PANGAN LOKAL DALAM HEGEMONI: REFLEKSI ANTROPOLOGIS DARI BISIK VOL. 7

Di tengah gencarnya wacana ketahanan pangan nasional, isu mengenai pangan sering kali dipahami secara sempit sebagai persoalan produksi, distribusi, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Namun, ketika dilihat dari perspektif antropologi, pangan tidak pernah berhenti menjadi komoditas biologis. Pangan adalah bagian dari kebudayaan yang mengandung sejarah, pengetahuan lokal, identitas kolektif, hingga relasi manusia dengan lingkungan alamnya. Berangkat dari kegelisahan tersebut, BISIK Vol. 7 mengangkat tema “Homogenisasi Pangan di Era Antroposen terhadap Ketahanan dan Identitas Gastronomi Lokal” yang diadakan pada Jumat, 8 Mei 2026, di GOS Patanjala ISBI Bandung.

Maria Artauli Sitorus (20), selaku panitia, sekaligus koordinator acara Bisik Vol.7 yang juga anggota aktif Rawayan Mahasiswa Program Etnostudi (RAMPES) ISBI Bandung, menjelaskan bahwa persiapan acara ini berlangsung kurang lebih selama dua bulan. Ia mengutarakan keresahannya melalui proses brainstorming, sehingga muncul pengusulan tema antroposen digabungkan dengan isu gastronomi, karena keduanya saling berkaitan erat. Ia melihat adanya program distribusi pangan massal berskala nasional yang menjangkau sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Meskipun program tersebut dinilai memiliki niat baik, Maria berpendapat bahwa program ini luput mempertimbangkan keberagaman gastronomi lokal di tiap daerah.

Sebagai contoh konkret, ia menyebut Papua. Papua sejatinya memiliki sumber pangan dan kekayaan alam yang khas, dengan sagu sebagai makanan pokok tradisionalnya. Namun, akibat program pangan massal tersebut, terjadilah homogenisasi pangan, yakni penyeragaman selera dan konsumsi makanan secara nasional tanpa melihat potensi lokal yang sudah ada. Dengan kata lain, program tersebut tidak beradaptasi dengan konteks dan keunikan pangan daerah setempat.

Tema ini menjadi relevan karena era Antroposen tidak hanya menandai meningkatnya dominasi manusia terhadap alam, tetapi juga memperlihatkan bagaimana modernitas melahirkan berbagai bentuk penyeragaman dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pola konsumsi pangan. Dalam konteks ini, makanan menjadi semakin diarahkan oleh logika pasar, kebijakan nasional, dan sistem produksi massal, melainkan tidak lagi sekadar dipilih berdasarkan kedekatan ekologis atau diversitas tradisi budaya setempat. Akibatnya, semakin banyak praktik pangan lokal yang perlahan tersingkir karena ruang hidupnya semakin menyempit.

Pilihan tema ini lahir dari kegelisahan yang sangat konkret, bagaimana program-program pangan massal sering kali berbicara atas nama ketahanan pangan, namun justru mengabaikan keberagaman budaya pangan di tiap daerah. Secara antropologis, fenomena ini dapat dibaca sebagai bentuk hegemoni pangan, sebuah kondisi ketika satu sistem nilai dianggap dominan lalu diterima sebagai sesuatu yang normal dan universal. Dalam konteks pangan Indonesia, beras telah lama ditempatkan sebagai simbol makanan utama, bahkan sebagai tolak ukur “makan yang sesungguhnya.” Padahal, bagi banyak komunitas lokal, konsep tersebut tidak selalu relevan. Ada masyarakat yang secara turun-temurun hidup dengan sagu, jagung, singkong, atau umbi-umbian sebagai pusat budaya makannya.

Masalahnya bukan pada keberadaan beras itu sendiri, melainkan pada proses penyeragaman selera. Ketika satu jenis pangan terus dipromosikan melalui kebijakan, pendidikan, bantuan negara, hingga budaya populer, masyarakat perlahan diarahkan untuk menginternalisasi gagasan bahwa pangan tersebut adalah pilihan yang paling benar. Dalam proses itulah pangan lokal mulai dipandang sebagai alternatif sekunder, bahkan kadang dianggap sebagai simbol keterbelakangan.

