PEREMPUAN, PULAU, DAN PERLAWANAN SUNYI: MEMBACA ULANG WOMEN FROM ROTE ISLAND (2023)

Di tengah lautan biru Nusa Tenggara Timur, ada sebuah film yang sederhana namun tajam, seperti pisau bambu yang diasah di dapur. Film itu berjudul Women from Rote Island (2023). Film ini tidak hanya tentang cerita perempuan dan pulau, tapi juga tentang keberanian dalam kesunyian, tentang tubuh-tubuh yang menolak hilang dalam tradisi dan kekuasaan laki-laki. Dengan gaya dokumenter yang tulus dan penuh perasaan, Women from Rote Island mengajak kita melihat wajah Indonesia Timur yang jarang diperhatikan, namun penuh cerita tentang ketahanan dan perjuangan perempuan. Film ini dibuka dengan kesunyian khas dokumenter Indonesia Timur: suara angin, desir ombak, dan langkah kaki perempuan yang berjalan di tanah kering.

Tidak ada musik dramatis, tidak ada narasi yang berlebihan, hanya kenyataan yang dibiarkan berbicara. Kamera seperti kedua mata yang diam namun tajam, memotret kehidupan perempuan Rote tanpa ingin menonjolkan. Alih-alih memperlakukan mereka sebagai “korban”, film ini justru menggambarkan kekuatan sehari-hari yang mereka miliki: mengolah tanah yang kurang subur, mendidik anak di tengah keterbatasan, hingga menghadapi masyarakat yang masih dipengaruhi nilai laki-laki. Penonton akan melihat perempuan Rote bukan sebagai korban, tapi sebagai orang yang bertahan hidup. Dalam banyak adegan, kamera bergerak lambat, mengikuti ritme hidup masyarakat. Inilah kekuatan estetik film ini yang tidak terburu-buru. Seolah ingin mengingatkan bahwa memahami kehidupan perempuan di pulau terpencil tidak bisa dilakukan dengan logika kota yang serba cepat. Kita harus belajar melambat, mendengar, dan melihat lebih dalam.

Tema besar Women from Rote Island sejatinya adalah tentang ketimpangan, baik ekonomi, sosial, maupun gender. Namun film ini tidak berkhotbah. Ia membiarkan penonton menyimpulkan sendiri melalui potongan-potongan kisah perempuan yang dihadirkan.

Salah satu kekuatan film ini terletak pada kemampuannya membuat hal lokal menjadi universal. Perempuan Rote mungkin hidup di pinggiran geografis Indonesia, tapi masalah yang mereka hadapi seperti kekerasan dalam rumah tangga, beban ganda, dan minimnya akses pendidikan, sebagaimana merupakan cermin dari realitas perempuan di banyak tempat lain. Film ini seperti berkata “apa yang terjadi di Rote adalah miniatur dari apa yang terjadi di negeri ini”.

Kritik sosial dalam film ini ditampilkan dengan cara yang lembut tapi cukup mengena. Film ini menampilkan kehidupan sehari-hari yang nyata, sehingga bisa menantang cerita besar tentang pembangunan nasional yang sering kali melupakan daerah di Timur. Selain itu, film ini juga membuka pembicaraan tentang bagaimana modernisasi sering kali datang tanpa keadilan: listrik dan teknologi mungkin sudah ada, tapi kesetaraan gender dan kesejahteraan ekonomi masih tertinggal.

Perempuan seringkali menjadi subordinat dalam kehidupan masyarakat Patriarkal. Di Rote, sejatinya kehidupan perempuan adalah inti dari segala kehidupan sosial masyarakatnya. Namun, dominasi laki-laki lebih menonjol dan menimbulkan seakan perempuan menjadi “pelengkap” komunitas sosial saja. (Ilustrator: Laurancia Melani/LPM Daunjati).

Perempuan sebagai Narator, Bukan Subjek

Salah satu keputusan artistik paling penting dalam film ini adalah memberi ruang bagi suara perempuan untuk berbicara sendiri. Tidak ada narator laki-laki yang “menjelaskan” kehidupan mereka. Para perempuan Rote bercerita dengan bahasanya sendiri; tentang masa kecil, mimpi, luka, dan harapan.

Dalam salah satu momen paling menyentuh, seorang perempuan tua menceritakan bagaimana ia dulu tidak sempat bersekolah karena harus membantu orang tua di ladang. Suaranya bergetar, tapi bukan karena kesedihan, melainkan lebih karena keyakinan bahwa kisahnya layak didengar. Di titik ini, Women from Rote Island menjadi film yang sangat politis karena memberi mikrofon kepada mereka yang selama ini dibungkam. Pendekatan ini sejalan dengan semangat feminist documentary yang menolak hierarki antara pembuat film dan subjeknya. Kamera bukan alat dominasi, tapi jembatan empati. Kita, sebagai penonton, tidak diajak untuk “mengasihani” mereka, melainkan untuk menghormati dan memahami.

