Ketika masih duduk di bangku SD, yang saya tahu dan apa yang diajarkan oleh guru, puisi haruslah indah, enak didengar, dan berima manis. Kalau tidak berima “pas”, rasanya kurang dapat disebut puisi, atau kurang dapat “esensi” puisinya (sebetulnya esensi puisi itu apa, sih? Serius saya bertanya). Kalaupun puisi itu sedih, maka harus mengandung unsur dramatisasi kesedihan, keputusasaan, dan lain sebagainya.
Tapi itu dulu, waktu saya duduk di bangku SD. Ketika saya kelas 2 SMK, saya mulai berkenalan dengan keliyanan puisi. Maksud saya, tak seperti apa yang telah guru SD ajarkan pada saya. Bahwa puisi, yang saya temukan ketika bangku SMK itu, boleh terlepas dari suatu “isme” puisi yang diajarkan guru SD. Itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan puisi dengan gaya sederhana ala Joko Pinurbo.
Tapi jelas, dalam resensi ini saya tak akan membahas Joko Pinurbo maupun tektekbengek teori sastra apapun. Saya mencoba membeberkan sedikit hasil membaca otopsi Itjang Djoedibarie, otopsinya terhadap sastra, barangkali.
Berbeda dengan puisi lainnya, teks puisi yang ditulis oleh Itjang Djoedibarie kebanyakan bersifat seperti laporan hasil otopsi. Cukup aneh ketika pertama kali saya membaca puisi-puisi dengan format seperti itu. Malah, lebih seperti membaca laporan hasil praktikum daripada membaca sebuah karya sastra.
Otopsi Syair, begitulah penerbit Muslihat Press menamai antologi puisi Itjang Djoedibarie yang terdiri dari 29 puisi dan satu cerita pendek berjudul Hirat Al-Mawt ini. Ketika pertama kali membuka buku pembaca langsung disambut dengan beberapa teks sebanyak tiga paragraf di halaman pertama yang ditulis dengan transkripsi bahasa dan aksara yang tidak saya ketahui. Cukup menyimpan kesan misterius. Di halaman selanjutnya, ada semacam deklarasi bahwa pencipta karya melepaskan hak kepemilikan karya sehingga menempatkan karyanya menjadi public domain. Sebagaimana tertulis: “karya ini dapat digunakan, didistorsi, atau dihancurkan dengan cara apapun tanpa atribusi atau pemberitahuan lebih lanjut kepada pencipta.” Sebuah pernyataan sikap.
Lebih lanjut, Otopsi Syair diberikan catatan prolog oleh Bonang P. Sirait dan epilog yang ditulis oleh Hamdan Muhammad, di bagian akhir, tertulis Deklarasi Ketidakhadiran, biografi Itjang Djoedibari, dan Manifesto Generasi Terburuk Sastra Indonesia.
Puisi pertama berjudul Otopsi Anatomi Kata (1975). Cukup sedikit bingung saat membaca puisinya karena seperti bentuk laporan otopsi alih-alih puisi.
Otopsi Anatomi Kata (1975)
Subjek:
Bahasa, dalam keadaan rigor mortis.
Pertama, kita bedah fonem ‘cinta’. Dengan pinset berkarat, cungkil selaput maknanya yang telah dikeraskan oleh ribuan lagu pop dan novel picisan. Di baliknya: rongga kosong, gaung narsisme, transaksi biologis yang disamarkan sebagai takdir. Bau anyir feromon bercampur dengan bau formaldehida dari kebohongan abadi.
Kedua, kita amputasi kata ‘bangsa’. Gergaji tulangnya yang rapuh, yang terbuat dari mitos-mitos heroik palsu. Keluarkan sumsumnya: barisan angka statistik, peta kadaster, dan ketakutan kolektif terhadap ‘yang lain’. Alirkan darahnya: campuran keringat buruh dan ludah para politisi.
Ketiga kita lakukan labotomi pada kata ‘Tuhan’. Bor batok kepalanya yang agung, yang terbuat dari dogma absolut. Di dalam sana, bukan otak kosmik yang mengatur semesta, melainkan segumpal rasa takut manusia akan ketiadaan, sebuah cermin raksasa yang hanya memantulkan wajah kita yang memelas, berteriak ke dalam kehampaan, berharap ada gema yang menjawab. Hasil biopsi jaringan: negatif akan keberadaan, positif akan kebutuhan.
Kesimpulan:
Subjek telah mati jauh sebelum otopsi ini dilakukan.
Penyebab Kematian:
Penggunaan berlebihan oleh para pembohong, penyalahgunaan oleh para penguasa, dan kelalaian kronis oleh para penggunanya.
Rekomendasi:
Kremasi seluruh kamus. Sebarkan abunya di atas lautan ketidakpedulian.