Di sinilah relevansi konsep Antroposen menjadi semakin tajam. Jika selama ini Antroposen banyak dibahas sebagai krisis ekologis akibat eksploitasi manusia terhadap alam, BISIK Vol.7 mengajak audiens melihat dimensi lain bahwa krisis tersebut juga menyentuh aspek budaya. Ketika relasi manusia dengan alam berubah menjadi relasi dominasi, pengetahuan lokal yang sebelumnya lahir dari kedekatan ekologis ikut terancam. Tradisi memilih  pangan berdasarkan musim, tanah, dan potensi wilayah perlahan digantikan oleh logika efisiensi dan standardisasi.

Padahal, dalam banyak masyarakat tradisional, pangan terikat dengan ritual, memori kolektif, bahkan cara sebuah komunitas memahami dirinya sendiri. Sagu bagi masyarakat Papua, misalnya, merupakan bagian dari sejarah hidup dan relasi mereka dengan tanah. Begitu pula rasi bagi masyarakat tertentu yang bukan sekadar pengganti nasi, melainkan simbol adaptasi ekologis terhadap lingkungan setempat. Ketika pangan-pangan ini tersingkir, yang hilang bukan hanya variasi menu atau diversifikasi pangan, melainkan juga sebagian dari identitas budaya.

Diskusi dalam BISIK Vol.7 pada akhirnya mengingatkan bahwa ancaman terhadap pangan lokal sering kali datang secara halus, pun tidak selalu hadir dalam bentuk larangan atau penghancuran langsung, melainkan melalui mekanisme normalisasi yang membuat masyarakat perlahan menerima satu standar tunggal sebagai sesuatu yang wajar. Inilah bentuk hegemoni yang paling efektif, ketika dominasi tidak terasa sebagai paksaan, melainkan diterima sebagai kebutuhan.

Lebih jauh lagi, kekuatan BISIK Vol.7 tidak berhenti pada tataran konseptual. Forum ini juga memperlihatkan bagaimana isu pangan dapat membuka kesadaran baru di kalangan peserta. Hal ini terlihat dari respons audiens yang hadir, salah satunya adalah mahasiswa Sastra Sunda Universitas Padjadjaran, Clara Amora Perliana dan Iqbal Luqmansyah. Bagi mereka diskusi mengenai pangan dalam perspektif antropologi menghadirkan sudut pandang yang tidak biasa. Melalui forum ini, peserta tidak hanya diajak untuk memahami konsep Antroposen secara teoritis, tetapi juga diajak merefleksikan ulang praktik keseharian yang tampak sederhana seperti apa yang kita makan, dari mana makanan itu berasal, dan siapa yang menentukan pilihan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan itu penting, sebab di balik sepiring makanan selalu ada relasi kuasa yang bekerja.

Clara mengungkapkan bahwa tema pangan yang diangkat dalam forum ini terasa menarik karena memperluas pemahaman bahwa budaya tidak hanya bicara soal tradisi atau ritual, tetapi  juga dapat dibaca melalui praktik keseharian seperti makanan. “Interesting banget, karena aku jadi tahu kalau budaya itu bukan cuma tentang tradisi atau bagaimana budaya itu terjadi, tapi juga bisa dilihat dari makanan. Aku jadi sadar ternyata makanan itu banyak dipengaruhi oleh hal-hal lain, terutama budaya. Bahkan tadi baru tahu kalau singkong itu ternyata asalnya dari Amerika Selatan,” ungkap Clara. Menurutnya, sesuatu yang selama ini tampak sederhana ternyata memiliki lapisan makna yang kompleks.

Pandangan serupa juga disampaikan Iqbal, yang menilai diskusi ini membuka pemahaman baru bahwa makanan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan budaya. Salah satu hal yang paling menarik baginya adalah temuan bahwa singkong yang selama ini dianggap dekat dengan identitas pangan lokal Indonesia ternyata berasal dari Amerika Selatan. Fakta ini menunjukkan bahwa perjalanan pangan selalu melibatkan mobilitas budaya, pertukaran pengetahuan, dan proses adaptasi lintas wilayah.

