Kritik Marvin Harris Terhadap Pola Pikir Ilmuwan Sosial
Melalui bukunya yang fenomenal, Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir: Menjawab Teka-Teki Kebudayaan, antropolog Marvin Harris melayangkan kritik keras terhadap cara berpikir para pakar ilmu sosial di zamannya. Pada masa itu, para pakar sibuk menunjukkan bahwa terdapat banyak variasi kehidupan manusia yang tidak dapat dijelaskan secara rasional. Mereka tampak putus asa dalam menemukan jawaban atas praktik kebudayaan yang tidak bisa dipahami secara logika biasa. Pada akhirnya, semua persoalan rumit tersebut kerap diserahkan kepada Tuhan, dengan dalih bahwa hanya Tuhanlah yang memiliki jawabannya. Kebudayaan pun seolah menjadi misterius karena masyarakat selalu diajarkan untuk menjunjung tinggi penjelasan spiritual yang rumit daripada mencari alasan praktis yang sederhana.
Marvin Harris dengan tegas membantah asumsi semacam itu. Ia mengkritik bahwa kerangka pemikiran mistis seperti ini justru melemahkan semangat untuk berpikir kritis. Dalam salah satu pernyataan ikoniknya, Harris menegaskan, “Jika Anda percaya bahwa sebuah teka-teki tidak memiliki jawaban, maka Anda tidak akan menemukan jawabannya.” Sebuah kalimat sederhana, namun menjadi kritik tajam terhadap cara berpikir ilmuwan sosial pada zamannya.
Harris bersikeras bahwa setiap pola kehidupan manusia pada dasarnya bisa dijelaskan secara rasional dan tidak bersifat acak. Solusinya adalah melihat aktivitas manusia dari sudut pandang materialis atau kebutuhan praktis, alih-alih terjebak dalam kacamata spiritualis. Ia ingin menunjukkan bahwa perilaku manusia yang paling aneh sekalipun ternyata didasari oleh alasan-alasan yang sangat membumi, seperti urusan perut, adaptasi terhadap fenomena alam, hingga kebutuhan seks.
Tentu, menemukan alasan rasional di balik fenomena yang dibungkus oleh narasi spiritual bukanlah hal yang mudah. Meskipun unsur spiritual kerap memberikan solidaritas di tengah masyarakat, hal tersebut tidak jarang justru menjadi penghalang untuk melihat kenyataan yang sebenarnya.
Di saat mayoritas etnografer dan antropolog mengutamakan sudut pandang emik (perspektif internal pelaku budaya) untuk mengungkap alasan di balik suatu tradisi, Harris justru mengambil langkah sebaliknya dengan mengutamakan sudut pandang etik (pengamat objektif dari luar). Ia memberikan pandangan yang cukup kontroversial: baginya, penjelasan dari penganut budaya itu sendiri tidak bisa dijadikan jawaban yang sepenuhnya valid mengenai asal-usul kebudayaan mereka. Penganut budaya sering kali menjalani tradisi tanpa benar-benar memahami alasan mendasarnya, karena kesadaran mereka kerap terbungkus oleh “kesadaran palsu”.
Pandangan Harris ini mungkin terkesan tidak bermoral, namun bisa ditelisik secara rasional. Manusia sering kali terjebak dalam kesadaran kelompok, di mana mereka menganggap cara hidupnya paling benar karena enggan membandingkannya dengan kelompok lain. Di sisi lain, kelompok yang memegang kekuasaan kerap menciptakan kesadaran palsu tersebut guna menyamarkan ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, untuk memahami kebudayaan secara komprehensif, kita tidak bisa hanya bergantung pada jawaban para penganutnya saja, melainkan wajib menggunakan sudut pandang kritis dari luar.
