BUDAYA KONSUMTIF DAN MELAMBUNGNYA HARGA PRODUK DI INDONESIA

Kian hari, kebutuhan manusia semakin melejit. Hal tersebut membuat sebuah produk menjadi komoditas yang dibuat bukan untuk sekadar dikonsumsi, melainkan dijual.

Di Indonesia, produk yang dibanderol oleh produsen memiliki tendensi yang lebih mahal daripada produk yang sama yang dijual di negara tetangga. Alasannya begitu sederhana sekali: produk-produk yang dirasa mahal, meski demikian, akan tetap terjual di Indonesia. Walau sebenarnya jika dibaca lebih teliti lagi, ini pun merupakan sebuah representasi dari tatanan pemerintah yang tidak melakukan tindakan dialogis untuk mencegah hal ini terjadi. Tetapi kali ini kita akan lebih memfokuskan pada budaya konsumtif yang semakin meningkat di Indonesia.

Dalam demarkasi ini, kita dapat membaca adanya indikator yang menjadikan para produsen melakukan diskriminasi harga. Semua ini adalah implikasi dari sikap konsumtif masyarakat yang tidak lagi sanggup membedakan antara kebutuhan dan keinginan, mana yang primer dan mana yang sekunder, mana yang merupakan prioritas dan mana yang hadir sebagai penunjang.

Jika membaca dalam perspektif kelas masyarakat. Tentu, sikap konsumtif pada masyarakat kelas atas merupakan suatu hal yang lumrah. Namun, saat ini, budaya konsumtif juga masuk ke kelompok masyarakat pekerja kelas sosial bawah yang bahkan masih cenderung kesulitan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Ini adalah salah satu faktor mengapa di Indonesia harga sebuah produk dapat melambung tinggi dan bersifat abnormal ketimbang di negara-negara lainnya. Sebagai contoh, saya akan mendeskripsikan secara singkat budaya konsumtif yang kentara sekali di Indonesia, sebagai berikut: Seorang pekerja dengan gaji 2 juta membeli, katakanlah, sebuah handphone merek terbaru seharga 6 juta dan mengajukan kredit sebagai upaya pemenuhannya.

Ini adalah sebuah problematisasi yang muncul dalam konstruksi masyarakat kita. Tanpa disadari, itu jelas memiliki dampak signifikan pada hal yang tengah kita bahas saat ini. Peristiwa di atas tersebut yang pada gilirannya nanti menjadikan kemiskinan yang justru begitu tampak dan bergumul. Dalam sistem ekonomi negara yang berfokus pada kapitalisme, hal-hal ini memang menjadi fenomena yang sulit untuk dihindari. Apalagi di tengah-tengah kehidupan metropolitan yang begitu deras dengan arus  yang mengalir, di satu sisi, terdapat kaum urban yang justru sulit mengais rezeki.

Namun, kendati persoalan ini bersifat kompleks dan cukup krusial karena bersinggungan langsung dengan kelas masyarakat, bukan berarti tidak ada cara atau solusi yang dapat dilakukan sebagai bentuk mitigasi. Budaya konsumtif dapat tereduksi dengan pemahaman yang lebih jauh soal kapitalisme. Maka mestilah ada sebuah upaya untuk mendesiminasikannya. Pemahaman yang lebih mapan soal kapitalisme semestinya akan membawa kita pada sikap kritis yang secara perlahan bisa dimunculkan. Sehingga pemenuhan kebutuhan bukan menjadi ajang kontestasi, tapi memang didasari oleh hal-hal primer dan menjadi pusat prioritas.

Penulis: Ariel Valeryan

Illustrator: Dewi Rosaria Indah

Penyunting: Rizki Bassica A