Sebagai pembaca yang biasa-biasa saja dan berkeinginan besar untuk ngerti puisi, Otopsi Anatomi Kata (1975) yang ditulis Itjang berusaha untuk membedah kata-kata yang kadang dipandang agung, indah, dan bernuansa positif. Subjeknya jelas, bahasa. Menyinggung subjek otopsi, bahasa yang diotopsi oleh Itjang telah mengalami kekakuan kematian, dalam bahasa medis disebut rigor mortis. Dalam interpretasi saya, semoga saja ini benar, Itjang ingin membedah bagaimana kata-kata, yang merupakan bentuk bahasa, suatu ide yang secara materiil adalah benda “mati”, dapat begitu memengaruhi hidup manusia (jelas saya mendapat intepretasi ini dari beberapa kali bolak balik membaca puisi ini).
Kata yang Itjang otopsi ada tiga, yakni Cinta, Bangsa, dan Tuhan. Dalam kata Cinta, Itjang mencongkel kata itu dengan pinset berkarat. Karat sering direpresentasikan sebagai sesuatu yang tua nan usang. Sebagaimana mungkin maksud si penulis, cinta adalah suatu bentuk yang usang, cinta sering dijadikan medium dalam maksud tertentu sejak lama. Contohnya bagaimana cinta sering hadir dan menjadi “menu utama” dalam lagu pop dan novel-novel picisan. Tapi, di balik kata cinta yang sering diucapkan dan dijajakan oleh orang-orang, adalah kekosongan, narsisme, dan suatu transaksi biologis atas nama takdir, atau atas nama cinta.
Cinta, seringkali hanya menjadi penarik pasangan dan pengawet hubungan saja, tanpa ada esensi cinta yang sesungguhnya, sebagaimana Itjang menulis “Bau anyir feromon bercampur dengan bau formaldehida dari kebohongan abadi”. Cinta adalah bentuk kebohongan dalam menarik pasangan dan mengawetkan hubungan. Barangkali, Itjang sebetulnya menulis bahwa cinta adalah komodifikasi dari segala bentuk kebohongan, kepalsuan, dan demi kepuasan diri sendiri melalui jalan muslihat bernama cinta.
Anatomi kedua yang diotopsi oleh Itjang adalah Bangsa, Itjang mengamputasi Bangsa dengan menggergaji tulang-tulangnya yang rapuh dan terbuat dari mitos-mitos heroik palsu. Itjang sepertinya ingin menunjukkan bahwa sebuah bangsa, banyak dibangun dari mitos keheroikan para pahlawan, yang kadang itu semua palsu dan sengaja dibangun demi kekuatan sebuah bangsa. Semacam membentuk superioritas-lah.
Lanjut, Itjang mengeluarkan sumsum dari sebuah bangsa, yakni barisan angka statistik, peta kadaster, dan ketakutan kolektif terhadap ‘yang lain’. Sumsum, adalah bagian “isi” dari tulang, atau dalam pemaknaannya di sini, sumsum adalah representasi dari isi sebuah bangsa. Sebuah bangsa, di dalamnya hanyalah angka-angka statistik, baik angka kelahiran, kematian, seberapa banyak penduduk miskin, kaya, dan lainnya. Manusia pembentuk sebuah bangsa hanya dianggap sebagai statistik, tak lebih. Pemimpin-pemimpin bangsa pun, tak ubah sebagai kadaster, hanya catat ini itu. Sebuah bangsa pun, memiliki ketakutan bersama, sebagaimana Itjang menulis ‘ketakutan kolektif terhadap yang lain’. Sedangkan darah, seperti yang ditulis Itjang, merupakan simbol kehidupan suatu bangsa (sebagaimana kehidupan manusia) haruslah dialiri oleh darah, yang mana yang menghidupi atau hidup dalam suatu bangsa itu adalah kaum buruh yang bekerja dan kebohongan politisi.
Terakhir, Itjang melakukan labotomi pada kata Tuhan. Labotomi adalah prosedur bedah untuk memutus syaraf otak. Tuhan, adalah kata yang merujuk pada entitas yang diyakini di dalam pikiran manusia (dalam memori otak manusia). Tuhan yang bersemayam dalam kepala manusia adalah hasil dari dogma. Dogma, menjadikan Tuhan sebagai pengatur kosmos layaknya otak di badan manusia. Namun, Itjang melihat, semua itu adalah bagian dari ‘segumpal rasa takut akan ketiadaan’. Tuhan yang dipercayai manusia adalah cerminan dari manusia itu sendiri. Hasilnya, Dogma dan Tuhan itu ‘negatif akan keberadaan, positif akan kebutuhan.’ atau dalam terjemahan saya, dogma dan Tuhan ada karena kebutuhan manusia.