Dalam antropologi, kesadaran semacam ini penting karena memperlihatkan bahwa makanan adalah entitas yang “bergerak”, tidak statis dan terus berubah mengikuti migrasi manusia, kolonialisme, perdagangan global hingga modernisasi. Iqbal bahkan mencontohkan bagaimana makanan tradisional seperti cimol kini hadir dalam bentuk baru seperti cimol mozzarella, sebuah bentuk transformasi budaya yang menunjukkan bahwa pangan selalu dinegosiasikan ulang sesuai konteks zamannya.

“Dan sepepamahan aku tuh yang kayak tadi makanan itu banyak juga pengaruhnya dari hal lain, kayak makanan tuh ternyata bergerak gitu, misalnya kayak sekarang ada beberapa makanan yang dimodernisasi, misalnya yang asalnya cuma cimol, sekarang ada cimol mozzarella gitu, karena datangnya mungkin dari modernisasi,” tutur Iqbal dalam wawancara pascaacara.

Respons audiens tersebut memperlihatkan bahwa BISIK Vol.7 tidak hanya berhasil menghadirkan keresahan atas ancaman homogenisasi pangan, tetapi juga mendorong peserta untuk melihat makanan sebagai arena penting dalam memahami perubahan budaya. Dengan kata lain, forum ini mengajak peserta bertanya lebih kritis dan jauh, bagaimana makanan membentuk cara kita memandang dunia, dan bagaimana dunia turut membentuk makanan itu sendiri.

Harapan serupa juga muncul dari para audiens yang hadir. Muhammad Reihan Nur Rohman dan Ben Tratamita Kusuma, mahasiswa Antropologi Budaya dari ISBI Bandung, menilai bahwa BISIK Vol. 7 bukan hanya menghadirkan diskusi yang relevan, tetapi juga mampu membuka wawasan baru mengenai isu hegemonisasi pangan dan gastronomi. Bagi mereka, forum seperti ini penting karena menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya formal, tetapi juga dialogis dan dekat dengan realitas keseharian.

Keduanya berharap agar BISIK di masa mendatang dapat berkembang menjadi forum yang lebih luas, tidak hanya menjangkau mahasiswa, tetapi juga masyarakat umum, sehingga diskusi antropologi tidak berhenti di ruang akademik, melainkan mampu menjadi medium berbagi pengetahuan dan membangun kesadaran publik yang lebih luas.

Sebagai ruang diskusi antropologi, BISIK Vol. 7 menunjukkan bahwa persoalan pangan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan teknokratis. Ketahanan pangan memang penting, tetapi tanpa keberpihakan pada keberagaman lokal, kebijakan pangan justru berpotensi menciptakan bentuk baru dari kolonialisasi budaya. Dalam konteks itu, mempertahankan pangan lokal bukan sekadar soal nostalgia terhadap tradisi, melainkan tindakan politik dan kultural untuk menjaga keberagaman pengetahuan, identitas, dan kedaulatan masyarakat atas ruang hidupnya sendiri.

Dengan demikian, BISIK Vol.7 berhasil menghadirkan ruang refleksi kritis tentang bagaimana pangan harus dipahami melampaui fungsi biologisnya. Pangan, bagian dari ingatan kolektif, identitas budaya, serta pengetahuan ekologis yang diwariskan antargenerasi. Karenanya, melindungi pangan lokal sejatinya berarti melindungi kebudayaan itu sendiri, menjaga relasi manusia dengan lingkungan, mempertahankan keberagaman cara hidup, serta merawat warisan pengetahuan yang selama ini hidup dalam praktik keseharian masyarakat. Di tengah dunia yang semakin terdorong menuju penyeragaman, keberagaman pangan menjadi lebih dari sekadar pilihan konsumsi, keberagaman pangan hadir sebagai bentuk resistensi kultural, upaya mempertahankan kedaulatan komunitas atas ruang hidupnya, dan mungkin, salah satu cara paling sederhana namun mendasar untuk menjaga kemanusiaan tetap utuh.

Penulis: Firza Naylufar A.

Dokumentasi: Dewi Rosaria Indah

Penyunting: Rizki Bassica A.