
Naskah Patung Raja Patung. (Foto: Ariel Valeryan/LPM Daunjati)
Awal Sebuah Kisah
Patung Raja Patung, naskah yang ditulis oleh Aan Sugianto Mas, seniman asal Kuningan, Jawa Barat. Naskah yang juga sempat dipentaskan oleh Teater Sado. Sebuah komunitas seni yang didirikan langsung oleh tangan dan daya juang beliau. Naskah ini secara general berbicara soal seorang Raja Raksasa buruk rupa yang ingin dibuatkan patung oleh seorang Mpu. Dalam imaji raja, patung yang mirip dengannya adalah representasi dari kejayaan kerajaannya. Wajah tampan, gagah, dan perkasa. Namun, justru semua berbanding terbalik. Sejujurnya, secara fisik ia begitu buruk.
Hanya saja selama ini ia hidup dalam sirkulasi kepalsuan, karena orang-orang takut berkata jujur tentang kondisinya. Sementara sang Mpu berbeda, ia berani jujur dengan patung yang ia buat untuk merepresentasikan sosok Raja. Walau ia menggadaikan idealismenya karena memahat patung pesanan, bukan berangkat pada kepekaan indrawi dan visi estetiknya. Namun represifitas Raja dan sifat intimidatif Raja, memaksa ia melakukan hal tersebut. Hal ini ditegaskan dalam salah satu dialog Mpu Niroga sang seniman pembuat Patung:
Dialog:
| MPU NIROGA | : Ya ampun gusti…..(MELIHAT KE SELURUH JARI TANGANNYA) Tangan ini sangat sulit diajak kompromi. Mogok kerja! (LANTAS NGAJAK BICARA PADA TANGAN) Hei tangan! Kamu seharusnya paham. Bahwa aku pun tidak senang denganpekerjaan ini. Membuat patung manusia berkepala besar, bertaring, dan bermata liar. Tapi aku harus mengerjakannya. |
Raja meminta sang Seniman untuk berlaku sejujurnya, sehingga membuat patungnya dengan begitu mirip. Raja tersentak. Mengapa patungnya begitu buruk rupanya. Seniman telah berlaku jujur, tapi Raja punya keinginan lain. Ia ingin patungnya dibuat tetap tampan, sekali pun berbanding terbalik dengan kenyataan. Karena dengan watak kepimpinannya yang otoriter dan suka “menendang” lagi “memukul” semua pendapat khalayak bisa disamaratakan. Ia tidak sepakat tentang kondisi wajahnya dalam patung yang Mpu Niroga buat. Itu begitu buruk, walau memang aslinya begitu. Akan tetapi raksasa yang selama ini hidup dalam lingkungan yang palsu, yang bermusabab dari kerasnya ia selama memimpin.
Dialog:
| MPU NIROGA | : Masa sih? Kata abdi-abdiku wajahku ganteng. Kata seluruh rakyatku wajahku ganteng. Kata istriku wajahku ganteng. Kok kata kamu…… (MELIHAT LAGI WAJAH PATUNG DARI DEKAT) Ini…Jelek ini…. Mataya terlalu melotot! Kurang sendu. Tidak menggambarkan kebijakan. Hidungnya terlalu amblas! Kurang mancung. Tidak menjelaskan kewibawaan. Mulutnya terlalu lebar, terlalu rakus! Tidak melukiskan kearifan dan kesederhanaan. Terus (MELIHAT PATUNG DARI DEKAT) Ini..Ini..apa? Kok ada taringnya. Taringkan alat penghisap darah. Warnanya kuning lagi. Sembarangan. Gigiku kan rapi dan selalu gosok gigi tiap pagi. |
Seniman (Mpu Niroga) telah membuat patung semirip mungkin, namun itu membuat sang Raksasa Marah. Akan tetapi, siapa sangka sang patung dapat bicara. Ia kesal dengan sifat raja yang merupakan cerminannya. Sang raja raksasa yang begitu keras akhirnya merusak konstruksi patung. Patung dan Raksasa bertengkar, dan dikutuklah Raja Raksasa itu menjadi patung yang serupa dengan patung itu sendiri. Maka cerita ini adalah perihal patung dan patung. Sebuah alegoris dari representasi kepemimpinan yang otoriter. Dalam naskah ini ada 4 tokoh yang menghidupkannya, yaitu: Mpu Niroga, Nenek, Raksasa, dan Patung. Walau dalam beberapa dialog ada pula yang dituturkan oleh Pemusik.
