TENGUL: KETIKA KEMISKINAN DIPENTASKAN MENJADI ESTETIKA YANG MENGGUGAH

Kemiskinan tidak selalu dipentaskan sebagai sesuatu yang muram. Melalui pertunjukan teater Tengul di Gedung Sunan Ambu, Jumat (17/07/2026), penonton diajak menyaksikan bagaimana penderitaan, ambisi, dan harapan dalam balutan estetika yang indah. Diadaptasi dari naskah karya Arifin C. Noer, Tengul mengisahkan pasangan suami istri yang terjebak himpitan ekonomi hingga tergoda menempuh jalan pintas melalui perjudian dan pesugihan.

Ketika sedang melakukan undian. Sunan Ambu ISBI Bandung. Kamis, 17 Juli 2026. (Foto: Maida Kyla Agnianti/LPM Daunjati).

Kisah berpusat pada pasangan suami istri, Korep yang diperankan oleh Abdul Azis dan Turah yang diperankan oleh Novia Putri Utami. Hidup dalam belenggu kemiskinan, keduanya terus berupaya mengubah nasib dengan berbagai cara. Namun, tekanan ekonomi mendorong mereka tergoda mengejar kekayaan instan melalui perjudian dan pesugihan. Keputusan tersebut perlahan mengaburkan batas antara harapan, ambisi, dan kehancuran, hingga membawa konsekuensi tragis yang merenggut salah satu dari mereka.

Alih-alih menampilkan kemiskinan sebagai penderitaan dan kesedihan, pertunjukan ini justru menghadirkan ironi melalui unsur komedi, musik, dan visual panggung yang sederhana namun begitu indah dipertunjukkan. Menurut Syam Muhamad selaku stage manager, Tengul mengusung gagasan bahwa “hidup sederhana lebih kaya daripada hidup kaya”, sebuah pemikiran yang menjadi benang merah dalam keseluruhan cerita yang disampaikan melalui pertunjukan teater.

Pada penampilan teater tersebut memperlihatkan secara tak langsung keadaan kemiskinan yang terjadi pada masa itu, tergambar melalui kostum para aktor, mulai dari pakaian daster, baju yang kelihatannya lusuh dan lainnya. Kesederhanaan juga tercermin melalui tata artistik yang dihadirkan dalam pertunjukan. Di tengah banyaknya pementasan teater yang mengandalkan dekorasi megah dan beragam properti, Tengul justru memilih pendekatan yang lebih minimalis. Properti berbahan bambu dimanfaatkan secara kreatif untuk menghadirkan berbagai makna melalui imajinasi penonton. Salah satu contohnya ialah properti berbentuk baling-baling yang dapat bertransformasi menjadi roda perjudian, kendaraan, hingga simbol perjalanan menuju alam gaib. Pendekatan tersebut membuat panggung tetap terasa hidup tanpa bergantung pada dekorasi yang berlebihan.

Ketika baling-baling roda penjudian berubah menjadi seperti kendaraan. Kamis, 17 Juli 2026. (Foto: Maida Kyla Agnianti/LPM Daunjati).

Penggunaan properti yang minimalis justru mendorong penonton untuk membangun imajinasi mereka sendiri terhadap setiap adegan. Menurut Syam Muhammad, penggunaan satu properti untuk berbagai makna dilakukan agar benda di atas panggung tidak dipahami secara tunggal. Keunikan yang ada di teater ini tak hanya semata-mata menyuruh para penontonnya berimajinasi, tetapi para aktor juga membantu menyampaikan imajinasi tersebut dengan akting mereka yang sangat memukau.

Selain dalam hal properti, artistik, dan aktornya, alur dari teater itu sendiri juga yang menyampaikan maksud dari pementasan teater tersebut, di mana alur dari teater ini sangat dekat dengan para penonton atau setidaknya para penonton pernah melihat keadaan di teater tersebut. Cerita teater tersebut diawali dengan berjoget dangdut bersama, di mana hal ini sangat lekat dengan kebiasaan masyarakat Indonesia. Lalu, adegan dilanjutkan dengan pembukaan oleh para bandar judi dengan sambutan seperti berapa warga yang akan mendapat hadiah dari judi tersebut. Dari ketiga pemutaran judi tersebut, didapatkan sepasang suami istri yang berakhir dengan sang suami meninggal karena terkejut memenangkan judi dengan nominal yang tak sedikit. Di sisi lain, para ketiga bandar merayakan karena banyaknya warga yang tertarik untuk ikut melakukan judi. Adegan selanjutnya sang tokoh utama, yaitu sepasang suami istri, Korep dan Turah. Mereka berandai-andai jika mereka memenangkan perjudian tersebut, mereka akan melakukan apa pun dan akan memiliki apa saja, tetapi sang suami takut untuk menjadi kaya, sedangkan sang istri tetap menginginkan kekayaan karena ia sudah muak menjadi miskin.

