Rabu malam, 19 November 2025, Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung menjadi ruang pementasan “Sampar” atau “L’État de Siège,” karya Albert Camus. Pertunjukan ini mengisahkan sebuah wabah yang menyebarkan ketakutan kepada warga kota. Sejak menit pertama, atmosfer Sunan Ambu terasa berbeda. Lampu diredupkan cukup lama, diiringi ritme musik yang menahan penonton dalam ketidakpastian dan tanda tanya di benaknya. Ketika cahaya perlahan menyingkap siluet para aktor di panggung, pertunjukan benar-benar dimulai.
Pertunjukan ini merupakan bagian dari rangkaian Tugas Akhir Gelombang 2 Jurusan Teater ISBI Bandung 2025 minat penyutradaraan, penataan artistik, dan pemeranan. Dengan peserta ujian dengan minat penyutradaraan adalah Dwi Nanda Perwira, untuk minat penataan artistik diikuti oleh Virgiawan Pramuji, sementara peserta ujian dengan minat pemeranan adalah Rizky Herdiansyah yang memerankan tokoh Diego, serta Muhammad Rivaldi yang memerankan tokoh Nada.
Ujian tugas akhir ini mengangkat naskah klasik milik Albert Camus tentang kota yang tiba-tiba dikepung wabah misterius. Menurut Dwi, sebagai sutradara, pemilihan naskah Sampar dilatarbelakangi ketertarikannya pada estetika bahasa Albert Camus sebagai filsuf, penulis, dan penyair. Ia menuturkan bahwa tema ketakutan kolektif dalam naskah tersebut masih relevan dengan masyarakat Indonesia hari ini, “Kita takut pada penguasa dan peraturan-peraturan yang sebenarnya hal-hal itu bisa kita atasi dari dalam diri kita sendiri,” tuturnya.
Dwi menjelaskan bahwa naskah asli milik Albert Camus begitu kompleks, dengan durasi panjang dan banyaknya tokoh yang masing-masing merepresentasikan ideologi tertentu. Dalam adaptasinya, jumlah tokoh dipersempit dan beberapa karakter digabungkan agar tetap mempertahankan makna utama. Misalnya, tokoh Diego melambangkan keberanian, Victoria melambangkan humanisme serta regenerasi, sementara Nada melambangkan absurditas.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “sampar” berarti penyakit menular. Sampar atau The Plague (sebagai judul bahasa Inggris, aslinya “La Peste”) sebenarnya merujuk pada karya novel milik Albert Camus, sedangkan pementasan teaternya diberi judul “L’État de Siège” atau “Stage of Siege” yang berarti dalam kepungan. Dwi memilih menggunakan judul “Sampar” dari terjemahan Ahmad Asnawi karena menurutnya kata tersebut merangkum gagasan utama yang ingin ia angkat.
Dwi menegaskan bahwa Sampar bukan sekadar kisah tentang wabah fisik, tetapi juga wabah ketakutan yang tidak tampak dan dapat muncul kapan saja. Dari gagasan itulah ia akhirnya menetapkan nama Sampar untuk pementasan ini.
Virgiawan Pramuji sebagai penata artistik mencoba membangun lanskap kota bergaya ekspresionisme di atas panggung. Representasi tata kota ini dijelaskan oleh Dwi sebagai sutradara sebagai sebuah kota yang tak biasa, kota yang memberikan kesan sebuah tempat yang sedang mengalami krisis.
“Kota yang saya bayangkan adalah kota yang tidak biasa, yang memberikan langsung impresi krisis.” tutur Sutradara.
Sampar sebagai Wabah Ketakutan
Di awal pementasan, penonton diperlihatkan kondisi warga kota yang dibiarkan pasif melalui manipulasi kekuasaan. Mereka diajak percaya bahwa perubahan adalah sesuatu yang buruk, pemerintahnya sendiri pun mendukung sebuah kemandekan. Bahkan warga kota berteriak dengan lantang, “Mari minum sampai tuntas, tidak akan terjadi apa-apa!” seolah perubahan adalah ancaman yang harus dihindari, sementara ketidakpedulian dianggap sebagai bentuk keselamatan. Adegan ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan menjaga warganya tetap pasif. Mereka dibiarkan larut dalam anggur, kebodohan, dan rutinitas mematikan sehingga tidak ada ruang untuk kritik ataupun pertanyaan.

Ketika sosok Sampar muncul dari atas panggung dengan empat tangan di punggungnya, situasi mulai kacau. Ia mengambil alih pemerintahan dan menyebarkan ketakutan, hingga membuat tokoh Diego yang dikenal pemberani, turut terjangkit. Tokoh Nada yang mewakili absurditas kemudian bergabung dengan Sampar. Namun, kehadirannya terasa janggal karena ia tidak sepenuhnya tunduk ataupun menentang. Nada berada di wilayah abu-abu, di mana ia menjadi saksi sekaligus pengamat atas bagaimana ketakutan bekerja dalam tubuh sosial.
Di tengah ketegangan, sekretaris Sampar melakukan perlawanan kecil dengan menunjukkan bahwa satu-satunya cara keluar dari ketakutan adalah melawannya. Momen ini menjadi titik balik bagi Diego.

Pementasan ini, menurut sutradara, mengingatkan bahwa manusia sering kali merasa tidak berdaya di hadapan kekuasaan maupun ketakutan. Penutup pertunjukan menampilkan dialog, “Manusia bukanlah apa-apa dan wajah Tuhan menyeramkan.” Dwi menafsirkan kalimat itu sebagai ajakan untuk tidak larut dalam kebisuan. “Ini bukan berontak secara harfiah, tetapi berontak terhadap kejenuhan, keheningan, dan hal-hal yang membuat diri kita asing,” ujarnya.
Ruang yang Tertidur dan Penonton yang Terbangun
Ketika lampu kembali menyala, tepuk tangan panjang menggema di Sunan Ambu. Penonton perlahan menuju pintu keluar sambil membawa sisa suasana yang masih melekat. Para aktor dan tim produksi merayakan keberhasilan pementasan setelah melalui proses panjang yang mereka bangun bersama.
Kesuksesan pementasan dapat dirasakan pada bagaimana Sampar dapat menghadirkan pengalaman emosional bagi penonton. Seperti halnya Camus, pementasan ini tidak dimaksudkan untuk sekadar menghibur, tetapi untuk menyadarkan bahwa dalam dunia yang serba tidak pasti, manusia tetap memiliki pilihan untuk melawan.

Penulis: Amni Isnaeni Rustam & Firza N. Assegaf
Dokumentasi: Amni Isnaeni Rustam
Penyunting: Rifka Rahma Dewi

