PEMENTASAN NYAI ONTOSOROH JADI PENUTUP UJIAN TUGAS AKHIR GELOMBANG DUA JURUSAN TEATER ISBI BANDUNG 2025

Selasa, 25 November 2025. Bertempat di Gedung kesenian Sunan Ambu, ISBI Bandung telah dipentaskan sebuah teater yang mengambil latar pada zaman Hindia Belanda dengan judul “Nyai Ontosoroh”. Teater ini menjadi penutup manis menandakan berakhirnya tugas akhir gelombang 2 mahasiswa jurusan teater ISBI Bandung 2025.

Adapun peserta ujian akhir yang terlibat dalam teater ini yakni Reni Talia dengan minat artistik, Jubilee Seira A. dengan minat Pemeranan yang memerankan karakter Nyai Ontosoroh, dan Clarita Angelia B. dengan minat Pemeranan yang memerankan karakter Annelies.

Teater teater berjudul “Nyai Ontosoroh” merupakan adaptasi dari karya sastra Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia yang ditulis ulang oleh Faiza Mardzoeki. Reni Talia sebagai penata artistik dalam pementasan teater ini menghidupkan kembali latar era Hindia Belanda sekitar tahun 1898. Hal ini dapat dirasakan ketika melihat langsung set panggung yang membawa penonton kembali ke masa itu. Seperti ornamen foto yang masih hitam-putih, mesin ketik, dan juga buku-buku lama yang menjadikan suasana seperti ditarik untuk melihat kembali pada zaman kolonial.

Pertunjukan Nyai Ontosoroh mengisahkan tentang seorang gadis Jawa bernama Sanikem, yang karena nasibnya dijual kepada seorang Belanda bernama Mallema, kini Sanikem lebih akrab dikenal sebagai Nyai Ontosoroh. Nyai Ontosoroh menjadi simbol keberanian, kehormatan, dan tanda bahwa bangsa ini mulai sadar akan martabatnya sendiri. Nyai Ontosoroh merupakan pribumi totok, yang akhirnya bisa menguasai dan memajukan berbagai usaha peternakan milik tuan Mellema. Dari pernikahannya dengan Mellema, Nyai Ontosoroh dikaruniai dua orang anak bernama Roby Mellema dan juga Annelies Mellema.

Kehadiran Nyai Ontosoroh menjadi titik awal konflik yang lebih dalam. Ia muncul dengan balutan kebaya merah khas Jawa yang sangat anggun dan memperkenalkan dirinya dengan penuh wibawa. Melalui setiap dialognya, penonton diajak memahami kerasnya hidup menjadi seorang perempuan yang dijual oleh ayahnya kepada seorang kolonial Eropa bernama Herman Mellema. Penderitaannya digambarkan lewat dialog yang kuat, terutama saat ia berbicara mengenai bagaimana Tuan Mellema hanya memedulikan kepentingannya sendiri dan bagaimana masyarakat kolonial memandang hubungan mereka sebagai “kristen Eropa” dan “kafir pribumi.”

Nyai Ontosoroh (Jubilee Seira) dalam pementasan Nyai Ontosoroh. GK Sunan Ambu ISBI Bandung. Selasa, 25 November 2025. (Foto: Bevira Salma/LPM Daunjati)

Pernikahan Nyai Ontosoroh dan Tuan Mallema tidak bahagia sepenuhnya. Sebab, Nyai Ontosoroh hanyalah “Gundik” yang tidak tercatat oleh administrasi dan hukum yang berlaku di Hindia Belanda. Di akhir cerita, Nyai Ontosoroh kehilangan semua yang ia miliki. Anak-anaknya, yang merupakan Indo-Eropa sesuai hukum yang berlaku, diharuskan dikirim ke negara asalnya, Belanda. Semua harta yang Nyai Ontosoroh kelola hangus di mata hukum saat itu, karena ia tidak punya dokumen resmi sebagai istri tuan Mellema. Hartanya jatuh ke tangan anak Tuan Mallema (dengan istri pertamanya di Belanda), dan Nyai Ontosoroh tidak mendapatkan apapun dari harta yang telah ia kelola. Nyai Ontosoroh menjadi bukti bahwa bangsa kita saat itu sangat lemah dan tidak bernilai di mata penjajah.

