony Broer, dan sambutan terakhir oleh ketua ikatan alumni, Irwan Guntari. Dalam sambutan tersebut mereka sedikit menyinggung sejarah teater untuk menumbuhkan rasa penasaran kepada generasi baru. 

Para perwakilan generasi teater lama. Studio Teater, Bandung, rabu, 4 Maret 2026. (Foto: Maida Kyla Agnianti/LPM Daunjati)

Setelah sambutan selesai, acara diresmikan dengan prosesi pemotongan tali yang diwakilkan oleh Tony Broer. Peresmian tersebut menandai dimulainya rangkaian utama acara “Bandung Bertanya”, yaitu sesi diskusi yang mempersilahkan generasi muda untuk mengajukan pertanyaan kepada generasi lama.

Dalam sesi tersebut, salah satu peserta dari generasi muda bertanya mengapa saat ini tidak terlihat adanya stimulus atau gairah untuk merekam jejak peristiwa teater pada masa kini. Ia juga menyinggung kemungkinan bahwa kondisi sosiokultural terbentuk melalui kebiasaan yang terus-menerus diciptakan, sehingga memunculkan jarak antargenerasi yang kemudian menghadirkan kompleks superioritas di antara generasi dalam dunia teater.

Pertanyaan lain yang muncul menyinggung kemungkinan adanya “dosa-dosa senior” yang secara tidak langsung diwariskan kepada generasi muda. Hal ini dikaitkan dengan krisis partisipan dalam kegiatan teater serta kurangnya pembentukan minat sejak awal, sehingga memunculkan pertanyaan dan refleksi terhadap sejarah perkembangan teater sebelumnya.

Berdasarkan hasil wawancara, acara “Bandung Bertanya” dihadirkan sebagai ruang untuk saling mengenal dan memahami antara generasi lama dan generasi baru dalam dunia teater. Kegiatan ini juga bertujuan untuk menjaga serta mempertahankan sejarah teater agar tidak hilang seiring berjalannya waktu.

Dalam diskusi tersebut, generasi lama sempat mengungkapkan kekhawatiran bahwa generasi baru belum mampu menunjukkan identitas diri dalam dunia teater sepenuhnya. Namun, kekhawatiran tersebut lebih dilandasi oleh rasa takut bahwa generasi muda akan menjadi semakin individualis. Di sisi lain, generasi muda juga mempertanyakan anggapan bahwa mereka hanya mampu melakukan hal-hal yang minimalis.

Melalui forum ini, generasi lama berupaya membagikan pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki dari masa mereka berkarya di dunia teater. Oleh karena itu, “Bandung Bertanya” hadir sebagai wadah dialog agar kedua generasi dapat saling bertukar pandangan dan memahami satu sama lain.

Gagasan menghadirkan “Bandung Bertanya” berangkat dari kegelisahan terhadap kondisi kesenian di Kota Bandung, khususnya terkait hubungan antara generasi lama dan generasi baru. Menurut salah satu penggagas acara tersebut, saat ini terdapat ketidaksinambungan antargenerasi dalam dunia seni di Bandung.

Dengan adanya forum seperti “Bandung Bertanya”, diharapkan generasi lama dan generasi baru dunia teater dapat saling mengenal dan memahami perjalanan sejarah kesenian di Kota Bandung. Dialog lintas generasi ini juga menjadi langkah untuk menjaga kesinambungan perkembangan teater agar tidak terputus oleh perubahan zaman. Melalui dialog tersebut, diharapkan sejarah dan perkembangan teater di Kota Bandung dapat terus dikenali dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Penulis: Maida Kyla Agnianti dan Bevira Salma Purnama
Dokumentasi: Maida Kyla Agnianti
Penyunting: Roshifa Lailani