
Ketika pertemuan keluarga Jack dan Roberta. Sunan Ambu ISBI Bandung. Selasa, 21 Juli 2026. (Foto: Marcelino Evan Cheung/LPM Daunjati).
Pemberontakan seorang pemuda terhadap tuntutan sosial menjadi tema utama dalam pementasan Jack atau Perkawinan Hidung Tiga. Melalui teater yang dilaksanakan di Sunan Ambu pada Selasa (21/07/2026), di perlihatkannya kritik tajam terhadap tuntutan sosial yang mengorbankan jati diri demi memenuhi harapan orang lain. Teater ini dikemas melalui humor satir, dialog yang unik, dan peristiwa-peristiwa yang semakin absurd. Teater ini adalah salah satu hasil karya tulis dari Eugene Ionesco, yang mengangkat tema tekanan keluarga, konformitas sosial, dan hilangnya kebebasan individu. Naskah ini pun diterjemahkan oleh Asrul Sani, yang berhasil mempertahankan humor absurd dan kritik sosial khas Ionesco dalam bentuk Bahasa Indonesia.
Pertunjukan Jack atau Perkawinan Hidung Tiga menampilkan sebuah pemberontakan Jack yang tak ingin menikah melalui perjodohan yang dilakukan oleh keluarganya, dan berakhir ia memberikan berbagai syarat untuk calon istrinya yang akan dinikahi nanti, di mana semua syarat tersebut sangat tak masuk akal. Meskipun dibujuk dan dipaksa oleh keluarganya, Jack tetap menolak perjodohan tersebut. Ia lalu mengajukan syarat yang mustahil dipenuhi ketika dipaksa oleh sang kakak untuk bertemu sang calon istri dan keluarganya. Sang calon istri sesuai dengan persyaratan yang diinginkan oleh Jack, tetapi karena keras kepalanya akan pemberontakan tersebut, ia meminta bahwa calonnya harus berhidung tiga, bukan dua. Persyaratan berhidung tiga bukan dimaksudkan untuk menciptakan standar kecantikan baru, melainkan bentuk perlawanan Jack terhadap sistem perjodohan. Ia sengaja mengajukan syarat yang dianggap mustahil agar pernikahan tidak pernah terjadi. Namun, keluarga tetap berusaha memenuhi seluruh permintaannya sehingga memperlihatkan bagaimana sistem terus memaksa individu untuk tunduk. Orang tua Roberta tak tinggal diam. Mereka melakukan berbagai cara agar sang anak dapat menikah dan diterima oleh Jack, dengan menambahkan hidung ketiga pada Roberta.
Setelahnya, Jack dan Roberta dipertemukan kembali dengan Roberta yang kini memiliki hidung tiga. Jack sangat terkejut bahwa di hadapannya ini sesuai dengan semua syarat yang diajukan kepada keluarganya, tetapi Jack tetap menolaknya. Karena sudah merasa muak terus-menerus mengikuti semua keinginan Jack, akhirnya kedua keluarga meninggalkan mereka sendiri, walau mereka tetap mengintip di jendela-jendela untuk mengetahui apa saja yang akan mereka lakukan. Tak disangka, dengan segala keunikan yang dimiliki Roberta, akhirnya Jack menerima Roberta tanpa melihat syarat.

Ketika kedua keluarga mengintip apa yang akan di lakukan Jack dan Roberta di tinggalkan berdua. Sunan Ambu ISBI Bandung. Selasa, 21 Juli 2026. (Foto: Maida Kyla Agnianti/LPM Daunjati).
Pertunjukan ini memperlihatkan bahwa sekuat apapun pemberontakan akan tetap tunduk terhadap peraturan keluarganya. Seperti yang di alami oleh Jack, dari banyaknya cara agar perkawinannya batal, tetapi dengan segala hal yang di lakukan keluarganya terus di lakukan agar Jack menikah, akhirnya Jack menerima Roberta tanpa mengingat kembali pemberontakannya.
