MENGARUNGI LOKAKARYA RESIDENSI “SIASAT AIR : SURGA YANG TAK DIRINDUKAN”

Berangkat dari Hulu Budaya Masyarakat Yang Terlupakan

Air merupakan zat paling dominan di planet ini. Kehadirannya dalam kehidupan sesungguhnya memiliki sifat paradoksal karena dapat membawa berkah maupun musibah bagi siapa pun yang berhadapan dengannya. Salah satu sumber aliran air di daerah Jawa Barat sendiri yaitu sungai bernama Citarum. Ia berhulu di Gunung Wayang dan bermuara di Muara Gembong dengan melewati 13 wilayah lain sehingga menjadikannya sebagai sungai paling panjang di provinsi ini. Nama “Citarum” sendiri diambil dari pohon tarum yang dahulu digunakan sebagai pewarna alami biru pada kain. Tentu hal tersebut sangat kontras dengan keadaannya kini yang keruh dan dipenuhi limbah.

Kain lurik dengan pewarna eceng gondok oleh Agung Eko Sutrisno (Foto: M.Haikal.A.A/14/5/2026)

Keadaan sosial tersebut dieksplorasi dalam kolaborasi dari dua pengkarya, yaitu Agung Eko Sutrisno dan Arif Furqan, bersama kurator Doni Ahmad. Mereka mencoba merangkai cerita-cerita yang tersisa melalui berbagai bentuk arsip dari proyek residensi yang mereka lakukan di daerah aliran Sungai Citarum, yaitu Curug Jompong dan Desa Jelegong.

Bendung Tantangan di Lapangan

Arif Furqan melakukan penelusuran di Desa Jelegong, yang kini lebih dikenal sebagai sentra industri batu bata merah dan tekstil.  Dari arsip yang tersimpan dalam laci lemari di gedung bekas balai desa, ia menemukan jejak kesenian “Bangbarongan”  yang berkembang sekitar tahun 1970-1980-an  yang diprakarsai oleh kelompok Lingkung Seni Jelegong. Salah satu sosok di sana yaitu seorang pria bernama Sugandi. Beliau lahir ketika Jelegong belum mengalami transformasi industrialisasi, di mana ia turut andil dalam berbagai proses berkesenian mulai dari menari hingga membuat properti.

Kostum Bangbarongan Munding Dongkol  Rancangan Sugandi yang diarsipkan oleh Arif Furqan (Foto: M.Haikal.A.A/14/5/2026)

Dalam perjalanan berkesenian tersebut, ia juga secara tidak langsung belajar dari Hendra Gunawan (Pelukis), Tubagus Chutbani BA, dan Unu Pandi (pematung). Ia juga kerap membantu mereka dalam proses berkarya. Sayangnya, Sugandi meninggal di tengah Orde Baru sebelum dapat mementaskan koreografi Bangbarongan yang telah dirancang olehnya. Adapun arsip yang ditunjukkan dalam lokakarya residensi ini yaitu berupa seperangkat pakaian kostum Bangbarongan, gambar koreografi dan rancangan sketsa. Sosok Bangbarongan di Desa Jelegong sendiri memiliki wujud Munding Dongkol—kerbau bertubuh pendek—dengan muka kemerahan, gigi bergerigi tajam dengan lidah menjulur panjang, serta rambut gimbal hitam menutupi sekujur badan. Sosok tersebut dipercaya sebagai penanda datangnya bencana, dan untuk menolak bala, warga disarankan melemparkan bunga atau dedaunan ketika hujan deras tiba

Arsip sketsa

koreografi Bangbarongan Munding Dongkol oleh Sugandi  yang dikumpulkan oleh Arif Furqan (1) (Foto: M.Haikal.A.A/14/5/2026)

Berbeda dengan Arif Furqan, Agung Eko Sutrisno memiliki memori tersendiri mengenai sungai. Ia menghabiskan banyak masa kecilnya di kawasan Sungai Brantas, Malang, Jawa Timur. Ketika mengunjungi daerah aliran Sungai Citarum, tepatnya Curug Jompong, ia mengamati bahwa hubungan keseharian warga dengan sungai di luar tujuan pariwisata nampaknya telah terputus, jauh berbeda dengan memori masa kecilnya di mana warga sangat bergantung pada sungai sebagai penunjang kehidupan.

Spesimen garmen dan kertas daur ulang oleh Agung Eko Sutrisno (Foto: M.Haikal.A.A/14/5/2026)

Agung Eko Sutrisno mencoba untuk menangkap momen tersebut  menggunakan cyanotype, yaitu teknik cetak fotografi yang memanfaatkan sinar matahari. Teknik ini diciptakan oleh Sir John Herschel pada 1842, lalu dipopulerkan dalam bentuk fotografi komersial oleh Anna Atkins. Namun, alih-alih menggunakan bahan kimia, Agung memanfaatkan material dari tanaman eceng gondok kering dan limbah plastik yang kemudian diubah menjadi sebuah kain lurik dan rancangan busana.

Spesimen kertas eceng gondok dan cetakan limbah di sekitar Curug Lompong dengan teknik cyanotype oleh Agung Eko Sutrisno (Foto: Meyflin R /10/5/2026)

Kombinasi dari kedua hal di atas terwujud dalam film pendek berjudul “The Dance We Refused to Forget”  yang diperankan oleh aktor bernama Tutun (Gilang Mustofa), di mana ia mereka ulang rutinitas kegiatan seni Bangbarongan Munding Dongkol sembari mengarungi aliran sungai hingga akhirnya merendamkan diri di  Curug Jompong. Hal ini juga bertujuan untuk mewujudkan rancangan koreografi dari Sugandi yang sebelumnya belum dapat dipentaskan.

Hilir Balik Gagasan

Secara keseluruhan, proyek residensi dan lokakarya ini menyoroti bagaimana perubahan pasca-industri mempengaruhi Desa Jelegong, dari budaya pertanian padi menuju industri batu bata dan tekstil. Peralihan ini mengubah rutinitas warga secara sporadis. Bukti-bukti dari sisa kehidupan pertanian kini hanya tersisa lewat arsip kostum dan sketsa dari kesenian Bangbarongan Munding Dongkol dengan segala mitos yang menyertainya.

Arsip sketsa koreografi Bangbarongan Munding Dongkol oleh Sugandi yang dikumpulkan oleh Arif Furqan (2) (Foto: M.Haikal.A.A/14/5/2026)

Terdapat ironi bahwa makhluk siluman Munding Dongkol dalam mitos masyarakat Desa Jelegong lebih mampu menghargai keadaan alam daripada sebagian manusia kontemporer yang semakin acuh terhadap keadaan sekitar karena tuntutan dalam melakukan pekerjaan industri. Sehingga dapat dikatakan bahwa mitos tersebut hadir sebagai kritik atas ekologi. Dalam diskusi publik yang menyertai pameran, Agung Eko Sustrisno menegaskan bahwa mereka tidak ingin meromantisasi bencana lingkungan yang tengah terjadi.

Penulis: M.Haikal.A.A

Dokumentasi: M.Haikal.A.A

Penyunting: Rizki Bassica A.