Melalui buku ini, kita akan membedah bagaimana akar dari dominasi laki-laki terhadap perempuan sebenarnya terbentuk. Bagi Marvin Harris, dominasi gender bukanlah perihal kodrat alamiah atau sekadar perbedaan anatomi biologis, melainkan murni sebuah konstruksi budaya.

Buku Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir: Menjawab Teka-Teki Kebudayaan (Foto: M Zhafran R/LPM Daunjati)
Dinamika Dominasi Laki-laki Terhadap Perempuan
a. Perang yang Mengistimewakan Laki-laki
Jika dilihat secara sekilas, perang primitif tampak seperti aktivitas yang tidak masuk akal karena kerap didasari alasan balas dendam. Namun, bagi Marvin Harris, perang terjadi karena adanya kebutuhan praktis, yaitu sebagai strategi mengontrol populasi demi menjaga keseimbangan daya tampung lingkungan. Uniknya, pengendalian populasi ini bukan disebabkan oleh banyaknya prajurit yang tewas di medan tempur. Kontrol populasi yang sebenarnya justru terjadi jauh sebelum perang dimulai, yakni melalui praktik pembunuhan bayi perempuan dan aborsi.
Karena teknologi pertempuran primitif sangat mengandalkan kekuatan fisik dan senjata tangan, kehadiran laki-laki dewasa menjadi sangat diistimewakan demi memperkuat pasukan. Akibatnya, posisi istimewa ini pada akhirnya meminggirkan posisi perempuan. Demi mengejar kuota prajurit laki-laki, masyarakat primitif sengaja menekan populasi perempuan sejak bayi.
Kondisi tersebut melahirkan sebuah kontradiksi. Padahal, jika diukur secara anatomi dan fungsi reproduksi, perempuan sejatinya memegang peranan paling penting dalam melestarikan kehidupan serta mengontrol kelahiran. Bahkan di kalangan masyarakat peladang seperti Suku Maring, perempuan adalah produsen pangan utama yang terbukti sama produktifnya dengan laki-laki. Maka dari itu, Harris menegaskan bahwa kesenjangan kekuasaan berdasarkan perbedaan anatomi atau jenis kelamin merupakan sebuah omong kosong. Dominasi laki-laki hadir bukan karena faktor biologis, melainkan karena siapa yang mengontrol alat pertahanan dan pertempuran bersenjata.
Kondisi di mana laki-laki diistimewakan ini menciptakan sebuah siklus berulang yang merugikan. Kebutuhan akan pertempuran memaksa masyarakat untuk mencetak laki-laki yang bersifat agresif dan garang. Karena laki-laki dibentuk untuk menjadi garang, semakin tinggi kecenderungan mereka untuk berperang; semakin tinggi intensitas perang, semakin diperlukan laki-laki garang.
Praktik pembunuhan bayi perempuan ini membuat jumlah perempuan semakin langka. Kelangkaan perempuan yang mereka ciptakan sendiri ini kelak membuat para laki-laki kewalahan menyalurkan hawa nafsu, yang pada akhirnya memicu perang baru demi menculik perempuan dari kelompok lawan. Perempuan tidak hanya digunakan untuk memuaskan hasrat seksual, tetapi juga untuk memproduksi lebih banyak laki-laki yang akan diterjunkan ke medan pertempuran.
b. Potret Brutalisme Masyarakat Yanomamo
Untuk menggambarkan secara nyata betapa ekstremnya budaya dominasi laki-laki, Marvin Harris mengambil contoh masyarakat Yanomamo yang bermukim di pedalaman hutan Amazon. Suku Yanomamo dikenal sebagai kelompok masyarakat yang sangat agresif, berorientasi kuat pada laki-laki, dan gemar berperang. Supremasi laki-laki di sana terlihat sangat jelas melalui maraknya tindakan kekerasan terhadap istri yang kerap berujung pada cedera parah hingga pembunuhan, sering kali hanya didasari oleh kecurigaan tanpa bukti atau alasan yang sepele. Mengerikannya, mereka seolah memaklumi kekejaman tersebut, di mana para istri menganggap frekuensi pukulan yang diterima dari suami justru sebagai bentuk kepedulian.