Meskipun mengangkat isu yang berat, film ini tetap menampilkan keindahan visual yang memukau. Pemandangan kering di Rote yang menawan menjadi simbol kekuatan perempuan di wilayah tersebut. Langit biru yang luas sering menjadi latar belakang bagi individu yang berjuang di bawah sinar matahari yang terik.

Ada satu adegan yang sangat puitis: seorang ibu melangkah sambil menyeimbangkan jerigen air di kepalanya, sementara matahari perlahan-lahan tenggelam di ufuk. Dalam kesunyian itu, momen ini mengungkapkan banyak hal tentang beban yang dihadapi perempuan, baik secara fisik maupun sosial. Film ini berhasil menciptakan keseimbangan antara aspek estetika dan etika: cantik, tetapi tidak terkesan romantis. Peduli, namun tidak berlebihan. Sinematografinya terasa seperti puisi dalam bentuk visual: lambat, berirama, dan sarat makna.

Kritik terhadap Sistem dan Tradisi

Di balik kesunyian film ini, tersimpan pula kritik sosial yang tajam. Women from Rote Island menunjukkan bagaimana sistem patriarki masih membatasi ruang perempuan baik dalam keluarga maupun masyarakat. Beberapa perempuan dalam film ini berbicara tentang tradisi yang menuntut mereka tunduk pada laki-laki, bahkan ketika mereka menjadi tulang punggung keluarga.

Namun film ini tidak jatuh pada sikap anti-tradisi. Ia justru memperlihatkan kompleksitas bagaimana perempuan bisa mencintai budaya mereka, tapi sekaligus mengkritiknya. Seakan mereka tidak menolak akar, tapi berusaha menumbuhkan ranting baru agar pohon kehidupan mereka bisa tetap hidup di tanah yang keras.

Film ini juga mengangkat isu penting tentang akses terhadap pendidikan dan kesehatan. Ketimpangan infrastruktur di wilayah Timur Indonesia menjadi konteks yang tak bisa diabaikan. Dalam hal ini, film berfungsi sebagai cermin yang menegur negara bahwa pembangunan sejati bukan hanya soal jalan dan jembatan, tapi juga soal martabat manusia, terutama perempuan.

Refleksi Dari Rote ke Dunia

Apa yang membuat Women from Rote Island begitu kuat adalah kesederhanaannya. Ia tidak berteriak, tapi suaranya menggema lama setelah film usai. Film ini menantang kita untuk memikirkan kembali arti “kemajuan”. Apakah kemajuan berarti deretan gedung tinggi dan ekonomi digital, atau justru kemampuan kita mendengar suara-suara dari pinggiran?

Dalam konteks global, film ini juga relevan dengan perbincangan tentang eco-feminism, yaitu gagasan bahwa penindasan terhadap perempuan sering berjalan seiring dengan eksploitasi terhadap alam. Perempuan Rote hidup berdampingan dengan tanah dan laut, mereka tahu kapan menanam, kapan panen, kapan beristirahat. Ketika alam rusak, merekalah yang pertama merasakan dampaknya. Dengan demikian, film ini juga menjadi seruan lembut tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Women from Rote Island bukan film yang menawarkan solusi instan dan tidak menyodorkan akhir bahagia, melainkan seakan menjambak kesadaran. Kesadaran bahwa perempuan-perempuan di pulau-pulau kecil Indonesia memiliki suara yang layak didengar, perjuangan yang layak dihargai, dan kebijaksanaan yang layak dipelajari.

Di tengah dominasi film-film komersial yang sering menggambarkan perempuan sebagai pelengkap, film ini tampil sebagai antitesis yang segar dan berani. Ia membuktikan bahwa dokumenter bisa menjadi bentuk perlawanan dengan sesuatu jujur.

Women from Rote Island dapat menjadi pengingat bahwa kekuatan tidak selalu datang dari pusat, tapi justru lahir dari pinggiran dari perempuan-perempuan yang menenun hidup dengan tangan mereka sendiri, di bawah matahari yang tak pernah beristirahat.

DAFTAR PUSTAKA

Wulandari, W., Christine, A., Reftantia, G., Sartika, D. D., & Saraswati, E. (2025). Representation of Women’s Struggle against Violence and Gender Discrimination in the Film “Women from Rote Island”. Saree: Research in Gender Studies7(2), 184–195.

Andari, A., Syahvila, A. R., Azizah, A., Iqbal, R. B., Usnan, M. R., & Alfathoni, M. A. M. (2025). Teknik Sinematografi Dalam Film Women From Rote Island Dalam Memvisualisasi Aspek Feminisme. Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa2(2), 295–304.

Plumwood, V. (2004). Gender, eco-feminism and the environment. Controversies in environmental sociology1, 43–60.

Penulis: Hana Diah Khoerunnisa

Ilustrator: Laurancia Melani

Penyunting: Rifka Rahma Dewi