Malam di Gedung Sunan Ambu ISBI Bandung pada tanggal 5 November 2025 terasa lebih hangat dari biasanya. Lampu-lampu redup di panggung memantulkan bayangan meja bar, gelas, dan kepulan asap rokok yang menari pelan. Di ruangan itu,dalam Ujian Tugas Akhir Jurusan Teater ISBI Bandung, Jilan Ibrahim Rabani dengan minat pemeranan dan Muhammad Raffi Surya dengan minat penataan artistik mempersembahkan pementasan berjudul Pakaian dan Kepalsuan, sebuah naskah karya Averchenko yang disadur oleh Achdiat K. Mihardja. Pertunjukan berdurasi satu jam ini dimulai pukul 19.30 WIB, membawa penonton masuk ke dalam dunia satir yang menertawakan kepura-puraan manusia.

Diantara denting gelas dan tawa yang berlebihan di sebuah bar, empat orang tokoh yakni Samsu, Abu, Sumantri, dan Ratna muncul dengan pakaian rapi dengan aroma kemapanan yang dibuat-buat. Mereka berbicara tentang kehormatan, jabatan, dan hidup yang tampak megah di luar nalar. Dari sudut ruangan, Hamid (diperankan oleh Jilan Ibrahim) seorang pensiunan tentara, memperhatikan mereka dengan tatapan yang tenang sekaligus jenuh. Ia sudah terlalu sering melihat manusia bersembunyi dibalik pakaian indah menutupi kebusukan yang mereka pelihara di dada.
Dihadapan Hamid duduk seorang tokoh bernama Rusman yang sejak awal menganggap politik itu kotor. Hamid menentangnya bukan karena ia menyangkal kekotoran dunia, tapi karena ia tahu: yang kotor bukan politik, melainkan manusia yang memakainya seperti pakaian pesta.
Ketika tawa di meja sebelah makin riuh, Hamid berdiri. Bar itu seketika menjadi ruang pengadilan sunyi. Dengan langkah yang tenang, ia mendekati mereka satu per satu dan menelanjangi kepalsuan yang mereka kenakan. Pistol di tangannya hanyalah properti, tapi kalimat-kalimatnya adalah peluru. Kebohongan Samsu, Mas Abu, dan Sumantri rontok satu demi satu seperti kancing yang lepas dari jas usang.
Lalu Hamid menatap Ratna. Suara di ruangan tiba-tiba mengeras dalam diam.
“Oleh karena itu, nyonya,” katanya dengan nada yang datar namun tajam, “saya minta dengan segala hormat, sudikah Anda untuk membuka pakaian Anda?”
Udara menegang. Kalimat itu bukan seruan kasar, melainkan ujian kejujuran. Pakaian ditangan Hamid menjelma menjadi lambang kepura-puraan lapisan yang menutupi kebenaran diri. Tapi Ratna tak gentar. Ia bangkit, menantang. Dalam tubuhnya berdenyut amarah dan keberanian yang sama-sama murni. Ia bukan lagi simbol kelemahan, melainkan perlawanan terhadap kuasa laki-laki yang berpura-pura luhur.
Bar tersebut kini berubah menjadi cermin. Bukan lagi tempat orang meneguk minuman, melainkan ruang di mana kebohongan dihadirkan untuk dilihat, ditertawakan, dan pada akhirnya disingkap. Di sana, Hamid bukan pahlawan. Ia hanya badut yang berusaha memaksa dunia jujur, dengan pistol kosong dan keyakinan yang mungkin sudah usang.

Jilan Ibrahim, sebagai pemeran utama mengatakan karakter yang ia bawakan sangat berbeda dari kepribadiannya sehari-hari
“Sebenarnya karakter Hamid itu berbalik banget sama diri saya. Saya nggak se-manly itu, tapi peran ini bikin saya bisa eksplor karakter yang beda jauh dari diri saya sendiri,” ujar Jilan.
Ia menjelaskan, latar cerita berada di Jakarta tahun 1960-an dengan suasana bar sebagai tempat perdebatan dua tokoh utama, Hamid dan Rusman. Dalam dialognya, kedua tokoh membahas persoalan moral dan politik di tengah kehidupan masyarakat.
“Hamid itu sarkas. Dia nyindir politik sekarang, di mana orang bisa kelihatan bersih padahal kotor. Si Rusman bilang politik itu kotor, tapi Hamid bilang bersih,” tambahnya.
Pementasan ini menampilkan dua area diatas satu panggung: ruang bar reguler dan area VIP dengan kursi hitam. Menurut Jilan, dua ruang tersebut menjadi simbol sosial yang menunjukkan kesenjangan dan kepalsuan manusia “Mereka yang kelihatannya rapi dan mewah itu sebenarnya sama aja. Cuma kelihatan berbeda karena pakaian dan status,” katanya.
Penata artistik pertunjukan, Muhammad Raffi Surya Saputra, menjelaskan bahwa seluruh elemen artistik seperti setting, kostum, dan tata rias dibuat dengan pendekatan realisme. “Banyak yang bilang naskahnya surealis, tapi saya mainin dengan gaya realisme biar suasananya bisa benar-benar dirasa penonton,” ujar Raffi.
Ia juga menyebutkan perubahan latar tempat dari restoran menjadi pub untuk memperkuat kesan sosial dan dinamika antar tokoh. Namun, keterbatasan ruang panggung membuat sebagian properti tidak terpakai. “Pas dibawa ke Sunan Ambu ternyata sempit banget, jadi banyak bahan kebuang. Tapi itu bagian dari proses,” katanya.
Raffi menambahkan, proses pengerjaan artistik dilakukan dengan tim kecil beranggotakan dua orang. Meski mengaku belum sepenuhnya puas dengan hasil akhir, ia menilai pementasan tersebut menjadi pengalaman penting untuk mengelola waktu dan kompromi antar divisi “Saya kurang puas, tapi nggak bisa egois. Harus menyesuaikan dengan kebutuhan aktor juga,” ujarnya.
Latihan pementasan berlangsung selama dua bulan. Jilan mengaku lega setelah pertunjukan selesai digelar di hadapan penonton “Kalau di bahasa Sunda rasanya bucat bisul — capek tapi lega,” katanya sambil tertawa.
Penulis: Hesa Nugraha Pratama
Dokumentasi: Hesa Nugraha Pratama
Penyunting: Marissa Anggita