Tidak hanya melalui dialog dan alur cerita, kritik sosial dalam pertunjukan juga diperkuat melalui penataan artistik. Penata artistik menjelaskan bahwa panggung sengaja dibuat miring dan tampak rusak untuk menggambarkan kondisi psikologis Jack yang semakin tidak stabil akibat tekanan keluarga. Bagian atas panggung yang dibiarkan kosong dan tampak lapuk menjadi simbol kehancuran batin serta kekosongan yang dirasakan tokoh utama.
Karakter Jack mengenakan kostum bergaya punk dengan tubuh dipenuhi tato sebagai simbol perlawanan terhadap sistem dan aturan keluarga. Sementara itu, keluarga Jack didominasi warna-warna gelap untuk memperlihatkan suasana muram dan penuh tekanan. Berbeda dengan keluarga Roberta yang tampil lebih berwarna dan eksentrik sehingga menghadirkan kontras visual di atas panggung.

Perbedaaan warna Ayah dan Ibu Roberta dengan keluarganya Jack. Sunan Ambu ISBI Bandung. Selasa, 21 Juli 2026. (Foto: Maida Kyla Agnianti/LPM Daunjati).
Menurut Muhammad Farhan Alfauzan yang memerankan karakter Jack, pertunjukan ini mengangkat kritik mengenai kebebasan manusia dalam menentukan pilihan hidup. Meskipun pada akhirnya Jack menyerah dan mengikuti kehendak keluarga, akhir cerita justru menjadi sindiran bahwa tekanan sosial dan budaya mampu mengalahkan kebebasan individu. Melalui absurditas, humor satir, serta simbol-simbol visual di atas panggung, pertunjukan mengajak penonton mempertanyakan kembali batas antara pilihan pribadi dan tuntutan masyarakat.
Penulis: Maida Kyla A, Bevira Salma P
Dokumentasi: Maida Kyla A, Marcelino Evan C
Peyunting: Roshifa Lailani
PINTU TERTUTUP: “KAMU SUKA DIPUJI? SELAMAT, KAMU TELAH BUNUH DIRI!”
Neraka tak selalu berupa tempat yang penuh dengan api yang membara, terkadang neraka justru tercipta…
JACK ATAU PERKAWINAN HIDUNG TIGA: PERTUNJUKAN DALAM BENTUK SATIR.
Ketika pertemuan keluarga Jack dan Roberta. Sunan Ambu ISBI Bandung. Selasa, 21 Juli 2026. (Foto:…
TENGUL: KETIKA KEMISKINAN DIPENTASKAN MENJADI ESTETIKA YANG MENGGUGAH
Kemiskinan tidak selalu dipentaskan sebagai sesuatu yang muram. Melalui pertunjukan teater Tengul di Gedung Sunan…
FESTIVAL PERTUNJUKAN PSEUDO ENTERTAINMENT: KETIKA SENIMAN MENJADI AUDIENS
Hallway Pasar Kosambi, Bandung, menjadi ruang berlangsungnya Festival Pertunjukan Pseudo Entertainment pada 8–12 Juli 2026….
KETIKA EMPATI DIGANTIKAN ALGORITMA: PERFECTING A FLAW UNTIL NOTHING REMAINS
Bandung, 19 Juni 2026. Pelaksanaan screening film “Perfecting A Flaw Until Nothing Remains” di CGV Mall Kings, Bandung, sukses digelar sebagai tugas akhir mahasiswa program studi Televisi dan Film ISBI Bandung. Film ini mengangkat kisah mengenai Samuel,…
MASA TRANSISI KELEMBAGAAN: BAGAIMANA RODA ORGANISASI ISBI BERJALAN TANPA BEM?
Akar Masalah Kekosongan Eksekutif: Meninjau Tantangan SDM dan Komitmen Bersama Ormawa Kampus Saat ini, roda…