Kesimpulannya adalah kata-kata itu sebenarnya telah lama mati, sesuatu yang tak berarti. Dan kematian itu disebabkan oleh kebohongan, kekuasaan, dan kematian esensi sesungguhnya sebab manusia itu sendiri. Itjang memberi rekomendasi ‘membakar semua kamus, sebarkan abunya ke lautan ketidakpedulian’. Atau, setiap kata tidak berarti, manusia hanya perlu menempatkan setiap kata dalam imaji ketidakpedulian. Di akhir puisi ini, Itjang cukup nihilistik.
Puisi Otopsi Anatomi Kata (1975) masih dapat saya nikmati, tidak bikin saya terlalu berpusing-pusing cari maknanya apa atau maksudnya apa. Jika dalam Bab Periode Awal 1975–1977 Itjang menulis puisinya dengan tendensi nihilistik, banyak pertanyaan, cukup berkaitan dengan cinta dan kekecewaan. Dalam Bab Periode Tengah 1978–1980, puisi-puisi Itjang cukup banyak menyoroti keadaan sosial di sekitarnya, mulai dari perihal kerja, pendidikan, dan potret kehidupan lingkungan di Cikeruh, Sumedang yang ia tulis menjadi puisi. Cukup menarik bagi saya ketika membaca bagaimana fenomena lokal masyarakat Cikeruh, Itjang lukiskan dalam puisi Ngajugjug Naraka Lokal (1979) yang ditulis menggunakan Bahasa Sunda.
Ngajugjug Naraka Lokal (1979)
Di Cikeruh, sora adan lain pangeling solat,
Tapi alarm pikeun nyiapkeun topeng kasolehan.
Si Haji Fulan, nu kamari ngagadekeun sawah tatanggana ku surat palsu,
Ayeuna ngajanteng di saf panghareupna,
Beungeutna herang ku cai wudu,
Hatena hideung ku dengki.
Di pengkolan, para pamuda ngarumpul, nyekelan tasbeh,
Ramo mencetan tatasbehan, sungut ngucapkeun istigfar,
Tapi panon melong kana bujur awewe nu ngaliwat,
Ngitung-ngitung harga kahormatan dina itungan birahi.
Ieu lain deui Cikeruh nu ceuk kolot baheula,
Ieu teh miniatur naraka nu dikelola ku panitia kiamat lokal,
Di mana Gusti Allah geus lila paeh,
Diganti ku iblis nu pinter ngaji.
Dalam Ngajugjug Naraka Lokal (1979), Itjang meluapkan kekecewaan atas tanah kelahirannya di Cikeruh dalam bentuk puisi. Mulai periode ini, beberapa puisi Itjang ditulis dalam Bahasa Sunda.
Kekecewaan Itjang pada masyarakat di kampung halamannya terlihat sejak paragraf pertama. Itjang menggambarkan bagaimana azan menjadi “alarm” menyiapkan topeng kesalehan. Di sini orang-orang Cikeruh terlihat sebagai orang-orang berbalut kepalsuan agama.
Dalam paragraf kedua, Itjang memperlihatkan bagaimana seorang zalim bergelar haji, tanpa rasa canggung memperlihatkan topeng kesalehannya dengan duduk di shaf paling depan. Itjang cukup sinis di sini, di mana ia menulis ‘Beungeutna herang ku cai wudu/Hatena hideung ku dengki.’
Paragraf ketiga memperlihatkan bagaimana kepalsuan berbalut agama pada masyarakat Cikeruh tidak hanya dipraktikkan oleh golongan tua semacam haji saja, melainkan pemuda kampung pun turut tenggelam dalam kepalsuan topeng agama. Itjang melukiskan bagaimana pemuda berkumpul dan berzikir, tetapi matanya menyorot lekuk tubuh perempuan sambil mengira-ngira harga diri seorang perempuan dalam balutan birahi.
Terakhir, kekecewaan Itjang semakin kentara, di mana ia melihat Cikeruh telah berubah menjadi miniatur neraka yang diatur oleh panitia kiamat lokal. Si penulis puisi menegaskan bahwa Tuhan telah mati dan diganti oleh iblis yang pintar mengaji. Pernyataan yang mirip dengan Friedrich Nietzche, bahwa Tuhan telah dibunuh oleh manusia. Dalam konteks ini kepalsuan dan kepura-puraan dalam balutan agama adalah indikator yang membunuh Gusti Allah di tengah masyarakat.

Saya di sini melihat pandangan nihilistik Itjang semakin tajam, Skeptisisme radikal Itjang terlihat di bait pertama, dimana Itjang melihat azan sama dengan alarm agar orang-orang berpakaian agama dan berpura-pura ahli ibadah, juga dalam konteks ia menulis ‘Di mana Gusti Allah geus lila paeh’, saya cukup menerka-nerka, apakah Itjang memang betul menganggap Tuhan itu telah mati sebagaimana “ketiadaan Tuhan secara esensi maupun ideologi”, atau matinya Tuhan ini berarti “matinya masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip ketuhanan?”. Ah, apapun itu saya pikir biarlah Itjang yang mengetahuinya.
