SI JANTUK DI NEGERI KUKURUYUK: PERTUNJUKAN YANG MEMILIKI MAKNA.

Ketika kemenangan Jantuk untuk menghilangkan hantu Tetelo di kampungnya. Sunan Ambu ISBI Bandung. Selasa, 28 Juli 2026. (Foto: Maida Kyla Agnianti/LPM Daunjati)

Terdapat suatu keinginan si Jantuk yang ingin menghentikan penyerangan terhadap ayam yang menimpa kampungnya melalui teater bergaya Lenong di Gedung Sunan Ambu pada tanggal 28 Juli 2026. Teater ini bertema komedi lokal dan teater ini unik karena berinteraksi langsung dengan para penonton. Naskah teater ini karya Arthur S. Nalan, pada tahun 1997, dengan puncak produktivitasnya di Pasanggiri Drama Basa Sunda (PDBS), bersama Teater Sunda Kiwari, ia muncul dalam bentuk kompilasi naskah drama teater populer tahun 2010-an dan disebut dalam sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2003. Jantuk karakternya berasal dari pertunjukan topeng dan sangat familiar dengan adat Betawinya.

Teater ini memperlihatkan usaha Jantuk agar tidak ada lagi ayam yang mati ulah dari Hantu Tetelo. Cerita diawali dengan keluarga Jantuk yang terdiri dari Jantuk, babeh Jantuk, dan enyak Jantuk. Pada awalnya, Jantuk disuruh oleh sang babeh untuk memberi makan ayam satu-satunya karena ayam-ayam mereka yang lainnya sudah mati karena Tetelo. Saat Jantuk ingin memberi makan Jago atau ayam mereka, ternyata Jago sama sekali tidak bergerak. Awalnya, Jantuk mengira bahwa Jago hanyalah tertidur, tetapi Jago tidak bergerak-gerak walaupun sudah dipegang oleh Jantuk. Jantuk pun mengadu kepada orang tuanya bahwa Jago sudah mati. Mereka bersedih karena Jago adalah ayam terakhir yang mereka miliki, terutama Jantuk. Ia terlarut dalam kesedihan dan berakhir dengan demam.

Di adegan selanjutnya, Jantuk terbangun dari tidurnya karena Jago mengganggunya. Jantuk yang melihat Jago pun senang karena ia mengira bahwa Jago hidup kembali. Setelah berbicara dengan Jantuk, Jago mengajak Jantuk untuk melawan Raja Cekakcekakak dengan bertemu Putri Cemani terlebih dahulu untuk mendapatkan perisai dan senjata dari bulu Putri Cemani yang sedang terkurung. Setelah berbincang, Putri Cemani pun setuju untuk memberikan bulu-bulunya untuk diambil dan dijadikan senjata untuk Jantuk. Setelah mendapatkan bulu-bulu tersebut, Jantuk dan Jago pergi, dan bulu-bulu Putri Cemani berubah menjadi senjata dan terisai untuk digunakan oleh Jantuk. Setelah Jantuk dan Jago pergi, beberapa anak buah dari Raja Cekakcekakak, yaitu Kuman dan Kutu, muncul. Mereka pun membawa Putri Cemani untuk disekap di kerajaan Raja Cekakcekakak.

Di tengah perjalanan, saat Jantuk sedang beristirahat, mereka bertemu dengan para lintah. Mereka pun mulai bertarung, dan dengan mudah Jantuk mengalahkan mereka. Setelah Jantuk mengalahkan para lintah, mereka melanjutkan perjalanan untuk melawan Raja Cekakcekakak. Sesampainya Jantuk dan Jago di kerjaan Raja Cekakcekakak, mereka dihadapkan dengan pasukan Raja Cekakcekakak. Pertarungan tak dapat dihindari antara Jantuk dan pasukan Raja Cekakcekakak. Dengan baju jirah yang ia gunakan dan senjata prisai dari bulu putri Cemani, Jantuk dapat mengalahkan pasukkan raja Cekakcekakak. Dengan kalahnya pasukannya dan kemenangan Jantuk, Jantuk memerintahkan Raja Cekakcekakak untuk pergi dan tidak kembali lagi ke negeri Kukuruyuk. Kemenangan tersebut membuat kehidupan patra ayam di negeri Kukuruyuk kembali aman. Akhirnya, Jago memberikan kata-kata terakhir kepada Jantuk bahwa Jantuk harus menjaga kebersihan, kelembapan lingkungan, serta pencahayaan.

