Bandung, 19 Juni 2026. Pelaksanaan screening film “Perfecting A Flaw Until Nothing Remains” di CGV Mall Kings, Bandung, sukses digelar sebagai tugas akhir mahasiswa program studi Televisi dan Film ISBI Bandung.
Film ini mengangkat kisah mengenai Samuel, seorang arsitek muda yang berusaha mendapatkan pekerjaan pertama di dunia kerja yang sepenuhnya dikendalikan oleh sistem wawancara berbasis kecerdasan buatan. Serangkaian wawancara berikutnya berubah menjadi montase kegagalan yang absurd, meskipun Samuel terus mencoba menyesuaikan diri, sistem selalu menemukan alasan baru yang sepele. Hingga akhirnya Samuel bertemu seorang perempuan yang menyadarkannya kembali mengenai apa arti dirinya, minat, dan juga masa depan.

Poster Perfecting a Flaw Until Nothing Remains (Foto: Instagram/@perfectingaflaw.film)
Salah satu keunikan film ini adalah tidak menggunakan live action sepenuhnya, film ini juga memasukkan beberapa adegan dengan animasi ilustratif yang digunakan untuk memvisualisasikan masa kecil Samuel. Perpaduan antara live action dan animasi ini memberikan pengalaman menonton yang lebih dinamis sekaligus mempertegas kritik film terhadap hubungan manusia dengan teknologi.
Selain itu, film ini juga menjadi syarat kelulusan dari 4 mahasiswa prodi Televisi dan Film, yaitu hanif sebagai Sutradara, Sabila sebagai produser, Rama sebagai editor, dan Kevin sebagai director. Film “Perfecting a Flaw Until Nothing Remains” mulai digarap sejak November 2025 dan menjalani proses syuting selama tiga bulan sejak April 2026.

Pemutaran film perdana “Perfecting A Flaw Until Nothing Remains”
(Foto: Widya Azahra/LPM Daunjati)
Sutradara film, Hanif, menjelaskan bahwa cerita tersebut lahir dari kesedihannya terhadap perkembangan AI yang semakin memengaruhi kehidupan manusia, termasuk dalam proses rekrutmen kerja dan pengambilan keputusan. Menurutnya, manusia sering kali merasa harus terus menyesuaikan diri dengan standar yang ditentukan oleh algoritma hingga tak disadari kehilangan jati diri.
“Semakin kita berusaha menjadi sempurna sesuai standar algoritma, semakin besar kemungkinan kita kehilangan identitas sebagai manusia. Film ini mengajak penonton untuk kembali mempertanyakan apakah kesempurnaan benar-benar harus ditentukan oleh mesin,” ujar Hanif.
Pelaksanaan screening dihadiri oleh dosen, mahasiswa, keluarga kru, serta masyarakat umum. Melalui film “Perfecting A Flaw Until Nothing Remains”, para pembuat film berharap karya ini tidak hanya menjadi pemenuhan tugas akademik, tetapi juga mampu membuka ruang diskusi mengenai hubungan manusia dengan teknologi. Mereka berharap penonton dapat lebih bijak memanfaatkan AI sebagai alat yang membantu kehidupan, tanpa menjadikannya sebagai penentu nilai dan identitas manusia.
Penulis: Widya Azahra
Penyunting: Roshifa Lailani
Dokumentasi: Widya Azahra
PINTU TERTUTUP: “KAMU SUKA DIPUJI? SELAMAT, KAMU TELAH BUNUH DIRI!”
Neraka tak selalu berupa tempat yang penuh dengan api yang membara, terkadang neraka justru tercipta…
JACK ATAU PERKAWINAN HIDUNG TIGA: PERTUNJUKAN DALAM BENTUK SATIR.
Ketika pertemuan keluarga Jack dan Roberta. Sunan Ambu ISBI Bandung. Selasa, 21 Juli 2026. (Foto:…
TENGUL: KETIKA KEMISKINAN DIPENTASKAN MENJADI ESTETIKA YANG MENGGUGAH
Kemiskinan tidak selalu dipentaskan sebagai sesuatu yang muram. Melalui pertunjukan teater Tengul di Gedung Sunan…
FESTIVAL PERTUNJUKAN PSEUDO ENTERTAINMENT: KETIKA SENIMAN MENJADI AUDIENS
Hallway Pasar Kosambi, Bandung, menjadi ruang berlangsungnya Festival Pertunjukan Pseudo Entertainment pada 8–12 Juli 2026….
KETIKA EMPATI DIGANTIKAN ALGORITMA: PERFECTING A FLAW UNTIL NOTHING REMAINS
Bandung, 19 Juni 2026. Pelaksanaan screening film “Perfecting A Flaw Until Nothing Remains” di CGV Mall Kings, Bandung, sukses digelar sebagai tugas akhir mahasiswa program studi Televisi dan Film ISBI Bandung. Film ini mengangkat kisah mengenai Samuel,…
MASA TRANSISI KELEMBAGAAN: BAGAIMANA RODA ORGANISASI ISBI BERJALAN TANPA BEM?
Akar Masalah Kekosongan Eksekutif: Meninjau Tantangan SDM dan Komitmen Bersama Ormawa Kampus Saat ini, roda…