Seniman dan Kejujuran, Raja dan Keinginan
Dialog:
| MPU NIROGA | : Tadinya aku menolak. Aku tidak biasa membuat patung pesanan orang, kataku. Aku lebih suka membuat patung semau-maunya aku saja, kataku. Tapi raja itu marah. Kamu ini seniman apa hah!, katanya. Seniman harus menjelaskan keadaan, katanya. Kerajaan ini makmur, apa kamu tidak tahu, katanya. |
Konflik dalam naskah ini merupakan sebuah refleksi tentang bagaimana seniman, dalam ruang lingkup sosial, hadir sebagai proyeksi dari realitas yang ada. Seniman barangkali mampu dimasukkan ke dalam saku. Namun, gagasan akan kejujuran dan sifat dari karya seni yang lahir dari konsesi sosial tetap mesti dipertahankan. Masalahnya bukan terletak pada seniman yang dilembagakan, namun gagasannya juga yang dipaksa diseragamkan. Sang Mpu, menolak dengan elegan, memberikan sebuah pertanyaan kontradiktif yang justru pernah terlontar dari mulut sang Raja. Bahwa seniman mestilah jujur.
Ini menjadi sebuah simbolisasi yang menarik. Ketika seorang seniman hidup dalam belenggu represifitas dan otoriterianisme sebuah pemimpin, kesenian dan karyanya justru adalah jalan untuk tetap merdeka.
Raja Raksasa dalam naskah ini, saya anggap sebagai simbol yang dicanangkan oleh Aan Sugianto Mas. Seorang raksa yang besar, dalam konvensi budaya timur selalu dipandang sebagai hal yang menakutkan, kejam, dan nirempati. Pun begitu, dalam naskah ini, Raja Raksasa begitu sadis. Ia menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan pemenuhan keinginan. Dengan menindas, merajah hak manusia, dan “menendang” atau “memukul” sekali pun.
Keinginan untuk dibuatkan patung dengan kondisi fisikal dan falsafah yang berbanding terbalik dengan tindak-tanduknya adalah sebuah kontradiksi yang mencuat. Secara tidak langsung, ini adalah upaya Aan Sugianto Mas, memperlihatkan bahwa ketika seorang pemimpin dan negeri menoleransi kekerasan, maka ia akan tetap berlaku demikian untuk melanggengkan keinginan dan nafsunya. Jika dikaji lebih jauh dalam perspektif Levitsky, ia menuturkan bahwa negara yang menoleransi tindak kekerasan dalam bentuk apa pun, sudah cukup untuk memenuhi indikator sebagai negara otoriterianisme.
Perilaku Raja yang menurut Rob Nixon (2011), dapat dikatakan sebagai kekerasan lambat. Sebuah kekerasan yang lahir dari konfigurasi sistem yang timpang. Tercipta secara perlahan, pelan, dan sistematis dalam hierarki.
Ini yang menjadi unik dari naskah ini. Setiap penokohan hadir sebagai simbolisasi dari kondisi sosial yang ada. Ia bukan hanya lahir dari konvensi budaya, namun resapan dari ketimpangan yang tercipta dalam masyarakat.