Adegan berikutnya kembali menampilkan perjudian, Turah merasa yakin akan menang di judi kali ini karena dia sudah bersekongkol dengan para bandar, perjudian pun di mulai dengan memutar kan roll blade dan untuk mengetahui pemenangnya dengan cara di tembang oleh perwakilan dari warga. Tetapi terjadi tak sesuai harapan bahwa warga salah menebak angka dan kembali kalah untuk kesekian kalinya, di mana hal ini membuat Turah sedih dan kecewa karena sudah tak ada lagi yang bisa dipertaruhkan untuk melakukan judi, tetapi para bandar menyarankannya untuk menjual satu-satunya yang ia miliki, yaitu kehormatannya. Mengetahui sang istri menjual kehormatannya membuat sang suami atau Korep gelap mata dan memberanikan dirinya untuk menjadi kaya, tetapi dengan cara yang salah, yaitu pesugihan dengan menumbalkan sang istri. Dia akan terus menikah dan kembali menumbalkan sang istri selanjutnya hanya untuk mendapatkan kekayaan atau menjadi kaya. Tentunya Korep mendapatkan kekayaan tersebut, tetapi berakhir menyesal dan ingin kembali menjadi miskin kembali karena menurutnya hidup sederhana lebih kaya daripada kaya.

Ketika istrinya yang kesekian kali meninggal dan menyisakan penyesalan. Kamis, 17 Juli 2026. (Foto: Maida Kyla Agnianti/LPM Daunjati).

Keunikan lain dari pertunjukan Tengul terlihat pada pergantian kostum dan aksesoris para aktor yang dilakukan secara terbuka di atas panggung. Alih-alih keluar menuju balik panggung (wings), para pemain tetap berada di area pertunjukan sehingga seluruh proses perubahan kostum atau aksesoris menjadi bagian dari jalannya pementasan. Pendekatan ini tidak hanya menjaga kesinambungan adegan, tetapi juga memperlihatkan semangat teater tradisi Indonesia yang tidak berupaya menyembunyikan proses di balik pertunjukan. Menurut Syam Muhamad, konsep tersebut merupakan upaya untuk menghidupkan kembali spirit teater tradisi sekaligus menegaskan bahwa teater Indonesia memiliki identitasnya sendiri, bukan sekadar meniru pakem milik teater Barat.

Meskipun beberapa adegan terasa memiliki durasi yang cukup panjang, ritme pertunjukan tetap terjaga melalui perpaduan humor, musik daerah, serta penyisipan lagu anak-anak Kelinciku karya R. Geraldus Daldjono Hadisudibyo yang menghadirkan nuansa kontras sekaligus memperkuat makna adegan. Permainan para aktor pun mampu menjaga perhatian penonton sehingga cerita tetap terasa hidup hingga akhir pementasan. Di sisi lain, terdapat beberapa dialog yang terdengar kurang jelas karena volume musik yang sesekali terlalu keras, sehingga ucapan para pemain menjadi sedikit samar. Terlepas dari hal tersebut, pesan sosial yang diangkat terasa relevan dengan kondisi masyarakat dari dulu hingga saat ini, terutama dalam menyoroti fenomena perjudian yang kini berkembang dalam bentuk yang lebih modern.

Secara keseluruhan, Tengul tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga mengajak penonton merefleksikan cara memandang kemiskinan, kekayaan, dan kebahagiaan. Lewat estetika yang sederhana namun sarat makna, pertunjukan ini menunjukkan bahwa naskah Arifin C. Noer memiliki relevansi kuat dengan kehidupan masyarakat Indonesia hingga saat ini.

Penulis: Maida Kyla A, Bevira Salma P

Dokumentasi: Maida Kyla A

Penyunting: Roshifa Lailani