Negasi makna inheren dalam pandangan nihilistis Itjang dapat dibaca pada puisi berjudul Teorema Ketidakpedulian (1981) dalam Bab Periode Akhir (1981–1982).
Teorema Ketidakpedulian (1981)
Jika sebuah pohon tumbang di hutan dan tidak ada yang mendengarnya,
Apakah ia bersuara? Pertanyaan bodoh.
Pertanyaan yang benar:
jika seluruh peradaban runtuh dan aku sedang mendengarkan musik di kamarku,
Apakah aku peduli?
Jawabannya, tentu saja, tidak.
Duniaku adalah isi kepalaku.
Selebihnya rumor.
Negasi makna inheren pada Puisi Teorema Ketidakpedulian (1981) dapat dilihat pada paragraf pertama. Di sini Itjang bertanya tentang keruntuhan pohon di hutan, apakah ia peduli? Jawabannya tidak. Lalu pertanyaan diganti, jika dunia runtuh sedang ia mendengarkan musik di kamar, apakah Itjang peduli? Jawabannya lagi-lagi tidak. Baginya, dunia adalah isi kepala, selain itu adalah rumor. Menurut saya, Itjang di sini sudah berada pada tahap ekstirim, makna inheren dinegasikan, semua tidak berarti kecuali diri sendiri. Malah, di sini saya cukup melihat Itjang mulai beralih dari nihilistis menjadi egoistis.
Ketidakberartian kehancuran dunia kecuali dirinya sendiri, hampir senada dengan pernyataan Max Stirner dalam The Ego and Its Own, berbunyi “selain daripada diriku, itu bukan urusanku”. Atau dalam beberapa puisinya, Itjang kerap menyinggung institusi agama, masyarakat, dan institusi pendidikan. Itjang kelihatannya menegasikan agama karena dari pandangan saya sebagai pembaca, Itjang melihat agama adalah kepalsuan, suatu yang mengikat, hampir mirip ilusi manusia pada kerinduan. Itjang memandang Tuhan hampir mirip sebagaimana Stirner melihat Tuhan dalam Kau Hanya Punya Keberanian Untuk Merusak (1841), “bukan bagaimana seharusnya manusia berperilaku di hadapan Tuhan, namun bagaimana seharusnya Tuhan sebagai entitas bebas dapat ditinjau oleh manusia.” Yang saya tangkap, Itjang memiliki pandangannya sendiri tentang Tuhan.
Perihal pandangannya mengenai institusi pendidikan, Itjang melihat bahwa institusi pendidikan, tidak benar-benar membentuk manusia. Pandangannya hampir mirip dengan Stirner dalam Prinsip Palsu Pendidikan Kita atau Humanisme dan Realisme (1842) yang berbunyi “manusia sejati tidak disediakan oleh sekolah; dan jika mereka tetap ada, mereka ada di sana dengan perasaan dengki pada sekolah.” Perlu kita ketahui bersama, Itjang adalah kriminolog Universitas Indonesia, kekecewaan Itjang terhadap sistem pendidikan salah satunya tertuang dalam puisi berjudul Ilmu Pengetahuan dan Jamban (1975).
Meskipun dalam biografi disebutkan bahwa Itjang adalah seorang egois yang terpengaruh pada pikiran anarkisme-individualis, melihat dari pembabakan karya-karya yang ditulisnya, setiap tahun pemikiran Itjang cukup berkembang. Yang saya lihat, Itjang berangkat dari pemikiran nihilis menuju egois. Yaaaa, begitulah saya sebagai pembaca puisi awam melihat Itjang setelah membaca karya-karyanya.
Membaca Otopsi Syair menurut saya memberikan pengalaman yang unik. Alih-alih membaca puisi sebagaimana “biasanya”, Itjang menawarkan pembaca untuk membaca puisi secara eksperimental, membaca sastra seperti membaca laporan otopsi.
Semakin tenggelam membaca Otopsi Syair yang sebagian besar puisi memiliki format seperti laporan otopsi, cukup memberi pengalaman tak biasa bagi saya. Di samping karena beberapa puisi membawa tema kehancuran dan kematian, tenggelam dalam Otopsi Syair seakan membaca puisi di ruang lembab berbau formalin, seperti membaca puisi di ruang otopsi.
Judul: Otopsi Syair
Penulis: Itjang Djoedibarie
Penerbit: Muslihat Press
Cetakan Kedua, Juli 2025
Tebal: xvi+95 halaman
ISBN: 978–6–57934–733–3
Penulis: Purwa Sundani
Dokumentasi: Purwa Sundani
Penyunting: Marissa Anggita
