TARITA: UPAYA MAHASISWA ISBI BANDUNG DALAM MELESTARIKAN KESENIAN GOONG LONJOR

Mahasiswa Jurusan Antropologi Budaya Semester 5 Kelas B menggelar event budaya bertajuk “TARITA: Kutawaringin Bercerita” di Alun-Alun Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung pada Sabtu, 13 Desember 2025. Event budaya ini merupakan bagian dari luaran mata kuliah Komodifikasi Seni Budaya Jurusan Antropologi Budaya Angkatan 2023.

Mengangkat tema “Rasa dalam Nada: Luruh Identitas Goong Lonjor”, Event budaya ini menampilkan berbagai macam pertunjukan, seperti pertunjukan Debus, Calung, dan pertunjukan kesenian Goong Lonjor. Selain itu, dalam rangkaian TARITA ini pun turut menghadirkan sesi talkshow dengan grup seniman Goong Lonjor yang dimoderatori Hesa Nugraha Pratama.

Sesi pertunjukan calung dalam acara TARITA. Alun-alun Soreang, Kab. Bandung, Sabtu, 13/12/2025. (Foto: Purwa Sundani/LPM Daunjati)

Menurut penuturan Nadjaf Shafiq, Ketua Pelaksana TARITA, event budaya ini bertujuan untuk mempromosikan kembali seni dan budaya lokal ke masyarakat luas. Dalam tajuk Kutawaringin Bercerita, Nadjaf ingin mensosialisasikan kembali kesenian Goong Lonjor yang merupakan kesenian asli Kutawaringin kepada khalayak umum.

“Sebenernya kita fokusnya ke seni budaya yang ada di Kutawaringin, yang jadi highlightnya ada Goong Lonjornya yang merupakan salah satu kesenian yang menurut kami sangat unik dan memang Cuma ada di Kutawaringin,” tutur Nadjaf.

Sesi pementasan kesenian Goong Lonjor dalam acara TARITA. Alun-alun Soreang, Kab. Bandung. Sabtu, 13/12/2025. (Foto: Tim Dokumentasi TARITA).

Pemilihan Alun-alun Soreang sebagai lokus event budaya bukanlah tanpa alasan. Menurut penuturan Nadjaf, hal ini berkaitan dengan histori Kutawaringin yang merupakan pemekaran dari kecamatan Soreang, sehingga pelaksanaan event budaya ini merupakan ajang untuk melestarikan sekaligus upaya dalam menjaga kesenian Goong Lonjor yang menjadi bagian dari sejarah Soreang dan Kutawaringin. Alasan diadakan event budaya di Alun-alun Soreang sebagai pengingat bahwa Soreang adalah pusat pemerintahan Kabupaten Bandung, sehingga diharapkan dengan dipentaskan di Alun-alun Soreang, kesenian Goong Lonjor yang terancam punah dapat dilirik oleh pemerintah.

“Kita panitia lebih ingin ngasih kesadaran saja sama masyarakat bahwa seni budaya Soreang atau Kutawaringin sangat menarik. Harapannya bisa dilirik oleh pemerintah buat mengangkat Goong Lonjor ini, karena cuma baru ada satu di Kutawaringin itu, cuma grup ini doang. Terus mereka ga punya generasi penerus. Nah Goong Lonjornya, alat musiknya cuma bisa dimainkan oleh satu orang, jadi di grup ini kebanyakan dari mereka ga bisa mainin Goong Lonjornya, jadi cuma yang membuat Goong Lonjornya saja yang bisa maininnya,” jelas Nadjaf.

Sesi pertunjukan Debus dalam rangkaian acara TARITA di Alun-alun Soreang, Kab. Bandung. terlihat anak-anak antusias melihat pertunjukan Debus. Sabtu, 13/12/2025. (Foto: Purwa Sundani/LPM Daunjati)

Selaras dengan penjelasan Nadjaf, Rektor ISBI Bandung, Dr. Retno Dwimarwati, M.Hum. yang turut hadir dalam event budaya ini memaparkan bahwa event budaya yang merupakan luaran dari mata kuliah Komodifikasi Seni Budaya ini adalah strategi dalam pemajuan kebudayaan lewat jalan pelestarian.

