Hallway Pasar Kosambi, Bandung, menjadi ruang berlangsungnya Festival Pertunjukan Pseudo Entertainment pada 8–12 Juli 2026. Festival ini menghadirkan sejumlah karya seni pertunjukan yang mengajak pengunjung untuk terlibat secara langsung, bukan hanya sekadar menjadi penonton pasif. Salah satu gagasan yang diusung festival ini adalah bagaimana seniman mendekati audiens dengan menjadi bagian dari pertunjukan. Alih-alih tampil sebagai sosok yang terpisah di atas panggung, para seniman berinteraksi, mengamati, dan membangun pengalaman bersama.
Terdapat beberapa karya yang dipentaskan, di antaranya: Rumah Boneka Keluarga Biasa/Doll House of Familiar Family, Tukar Koda : Menangkap Gagap Lidah Ludah, Ciconnect PP, Rites of Asphalt : Vertically, Safari Hidden Jamet Kosambi Bersama Mat Jumarup35, dan lainnya.
Di antara berbagai karya tersebut, Safari Hidden Jamet Kosambi Bersama Mat Jumarup35 menjadi salah satu pertunjukan yang menarik perhatian karena mengajak audiens berjalan menyusuri area Pasar Kosambi sambil mengamati ruang dan fenomena sosial di dalamnya. Mat Jumarup35 atau Ragil selaku jamet Madura yang mendarat di Bandung untuk memandu tur ini. Ragil mengajak audiens melihat Pasar Kosambi dari sudut pandang yang berbeda. Selama perjalanan, audiens diajak berhenti di beberapa titik untuk mendengarkan penjelasan mengenai “jamet” sebagai konsep, bukan sekadar gambaran umum seperti yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Pertunjukan Safari Hidden Jamet Kosambi Bersama Mat Jumarup35, Jumat,10 Juni 2026. (Foto: Maida Kyla /LPM Daunjati)
Dalam wawancara, Ragil menjelaskan bahwa baginya jamet tidak sekadar merujuk pada penampilan, melainkan pada gestur yang lahir dari pengalaman merantau. Menurutnya, ketertarikan ia terhadap konsep jamet berawal dari pengalamannya sendiri saat merantau dan melihat bagaimana para perantau tetap membawa gelagat kota besar, tetapi mampu menyesuaikan diri dengan kampung halamannya. Hal itulah yang kemudian mendorongnya meneliti jamet sebagai sebuah gestur.
“Sebagai mahasiswa, terus kemudian kerja di banyak kota-kota besar, aku sering kali merasa kesusahan untuk pulang, untuk beradaptasi dengan kampung halaman, sedangkan temanku yang sama-sama merantau, ketika pulang, mereka tetap membawa gestur atau gelagat kota besar, tapi lebih bisa beradaptasi dengan kampung halaman kami. Nah, dari situlah aku tertarik sama jamet sebagai gelagat.” Ujar Ragil. Ia menjelaskan bahwa gestur atau gelegat yang melekat dan beradaptasi merupakan hal yang menarik untuk ditelusuri lebih dalam, hingga akhirnya dibawakan dalam pertunjukan ini.

Pasar Kosambi, Bandung, Jumat,10 Juni 2026. (Foto: Maida Kyla /LPM Daunjati)
Melalui safari ini, audiens tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga diajak mengamati secara langsung berbagai sudut Pasar Kosambi yang menjadi bagian dari narasi tersebut. Terdapat enam museum yang akan dikunjungi di dalam Pasar Kosambi, yaitu Museum Arus Pinggir, Museum Seni Oplosan, Museum Misteri, Museum Minaraga, Museum Tumbuh Liar, dan Museum Kematian. Pengalaman berjalan bersama membuat ruang pasar berubah menjadi media untuk membaca fenomena sosial di dalam Pasar Kosambi.
Festival Pertunjukan Pseudo Entertainment menekankan proses riset dalam penciptaan setiap karyanya. Berdasarkan penuturan Ragil, proses kreatif Safari Hidden Jamet Kosambi diawali dengan penelitian mengenai gestur tubuh, sejarah kepulangan para perantau, koreografi jamet yang berkembang di media sosial, serta wawancara dengan berbagai narasumber. Hasil riset tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk pertunjukan yang memungkinkan audiens mengalami sendiri gagasan yang ingin disampaikan.

Berkeliling Pasar Kosambi bersama Mat Jumarup35, Jumat,10 Juni 2026. (Foto: Maida Kyla /LPM Daunjati)
Pemilihan The Hallway Pasar Kosambi juga menjadi bagian penting dari karya ini. Menurut Ragil, pasar merupakan ruang tempat berbagai latar belakang masyarakat bertemu, beraktivitas, dan beradaptasi satu sama lain. Ia juga menilai Pasar Kosambi merupakan ruang yang masih ramai digunakan masyarakat, tetapi seringkali luput dari perhatian sebagai ruang budaya. Melalui pertunjukan ini, pasar tidak hanya menjadi lokasi berlangsungnya karya, melainkan juga bagian dari narasi yang dibangun. Pasar ini juga merupakan salah satu pasar tertua di Bandung yang dibangun pada tahun 1960-an. Pasar ini sempat mengalami beberapa kali renovasi, bahkan kebakaran. Namun, sebenarnya pasar ini adalah museum jamet yang tersembunyi. Sejarah jamet Nusantara yang tidak tercatat di Wikipedia maupun ChatGPT justru ada di Pasar Kosambi ini.
Festival Pertunjukan Pseudo Entertainment menghadirkan pengalaman yang berbeda dari pertunjukan seni pada umumnya. Melalui karya seperti Safari Hidden Jamet Kosambi Bersama Mat Jumarup35, audiens tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi turut berjalan, mengamati, dan merefleksikan pengalaman adaptasi yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan tersebut, Pasar Kosambi menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana manusia membangun relasi dengan lingkungan, bernegosiasi dengan perubahan, dan terus berusaha menemukan tempatnya di tengah kehidupan perkotaan.
Penulis: Sri Wulandari, Maida Kyla
Dokumentasi: Maida Kyla
Peyunting: Rizki Bassica A.