Patung dan Konsepsi Autokrat yang Keras juga Bisu
Dialog:
| RAKSASA | : Bikin saja ‘harus’ itu sudah terjadi sekarang. Apa susahnya sih. Ceritanya aku sudah ganteng! Ini masalah kerajaan bukan masalah wajah-wajahan. Dan masalah kerajaan itu masalah politik. Kamu kok bego masalah politik sih…. |
| MPU NIROGA | : Aku memang bukan politikus…. |
| RAKSASA | : Sekali-kali jadi politkus kenapa sih. Pemahat politikus begitu. |
| MPU NIROGA | : Aku tidak tertarik. |
| RAKSASA | : Sekali-kali harus tertarik. |
| MPU NIROGA | : Aku tidak mau! |
| RAKSASA | : Sekali-kali harus mau! |
| MPU NIROGA | : Tidak! |
| RAKSASA | : Harus mau! |
| MPU NIROGA | : Tidaaak! |
| RAKSASA | : Walah kamu kok kurang ajar! Jangan salahkan aku kalau naluri menendangku kambuh! |
Perseteruan di atas mencoba memproyeksikan bagaimana sebuah dominasi utama lahir dari seorang raksasa yang merupakan pimpinan di negeri itu. Bagi saya, ini adalah sebuah penggambaran dari suatu cara kepemimpinan yang anti kritik. Maka keburukan yang lahir seolah diperdagangkan sebagai sebuah kepentingan rakyat. Pada alih-alih memenuhi keinginan dan kebutuhan rakyat. Hal semacam peristiwa di atas justru menjadi tonggak dari tangan besi suatu tatanan yang belum rampung.
Dikarenakan beberapa elemen yang membentuk cerita ini dan dibaca dari berbagai aspek dalam perspektif sosio-politik. Patung dalam naskah ini, bagi saya, tidak sekadar bermakna denonatif sebagai patung. Ia adalah alegoris pun simbol yang coba dipresentasikan. Patung adalah sebuah representasi dari konsepsi tentang para pemimpin yang bisu, keras, dan kaku. Ia adalah representasi dari potret autokrat hari ini yang begitu anti kritik, dan gemar menyelewengkan kebijakan. Dan perseteruan barusan adalah sebuah tangkapan monumental dari simbolisasi gaya kepemimpinan yang otoriter, fasis, dan anti kritik.
Alih-alih menghargai kejujuran publik, ia ingin kebenaran menjadi satu aspek tunggal yang tetap, mutlak. Patung tak banyak bergerak tapi keras. Begitu adanya rupa dari autokrat di negeri ini, “sedikit gerak, banyak maunya”.
Akhirnya panggung bukan selesai pada taraf pesan yang eksplisit sebagai patung. Namun, patung hadir dari awal sampai akhirnya cerita, sebagai demarkasi yang merepresentasikan segala sesuatu yang menjadi watak dari tokoh Raksasa (Raja) tersebut.

Illustrator: Titih Siti Huzaimah/LPM Daunjati
Menutup Kisah
Ini bukan perkara patung yang diminta Raja lalu Raja menjadi patung. Ini adalah sebuah wajah dari ketimpangan struktural yang mewujud dan menggeliat, pelan namun mengakar. Kita akhirnya paham bahwa bagi segelintir manusia atau kelompok, kemakmuran dan kesejahteraan hidup hanya dapat ditempuh dengan lajur yang paling ekstrime sekali pun.
Sebab hidup adalah medan perjudian, kita selalu berataruh setiap harinya: untuk sesuap nasi, setetes air, dan seutas harapan.
Biodata Singkat:
Ariel Valeryan, penikmat gagasan yang diejawantahkan di panggung. Lahir pada 28 Maret 2005. Tumbuh dan besar di Kuningan, Jawa Barat. Saat ini tengah menempuh pendidikan S1 di Prodi Seni Teater, ISBI Bandung.
Penulis: Ariel Valeryan
Illustrator: Titih Siti Huzaimah
Penyunting: Sophia Septiani