“Nah, program ini adalah bagian dari pelestarian seni dan budaya, karena sebetulnya kesenian ini hampir punah, sudah jarang sekali ditampilkan. Jadi mahasiswa kami mencoba menggali kesenian dan kebudayaan yang ada di daerah yang kemudian diimplementasikan, karena ini program matakuliah Komodifikasi Seni Budaya, kita mencoba (menggali) kesenian kebudayaan dengan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya, kemudian disosialisasikan kembali (ke masyarakat), dikemas agar menjadi bagian yang bisa dinikmati oleh masyarakat pada saat ini. Kita juga membuka ruang publik agar kesenian itu bisa hidup kembali.” jelas Retno.

Neneng Yanti Khozanatu Lahpan, P.hD, selaku pengampu mata kuliah Komodifikasi Seni Budaya pada Daunjati menjelaskan bahwa luaran mata kuliah yang berupa event budaya ini merupakan upaya dalam menggali kearifan lokal budaya daerah yang perlu dihidupkan kembali di tengah masyarakat.

“Kebetulan kita punya misi bahwa kegiatan event budaya harus menggali kearifan lokal, nah maka mahasiswa mencari sendiri kira-kira kesenian apa yang perlu dihidupkan kembali melalui penelusuran atau penelitian, lalu ditemukan Goong Lonjor ini, maka apa yang ditemukan harus dihidupkan dan dikembangkan.”

Menggali Goong Lonjor Lewat Talkshow

Bagian menarik dari helaran event budaya ini adalah pada sesi talkshow dengan narasumber Riska Oktavia dan Pokdarwis (Dedi & Fandi) yang dimoderatori oleh Hesa Nugraha Pratama.

Seperangkat alat musik Goong Lonjor yang terdiri dari bangkong reang dan Goong Lonjor (tengah) itu sendiri. Alun-alun Soreang, Kab. Bandung. Sabtu, 13/12/2025. (Foto: Purwa Sundani/LPM Daunjati)

Sesi talkshow membahas mengenai sejarah, persebaran , hingga perkembangan eksistensi kesenian Goong Lonjor di masa sekarang. Nadjaf, mengaku bahwa yang ditonjolkan dalam event budaya ini adalah penampilan Goong Lonjor dan talkshow mengenai Goong Lonjor. Menurutnya, menjadi suatu hal yang penting dengan adanya talkshow mengenai Goong Lonjor, terlebih terkait keunikan Goong Lonjor yang pementasannya menggabungkan dua kesenian sekaligus.

“Sebenernya kita highlight talkshownya, sesudah penampilan ada talkshow buat nerangin Goong Lonjor itu bagaimana. Yang menariknya itu Goong Lonjor ini dari dua kesenian, yaitu dari Goong Lonjor sama dari Bangkong Reang, jadi perpaduan dua kesenian itu.”

Dengan diadakannya gelaran pertunjukan dan talkshow mengenai Goong Lonjor, Nadjaf berharap masyarakat dapat menjadi lebih aware terhadap kesenian daerah masing-masing.

“Memang keluh kesah dari kesenian yang ada di sini, masyarakat sudah banyak yang ga ngelirik kesenian-kesenian di daerahnya. Saya harapnya semoga masyarakat di sini lebih aware terhadap kesenian di daerahnya masing-masing.”

Foto bersama Rektor ISBI Bandung, Dosen Pengampu Mata Kuliah, dan Seniman Goong Lonjor dalam acara TARITA. Alun-alun Soreang, Kab. Bandung. Sabtu, 13/12/2025. (Foto: Tim Dokumentasi TARITA).

Sebagai pengampu mata kuliah, Neneng Yanti berharap melalui luaran event budaya ini mahasiswa dapat belajar mengenai lifeskill setelah lulus dari bangku kuliah.

“Harapannya tentu saja mahasiswa mempunyai tempat belajar, ruang belajar yang berbeda, yang biasanya hanya mendengarkan di kelas dan cenderung pasif, tetapi begitu membuat event mereka harus mengembangkan inisiatif sendiri, harus berpikir, bekerja tim. Ini juga menjadi latihan lifeskill yang nantinya tidak hanya berguna dari mata kuliah ini, tetapi juga berguna ketika teman-teman lulus, masuk dunia kerja, keterampilan seperti ini penting dan dibutuhkan setelah lulus kuliah.”

Penulis: Purwa Sundani

Dokumentasi: Purwa Sundani, Tim Dokumentasi TARITA

Penyunting: M. Haikal Athar A