Karakter Nyai Ontosoroh yang dibawakan Jubilee di atas panggung sangat ekspresif dan menyayat hati, tiap-tiap adegan memiliki emosi yang tersampaikan dengan baik kepada penonton. Syifa, salah satu penonton mengutarakan bahwa ia merasa sedih ketika menonton pertunjukan ini.

“Saya kebawa suasana, sampai menangis” Ujar Syifa, salah satu penonton.

Hal yang serupa juga disampaikan oleh Davina. Menurutnya, artistik dalam pementasan ini cukup membawa atmosfer kembali ke masa di mana Kolonial Belanda masih berkuasa di Bumi Indonesia. “Teaternya keren, kaya berasa diajak kembali ke zaman Hindia Belanda.” ucapnya.

Annelies (Clarita -kiri) dan Nyai Ontosoroh (Jubilee -kiri) dalam salah satu adegan di pementasan Nyai Ontosoroh. GK Sunan Ambu ISBI Bandung. Selasa, 25 November 2025. (Foto: Marcellino Evan Cheung/LPM Daunjati)

Dari sudut pandang tim dalam pertunjukan pementasan ini, Maya, selaku tim kostum juga menilai bahwa sosok Nyai Ontosoroh memiliki ketangguhan yang bahkan terasa lebih berat dibandingkan Kartini. Ia menjelaskan bahwa jika Kartini telah dibekali pendidikan sejak kecil, Nyai Ontosoroh justru harus berjuang dari bawah, bertahan demi tetap hidup, bangkit dari keterpurukan, lalu akhirnya jatuh lagi ketika hukum kolonial menindasnya.

Ada satu adegan menarik, dimana Tuan Mellema meninggal dunia lalu dilakukan sidang untuk mengungkap kematian sekaligus menjadi ajang penentuan pewarisan semua harta kekayaan milik Mallema. Tampak sekali dalam pengadilan itu pribumi sama sekali tidak dianggap dan sangat dikesampingkan. Nyai Ontosoroh tidak mendapatkan hak untuk mengurus usaha, bahkan uang sepeserpun tidak mendapat bagian. Nyai juga harus merelakan anaknya, yakni Annelies untuk pindah ke Belanda. Yang tersisa dari hasil jerih payah Nyai hanya penyesalan dan berujung sia-sia. Adegan ini dikemas dengan apik serta menjadi salah satu adegan penutup yang memiliki nilai simbolik tentang pribumi dan juga orang Belanda pada masa itu.

Clarita dalam memerankan Annelies di pementasan ini pun cukup baik, hal ini terlihat bagaimana Clarita dapat membawa karakter Annelies sebagai penggambaran orang yang setia dan selalu sadrah kepada nasib.

Pementasan “Nyai Ontosoroh” berhasil menjadi penutup yang berkesan bagi tugas akhir mahasiswa gelombang dua jurusan teater ISBI Bandung. Dengan kekuatan naskah, desain artistik, dan penampilan pemeran yang matang, karya ini meninggalkan kesan mendalam dan layak dikenang sebagai salah satu pementasan yang sarat nilai dan refleksi. Dalam memetik sari pertunjukan, penonton dapat mendapat pelajaran bahwa dengan kegigihan, kecerdasan, dan kemandirian, meskipun awalnya tidak berdaya, karena izin dari tuan Mellema Sanikem gigih belajar dan menjadi sosok yang cerdas, mandiri, serta memiliki perusahaan pertanian (meski akhirnya ia kehilangan perusahaan itu), yang menjadikannya simbol perlawanan perempuan pribumi terhadap ketidakadilan kolonial.

Penulis: Widya Azahra, Bevira Salma, Maida Kyla

Dokumentasi: Marcellino Evan Cheung, Bevira Salma

Penyunting: Purwa Sundani