Film dokumenter Sekeping Kenangan (2021) mengangkat tragedi 1965–1966 di Bali, periode kelam pasca peristiwa 1965 yang menelan puluhan ribu korban. Dokumenter berdurasi 50 menit ini ditayangkan melalui kanal YouTube Taman 65, sebuah komunitas yang berfokus pada pembelajaran mengenai kekerasan dan merekam kepingan-kepingan ingatan para tahanan politik (Tapol) di Bali.
Rekaman sederhana tanpa musik dramatis dan wawancara yang intim dengan para eks tahanan politik mengulas kembali apa yang terjadi pada tahun tersebut. Para tahanan berusaha bertahan hidup dengan adanya siksaan di dalam sel penjara, bagaimana mereka yang selalu diawasi oleh penjaga bersenjata dan berusaha melawan ketakutan yang menyelimuti. Di bawah tekanan tersebut, mereka menciptakan puisi dan lagu untuk menyalurkan kerinduannya terhadap orang yang tersayang, kondisi saat itu, sekaligus harapan untuk hidup.
Melalui dokumenter ini. Komunitas Taman 65 mengangkat lagu-lagu yang diciptakan oleh eks tahanan politik. Salah satu lagu yang tercipta pasca peristiwa 1965 yaitu “Tini dan Yanti”. Lagu ini berawal dari curahan hati atas kerinduan Bapak Ida Bagus Santosa, seorang tahanan pada saat itu. Kerinduan seorang suami pada istri yaitu Tini dan anak yang masih di dalam kandungan, yang selalu ia bayangkan bernama Yanti selalui ia bayangkan ketika ia di dalam penjara.
Curahan hati itu awalnya tertulis di dinding sel yang dihuni 14 orang, ruang sempit berukuran sekitar 3×7 meter yang lebih menyerupai kandang daripada tempat tinggal manusia. Tulisan di tembok itu kemudian dibaca oleh Pak Amir dan diolah menjadi lagu—tanpa iringan musik, hanya senandung pelan yang diucapkan. Keterbatasan ruang dan ketiadaan alat musik justru menegaskan bahwa lagu ini lahir dari kondisi serba kekurangan; dari ruang yang mengekang, tercipta suara yang membebaskan secara batin.
Tulisan sederhana berubah menjadi lirik yang mendalam: “Kepergianku buat kehadiran di hari esok yang gemilang … Tiada bingkisan, hanya kecintaan akan kebebasan mendatang.” Kalimat sederhana dengan harapan untuk bebas dari ketidakpastian dan hanya bisa menunggu kapan bisa bertemu dengan orang terkasih. Lirik ini dapat dibaca sebagai strategi psikologis untuk bertahan. Dalam situasi penahanan yang penuh ketidakpastian, lirik ini memberi makna pada penderitaan yang dialami. Kepergian sang ayah tidak lagi dipahami sebagai kehilangan semata, melainkan sebagai bentuk pengorbanan demi masa depan yang lebih baik. Dengan cara ini, lagu berfungsi sebagai mekanisme untuk menjaga harapan dan kewarasan di tengah tekanan.
Film ini bukan hanya merekam tragedi politik semata, tetapi juga menunjukkan sisi kemanusiaan, di mana kerinduan yang mendalam seorang suami ataupun ayah yang menunggu kehadiran anak yang ia cintai dan harapan untuk bertemu. Lagu ini diakhiri dengan lirik berbahasa Spanyol, “La historia me absolverá “, yang artinya“Sejarah akan membebaskanku”. Kalimat ini terkenal sebagai judul pidato pembelaan Fidel Castro pada tahun 1953 setelah ia diadili atas penyerangan Barak Moncada di Kuba. Dalam film tersebut, makna yang ada menjadi lebih dalam. Ketika ia dinyatakan bersalah dan mungkin saja dipenjara, tetapi dalam benaknya ia percaya suatu hari sejarah yang terbungkam akan memberi penilaian yang adil.

Sekeping Kenangan – Fragment of Memory (Full Movie) via YouTube, tahun terbit 2021, berdurasi 50 menit 21 detik.
Pada akhirnya, Sekeping Kenangan tidak hanya menjadi arsip ingatan, tetapi juga sebuah gugatan. Lagu-lagu yang lahir dari balik penjara membuktikan bahwa meski tubuh dapat dikurung, suara dan harapan tidak pernah benar-benar bisa dibungkam. Jika benar sejarah akan membebaskan, maka kini giliran negara menjawab: apakah ia akan berdiri bersama kebenaran, atau terus membiarkan ingatan para korban berjuang sendirian?
Penulis : R. Bassica Arvensis
Illustrator : Titih Siti Huzaimah
Penyunting : Sophia Septiani
MEMBACA KELABANG DAN EMPAT SIKSAAN PEMBACA KETIKA MEMBACANYA
Saya pertama kali mendengar nama Bima Satria Putra sekitar tahun 2021, berawal dari bukunya yang…
PELUNCURAN KEGIATAN “BANDUNG BERTANYA” OLEH KMT: DISKUSI ANTAR GENERASI TENTANG TEATER
Ruangan Studio Teater dijadikan sebagai ruangan untuk “Bandung Bertanya”. Studio Teater, Bandung, Rabu, 4 Maret…
IWD BANDUNG 2026: SAAT CIKAPUNDUNG MENJADI RUANG INKLUSIF BAGI BERAGAM NARASI PERLAWANAN
Cikapundung Riverspot pada Minggu (3/8) sore, berubah menjadi arena pertukaran gagasan. Sejak pukul 15.45 WIB…
TINDAS-MENINDAS: “MENGAPA PEMANGKU KEBIJAKAN DAN APARATUR NEGARA KITA SANGAT SENANG MENINDAS?”
Untuk kaum tertindasDan yang menderita dengan merekaAtau yang berjuang di sisi merekaPaulo Freire~ Belakangan ini…
HOLOCAUST DALAM LENSA KEPOLOSAN: THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS (2008)
“You’re my best friend for life” – Bruno Dari balik pagar kawat berduri, dua anak lelaki duduk berhadapan. Mereka tidak memahami politik, ras, dan perang. Mereka hanya tahu satu hal: mereka adalah teman. The Boy in the Striped Pyjamas (2008)…
“SAYANG ADA ORANG LAIN”: KEBENARAN TANPA UJUNG DAN KEMISKINAN YANG MEMBELENGGU
Sayang Ada Orang Lain, naskah drama satu babak karya Utuy Tatang Sontani. Menilik lebih jauh…