Ketika Jantuk dan Jago menemui Putri Cemani. Sunan Ambu ISBI Bandung. Selasa, 28 Juli 2026. (Foto: Maida Kyla Agnianti/LPM Daunjati)

Selain alur cerita yang menarik, pementasan teater Si Jantuk di Negeri Kukuruyuk juga didukung oleh unsur artistik yang memukau. Kostum para pemain berhasil menggambarkan perkembangan karakter, seperti Jantuk yang awalnya mengenakan pakaian sederhana, kemudian berubah menjadi kostum bergaya Romawi Kuno saat memulai perjalanannya. Perubahan kostum tersebut membantu penonton memahami perubahan suasana dan perjalanan tokoh.

Penggunaan properti dalam pertunjukan juga cukup kreatif. Beberapa properti dimanfaatkan untuk berbagai fungsi dan dapat diubah sesuai kebutuhan adegan, sehingga perpindahan latar terasa lebih efektif tanpa harus menggunakan banyak perlengkapan panggung.

Dari segi musik, pertunjukan ini semakin hidup dengan iringan lagu-lagu daerah, khususnya lagu khas Betawi. Musik tidak hanya menjadi pengiring, tetapi juga memperkuat nuansa lenong yang diangkat dalam pementasan sehingga suasana menjadi lebih meriah dan menghibur.

Interaksi antara pemain dan penonton menjadi salah satu daya tarik dalam pertunjukan ini. Beberapa kali para aktor mengajak penonton berkomunikasi secara langsung, seperti ketika salah satu aktor menyapa, “Hey, penonton!” atau saat pemain melontarkan pantun dan penonton serempak menjawab, “Cakep!” Interaksi tersebut membuat suasana pertunjukan terasa lebih hidup dan hangat. Gelak tawa serta tepuk tangan yang terdengar sepanjang pementasan menunjukkan bahwa unsur komedi yang disajikan berhasil menghibur penonton. Interaksi tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memperkuat ciri khas teater lenong yang mengandalkan kedekatan antara pemain dan penonton.

Kisah Yang Jenaka Namun Tetap Mengandung Makna

Meski penuh dengan komedi, bukan berarti teater ini tidak memiliki makna sama sekali. Pesan yang disampaikan sangat sederhana, namun tak jarang terlupakan, yaitu pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Hantu Tetelo yang terdapat dalam cerita sebenarnya berasal dari nama penyakit dalam dunia nyata yang menyasar unggas.

Dilansir dari Chickin.id, tetelo adalah penyakit mematikan yang menular dengan sangat pesat. Penyakit ini berasal dari Newcastle Disease Virus (NDV). Virus tersebut bisa muncul karena beberapa faktor, yaitu lingkungan yang tidak bersih, pencahayaan yang kurang optimal, dan sirkulasi udara yang kurang baik. Maka dari itu, Si Jago memerintahkan Si Jantuk untuk selalu menjaga ketiga hal tersebut agar nyawa para ayam di sana dapat terselamatkan.

Ayam yang terjangkit penyakit ini akan menimbulkan gejala seperti pucat, lesu, posisi kepala tidak menentu (tengleng), dan warna kotoran kebiruan. Karena penyakit ini menyebar dengan cepat, ayam yang  menunjukkan gejala seperti itu lebih baik segera dikarantina dan dipisahkan.

Pesan menjaga kebersihan di sini tidak hanya berfokus pada lingkungan peternakan, tetapi juga pada lingkungan sekitar kita. Sidiq, yang merupakan sutradara dalam teater ini, menjelaskan bahwa sama halnya dengan hewan ternak, manusia juga bisa terjangkit virus dan penyakit. Maka dari itu, penting untuk menjaga kebersihan dalam setiap kondisi. “Pencegahan agar tidak banyak bakteri atau virus harus menjaga kebersihan,” ungkapnya.

Penulis: M Zhafran Ramadhan, Maida Kyla A, Bevira Salma P

Dokumentasi: Maida Kyla A

Penyunting: Rizki Bassica A