Sayang Ada Orang Lain, naskah drama satu babak karya Utuy Tatang Sontani. Menilik lebih jauh sebuah dampak dari kemiskinan, sebagai imbas dari industrialisasi kapitalisme. Ketika para pekerja memiliki gaji kecil sementara biaya hidup terus melonjak dan semakin tak terjangkau, kondisi ekonomi mereka kian terhimpit. Sayang Ada Orang Lain, berkisah soal pergulatan kehidupan antara suami istri bernama Suminta dan Mini, yang dicekik kemiskinan dalam lingkup sosial yang beragam, dan perspektif kebenaran yang tidak seragam
Drama ini mengandung muatan yang sangat kompleks. Dimulai dari dialog Suminta dengan Hamid, soal gaji yang kecil. Sampai dialog Suminta dengan si tukang perhiasan, yang suaminya jadi “tukang sunat” pencairan dana bantuan, dengan mengambil keuntungan secara tidak langsung, sebagai upah “kemanusiaan”. Padahal itu seharusnya menjadi kewajibannya yang tanpa pamrih, sebagai pegawai pemerintah. Hingga kejujuran yang dipertaruhkan dalam hingar-bingar kehidupan yang semakin mencekik, masyarakat terbelakang.
Konflik muncul ketika istri Suminta (Mini). Rela menggadaikan tubuhnya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia sadar bahwa suaminya (Suminta) berkekurangan. Gaji bulanan tak cukup untuk menutup kebutuhan mingguan. Didorong rasa cinta, namun dengan cara pengeksekusian yang salah, Mini menjadikan tubuhnya sebagai objek pencari keuntungan. Di sinilah puncak kisah dimulai ketika pergulatan antara dua macam kebenaran, yakni kebenaran dalam kacamata agama dan kebenaran yang berangkat dari kebutuhan (ini dapat dikategorikan sebagai kebenaran internal, karena meyakini tindakan melacur yang dipilih Mini untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga adalah hal yang juga tidak salah).
Kebenaran Dalam Perspektif Tokoh H. Salim
“Haji Salim dalam naskah ini adalah seorang yang taat beribadah dan menegakkan aturan-aturan berdasarkan syariat Islam”
Kemiskinan, merenggut kenikmatan hidup Suminta dan Mini. Hingga solusi dari semua itu adalah pelacuran kehidupan. Dalam pandangan H. Salim sebagai manusia beragama, yang meyakini kebenaran agama adalah satu hal yang mutlak dan tidak bisa digugat. Sehingga yang dilakukan Mini adalah hal yang salah, sekalipun hanya untuk menyambung kehidupan. Maka ia seolah menjadi perpanjangan Tuhan, untuk menghakimi kesalahan Mini. Sebuah cara berpikir yang bersifat binner. Ini adalah kritik terhadap kaum agamais yang kadang kala memandang sesuatu hanya berdasarkan dimensi aksi, tapi tidak mencoba mengakar pada apa yang melatarbelakanginya. Sehingga akhirnya itu hanya jadi penghakiman subjektif, yang sebetulnya jauh dari prinsip-prinsip agama. Sebuah paradoks yang begitu terlihat, sesuatu yang tampak suci, rupanya adalah titik hitam paling gelap.
Kebenaran dalam Perspektif Hamid
“Hamid dalam naskah ini adalah pria yang tidak menekankan ajaran agama sebagai dasar penilaian. Berkali-kali Haji Salim mengatakan bahwa ia “Kufur””
Lalu Hamid, kawan Suminta. Yang juga menjadi penghubung dalam usaha Mini mengais rezeki dengan merelakan tubuhnya sebagai seorang istri. Hamid memandang bahwa itu bukan kesalahan yang patut sekadar dihakimi secara subjektif. Ia memandang bahwa wanita pun punya kesempatan. Rasa cinta yang tertanam dari Mini pada Suminta, yang akhirnya mendorong tindakan tersebut. Baginya itu bukan kesalahan mutlak; ia melihat Mini sebagai sosok perempuan yang luar biasa: rela menjadikan tubuhnya sebagai ladang mengais rezeki demi membantu sang suami. Bagi Hamid, tokoh yang mengalami krisis kepercayaan pada entitas Tuhan, justru kesalahan Mini bukanlah hal yang perlu dihakimi. Sebagai manusia, Hamid justru mengajak untuk belajar menilai sesuatu, tidak hanya semata-mata pada satu arah dan penilaian saja.
Kembali kita disuguhi sebuah paradoks terhadap nilai kemanusiaan yang justru hadir dari mereka yang kehilangan kepercayaan penuh pada bagaimana cara sebuah instansi menyampaikan ajaran Tuhan. Hamid justru lebih menilai tindakan Mini sebagai imbas dari sebuah sistem yang rusak, ketimbang urusan nafsu semata. Ia menjadi manusia dalam degradasi kepercayaan terhadap esensi Ketuhanan dan cara agama mengejawantahkannya.
Akhirnya kita tahu bahwa kebenaran akan mempunyai jalan dan pandangan sendiri. Jika Ouspensky membagi kebenaran dalam 4 jenis. Maka dalam naskah “Sayang Ada Orang Lain” kita dibawa untuk memiliki 2 macam kebenaran. Kebenaran secara “perspektif agama” yang disalah tafsirkan dan kebenaran “internal” yang didorong oleh kebutuhan. Maka “Sayang ada Orang Lain” adalah sebuah metafora yang justru punya muatan satir yang begitu dalam. Perihal sayang ada orang lain, yang justru menentukan kebenaran dan jawaban dari segala macam tindakan yang manusia pilih, bahkan dalam ruang paling pribadinya. Maka kita hidup dalam realitas sosial yang timpang, yang menjadikan penilaian dan kebenaran terbaik adalah yang datang dari persepsi orang lain, bukan berdasarkan penalaran terhadap kondisi-kondisi yang menghadirkan tindakan tersebut.
Di akhir cerita, Suminta memilih pergi. Mengikhlaskan tindakan Mini yang sebetulnya didasari cinta, walau salah dalam kaidah tindakan, apalagi sebagai seorang istri. Akhirnya, kebenaran akan peristiwa tersebut Suminta serahkan kepada siapa pun yang turut merasakan. Betapa kemiskinan telah membawa kita pada penilaian-penilaian yang kehilangan esensi dan tindakan kemanusiaan. Betapa kemiskinan adalah awal dari reduksi kepercayaan dan substansi dari mutu-mutu normatif.

Ditulis: Ariel Valeryan
Illustrator: Titih Siti
Penyunting: Rizki Bassica A