Selain kekerasan dalam rumah tangga, dominasi fisik laki-laki juga disalurkan melalui kegemaran mereka terhadap duel dan perang antardesa. Masyarakat Yanomamo menjadikan duel fisik sebagai cara untuk menyelesaikan konflik sekaligus panggung untuk memamerkan kekuatan desa. Tingkatan duel mereka sangat ekstrem, mulai dari baku hantam dada, bertarung menggunakan bilah golok datar, hingga duel gada menggunakan tongkat kayu panjang yang saling dipukulkan ke kepala lawan secara bergiliran.
Sementara itu, dalam hal peperangan, hubungan antardesa di Suku Yanomamo dipenuhi oleh kecurigaan dan kedengkian. Persekutuan yang terjalin antardesa sama sekali tidak didasari oleh rasa persatuan atau persaudaraan, melainkan murni atas dasar kepentingan kekuatan militer. Ketika sebuah desa mengalami penurunan kekuatan militer, desa tersebut dipastikan akan menjadi sasaran empuk untuk diserang dan dijarah berkali-kali, bahkan oleh mantan sekutunya sendiri. Hal ini makin mempertegas pandangan Harris bahwa dalam lingkungan yang mengandalkan kekuatan fisik murni, dominasi akan selalu dipegang oleh pihak yang memiliki kekuatan militer paling brutal.
c. Perempuan Sebagai Aset Utama Pertempuran
Dalam situasi pertempuran antardesa Suku Yanomamo, sasaran utama mereka adalah membunuh sebanyak mungkin laki-laki dan menculik sebanyak mungkin perempuan. Di sini, nasib perempuan begitu tragis karena posisi mereka sudah seperti barang yang dapat diperjualbelikan. Ketika sebuah desa yang kalah meminta perlindungan militer kepada sekutunya, pihak sekutu tidak akan memberikannya secara cuma-cuma, melainkan meminta imbalan berupa perempuan.
Seorang suami dengan mudah dan tanpa beban moral bisa memberikan istrinya kepada adik atau rekannya sendiri, asalkan mereka mau membayarnya dengan sebuah jasa atau menukarnya dengan perempuan lain hasil rampasan perang. Bahkan ketika seorang suami marah karena istrinya berhubungan dengan laki-laki lain, rasa marah itu lahir bukan karena kecemburuan, melainkan karena tidak adanya imbalan.
Pada akhirnya, perempuan menjadi pihak yang paling dirugikan: kehadiran mereka hanya dihargai sebatas alat pemuas hasrat biologis dan mesin pencetak prajurit laki-laki baru untuk dikirim ke medan tempur.
d. Seks Sebagai Alat Brutalisasi
Marvin Harris menyatakan bahwa terdapat dua strategi klasik untuk membuat seseorang menjadi brutal. Pertama, memberikan makanan, kesehatan, serta kenyamanan untuk pribadi yang paling brutal. Kedua, memberikan imbalan seksual. Cara kedua merupakan strategi yang paling efektif, karena kekurangan seks justru meningkatkan kemampuan bertempur, bukan menguranginya. Maka dari itu, seks menjadi hadiah terbaik untuk mengondisikan pribadi yang brutal, sehingga imbalan seksual akan diberikan kepada laki-laki yang paling brutal.
Di sini, Marvin Harris memberikan sebuah kutipan yang menusuk, yaitu “Guna membuat seks menjadi imbalan atas keberanian, salah satu jenis kelamin harus diajarkan menjadi pengecut”. Beliau lebih lanjut menegaskan bahwa, apabila kedua jenis kelamin dilatih untuk menjadi brutal, maka itu sama saja dengan memancing perang besar antara laki-laki dan perempuan.
Dalam kondisi tertentu, peran sosial dalam masyarakat dapat ditentukan berdasarkan anatomi yang dimiliki. Apabila teknologi peperangan masih mengutamakan senjata tangan dan kekuatan fisik, niscaya laki-lakilah yang akan terus berkuasa.
Relevansi Hari Ini: Mitos Biologis dan Sisa-Sisa Patriarki Modern
Kritik tajam Marvin Harris yang menyebut bahwa kesenjangan posisi antara laki-laki dan perempuan bukan disebabkan oleh faktor biologis, melainkan oleh konstruksi budaya, nyatanya masih sangat relevan hingga hari ini. Jika dahulu kekuatan fisik laki-laki diistimewakan murni karena kebutuhan pertempuran bersenjata, dunia modern saat ini telah bergeser. Landasan utama penggerak masyarakat hari ini bukan lagi kekuatan otot, melainkan kemampuan berpikir, kecerdasan, dan keterampilan teknis.
Nuraeni dan Lilin Suryono (2021) menjelaskan bahwa tingkat pendidikan serta penguasaan keterampilan teknis perempuan telah berada di posisi setara dengan laki-laki. Hambatan produktivitas yang dialami perempuan selama ini sejatinya bukan disebabkan oleh keterbatasan kapasitas fisik maupun intelektual, melainkan akibat batasan konstruksi sosial dan stereotip gender yang masih tersisa. Jika hambatan kultural tersebut disingkirkan dan akses pekerjaan dibuka seluas-luasnya, potensi produktif perempuan terbukti mampu mendorong efisiensi serta pertumbuhan ekonomi secara signifikan.
Kendati dunia modern telah membukakan pintu bagi perempuan untuk membuktikan kapasitas produktif yang setara dengan laki-laki, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ketidaksetaraan masih terus membayangi. Meskipun perempuan modern telah mengalami peningkatan pendidikan serta tingkat partisipasi kerja dan mampu berkontribusi secara produktif, laki-laki tetap menjadi pihak yang mendominasi dalam struktur sosial. Konstruksi maskulinitas masih terus memosisikan laki-laki sebagai pemimpin alami dan pengambil keputusan utama (Hasan Hafani & Nahidh Buldani, 2025).
Hal ini mempertegas bahwa pandangan Marvin Harris masih sepenuhnya relevan hingga saat ini. Ketimpangan gender adalah buatan budaya, bukan takdir biologis. Di tengah dunia modern yang mengedepankan rasionalitas, mempertahankan dominasi berbasis gender berarti melanggengkan mitos lama. Sudah saatnya kita menyadari bahwa kapasitas manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kesempatan yang setara untuk tumbuh dan berkontribusi.
DAFTAR PUSTAKA
Harris, M. (2019). Sapi, babi, perang, dan tukang sihir: Menjawab teka-teki kebudayaan (N. D. Andarnuswari, Penerj.). Marjin Kiri.
Hasan Hafani, M., & Nahidh Buldani, M. (2025). Patriarki dan kekuasaan: Bagaimana laki-laki mengendalikan kehidupan dalam keluarga. ASA, 7(1), 1–12.
Nuraeni, Y., & Lilin Suryono, I. (2021). Analisis kesetaraan gender dalam bidang ketenagakerjaan di Indonesia. Nakhoda: Jurnal Ilmu Pemerintahan, 20(1), 68–79. https://doi.org/10.35967/njip.v20i1.134
Indentitas Buku:
- Judul: Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir: Menjawab Teka Teki Kebudayaan
- Penulis: Marvin Harris
- Penerjemah: Ninus D. Andanuswari
- Penerbit: Marjin Kiri
- Kota Terbit: Tangerang
- Tahun Terbit: 2019
- Halaman: 262
- ISBN: 978-979-1260-88-6
Penulis: M Zhafran Ramadhan
Dokumentasi: M Zhafran Ramadhan
Penyunting: Rizki Bassica A


